Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih - Chapter 12

Memuat...
Pendekar Wanita Baju Putih

Chapter 12

"Ong Lo-peh, tenangkan hatimu dan jangan banyak pikiran agar lekas sembuh."

"Hian-te... kau... kau baik sekali."

"Sudahlah, jangan banyak bicara, Lo-peh. Kau harus beristirahat."

"Hian-te... jangan tinggalkan Giok Cu."

Kam Ciu memegang tangan orang tua itu yang menggenggam tangannya dengan erat. "Tidak, Lo-peh," jawabnya.

Ong Kang Ek memaksa tersenyum puas. "Gan Hian-te... aku... percaya penuh padamu... kau orang baik... maukah... maukah kau berjanji?"

Kam Ciu menganggukkan kepala dan mendekatkan telinganya karena suara Ong Kang Ek semakin lemah. "Hian-te... carilah Thian In... sambunglah perjodohan mereka."

Untuk kedua kali dalam hidupnya, Kam Ciu mendapat pukulan batin yang luar biasa hebatnya. Pertama kali ketika ia diminta menjadi perantara perjodohan Thian In dan Giok Cu, dan yang kedua adalah saat ini. Biarpun Thian In sudah menunjukkan sikap bermusuh, ia masih saja disuruh menjodohkan pemuda itu dengan Giok Cu. Dengan susah payah Kam Ciu mengangguk dengan mata tertutup, dan dari bulu matanya menitiklah dua butir air mata.

Genggaman tangan Ong Kang Ek makin erat. "Maaf... Hian-te... kau betul-betul berbudi... sayang dulu kutolak lamaranmu."

Setelah itu, orang tua tersebut memejamkan matanya untuk tidur. Kam Ciu lalu meninggalkan kamar itu dengan hati pedih. Tiga hari kemudian, dari kamar Ong Kang Ek terdengar suara jerit tangis yang menyedihkan. Orang tua gagah perkasa itu ternyata telah mengembuskan napas terakhirnya.

Setelah jenazah Ong Kang Ek dikuburkan, Giok Cu dengan mata merah dan wajah pucat mengumpulkan semua pelayan. Ia memerintahkan mereka untuk mengurus rumah dan harta bendanya dengan baik karena ia hendak pergi merantau. Seorang pelayan tua memberanikan diri bertanya, "Siocia, ke manakah Anda hendak pergi?"

"Kalian tidak usah tahu ke mana aku akan pergi. Jaga saja rumah ini. Uang peninggalan Ayah boleh kalian gunakan untuk makan. Dalam beberapa bulan, tentu aku akan kembali."

Kemudian gadis itu berkata kepada Kam Ciu, "Toa-ko, aku haturkan banyak terima kasih atas segala kebaikanmu. Semoga Tuhan saja yang akan membalasnya. Sekarang kita harus berpisah, Gan Toa-ko."

Kam Ciu memandang gadis itu dengan hati terharu. Ia kasihan melihat wajah gadis yang biasanya berseri itu kini tampak muram dan pucat, terlebih karena ia mengenakan pakaian berkabung serba putih. Di punggungnya ia menggendong bungkusan kuning, dan sarung pedang berwarna kuning pula tergantung di pinggangnya.

"Nona, ke mana engkau hendak pergi? Bukankah lebih baik kalau aku menjadi pengantarmu, yakni jika kau sudi berjalan bersamaku?"

Giok Cu memandang wajah pemuda itu dengan rasa terima kasih. "Toa-ko, bukannya aku tidak sudi berjalan bersamamu, tetapi saat ini aku lebih suka seorang diri saja. Aku ingin menjelajah untuk menambah pengalaman dan meluaskan pengetahuan. Aku hidup sebatang kara, mengapa aku tidak meniru hidup seekor burung yang bebas di udara?" Air mata gadis itu mengalir membasahi pipinya.

Kam Ciu menghela napas. "Aku tahu perasaan hatimu dan kau benar, Nona. Memang lebih baik menghibur diri dengan merantau untuk meluaskan pengalaman daripada mengurung diri di dalam kamar sambil tiada hentinya menangis. Yang sudah lalu biarlah berlalu, yang perlu adalah menyambut hari baru yang akan datang. Kalau begitu, aku mohon diri, Nona. Mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi kelak."

Setelah memberi hormat, Kam Ciu mengambil buntalan pakaiannya dan meninggalkan rumah itu diikuti pandangan Giok Cu. Gadis ini cukup tahu akan perasaan pemuda sastrawan itu terhadap dirinya, dan diam-diam ia merasa kasihan. Ia kini tahu betapa baik dan mulia hati pemuda tersebut. Untuk menolong keluarganya, pemuda itu tidak mengukur kelemahan sendiri, bahkan tadi ia menawarkan diri untuk menjadi pengantarnya. Alangkah lucunya. Jika pemuda itu menjadi pengantarnya, bukan pemuda itu yang akan menjadi pembelanya, melainkan ia sendiri yang harus menjadi pembela dan penjaga keselamatan pemuda tersebut.

Terbayanglah wajah Thian In yang tampan. Alangkah jauh perbedaan antara Thian In dan Kam Ciu. Yang seorang demikian gagah perkasa, yang lain demikian lemah. Yang seorang demikian bengis dan keras hati, yang lain demikian halus budi dan baik hati. Kemudian setelah memberikan pesan terakhir kepada empat orang pelayannya, Giok Cu menunggangi kudanya dan memulai perjalanan merantaunya.

Dalam perantauannya, Ong Giok Cu melakukan banyak hal yang menggemparkan. Tiap kali melihat peristiwa yang tidak adil, ia pasti turun tangan membela yang lemah dan tertindas, serta membasmi mereka yang kuat namun sewenang-wenang. Karena ia selalu tidak meninggalkan nama setelah melakukan perbuatan mulia, orang-orang memberinya julukan Pek I Li-hiap atau Pendekar Wanita Baju Putih.

Beberapa bulan kemudian, setelah merantau jauh ke arah utara, ia tiba di sebuah kota yang cukup besar dan ramai di tepi Sungai Kim-ho, sebuah anak sungai dari Sungai Yang-tse yang besar. Kota itu adalah Kiciu-kwan. Giok Cu memilih kamar di penginapan Lok-thian, rumah penginapan terbesar di kota itu, dan mendapatkan sebuah kamar di loteng.

Setelah membuka buntalan pakaiannya, ternyata ia telah kehabisan uang bekal. Ia tidak merasa gelisah karena seperti biasa, ia dapat mengambil uang dari peti harta seorang hartawan atau pembesar di kota itu. Demikianlah, ia duduk di dalam kamarnya menanti malam tiba untuk mencari rumah hartawan atau pembesar kejam yang akan dijadikan korban.

Ketika hari telah gelap, Giok Cu membuka jendela kamarnya lalu tubuhnya berkelebat ke arah genting. Dari situ ia mengamati sejenak, lalu menuju ke jurusan barat di mana terdapat banyak rumah besar. Kedua kakinya dengan ringan bagaikan kaki kucing berlari dan meloncat dari genteng ke genteng sambil menengok ke sana kemari. Tiba-tiba, ketika kakinya menginjak sebuah rumah besar, ia terpeleset karena genteng yang diinjaknya bergeser ke bawah. Untungnya ia cepat berkelit karena pada saat itu, dari arah bawah, sebuah piauw melesat melalui lubang bekas genteng tadi dan menyambar ke atas. Bersamaan dengan itu, terdengar suara tertawa tergelak dari beberapa orang di kamar bawah.

Giok Cu bersiap sedia karena ia tahu bahwa dirinya telah terlihat oleh orang-orang berilmu. Tiba-tiba dari bawah terdengar suara nyaring menegurnya, "Kawan yang di atas genteng, silakan turun. Pintu depan kami terbuka lebar."

Giok Cu menjawab dengan suara yang diberatkan, "Terima kasih, aku sedang mengurus suatu hal yang tidak ada hubungannya dengan kalian. Lain kali jika ada kesempatan, tentu aku akan mampir untuk menyampaikan hormat."

Namun sebelum ia sempat pergi, suara dari bawah menyusul, "Kalau begitu, biarlah kami yang menyambut ke atas."

Bersamaan dengan itu, dari bawah tampak melayang tiga bayangan yang gerakannya sangat gesit. Mereka adalah tiga orang laki-laki bertubuh gagah dengan golok terselip di punggung. Yang terdepan adalah seorang pria setengah tua berusia kurang lebih empat puluh tahun dengan tubuh pendek gemuk. Agaknya dialah yang berbicara tadi, karena kini dia pula yang memimpin pembicaraan.

Setelah memberi hormat, ia berkata, "Maaf jika kami salah sangka, tetapi peraturan yang sudah ditugaskan kepada kami terpaksa harus kami penuhi. Nona bukanlah seorang dari golongan kami, tentu Nona datang dari luar. Bukan kami hendak melanggar peraturan dunia persilatan yang membebaskan setiap orang gagah berkeliaran di atas rumah pada waktu malam, tetapi sekali lagi, kami harus tunduk kepada peraturan. Maka hendaknya Nona memberi tahu kami ke mana Nona hendak pergi dan dengan maksud apa."

Giok Cu merasa sangat penasaran. Sebagai putri Ong Kang Ek yang pernah menjadi tokoh besar dan memiliki nama di kalangan persilatan, ia cukup mengerti tentang peraturan-peraturan tersebut. Namun, mengapa orang-orang ini begitu tidak tahu adat dan ingin tahu urusan orang lain?

"Aku hendak mencari tambahan bekal perjalanan," jawabnya singkat sambil mendongakkan kepala.

Si gemuk pendek mengangguk-angguk maklum. "Kami cukup tahu Nona lihai dan dapat melakukan hal itu dengan mudah. Namun terpaksa kami mohon agar Nona tidak melanjutkan kehendak itu, dan soal bekal janganlah Nona khawatir. Kita sesama kaum harus saling membantu dan tidak usah sungkan. Turunlah, Nona, kami akan sediakan bekal yang Nona butuhkan."

Marahlah Giok Cu mendengar ini. Mereka ini menganggap dia orang seperti apa?

"Eh, Tuan-tuan, jangan salah sangka. Kalian menganggap aku ini pengemiskah? Siapa yang meminta bantuan uang darimu? Maaf, aku tidak dapat menemani kalian lebih lama lagi." Ia membalikkan tubuh hendak pergi, tetapi si gemuk pendek meloncat mendahuluinya dan menghadang di depannya. Giok Cu selain marah juga kaget melihat kegesitan orang tersebut.

"Maaf, Li-hiap. Dari keadaanmu, kami dapat menduga bahwa kau tentu Pek I Li-hiap yang baru-baru ini sangat terkenal. Tetapi siapa pun kau adanya, kami tetap harus tunduk terhadap peraturan yang telah ditetapkan di kota ini."

"Kau bicara sembarangan tentang peraturan. Peraturan apakah itu dan siapa yang membuatnya?"

"Peraturan itu adalah siapa pun tidak boleh mengganggu penduduk kota ini. Segala ketidakberesan atau ketidakadilan di kota ini diurus oleh kami yang telah menerima tugas. Orang luar tidak diperbolehkan ikut campur. Sedangkan kawan-kawan dari luar yang kehabisan bekal di kota ini, asal mau menerima dari kami, akan kami beri secukupnya. Namun untuk mengganggu kota ini, terpaksa kami harus mencegahnya!"

"Bagus!" Pek I Li-hiap menghunus pedangnya. "Dan siapa yang membuat peraturan gila semacam ini? Kaukah?"

Si gemuk pendek menggeleng-gelengkan kepala. "Mana mungkin aku yang rendah ini dapat menetapkan peraturan ini? Kami hanyalah petugas. Yang membuat peraturan adalah Bu-eng-cu Koay-hiap."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment