Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih - Chapter 13

Memuat...
Pendekar Wanita Baju Putih

Chapter 13

Giok Cu heran mendengar nama itu. Siapakah orang yang bergelar Pendekar Aneh Tanpa Bayangan ini? Mengapa dia begitu berpengaruh hingga berani menetapkan peraturan yang berlaku bagi orang-orang *kang-ouw*? “Tak peduli siapa, biar Si Tanpa Bayangan maupun Si Seribu Bayangan, peraturan itu tidak berlaku bagiku!” katanya marah. “Suruh Si Tanpa Bayangan datang ke sini, biar aku bicara padanya tentang peraturan!”

“Jangan kauhina Koay-hiap,” Si gemuk pendek menegur. “Biarpun peraturannya tak berlaku bagimu, namun kami tetap menaatinya.”

“Jadi, kalau kuambil perak hartawan kejam dan pembesar jahat, kalian akan menghalangi?” tanya Giok Cu sengit.

“Di kota kami ini tidak ada hartawan kejam dan pembesar jahat. Lebih baik kau mencari korban di tempat lain saja, jangan sampai terjadi salah paham dengan kami.”

“Persetan dengan kalian! Aku tidak takut kepada kalian!”

“Pek I Lihiap, jangan kauandalkan namamu yang baru saja muncul dan jangan pula kaunodai nama baikmu yang baru mulai mengharum itu. Ketahuilah, jika kau melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh Koay-hiap, maka di mana-mana kau akan menemui musuh karena banyak orang gagah akan marah padamu.”

Giok Cu ragu-ragu. “Siapa sih Bu-eng-cu Koay-hiap itu? Dan kalian ini siapa pula?”

“Karena kau orang baru, maka kau belum mengenal Koay-hiap. Tapi di daerah ini, kau akan selalu mendengar namanya disebut orang. Adapun perihal kami bertiga, kami hanyalah orang-orang tak berarti. Di sini kami disebut Kiciu Sam-eng, tiga orang gagah dari Kiciu.”

Giok Cu mengingat-ingat. Pernah ia mendengar ayahnya dulu menyebut-nyebut nama ini. “Kenalkah kalian dengan Siantek?” sengaja ia sebut gelar ayahnya untuk memancing.

Ketiga orang itu maju mendekat dan memandang penuh perhatian. “Siantek? Mengapa kau sebut Ong Enghiong?”

“Karena Sian-kiam Butek Ong Kang Ek adalah ayahku.”

“Maaf, maaf.” Si gemuk menjura dengan hormat dan senyum ramah menggantikan kemarahan yang tadi telah membayang di wajahnya. “Kami tidak tahu bahwa Pek I Lihiap adalah putri Ong Lo-enghiong. Bolehkah kami bertanya di mana tempat tinggal ayahmu sekarang? Kami adalah kawan-kawan baiknya.”

Ditanya demikian, sedihlah hati Giok Cu dan tiba-tiba ia menangis. Ketiga orang itu heran. “Ada apakah, Lihiap?”

“Ayah... Ayah telah meninggal dunia. Kalau dia masih hidup, masakan aku sampai terlantar dan hendak mencuri uang orang?”

Kagetlah ketiga orang itu mendengar hal ini. “Silakan turun dan duduk di dalam, Lihiap. Mari kita bercakap-cakap di dalam.”

Giok Cu tidak membantah lagi dan ia segera mengikuti mereka meloncat ke dalam ruangan yang berisi meja bundar dengan banyak kursi. Tiga buah lilin menerangi kamar itu. Setelah duduk, barulah mereka menanyakan perihal kematian Ong Kang Ek.

Giok Cu tidak menceritakan perihal Thian In yang secara tidak langsung menjadi sebab kematian ayahnya. Ia hanya menceritakan bahwa ayahnya meninggal karena sakit jantung.

“Dan sekarang Lihiap hendak menuju ke manakah?”

Giok Cu menghela napas. “Ah, ke mana? Entah. Aku sendiri pun tidak tahu ke mana aku menuju. Jika aku duduk di atas kudaku, aku biarkan saja kuda itu lari sesukanya. Aku hanya ingin merantau dan berkenalan dengan orang-orang gagah.”

“Kau bersemangat seperti ayahmu, Nona. Kebetulan sekali jika kau ingin bertemu dengan orang gagah, ikutilah kami besok malam. Di Bukit Bong-san akan diadakan pertandingan adu silat antara kaum kami di kota ini dan rombongan *piauwsu* dari Kun-lim.”

Giok Cu sangat tertarik dan meminta keterangan lebih jauh. Si gemuk, saudara tertua dari Kiciu Sam-eng, secara ringkas menuturkan:

“Di Kota Kiciu ini banyak terdapat ahli-ahli silat yang dulunya terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Mereka terdiri dari guru-guru silat, pengantar barang atau *piauwsu*, kepala perkumpulan, dan berbagai cabang persilatan. Karena mereka keturunan berbagai cabang, sering kali terjadi keributan di antara mereka. Kami bertiga sendiri yang menjadi guru silat sering pula ribut dengan golongan lain. Karena pertentangan ini, tidak jarang terjadi korban jiwa dan banjir darah hingga kota menjadi tidak aman. Pada suatu hari, kurang lebih setahun yang lalu, datanglah dua orang ke kota ini. Mereka tidak lain adalah orang tua yang sangat terkenal namanya, yakni Hong-san Lo-jin, dan muridnya. Kedatangan orang tua yang gagah perkasa itu mendatangkan perubahan besar. Pada waktu itu, orang gagah dari berbagai golongan mengadakan pertemuan di luar kota untuk bertempur mati-matian. Di luar kota terdapat Bukit Bong-san, dan di situlah kami berkumpul. Pada saat pertempuran dimulai, datanglah Hong-san Lo-jin melerai. Ia melarang kami berkelahi dan berkata bahwa siapa yang tidak menurut berarti menjadi lawannya. Tadinya kami mengandalkan banyak orang untuk mengeroyoknya, tapi satu demi satu kami dijatuhkan! Muridnya, yang tidak lain adalah Bu-eng-cu Koay-hiap, hanya berdiri berpangku tangan sambil tertawa haha-hihi, sama sekali tidak ikut turun tangan dan membiarkan gurunya menghajar kami seorang diri. Akhirnya kami menyerah kalah dan berjanji akan mengikuti nasihatnya, yaitu kami tidak akan mengacau kota lagi dan tidak akan mengadakan permusuhan. Ia mengancam jika ada yang membuat rusuh di Kota Kiciu-kwan, tentu ia akan datang menghukumnya. Tapi memang benar kata orang-orang tua bahwa lebih mudah menggembala seratus ekor kerbau daripada mengatur sepuluh orang manusia. Setelah Hong-san Lo-jin dan muridnya pergi, para jago silat di Kiciu-kwan mulai lagi dengan permusuhan dan perkelahian mereka.”

“Sebulan kemudian setelah Hong-san Lo-jin pergi, permusuhan makin menghebat hingga kampung-kampung pun ikut berpihak dan perkelahian perseorangan menjadi permusuhan antarkampung! Tiba-tiba datanglah Bu-eng-cu Koay-hiap, murid dari Hong-san Lo-jin. Karena dulu anak muda itu tidak membantu gurunya, kami tidak tahu sampai di mana kelihaiannya. Tapi setelah ia bergerak, celakalah kami semua! Semua orang yang melanggar pesan Hong-san Lo-jin dan yang memulai permusuhan mendapat hajaran keras, bahkan beberapa orang dihancurkan tulang lengannya hingga tidak dapat berkelahi lagi! Tak seorang pun dapat melawannya. Kalau gurunya lihai, muridnya ini agaknya lebih hebat lagi. Gurunya dulu masih murah hati, tapi Bu-eng-cu Koay-hiap bertindak tegas dan keras. Ia lalu mengadakan peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun. Kemudian ia memilih ketua untuk mengatur. Oleh Koay-hiap, kami bertiga dianggap yang paling kuat dan boleh dipercaya, maka kepada kamilah tugas itu diberikan.”

“Biarpun peraturan-peraturannya keras, namun Koay-hiap berhati baik sekali. Ia menggunakan pengaruhnya untuk membujuk para hartawan di kota ini menyediakan biaya bagi kami sekalian. Para hartawan juga dengan rela memberikan sumbangan karena semenjak saat itu harta benda mereka aman dan tak pernah terganggu.” Sampai di sini, ketiga saudara itu menawari minum kepada tamunya.

Giok Cu mendengarkan dengan kagum. Ia teringat ketika dulu Thian In mengamuk, sebutir batu kecil menotok pemuda gagah itu dan membuatnya tak berdaya. Ayahnya lalu menyebut-nyebut nama Hong-san Lo-jin. Baru sambitan batu kecil saja sudah dapat merobohkan seorang yang demikian gagah seperti Thian In, maka kini mendengar penuturan Kiciu Sam-eng, ia tak merasa heran lagi.

“Dan tentang pertandingan besok malam, bagaimanakah itu?” tanyanya.

Si gemuk menghela napas. “Memang musim bunga tak dapat berlangsung selamanya. Pasti datang musim lain yang menggantinya. Keadaan kami yang aman tenteram ini pun rupanya harus ada penggoda dan perubahannya. Dulu Bu-eng-cu Koay-hiap berpesan bahwa jika ada ketidaksesuaian paham, orang-orang yang bersangkutan hanya diperbolehkan mengadakan perundingan atau pertandingan di atas Bukit Bong-san. Pertandingan ini sifatnya hanya mengadu kepandaian saja, tidak boleh saling bunuh. Siapa yang menang berhak mengajukan dua buah usul dalam persoalan itu, sedangkan yang kalah hanya berhak mempertahankan sebuah usul saja. Nah, sebulan yang lalu datanglah rombongan *piauwsu* dari Kun-lim mengantar barang melalui kota ini. Menurut peraturan, rombongan itu harus memberi uang sumbangan lima ratus tail. Mereka penasaran sekali; walaupun uang sumbangan diberikan, mereka minta bertemu besok malam di Bukit Bong-san karena katanya mereka tidak setuju dengan peraturan ini. Nah, kami bertiga sebagai ketua harus mewakili semua golongan datang ke sana untuk mengadu kepandaian bersama beberapa orang yang cukup gagah dari kota ini. Kebetulan Lihiap berada di sini, jika hendak menambah pengalaman, kami persilakan ikut ke sana.”

Giok Cu sangat tertarik. “Sebetulnya urusan ini tidak ada sangkut pautnya denganku. Tapi karena akan ada adu silat, maka hal itu tentu menarik sekali. Baik, besok malam aku datang ke sini untuk bersama *cuwi* pergi ke Bong-san. Tapi harap *sam-wi* suka memberitahukan nama kepadaku. Namaku Ong Giok Cu.”

Si gemuk pendek tertawa girang. “Kau polos dan jujur, Lihiap, seperti ayahmu pula. Kami bertiga marga Liok. Aku yang tertua bernama An, ini yang kedua bernama Wan, dan yang ketiga Kay. Kami bertiga tidak berkeluarga dan hidup sebagai pengajar silat pasaran.”

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment