Chapter 14
Jika Liok An bertubuh gemuk pendek, Liok Wan bertubuh tinggi besar, sedangkan Liok Kay sebaliknya, bertubuh tinggi kurus. Mereka bertiga terkenal sebagai orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi dan berwatak jantan.
Kemudian Giok Cu berpamitan dan kembali ke hotelnya. Ia masuk ke kamar melalui jalan tadi, yaitu dari jendela. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika ia keluar, pengurus penginapan yang rambutnya sudah memutih menghampirinya dengan senyum ramah dan sikap hormat.
"Siocia, maaf kalau kami berlaku kurang hormat kepadamu, karena kami tidak tahu bahwa Siocia adalah tamu terhormat dari Liok Sam Enghiong."
Semenjak saat itu, Giok Cu mendapat pelayanan istimewa. Kudanya pun mendapat perawatan yang sangat baik hingga gadis itu merasa berterima kasih kepada Liok An bertiga, sekaligus mengagumi pengaruh ketiga saudara itu.
Sore harinya, ia pergi ke rumah ketiga saudara Liok dengan menunggang kuda. Mereka ternyata sudah siap untuk berangkat dan semuanya berkuda. Selain saudara Liok, ada pula empat orang muda bertubuh kuat dengan gerak-gerik hebat, sehingga mudah diduga bahwa mereka pun bukanlah orang-orang lemah. Ketujuh orang itu semuanya membawa senjata lengkap. Dari kantong piau yang tergantung di pinggang Liok Kay, tahulah Giok Cu bahwa yang melepaskan piau kepadanya semalam adalah si tinggi kurus itu. Ketika melihat gadis itu memandang kantong piau-nya, Liok Kay tersenyum malu dan Giok Cu pun tersenyum sambil berkata:
"Kepandaianmu melempar piau sungguh hebat, Saudara Liok Kay." Pujian ini membuat wajah Liok Kay menjadi merah.
"Ah, kau membuat aku malu, Lihiap," jawabnya merendah. Keempat kawan mereka melihat seorang gadis muda yang cantik jelita; mereka menjadi heran dan khawatir. Biarpun telah mendengar dari ketiga saudara Liok bahwa wanita itu tidak lain adalah Pek I Lihiap yang lihai, namun mereka masih belum percaya sepenuhnya, terlebih ketika melihat Pek I Lihiap hanyalah seorang gadis yang sangat muda dan halus gerak-geriknya. Namun mereka tidak berani berkata apa-apa, hanya diam-diam merasa khawatir, sekaligus gembira karena akan pergi bersama seorang gadis yang sangat jelita.
Kebetulan malam itu terang bulan, sehingga perjalanan ke Bong-san yang tidak seberapa jauh itu dapat mereka tempuh dengan mudah. Bahkan pemandangan di sepanjang jalan sangat indah dan menarik. Cahaya bulan yang menimpa hutan dan jurang mendatangkan cahaya kuning kehijau-hijauan dengan dasar hitam. Jalan yang mereka lalui adalah jalan lebar yang berputar-putar mengelilingi bukit itu. Ketika mereka sampai di dekat puncak yang tidak seberapa tinggi, tampaklah sinar api di atas sana.
"Itulah Kwan-in-bio yang kita tuju," Liok An menunjuk dengan jarinya untuk memberi tahu Giok Cu. Setelah berkata demikian, mereka mempercepat lari kuda hingga tak lama kemudian sampailah di depan bio atau kelenteng itu.
Di depan kelenteng telah menanti belasan orang, dan kuda-kuda mereka ditambatkan pada pohon-pohon cemara di sebelah kiri bio. Belasan orang itu rata-rata bertubuh gagah dan pakaian mereka menyatakan bahwa mereka terdiri dari para piauwsu, yakni penjaga atau pengawal kiriman barang-barang berharga semacam usaha ekspedisi. Di pinggang mereka tergantung pedang atau golok. Tiga buah lampu teng dan lima buah obor menerangi tempat itu. Giok Cu mengerling tajam dengan penuh perhatian. Rombongan piauwsu itu dikepalai oleh seorang laki-laki setengah tua bertubuh tinggi dengan muka kuning, yang pada saat itu memandang dengan sikap garang dan gagah.
"Itulah dia Oey-bin-hauw Thio Kiat, si Harimau Muka Kuning," Liok An berbisik kepada Giok Cu yang berada di sampingnya. "Ia adalah ketua rombongan itu."
Si Harimau Muka Kuning maju tiga langkah dan menjura kepada Liok An yang sudah turun dari kudanya. "Nyata sekali, Kiciu Sam-eng memegang janji. Kami rombongan piauwsu dari Kunlim merasa girang sekali."
Liok An yang gemuk pendek mewakili rombongannya membalas hormat dan berkata dengan senyum dingin, "Thio Piauwsu dan rombongan sudah lama menanti? Baik sekali! Thio Piauwsu membawa rombongan yang jauh lebih besar daripada rombongan kami. Sudah tahukah peraturan pibu di bukit ini?"
Oey-bin-hauw Thio Kiat tertawa mengejek. "Tak perlu takut, tak usah cemas. Kami bukanlah golongan pengecut yang mengandalkan banyak orang untuk menghina orang lain. Kalau kami tidak salah dengar, peraturan pibu di sini adalah mengajukan jago dengan jumlah yang sama untuk diuji kepandaiannya menurut tingkat masing-masing. Kulihat cuwi datang dengan delapan orang. Baiklah, kami pun akan memajukan delapan orang saja untuk mengukur tenaga dan kepandaian cuwi."
"Jangan salah lihat, Thio Piauwsu," kata Liok An sambil mengerling ke arah Giok Cu. "Li-enghiong yang berada di sini bukanlah termasuk anggota rombongan kami, melainkan hanya sebagai tamu terhormat yang sengaja datang untuk menonton, atau boleh juga dianggap sebagai saksi!" Liok An memang cerdik; ia maklum bahwa nona itu tentu lihai, maka ia sengaja memberikan kedudukan saksi kepada Giok Cu agar jika pihak lawan berlaku curang, Pek I Lihiap akan tersinggung dan turun tangan.
Thio Kiat memperlihatkan sikap tidak senang dan memandang ke arah Giok Cu dengan menghina. "Tak percayakah cuwi kepada kami hingga harus membawa saksi segala? Tapi biarlah, kami tidak keberatan. Nah, marilah kita mulai saja. Harap majukan jago nomor tujuh!"
Setelah berunding dengan kedua saudaranya, Liok An lalu memajukan seorang pemuda bertubuh kuat. Dari pihak lawan maju seorang piauwsu berusia kira-kira lima puluh tahun.
Semua orang mengelilingi tempat pibu yang diterangi sinar lampu dan obor itu. Keadaan tegang; semua orang diam tak bersuara bagaikan menonton dua ekor ayam jago berkelahi. Menurut peraturan yang diadakan oleh Bu-eng-cu yang mereka segani, pibu ini tidak boleh menggunakan senjata tajam, jadi kedua jago itu maju dengan tangan kosong. Senjata-senjata yang mereka bawa hanya untuk menambah keangkeran dan berjaga-jaga kalau pihak lawan berlaku curang.
Jika dilihat sepintas lalu, mereka yang sedang berkelahi bukanlah lawan yang seimbang karena yang seorang pemuda kuat dan yang lain hanya seorang kakek kurus. Namun setelah mereka mulai bergerak saling serang, mudah terlihat bahwa pemuda itu jauh kalah lihai. Gerakan kakek itu gesit dan ilmu silatnya tinggi. Si pemuda hanya mengandalkan tubuh yang kuat dan ketabahan besar. Beberapa kali tubuhnya yang kebal dapat menahan pukulan kakek itu, tetapi ketika pada jurus ketiga puluh kakek itu menyerang dengan tipu Heksim atau Macan Hati, pemuda itu tidak sempat mengelak. Sodokan keras dari si kakek mengenai lambungnya hingga ia terpelanting roboh dan memuntahkan darah. Pertandingan jago ketujuh ini dimenangkan oleh pihak piauwsu. Kawanan piauwsu menyambut kemenangan kawan mereka dengan sorak-sorai gembira, sedangkan pihak jago Kiciu dengan wajah muram menggotong jagoan mereka yang pingsan.
Kawan-kawan Liok An menebus kekalahan mereka dengan memenangi pertandingan keenam dan kelima secara beruntun, tetapi pertandingan keempat kembali dimenangkan oleh pihak piauwsu. Dengan demikian, keadaan masih seri dua lawan dua.
Jago ketiga dari pihak Kiciu adalah Liok Kay si tinggi kurus, yakni Kiciu Sam-eng yang ketiga. Giok Cu pernah merasakan kelihaian sambitan piau Liok Kay dan tahu bahwa orang ini mempunyai kepandaian yang lumayan. Gadis ini dengan penuh perhatian melihat ke arah rombongan piauwsu karena ingin tahu lawan macam apa yang akan dihadapi Liok Kay. Diam-diam di dalam hati, ia mulai berpihak kepada orang-orang Kiciu karena menurut pandangannya mereka lebih sopan dan beraturan, berbeda dengan rombongan piauwsu dari Kunlim yang tampak sombong, bahkan ketuanya memandang rendah dirinya.
Dari pihak piauwsu, meloncat keluar seorang kurus kering bermuka hitam. Melihat gerakan dan jari-jari orang itu yang bagaikan kuku garuda, terkejut dan cemaslah hati Giok Cu. Buru-buru ia mendekati Liok Kay yang belum meloncat ke lapangan dan berbisik.