Chapter 16
Hal ini membuat Giok Cu marah sekali. Wajahnya menjadi merah dan sepasang alisnya yang berbentuk pedang tertarik ke atas.
“Hei, orang kerdil! Kau berani membawa-bawa aku dalam urusan ini, apakah kau mau mengandalkan Ang-See-Chiu di tanganmu? Karena kau yang mengusulkan dan melihat bahwa Thio Piauwsu agaknya masih penasaran dan tidak mau damai, baiklah kuterima tantanganmu. Mari, mari, majulah. Anggap saja aku mewakili Si gagah Bu-eng-cu untuk menghajarmu!”
Dengan kata-kata tantangan hebat ini Giok Cu melompat ke tengah lapangan. Si kerdil merasa marah sekali karena ia menganggap gadis itu terlalu menghinanya, maka begitu berseru keras ia melompat menyerang dengan kepalanya. Giok Cu memperlihatkan kepandaiannya. Tubuhnya berkelebat dan lenyap dari depan si kerdil karena gadis itu telah menggunakan ginkangnya melompat melewati kepala dan turun di belakangnya. Sebelum si kerdil membalikkan tubuh, Giok Cu menggunakan ujung sepatunya mendorong pantat si kerdil hingga tubuh pendek itu terjungkal ke depan! Ketika si kerdil dan kawan-kawannya terkejut, rombongan Kiciu justru tertawa geli dan memuji dengan kagum. Mereka semua tidak dapat melihat dengan jelas gerakan gadis itu, begitu cepat ia bergerak! Si kerdil sendiri menjadi malu dan marah sekali. Ia mengerahkan seluruh tenaga Ang-See-Chiu di tangannya hingga lengan kanannya berubah merah, jingga, lalu ia mengirimkan pukulan maut ke arah dada Giok Cu. Gadis ini sebelumnya telah mencoba kekuatan lengan Ban Kim, maka ia dapat mengukur seberapa jauh kehebatan tenaga Ang-See-Chiu itu. Maka kali ini, melihat bahwa orang itu menggunakan seluruh tenaganya dengan maksud keji, kemarahannya pun timbul dan ia ingin menghajar orang sombong ini. Ketika kedua lengan lawan mendekat, ia telah merasakan sebuah tenaga dengan hawa panas mendorongnya, cepat-cepat ia mengeluarkan kedua tangannya dan menerima pukulan lawan dengan telapak tangannya!
Si kerdil Ban Kim merasa kepalanya bersarang ke dalam daging yang lunak. Pada saat itu Giok Cu menggunakan telapak tangan kiri menerima hawa pukulan, dan dengan telapak tangan kanan, ia membalikkan tenaga itu kembali memukul si kerdil Ban Kim hanya merasakan betapa lengan kanannya menjadi kesemutan dan tiba-tiba ia menjerit ngeri ketika dadanya terasa sakit dan perih akibat serangan tenaganya sendiri yang membalik!
Ketika Giok Cu melompat mundur, si kerdil Ban Kim roboh dengan tubuh kaku dan mulut mengeluarkan darah. Rombongan piauwsu pun ribut. Mereka menjadi marah dan belasan orang itu masing-masing mencabut senjata dan maju menyerang Giok Cu. Tapi gadis itu segera membentak, “Siapa hendak mati, majulah!” Bersamaan dengan bentakan itu, Giok Cu mencabut pedang dengan tangan kanan dan melepaskan sabuk sutera berwarna kuning karena semenjak berkabung, ia mengganti sabuk merahnya menjadi sabuk kuning. Dengan gerakan secepat kilat, sabuk kuning itu meluncur ke arah kawanan piauwsu dan dengan sekali sentakan saja, dua bilah golok telah terampas oleh ujung sabuk yang bergerak-gerak bagai ular liar! Kini, kawanan piauwsu gentar. Melihat senjata dan gerakan gadis itu, di antara mereka ada yang berseru:
“Pek I Lihiap! Pek I Lihiap!” “Memang, aku Pek I Lihiap Ong Giok Cu! Bagaimana kelanjutan adu senjata ini?” Giok Cu menantang.
Semua kawanan piauwsu tidak berani bergerak. Mereka sudah mendengar akan kelihaian gadis pendekar itu. Di antara mereka yang berusia tua segera menjura dan berkata lemah, “Mohon keputusan yang adil dari Lihiap!”
Giok Cu maju menghampiri Ban Kim yang masih terlentang kaku. Ia menotok iga dan leher si kerdil itu untuk memulihkan peredaran darahnya lalu menyuruh orang mengangkatnya dan memberi obat dalam.
“Ia sombong sekali, maka aku memberi sedikit pelajaran.”
Maka berkumpullah kedua rombongan itu mengelilingi Pek I Lihiap yang memandang mereka dengan wajah sungguh-sungguh.
“Cuwi, biarpun aku belum pernah bertemu dan tidak kenal dengan Koay-jin yang kalian segani itu, namun aku rasa ia benar-benar seorang Koay-hiap yang cinta perdamaian. Memang di antara golongan sendiri mengapa harus timbul permusuhan yang hanya mendatangkan perpecahan dan kerugian? Sebetulnya, apakah pokok persoalan yang mendatangkan pertikaian di antara kedua golongan ini?”
Liok An menghela napas. “Untung kau datang, Lihiap. Kami tidak menyangka bahwa kaulah yang akan mendamaikan kami. Sebetulnya, yang menjadi sebab ialah bahwa kami mempunyai peraturan yang menentukan kepada setiap rombongan piauwkiok yang lewat daerah ini untuk memberikan sumbangan sebanyak lima ratus tail perak dengan jaminan tidak akan ada yang berani mengganggu. Dan pihak Thio Piauwsu sama sekali menolak sumbangan ini dan menghendaki dihapusnya sama sekali peraturan ini.”
“Benarkah bahwa Thio Piauwsu sama sekali tidak mau mengeluarkan uang sumbangan?” tanya Giok Cu kepada Thio Kiat.
“Bukan kami tidak mau menyerahkan uang sumbangan, tapi jumlah yang ditetapkan itu terlalu besar dan terasa berat bagi kami.”
“Jadi pada hakikatnya Thio Piauwsu mau memberikan sumbangan?” “Asalkan jumlahnya jangan terlalu besar,” jawabnya.
Kemudian Giok Cu bertanya kepada Liok An. “Dan, apakah jumlah sumbangan yang terdapat dalam peraturan itu tidak dapat diubah sedikit pun?”
Wajah Liok An memerah. “Bagi kami memang tidak berani menetapkan, tapi jumlah itu telah ditetapkan oleh Koay-hiap, kami hanya melanjutkan saja.”
“Aku harap Cuwi suka saling mengalah. Memang pemungutan sumbangan itu juga adil, karena hendaknya Thio Piauwsu ingat bahwa para hohan di Kiciu menjamin keamanan barang-barangmu yang lewat, dan untuk itu harus disediakan uang guna membiayai mereka yang menjaga. Pula, di Kiciu diadakan usaha untuk menarik golongan rimba hijau (perampok) dan mengembalikan ke jalan benar dengan memberikan pekerjaan sebagai penjaga keamanan. Tentu saja untuk biaya usaha ini harus ada sumbangan dari para dermawan dari para piauwsu yang lewat di daerah itu. Tapi sebaliknya, Liok Enghiong yang mengepalai usaha itu pun hendaknya memungut sumbangan dengan sukarela, tidak baik jika jumlahnya ditetapkan sedemikian rupa sehingga terkesan seperti paksaan!”
Baik Thio Kiat maupun Liok An mendengarkan uraian adil itu dengan tunduk. Mereka diam-diam merasa kagum kepada gadis muda belia ini yang ternyata mempunyai pandangan-pandangan luas dan pikiran sehat.
“Nah, sekarang aku mohon diri. Harapanku, Jiwi suka mengambil jalan tengah dan menyelesaikan urusan ini dengan damai. Dan bila Koay-hiap datang, tolong sampaikan hormat dan kekagumanku kepadanya.”
Setelah berkata demikian, Giok Cu menjura, memberikan hormat kepada semua orang, lalu ia menaiki kudanya pergi dari situ, diikuti pandangan mata kedua rombongan itu. Giok Cu kembali ke hotelnya dan tidur. Pada keesokan harinya ia meninggalkan hotel setelah terpaksa menerima kiriman beberapa potong emas untuk bekal dari Liok An. Karena tidak mempunyai tujuan tertentu Giok Cu melarikan kudanya menurut jalan besar. Setelah keluar dari kota, ia memacu kudanya. Mengingat perbuatannya semalam, hatinya menjadi gembira dan ia memacu kuda sambil tersenyum-senyum seorang diri. Matahari telah naik agak tinggi, memancarkan cahaya kuning keemasan di permukaan sawah ladang. Para petani yang berangkat ke sawah dengan cangkul di pundak berjalan dengan wajah berseri, sedangkan beberapa orang anak-anak menggiring kerbau dengan bersenda gurau riang. Burung-burung pagi berkicau ramai di sepanjang jalan yang ditumbuhi pohon-pohon rindang daunnya.
Giok Cu memperlambat laju kudanya ketika melewati para petani yang memandangnya dengan heran. Memang agak mengherankan dan jarang terjadi seorang gadis cantik dan muda berkuda seorang diri di pagi hari lewat jalan itu. Apalagi ketika mereka melihat gagang pedang yang tergantung di pinggang Giok Cu, mereka semakin heran dan kagum.
Tiba-tiba Giok Cu mendengar tiupan suling. Ia menghentikan kudanya dan mendengarkan. Suling itu ditiup oleh seorang anak laki-laki berusia paling banyak empat belas tahun. Tiupannya indah dan nyaring sementara lagunya bersemangat. Karena anak itu duduk di punggung kerbaunya dan berada di depan Giok Cu, maka dia tidak melihat ada seorang gadis sedang memandangnya dari belakang. Kerbaunya berjalan malas-malasan sambil mengulurkan kepala ke bawah untuk makan rumput di kiri dan kanannya. Setelah lagu yang ditiupnya habis, anak itu bernyanyi. Suaranya sumbang dan parau, tapi kata-kata nyanyian itu membuat Giok Cu terkejut dan heran. Ia memperhatikan kata-kata nyanyian yang berbunyi seperti berikut:
Pedang di tangan kiri
Pit dan kertas di tangan kanan
Menjelajahi rimba raya
Menuruni jurang, mendaki gunung
Langit suram muram
Bumi hitam, gelap, kotor
Pedang dan pit tidak berguna
Biarlah pedangku tumpul berkarat!
Biarlah pitku kering tidak bertinta!
Ini bukanlah sembarang lagu! Giok Cu memajukan kudanya sambil berpikir heran. Penggubah lagu ini tentulah seorang gagah atau seorang pandai yang kecewa dan putus asa melihat keadaan negeri yang semakin kacau.
“Hei, adik yang baik,” tegurnya kepada anak laki-laki itu, yang segera berpaling memandang. Ternyata ia mempunyai sepasang mata yang bening dan mengandung kejujuran. Kalau semua orang di jalan tadi heran melihatnya, anak ini memandangnya tak acuh, seolah menganggap keadaan Giok Cu itu biasa saja.
“Adik yang baik, nyanyianmu indah sekali. Dari siapa kau belajar nyanyian ini?” “Aku tidak belajar kepada siapa pun,” jawabnya.
“Ah, jangan berbohong, adik. Apa kau mau bilang bahwa lagu itu buah karanganmu sendiri? Ingat, berbohong bukanlah watak laki-laki. Bukankah kau seorang jantan?”
“Siapa berani mengatakan aku bukan seorang jantan?” Tiba-tiba anak itu turun dari punggung kerbaunya dan berdiri dengan dada terbusung. Sikapnya sungguh garang dan gagah hingga mau tidak mau Giok Cu tersenyum.
“Tidak ada yang menyangka demikian. Aku menganggap kau seorang jantan sejati, jantan kecil. Orang yang dapat menyanyikan lagu seperti yang kau nyanyikan tadi tentu saja seorang jantan.”
Wajah anak itu berseri girang dan sikapnya menjadi ramah.
“Yang menyanyikan ini adalah Koay-hiap. Aku sekadar mendengar ia bernyanyi siang malam di gubuknya sampai aku hafal kata-kata dan lagunya.” Lagi-lagi Bu-eng-cu, si Tanpa Bayangan! Hati Giok Cu ingin sekali melihat orang yang dikenal di mana-mana itu, siapakah Bu-eng-cu Koay-hiap ini?
“Mari antar aku ke gubuknya!” ia membujuk anak itu.
Anak itu menggelengkan kepala. “Ia telah pergi sebulan yang lalu.” “Ke mana perginya?”
Anak itu mengangkat pundak. “Siapa tahu? Tidak seorang pun pernah tahu akan pergi atau datangnya. Ia bebas lepas bagaikan burung di udara, pergi dan datang sesukanya.”
Giok Cu menjadi kecewa, tapi ia ingin tahu lebih jauh. “Bagaimana roman mukanya?”
Anak itu tersenyum sambil memandangnya penuh pertanyaan.
Wajah Giok Cu memerah lalu menambahkan, “Ia tentu sudah tua, bukan? Roman mukanya menakutkan?”
Kini anak itu tertawa geli. “Kau menganggap Koay-hiap menakutkan? Ah, ia seorang yang masih muda, wajahnya tampan, gerak-geriknya halus, dan hatinya baik. Tapi semua orang tunduk padanya.”
Giok Cu sangat tertarik tapi untuk bertanya lebih jelas lagi ia merasa malu jangan-jangan dicurigai anak itu.
“Biarlah, kalau ia sedang berada di sini, lain kali aku datang mengunjunginya,” akhirnya ia berkata sambil menaiki kudanya lagi.
“Sia-sia saja ia paling takut bertemu dengan gadis cantik.”
“Apa kau katakan?” Giok Cu membentak marah karena mengira anak itu sedang mempermainkannya.