Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih - Chapter 17

Memuat...
Pendekar Wanita Baju Putih

Chapter 17

"Benar, aku tidak dusta. Pernah ada seorang nona mencarinya, tetapi ia segera lari pergi seakan-akan ketakutan!"

Giok Cu merasa aneh. Kemudian ia mengeluarkan sepotong perak dan melemparnya ke arah anak itu yang diterimanya dengan senyum girang. Lalu Giok Cu memacu kudanya.

Ketika kudanya berlari sejauh belasan *li* dari tempat itu, ia memasuki sebuah hutan. Hatinya agak gentar melihat betapa hutan itu sangat liar dan gelap. Tetapi, ia menetapkan hati dan terus memacu kudanya. Ketika ia sampai di sebuah tempat di mana banyak tumbuh rumput alang-alang, tiba-tiba kudanya berhenti dan mengangkat kedua kaki depannya sambil meringkik ketakutan. Dari jauh terdengar geraman harimau yang menggetarkan hutan itu.

Giok Cu cepat melompat dari kudanya dan mencabut pedang. Hatinya berdebar. Belum pernah ia melawan harimau, tetapi dengan pedang di tangan ia tidak merasa takut. Ia menanti agak lama, tetapi harimau itu belum juga muncul. Hal ini membuatnya marah karena ia merasa dipermainkan. Haruskah ia berhenti saja di situ menanti munculnya raja hutan itu? Pikiran ini membuatnya nekat. Ia segera menuju ke arah tempat di mana geraman tadi terdengar.

Tiba-tiba terdengar harimau menggerung hebat dan rumput alang-alang jauh di depannya bergerak-gerak, seakan-akan di situ ada dua makhluk bertempur hebat. Sekali lagi harimau itu menggereng hebat, tetapi kali ini disusul oleh suara laki-laki bernyanyi:

Langit suram muram

Bumi hitam gelap kotor

Pedang dan *pit* tak berguna

Biarlah pedangku tumpul berkarat

Biarlah *pit*ku kering tak bertinta

Giok Cu terkejut. Ini adalah lagu yang dinyanyikan anak petani tadi! Siapakah yang bernyanyi di depan itu? Ia segera berlari ke arah tempat itu, tetapi yang didapatnya hanya rumput alang-alang yang rusak terpijak dan bekas-bekas perkelahian hebat, sedangkan di sana-sini tercecer darah! Ia melompat mengejar ketika mendengar suara berkeresekan jauh di depannya. Untuk sekejap mata ia melihat punggung seorang yang berbaju biru. Di pundak orang itu tergantung bangkai seekor harimau yang besar!

Hati Giok Cu berdebar dan tak terasa ia berteriak memanggil, “Engko Thian In!” Tetapi, sekali berkelebat bayangan orang itu lenyap dari pandangan. Giok Cu mengerahkan ilmu larinya untuk mengejar, tetapi ia tak melihat lagi bayangan orang itu. Ia menjadi bingung dan tiba-tiba saja bersedih sekali. Sambil menjatuhkan tubuh duduk di atas rumput, ia menangis tersedu-sedu dan menggunakan ujung bajunya untuk menutupi mukanya!

Setelah agak lama menangis, akhirnya ia dapat juga menenangkan hati dan pikirannya. Lalu, ia teringat kembali kepada orang tadi. Benarkah dugaannya? Benarkah orang itu Souw Thian In? Memang potongan tubuhnya sama, warna bajunya pun biru. Tetapi sayang, ia tak dapat melihat wajahnya. Thian In atau bukan, ia kagum sekali akan kepandaian orang itu. Sekejap saja ia dapat membunuh seekor harimau sebesar itu, dan dengan memanggul harimau ia dapat bergerak secepat itu. Padahal biasanya Giok Cu jarang kalah dalam hal berlari cepat. Tetapi kali ini ia tak berdaya sama sekali. Sekali berkelebat saja, orang itu telah lari jauh dan tak tampak pula!

Dengan hati berat dan pikiran kecewa, Giok Cu menghampiri kudanya dan naik ke punggungnya dengan perlahan. Lalu, ia menarik kendali kudanya dan melanjutkan perjalanannya.

Begitu lama ia memacu kudanya, tiba-tiba dari belakang terdengar suara kaki kuda berlari cepat dibarengi suara teriakan keras:

“Nona yang di depan, tunggu!”

Biarpun orangnya belum tampak dan suara kaki kuda masih jauh, namun suara teriakannya terdengar jelas dan nyaring hingga hati Giok Cu berdebar. Tenaga dalam orang itu betul-betul tidak boleh dianggap remeh!

Ia menahan kudanya dan membalikkan kuda itu untuk menanti datangnya orang yang berteriak menahannya. Tak lama kemudian, datanglah orang yang dinantinya. Ia tak lain adalah si kerdil Ban Kiam yang datang berkuda. Di sebelah kudanya, tampak seorang *saykong* dengan rambut panjang menutup muka dan lehernya berlari cepat. Hebat sekali kepandaian *saykong* itu. Biarpun kuda sebagai makhluk yang pandai berlari pesat, ternyata kedua kaki *saykong* itu dapat mengimbangi pergerakan empat kaki kuda itu! Agaknya, *saykong* itulah yang berteriak tadi.

Giok Cu berlaku waspada dan ia mencoba menenangkan hatinya.

“Eh, kiranya kau yang menyusul. Ada keperluan apakah?” tanyanya dengan suara acuh. Ban Kiam memandangnya dengan muram, lalu ia memperkenalkan *saykong* itu.

“*Lihiap*, ini adalah *Su-Siok*ku bernama Gan Tin-cu. *Su-Siok*, inilah dia Pek I *Lihiap* seperti yang *teecu* ceritakan tadi.”

*Saykong* itu menggunakan sepasang matanya yang merah memandang Giok Cu dengan tajam, kemudian ia tertawa terbahak-bahak memperlihatkan isi mulutnya yang kosong tak bergigi!

“Kukira Pek I *Lihiap* adalah siluman wanita yang berkepala tiga berlengan enam. Tidak tahunya, seorang gadis cantik jelita yang berkulit halus putih. Ha, ha, ha!”

Giok Cu marah sekali. Ia melompat turun dari kudanya dan menuding kepada si kerdil sambil memaki, “Eh, kerdil, apa maksudmu menyusul aku membawa-bawa orang yang miring otaknya ini?”

“Nona kecil, jangan kau lancang mulut!” *Saykong* itu berkata mengancam. “Ingatkah kau beberapa bulan yang lalu di Kota Tit-lee telah membunuh seorang muridku bernama Cu Lok?”

“Ah, jadi penjahat Cu Lok itu adalah muridmu? Pantas kalau begitu. Kejahatannya telah bertumpuk-tumpuk. Di Kota Tit-lee ia telah banyak melakukan perampokan, pembunuhan, perkosaan, maka sudah sepantasnya dia kubunuh!”

“Hm, hm, mengoceh seenaknya! Dan malah tadi kau telah menghina Ban Kiam, keponakanku ini.”

“Siapa suruh ia berlaku sombong dan mengagulkan kepandaiannya yang tak seberapa itu?” Giok Cu menjawab tabah.

“Kau memang sombong, Pek I *Lihiap*! Tetapi, mengingat kau masih sangat muda dan pula kau sangat cantik, juga karena aku pernah kenal baik dengan Ong Kang Ek, ayahmu, maka biarlah kau kuberi ampun. Tetapi kau harus berlutut dan mengangguk tiga kali padaku serta berjanji bahwa lain kali kau takkan berani lagi mengganggu anggota Kwi-san-pay, barulah aku akan memberi ampun kepadamu.”

“*Saykong* jahanam! Kau kira aku takut padamu? Majulah biar kau kuantar menyusul muridmu yang rendah itu ke neraka!”

Gan Tin Cu tertawa aneh untuk menunjukkan kemurkaannya. Ia mencabut sebatang tongkat berwarna hitam yang terselip di pinggangnya. “Kalau kau begini sombong dan berkepala batu, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku memaksa kau berlutut!” Sehabis berkata demikian, tongkatnya bergerak menyambar. Giok Cu menggerakkan pedangnya untuk menangkis, tetapi hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena tongkat itu ternyata terbuat dari baja yang berat dan digerakkan oleh tangan yang kuat pula! Melihat pedang Nona itu terpental oleh sambaran tongkatnya, *saykong* itu tertawa menyindir dan meneruskan serangannya. Giok Cu berkelit ke samping lalu menggerakkan sabuk suteranya menyambar leher orang. Ia bermaksud membelit leher *saykong* itu dan menyendalnya sampai roboh. Tetapi sayang, *saykong* itu meniup dengan mulutnya sambil berseru keras dan ujung sabuknya ternyata dapat tertiup pergi! Sekali lagi Giok Cu merasa terkejut dan tahu bahwa kepandaian *saykong* ini masih jauh berada di atasnya. Akan tetapi ia tidak mau menyerah kalah. Dengan kertak gigi, ia mengeluarkan kepandaian turunan ayahnya dan memainkan pedang di tangan kanan serta sabuk sutra di tangan kiri dengan cepat hingga kedua senjata itu bergulung-gulung merupakan dua sinar yang menyerang lawannya. Tetapi tongkat Gan Tin-cu lihai sekali. Dengan goyangan perlahan saja, semua serangan pedang Giok Cu dapat dipatahkan. Perlahan tetapi pasti, bayangan tongkatnya makin melebar dan menekan pedang dan sabuk sutra Giok Cu yang telah terdesak hebat. Hanya kenekatan dan ketabahan gadis yang pantang menyerah itulah yang membuat Giok Cu bertahan sampai lima puluh jurus lebih!

Pada saat gadis itu telah terdesak mundur sampai ke bawah pohon *siong tun*, tiba-tiba tongkat Gan Tin-cu menyerang hebat ke arah kepala gadis itu. Giok Cu menggunakan pedang untuk menangkis, dan berbarengan itu tangan kirinya menyabetkan sabuknya ke arah pinggang lawan. Tetapi Gan Tin-cu menangkap ujung sabuk itu dengan tangan kiri, dan secepat kilat kaki kanannya bergerak menendang ke arah lutut Giok Cu sambil berseru dibarengi tertawa, “Berlututlah kau gadis sombong!”

Giok Cu merasa bahwa kali ini ia takkan dapat mempertahankan diri lagi. Tongkat yang menyambar kepalanya dapat ditangkis dengan pedang. Tetapi, tarikan sabuknya oleh tangan kiri *saykong* itu membuat kuda-kudanya terguncang dan ia tak mungkin dapat menghindarkan diri dari tendangan kilat itu. Ia hanya memejamkan mata menanti datangnya tendangan dan bertekad dalam hati takkan berlutut. Kalau perlu, biar jatuh pun ia akan berusaha miring dan tidak menghadap kepala *saykong* itu! Tetapi pada saat itu ia mendengar Gan Tin-cu berteriak keras menahan sakit! Giok Cu cepat membuka matanya dan hampir tak dapat percaya pandangan matanya sendiri! Gan Tin-cu memegangi kaki kanannya yang dipakai menendang tadi karena betis kaki itu telah mengucurkan darah dengan hebat! *Saykong* itu marah sekali dan bergerak hendak menubruknya, tetapi tiba-tiba saja tubuh *saykong* itu bagaikan terbawa angin dan terlempar ke belakang! Gan Tin-cu berteriak-teriak lebih hebat dari tadi, dan kini ia memegangi pundak kirinya yang mengeluarkan darah hingga tangan kirinya menjadi lemas.

Kali ini *saykong* itu memandang ke arah Giok Cu dengan mata terbelalak lebar dan penuh keheranan. “Kau menggunakan ilmu siluman! Baiklah, Pek I *Lihiap*, kali ini aku mengaku kalah, tetapi kalau kau memang wanita gagah, datanglah ke Kwi-san. Kalau kau berani datang, di sana kita bertempur mengadu jiwa!”

“Kau menggunakan akal bulus untuk diberi kesempatan lari!” Giok Cu menyindir. “Baiklah, kau larilah dan bawalah si kerdil ini pergi dari sini pula. Tentang mampir ke Kwi-san, kalau kebetulan aku lewat, tentu aku akan melihat-lihat gunungmu itu!”

Gan Tin-cu menyeret kaki kanannya dan dengan bantuan Ban Kiam, ia naik ke punggung kuda si kerdil. Kini, *saykong* itulah yang naik kuda, sedangkan Ban Kiam menuntun kuda sambil berjalan perlahan. Mereka pergi sambil bersungut-sungut, diikuti gelak tawa Giok Cu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment