Chapter 18
Setelah mereka pergi jauh, Giok Cu berpaling sambil berteriak memanggil, “In-kong, keluarlah agar aku dapat menghaturkan terima kasihku!” Ia memanggil berkali-kali dengan harapan munculnya Thian In yang dinanti-nantikannya, tetapi tak seorang pun menjawab. Tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar suara nyanyian:
*Pedang di tangan kiri*
*Pit dan kertas di tangan kanan*
*Menjelajah rimba raya*
*Menuruni jurang mendaki gunung....*
Giok Cu mendengarkan lagu itu dengan terpaku dan sekali lagi tak terasa air matanya menetes di sepanjang pipinya. Mengapa Koay-hiap tidak mau bertemu dengannya? Bukankah Koay-hiap ini Souw Thian In? Apakah Thian In masih menaruh dendam karena urusan ibu mereka yang bermusuhan? “Ah, nasib...” gumamnya. Sekali lagi Giok Cu merasa hatinya hancur hingga tanpa sadar ia menghampiri kudanya lalu menyandarkan kepalanya di leher kuda itu. Kedua tangannya merangkul leher itu dan ia menangis terisak-isak. Kudanya seakan mengerti kesedihan sang penunggang; beberapa kali kuda itu memalingkan muka dan menjilat tangan Giok Cu sambil meringkik pelan.
Setelah puas menangis, Giok Cu menaiki kudanya dan menjalankannya perlahan. Hari telah sore ketika akhirnya ia keluar dari hutan yang luas itu. Melihat pemandangan di luar, hatinya merasa sedikit lega dan pikirannya tak segelap tadi. Ia pun merasa sangat lapar dan teringat bahwa sejak pagi belum makan apa-apa.
“Ayo kudaku yang baik, kita cari makanan!” katanya sambil memacu kuda itu. Dengan cepat, keempat kaki kuda itu berderap kencang hingga Giok Cu mendengar angin bersiutan di telinganya.
Tak lama kemudian, ia melihat sebuah klenteng tua di pinggir jalan. Bau asap masakan yang sedap membuat perutnya makin lapar. Ia terpaksa membelokkan kudanya ke halaman klenteng itu karena tak dapat menahan lapar lebih lama lagi. Ia mengikatkan kendali kuda di pohon dan mengetuk pintu.
Di luar dugaannya, yang membuka pintu bukanlah seorang biksu atau biarawati, melainkan seorang laki-laki tinggi besar yang berjenggot lebat.
“Aku hendak bertemu dengan pendeta klenteng ini,” kata Giok Cu ragu-ragu. Orang itu memandang tajam lalu tertawa.
“Bukankah Nona hendak mencari makanan?” Giok Cu terkejut dan merasa curiga.
“Nona jangan curiga atau cemas. Aku dengan tiga orang saudaraku juga tamu di sini. Klenteng ini kosong tidak ada penghuninya. Kami berempat pun merasa lapar dan berhenti di sini untuk memasak. Kalau Nona sudi, silakan makan bersama kami.”
Giok Cu hendak menolak, tetapi perutnya sudah tidak tertahan lagi. Orang itu menyadari keraguannya, maka sambil tersenyum dan melirik ke arah pedang di pinggang Giok Cu, ia berkata lagi, “Nona, tak usah khawatir. Aku lihat Nona membawa pedang pusaka, tentu Nona ahli silat, jadi kita masih segolongan. Kami pun penjual obat dan pemain silat keliling.”
Maka tenanglah hati Giok Cu. Ia menjura dan berkata, “Maaf kalau aku mengganggu. Jika Tuan sudi menolong, aku haturkan banyak terima kasih.”
Orang berjenggot itu menjawab dengan rendah hati lalu mempersilakan Giok Cu memasuki ruangan belakang. Benar saja, di sana terdapat tiga orang laki-laki lain yang duduk mengelilingi meja sambil menghadapi empat macam masakan daging rusa yang mengepulkan uap dan berbau sedap. Ketiga orang itu heran melihat saudara mereka membawa seorang gadis cantik, tetapi setelah diberitahu bahwa gadis itu adalah tamu, mereka dengan ramah mempersilakan Giok Cu duduk. Gadis itu merasa sangat berterima kasih. Mereka pun segera mulai makan.
Setelah menghabiskan semangkuk daging rusa, rasa lapar Giok Cu berkurang dan kecurigaannya lenyap. Ia memperhatikan keempat orang itu yang tampak bertubuh kuat dan bersikap gagah.
“Tuan-tuan sekalian, apakah tadi bertemu dengan seseorang yang berbaju biru?” tanyanya.
“Berbaju biru? Ah, sejak siang tadi kami tak bertemu dengan siapa pun, Nona. Siapa orang yang kau maksud?”
“Dia adalah Bu-eng-cu Koay-hiap,” kata Giok Cu.
Mendengar nama itu, orang termuda yang sedang minum arak langsung terbatuk hingga arak di mulutnya tersembur keluar. Teman-temannya yang lain memandang Giok Cu dengan mata terbelalak dan bertanya hampir berbarengan, “Di mana Koay-hiap berada? Apakah dia di sini?” Mereka memandang ke sekeliling dengan ketakutan. Giok Cu merasa heran dan tersenyum melihat sikap mereka. “Tidak, dia tidak berada di sini. Kalau dia ada di sini, tentu ia menemuiku.”
Keempat orang itu tampak lega namun kini memandang Giok Cu dengan curiga dan segan. Laki-laki berjenggot tadi berulang kali melirik ke arah pedang gadis itu. Kemudian, mereka menuangkan arak ke mangkuk Giok Cu dan mempersilakannya minum.
Meskipun Giok Cu tidak terlalu suka arak, namun karena merasa orang-orang ini telah berlaku baik padanya, ia merasa tidak enak hati untuk menolak. Ia mengangkat mangkuk itu ke mulutnya, tetapi sebelum sempat meminumnya, tiba-tiba terdengar bunyi "ting!" yang nyaring. Mangkuk itu terlempar dari pegangannya hingga isinya tumpah membasahi pakaiannya.
Keempat orang itu tiba-tiba melompat dan mencabut senjata masing-masing. Tanpa bicara lagi, mereka menyerang Giok Cu. Gadis itu kaget namun tetap waspada. Sekali lompat, ia sudah berada di ruang tengah, lalu dengan dua loncatan lagi ia sudah berada di halaman klenteng dengan pedang dan sabuk sutra di tangan.
Empat orang itu memburu dengan garang. Giok Cu menghunus pedangnya dan berkata, “Tahan dulu! Apa kehendak kalian? Mengapa kalian memusuhiku?”
Si jenggot berkata singkat, “Serahkan saja buntelan dan pedangmu, kami akan biarkan kau pergi dengan aman. Anggap saja itu sebagai bayaran makanan.”
“Jadi kalian ini perampok? Tak heran kalian takut mendengar nama Koay-hiap!” seru Giok Cu.
“Jangan banyak bicara! Serahkan barangmu!” bentak berandal itu.
Ternyata kemampuan mereka biasa saja. Dengan sabuk sutranya, Giok Cu berhasil mengocar-ngacirkan mereka. Dalam beberapa puluh jurus saja, mereka telah terlempar dan tidak berdaya. Giok Cu menggunakan sabuknya untuk menyabet dan melilit kaki mereka hingga mereka bergulingan di tanah. Mereka segera berlutut memohon ampun. Giok Cu tertawa geli. “Ha, perampok rendah. Aku ampuni kalian karena kalian telah memberiku makan hari ini. Meskipun aku tahu sekarang bahwa di dalam arak itu tentu ada racun, bukan?”
Mereka tidak mampu menjawab, hanya mengangguk-angguk memohon ampun. “Ketahuilah bahwa aku, Pek I Lihiap, tidak suka membalas budi orang dengan pembunuhan. Nah, pergilah!”
Empat orang itu segera memungut senjata mereka lalu lari terbirit-birit.
Giok Cu kembali ke ruang dalam. Ia menuangkan sisa arak dari guci ke dalam mangkuk dan mencabut tusuk kondenya yang terbuat dari perak asli. Ia mencelupkan ujung tusuk konde itu ke dalam arak. Ternyata ujung tusuk kondenya berubah warna menjadi hijau kehitam-hitaman! Giok Cu merasa ngeri sekaligus bersyukur telah terhindar dari bahaya. Sekali lagi ia tertolong secara rahasia. Ia yakin bahwa yang menolongnya pastilah Bu-eng-cu Koay-hiap, orang aneh yang cara kerjanya selalu penuh rahasia. Ia menduga bahwa mangkuk arak di tangannya tadi pecah terkena senjata rahasia kecil.
Mengingat pengalamannya, ia menghela napas. Ternyata ilmu silat tinggi saja tidak menjamin keamanan seseorang. Tadi ia hampir menjadi korban perampok yang kemampuannya tidak seberapa. Selain kepandaian silat, ia butuh pengalaman agar selalu waspada.
Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Rasanya tidak mungkin klenteng ini kosong karena keadaannya sangat bersih. Lagi pula, bagaimana para perampok tadi bisa memasak daging rusa jika tidak ada bumbu dan alat masak? Giok Cu segera lari ke ruang belakang untuk memeriksa kamar-kamar. Benar saja, di dalam sebuah gudang ia menemukan tiga orang pendeta tua yang terikat kaki dan tangannya serta disumbat mulutnya. Segera ia lepaskan ikatan mereka dan menceritakan bahwa para penjahat itu telah diusir.
Keempat perampok itu ternyata telah merampok klenteng dan menyekap penghuninya untuk menanti orang yang lewat. Kebetulan Giok Cu yang melintas hingga kejahatan mereka terhenti. Ketiga pendeta itu menghaturkan terima kasih. Giok Cu menolak dengan rendah hati dan meminta izin untuk menginap di sana semalam. Para pendeta itu pun menerimanya dengan senang hati.
Keesokan paginya, Giok Cu telah berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Ia menemui para pendeta di ruang belakang untuk menghaturkan terima kasih dan menanyakan arah jalan.