Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih - Chapter 25

Memuat...
Pendekar Wanita Baju Putih

Chapter 25

Nyonya Thio menahan tubuhnya dengan tangan, lalu mendorongnya perlahan untuk berbaring kembali. "Tidurlah saja, Giok Cu, badanmu masih lemah. Kebetulan sekali Siauw Seng mengirim buah-buahan dari ibu kota. Nah, ini untukmu," nyonya itu menyerahkan beberapa butir buah.

"Siapakah Siauw Seng, Peh-bo?" Nyonya Thio menggunakan tangannya untuk menutup mulut sambil tertawa.

"Lupakah kau? Dia adalah anak kami. Namanya Seng, tapi dari dulu kami memanggilnya Seng Kecil (Siauw Seng)."

"Peh-bo, sungguh saya merasa berutang budi kepada kalian berdua. Kebaikan hatimu membuat saya malu. Maka besok saya hendak melanjutkan perantauan saya, Peh-bo."

Nyonya Thio menghela napas. "Kau... sudah tidak mempunyai orang tua lagikah?" Giok Cu menggelengkan kepalanya dengan sedih.

"Dan keluarga lain?" Kembali Giok Cu menggelengkan kepala.

"Dan... jangan marah, ya. Itu... pemuda yang dulu bersamamu? Siapakah dia? Masih keluargamukah?"

"Bukan! Ia hanyalah... kenalan ayah ketika beliau masih hidup. Kebetulan saja aku berjumpa dengannya di kota ini."

"Jadi... kau belum menikah?"

Giok Cu termenung sebentar, wajah halus itu tersenyum lalu menggelengkan kepala.

"Belum bertunangan?" Pertanyaan ini diajukan dengan sangat hati-hati.

Giok Cu mengernyitkan dahi sebentar lalu menjawab mantap: "Belum. Mengapa kau tanyakan hal itu, Peh-bo?"

Nyonya Thio menghela napas. "Terus terang saja, Nak. Peh-pohmu dan aku sering membicarakanmu dan kami menganggapmu seperti anak sendiri. Kami suka dan kasihan padamu. Kami... kami... jika kau suka, kami akan sangat senang mengambilmu sebagai menantu untuk dijodohkan dengan Siauw Seng..."

Giok Cu bangkit dan duduk dengan serentak. Ia memandang dengan mata terbuka lebar kepada nyonya yang tersenyum itu.

"Ah, Peh-bo..." Tiba-tiba Giok Cu memeluk nyonya itu dan menangis sedih. Nyonya Thio mengelus-elus pundak gadis itu dengan penuh kasih sayang.

"Kalau kau hidup sebatang kara, bukankah baik sekali jika kau menerima pinanganku, Giok Cu? Kau akan mendapat keluarga dan orang tua yang akan selalu berbuat baik padamu. Tapi ingat Nak, aku tidak memaksa. Aku tahu bahwa sebagai seorang gadis pendekar yang sering merantau dan banyak melihat dunia, kau tentu tidak puas menerima begitu saja. Maka biarlah kutunggu sampai Siauw Seng pulang, lihatlah sendiri putra kami itu. Kalau ia tidak terlalu buruk dan tidak terlalu bodoh, kuharap engkau dapat menerima kehendak kami ini."

"Bukan demikian, Peh-bo. Tapi... tapi aku..." Giok Cu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena hatinya terisak-isak. Nyonya Thio bangkit berdiri dan setelah menepuk-nepuk bahu gadis itu beberapa kali dengan mesra, ia berkata:

"Jangan banyak bersedih, Nak, dan jangan bingung tentang pinangan itu. Kau mempunyai banyak waktu untuk mempertimbangkannya. Sekarang beristirahatlah, badanmu masih lemah."

Setelah berkata demikian, nyonya yang baik hati itu meninggalkan kamar Giok Cu. Gadis itu duduk termenung seorang diri. Pikirannya berputar-putar dan melayang jauh. Ia hendak dijodohkan dengan putra Tihu, seorang pemuda sastrawan. Ia teringat kepada Kam Ciu. Pemuda itu juga dianggap sastrawan ketika meminangnya dan ditolak hanya karena alasan bahwa ia seorang pemuda sastrawan yang lemah! Ah, ia telah menolak pemuda seperti Kam Ciu dan salah memilih seorang pemuda yang hendak membunuhnya, yang telah mendatangkan malu dan noda pada keluarganya.

Dan sekarang ia akan dijodohkan dengan seorang pemuda sastrawan lain, sastrawan tulen? Ia bingung, akhirnya merasa pusing dan tanpa terasa tertidur kembali. Di dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan Thian In yang mengejarnya dengan pedang terhunus dan hendak membunuhnya. Ia akhirnya tidak kuat lari lagi dan menanti pemuda itu dengan nekat, lalu berkata bahwa ia tidak akan melawan dan rela dibunuh asalkan pemuda itu mau menceritakan sebab permusuhannya dengan ayahnya. Tapi Thian In tidak menjawab, hanya terus menyerang dan menyabetkan pedang ke leher Giok Cu! Giok Cu berkelit, tetapi pedang itu masih terus bergerak mengikuti leher hingga ia menjerit dan tersadar dari tidurnya!

Giok Cu menyeka keringat yang membasahi leher dan dahinya. Seketika timbul rasa penasaran dalam hatinya terhadap Thian In. Mengapa pemuda itu belum mau juga membuka rahasianya? Mengapa belum juga menceritakan riwayat terjadinya permusuhan?

Malam hari itu, ketika Nyonya Thio memasuki kamar Giok Cu, ia melihat kamar itu telah kosong. Gadis itu diam-diam telah pergi, hanya meninggalkan sehelai surat di atas meja. Dengan kecewa dan terharu, Nyonya Thio membaca surat itu.

"Thio Peh-bo yang tercinta, sungguh saya merasa berdosa besar dan malu sekali telah pergi diam-diam tanpa pamit, setelah Peh-bo berdua begitu baik terhadap saya. Tapi apa boleh buat, sebuah urusan yang sangat penting memaksa saya pergi malam ini juga. Saya belum dapat menceritakan urusan apa ini, dan pada bulan depan, sekiranya saya masih hidup, pasti saya akan datang menghaturkan maaf di hadapan Peh-bo berdua. Hormat saya: Ong Giok Cu."

Diam-diam Nyonya Thio mengeluh. Ah, dasar anak perempuan *kang-ouw*. Sayang dia bukan gadis terpelajar biasa yang tidak mengenal segala kekasaran dari dunia persilatan, pikirnya. Maka timbullah sedikit rasa kecewa dalam hati nyonya yang halus budi itu. Ia pun pergi menemui suaminya sambil membawa surat Giok Cu. Thio Tihu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil meraba-raba kumisnya.

Seperti orang yang tidak sehat pikirannya, Giok Cu pada tengah malam buta meninggalkan gedung Tihu, memacu kudanya keluar kota, dan semalam penuh tiada hentinya ia berpacu melawan angin malam. Ia tidak mempedulikan hawa malam yang dingin, tidak mempedulikan tubuhnya yang baru saja sembuh dari sakit itu menjadi basah oleh keringat. Ia melarikan kudanya seperti dalam mimpi. Satu-satunya pikiran yang terbayang dalam otaknya adalah kejar dan cari Thian In!

Fajar telah menyingsing ketika ia memasuki kota kecil yang ramai. Bau masakan yang keluar dari sebuah rumah makan menyadarkannya bahwa perutnya sejak malam tadi terasa lapar dan minta diisi. Ia menghentikan kudanya di depan rumah makan itu dan setelah mengikat kendali kuda pada sebuah tiang, ia masuk. Rumah makan itu kecil tetapi telah ramai. Giok Cu agak heran melihat kerajinan orang-orang di situ, sepagi itu telah keluar rumah dan berada di rumah makan. Mungkin di situ terdapat pasar yang buka pagi-pagi, pikirnya.

Rumah makan itu berloteng, dan karena di bawah terlalu penuh, Giok Cu naik ke loteng. Semua tamu yang makan di situ adalah laki-laki belaka, dan tak seorang pun tidak menoleh memandangnya semenjak ia memasuki pintu rumah makan. Hal ini membuat Giok Cu merasa gusar sekali hingga ketika ia sudah sampai di loteng, ia duduk sambil menarik kursi keras-keras.

Yang makan di atas loteng hanyalah serombongan orang terdiri dari seorang tua dan empat orang muda. Pakaian mereka menunjukkan bahwa mereka adalah ahli silat dan di pinggang mereka tergantung pedang. Tapi Giok Cu tidak memperhatikan mereka, ia hanya makan dengan lahap. Ia tidak tahu bahwa seorang di antara pemuda itu memandangnya dengan penuh gairah. Ketika ia kebetulan menoleh, marahlah ia karena orang muda itu memandangnya dengan tatapan kurang ajar dan mulut cengar-cengir!

Bangsat, pikirnya. Untuk melampiaskan rasa mendongkolnya, Giok Cu berdiri dengan serentak dan pergi hingga kursi yang tadi didudukinya terguling dan mengeluarkan suara keras! Tapi gadis itu tidak mempedulikan itu semua, ia hanya cepat membayar harga makanan dan menunggangi kudanya.

Setelah keluar dari kota, pikirannya agak tenang. Hawa sangat sejuk dan pemandangan indah. Maka ia menjalankan kudanya dengan perlahan. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki kuda di belakangnya. Segera ia menghentikan kudanya dan minggir. Ternyata yang datang adalah lima orang yang tadi sedang makan di loteng rumah makan. Pemuda yang tadi memandangnya dengan sikap menjemukan itu menahan tali kendali kudanya hingga kawan-kawannya pun terpaksa berhenti.

Orang tua itu mengangkat tangan memberi hormat. "Nona, boleh aku bertanya, nona hendak ke mana?" Kata-katanya diiringi senyum memikat.

Giok Cu mendongakkan kepalanya. "Hendak ke mana pun aku, apakah hubungannya denganmu?"

Orang itu tersenyum dan melirik kawan-kawannya yang juga tersenyum mendengar dan melihat lagak gadis yang galak itu. "Tidak apa-apa, Nona. Hanya kalau kita searah, bukankah lebih enak kita jalan bersama daripada menyepi seorang diri?"

Giok Cu sangat marah, wajahnya memerah. "Kau anggap aku orang apa, maka kau berani berlaku kurang ajar?"

Orang itu makin lebar senyumnya. "Kau? Kau kuanggap orang yang cantik jelita, sayang sedikit galak!"

"Bangsat rendah, kau cari mampus!" Giok Cu mencabut pedangnya dan melompat turun dari kudanya.

Pengganggunya melompat turun juga dan sambil memandang kawan-kawannya ia berkata: "Ah, tak kusangka gadis cantik ini pandai main pedang. Toako, perkenankanlah aku bermain-main sebentar dengan orang ini."

Orang yang tertua mengangguk tersenyum. "Tapi berhati-hatilah, jangan kau mencelakainya."

"Mana aku tega hati untuk melukai kulitnya yang halus dan putih bersih itu?" orang itu berkata, tetapi ia harus segera menahan tawa ketika pedang Giok Cu datang menyambar!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment