Halo!

Pendekar Wanita Baju Putih - Chapter 31

Memuat...
Pendekar Wanita Baju Putih

Chapter 31

Pada saat itu terdengar suara orang bernyanyi. Yang dinyanyikan adalah lagu-lagu yang diambil dari sajak To-tik-khing. Ketika Thian In dan Giok Cu menengok, ternyata pintu depan yang tadinya tertutup kini telah terbuka dan dari pintu muncullah seorang pemuda berpakaian sebagai seorang siucay atau sastrawan. Sambil berjalan lenggang kangkung ke arah mereka, orang itu tiada hentinya bernyanyi dengan suara tinggi.

Ketika ia telah datang dekat, bukan main heran hati Giok Cu dan Thian In karena orang itu tidak lain adalah Gan Kam Ciu!

Kam Ciu melewati Thian In dan Giok Cu seakan-akan tidak mengenalnya, dan ketika kedua orang muda itu hendak menegurnya, ia menggunakan sebelah mata mengedip dan memberi tanda, hingga Giok Cu hanya memandang dengan bengong, terheran-heran! Tapi Thian In tampak tersenyum-senyum dan agaknya ia tahu akan permainan sandiwara yang dilakukan oleh Kam Ciu!

Seperti seorang yang tolol, Kam Ciu mendekati meja tempat main catur dan berdiri bersedekap sambil terus saja bernyanyi-nyanyi.

Tiba-tiba Ceng Po Hoatsu yang baru pusing karena rajanya terkurung, merasa marah dan terganggu sekali. Ia mengangkat kepala dan membentak, “Bodoh! Diam jangan gaduh!”

Kam Ciu menjulurkan lidah dan mengangkat pundak. Ia lalu pindah ke belakang Ceng Po Hoatsu dan memberi nasihat serta petunjuk.

“Berikan saja kuda itu. Nah, yang di kanan itu, biar saja dimakan kuda kurus itu.” Mula-mula Ceng Po Hoatsu marah-marah, tapi entah mengapa, ia menurut juga! Beberapa langkah dijalankan oleh Ceng Po Hoatsu menurut petunjuk Kam Ciu yang agaknya ahli main catur pula hingga akhirnya Gak Ong Tosu menggebrak meja karena mereka bermain seri!

“Ha, ha! Gak Ong Tosu! Jangan kau buru-buru bergembira, akhirnya kita toh seri juga. Jadi taruhan itu harus dibagi dua!” Kemudian mereka berdua memandang ke arah Giok Cu dan Thian In.

“He, kemari kau!” Gak Ong Tosu melambaikan tangan ke arah Giok Cu. “Coba kau pilih di antara kami berdua, mana yang lebih kau suka?”

Bukan main marahnya Giok Cu. Ia mencabut pedangnya. Thian In melangkah maju dan berkata, “Tidak pantas menghina yang muda.”

Gak Ong Tosu memandang Thian In seperti juga baru saat itu ia melihat pemuda itu, ia berdiri dan menuding,

“Eh, kau? Kau berani berlaku kasar terhadap susiokmu? Ayo berlutut!”

Tapi Thian In sudah memuncak marahnya maka sambil memelototkan mata ia menjawab, “Aku tidak mempunyai susiok seperti kau!”

“Eh, kurang ajar!” Gak Ong Tosu mengulurkan tangannya, tapi kelima saykong segera maju menahannya.

“Sabar Gak Ong Tosu, mereka ini datang untuk kami. Sabarlah, biar kami layani mereka lebih dulu untuk membalas dendam kami!”

Gak Ong tertawa bergelak. “Ya, ya, aku tahu. Tapi awas jangan kalian merusak yang cantik halus itu!” Dan kembali ia tertawa bergelak sambil memandang ke arah Giok Cu dengan sikap menjemukan sekali.

Kemudian Gan Tin-cu menjura kepada Giok Cu. “Pek-I Lihiap, kau sungguh gagah. Biarpun masih muda tapi ternyata kau penuhi janjimu. Nah, setelah kau datang marilah kita saling ukur tenaga.” Tanpa menjawab Giok Cu menghunus pedang dan melepaskan sabuk suteranya. Gan Tin-cu juga menghunus pedangnya dan mereka segera bertempur!

Hoan Tin-cu menghampiri Thian In dengan senyum mengejek.

“Orang bermarga Souw! Bagus sekali kau juga datang! Ternyata kau bukanlah orang baik-baik melihat sikapmu terhadap susiokmu tadi. Mari, mari kuperkenalkan saudara-saudaraku.” Ia menunjuk kepada tiga orang saykong yang masih berdiri di belakangnya sambil bersedekap.

“Nah, inilah toasuheng Ang Tin-cu yang bertempur melawan Pek-I Lihiap itu adalah jisuheng Gan Sin-cu. Ini suteku Lan Tin-cu dan Beng Tin-cu. Sekarang bersiaplah, dan cobalah jatuhkan aku untuk kedua kalinya!”

Thian In memandang kepada Kam Ciu yang masih duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon bunga sambil tersenyum. Ia melihat pemuda itu berkedip padanya dan menganggukkan kepala, maka tanpa ragu-ragu lagi ia mencabut pedangnya.

“Marilah, Hoan lo-enghiong!”

Hoan Tin-cu segera memainkan Kwie-san-kianhwat yang lihai. Baru beberapa jurus saja Thian In pun tahu bahwa Hoan Tin-cu telah memperdalam ilmu pedangnya dan kepandaiannya telah banyak maju jika dibandingkan dengan dulu. Tapi untungnya ia sendiri telah mendapat petunjuk-petunjuk dari suhunya hingga ia dapat melawan dengan gagah. Dengan menggunakan ilmu pedang Delapan Dewa Mabuk Arak ia memperlihatkan kegesitannya hingga Hoan Tin-cu merasa terkejut sekali. Ia tidak menyangka pemuda itu telah demikian maju selama ini.

Di sisi lain, biarpun untuk beberapa lama masih dapat mengimbangi permainan pedang Gan Tin-cu, namun setelah bertempur lima puluh jurus lebih, gerakan pedang dan sabuk sutera Giok Cu makin lemah dan ia hanya dapat menangkis saja.

Sambil bertempur, Thian In kadang-kadang melayangkan pandangannya ke arah Giok Cu dan diam-diam ia merasa cemas sekali melihat betapa gadis itu terkurung oleh sinar pedang Gan Tin-cu! Ia mengertakkan gigi dan memutar pedangnya lebih cepat lagi. Pada suatu kesempatan yang baik, ia menggunakan gerakan Hong-cui-pay hio atau Angin Tiup Daun Tua, pedang di tangan kanannya menyambar ke arah tenggorokan lawan sedangkan tangan kirinya yang terkepal mengirim pukulan Tociang atau Robohkan Lonceng Mas! Hoan Tin-cu berseru kaget dan memiringkan kepala untuk menghindari pedang lawan, tapi ia tidak menyangka bahwa tangan kiri Thian In dapat bergerak secepat itu. Kepalan pemuda yang dipukulkan dengan tenaga hebat itu menggempur dadanya hingga Hoan Tin-cu terlempar jauh lalu terguling sambil memuntahkan darah dengan mata terbalik!

Tapi pada saat itu juga Gan Tin-cu berhasil melukai pundak Giok Cu yang terpaksa melepas pedangnya karena tangan kanannya terasa lumpuh! Ia melompat mundur dan mengkelebatkan sabuknya menjaga diri, tapi Gan Tin-cu yang melihat betapa Hoan Tin-cu roboh menjadi marah sekali dan mengirim serangan maut!

Pada saat yang berbahaya bagi Giok Cu itu, berkelebatlah bayangan putih secepat kilat dan tahu-tahu pedang Gan Tin-cu telah tertangkis hingga terpental dan hampir terlepas dari tangannya! Ketika ia memandang, ternyata yang menangkisnya tidak lain adalah pemuda sastrawan yang menonton permainan catur tadi! Entah kapan ia mengambilnya, Kam Ciu telah berdiri di situ dengan pedang Giok Cu di tangan.

“Sabar, totiang, orang yang sudah kalah tidak perlu didesak terus!” katanya sambil tersenyum.

Gan Tin-cu marah sekali dan tiga saudaranya yang tadi hanya menonton saja, kini maju mengurung Kam Ciu!

“Gan twako! Kau... kau... Bu-eng-cu?” Giok Cu memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tapi Kam Ciu hanya tersenyum.

“Nona Ong, kau mengaso saja di sana,” ia menunjuk bangku yang didudukinya tadi, “biarlah aku yang mewakili kau menerima gebukan dan hajaran dari orang tua yang berbudi ini.”

Mendengar disebutnya nama Bu-eng-cu, terkejutlah keempat saykong itu. Sementara itu Gak Ong Tosu yang pada saat itu tengah merawat dan mencoba untuk memulihkan kesehatan Hoan Tin-cu yang terpukul, juga terkejut dan menengok. Ia memandang anak muda yang tampak lemah lembut itu dengan heran. “Benarkah kau Bu-eng-cu Koayhiap?” Ang Tin-cu tokoh tertua dari Kwie-san bertanya.

Kam Ciu menjura, kemudian ia mengembalikan pedang Giok Cu kepada gadis itu. Ia sendiri lalu menggunakan tangan kanan mencabut sebatang pedang tipis dari bawah baju dan mengeluarkan sebatang pensil besi dengan tangan kiri. Lalu ia bernyanyi:

Pedang di tangan kiri

Pena dan kertas di tangan kanan

Menjelajah rimba raya

Menurun jurang mendaki gunung

Langit suram, muram

Bumi hitam, gelap, kotor

Asah pedang, gosok tinta, basahkan pena

Biar pedangku membersihkan bumi

Biar penaku menerangi langit

Pedang dan pena bersatu, ribuan, laksaan

Langit akan bersih, dunia akan tenang

Sambil bernyanyi, ia memutar-mutar pedang dan pena dari tangan kiri ke tangan kanan. Gerakannya demikian cepat hingga orang tidak tahu di tangan mana pedang atau pena terpegang!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment