Halo!

Pengemis Tua Aneh - Chapter 04

Memuat...
Pengemis Tua Aneh

Chapter 04

Lie Ti mengangguk. "Baik, aku memang sudah mengantuk sekali. Tapi kalau ada apa-apa terjadi, jangan lupa bangunkan aku, Kong-kauwsu!"

"Baiklah, Lie-wangwe!"

Tapi belum juga Lie Ti jatuh pulas, tiba-tiba Kong Liak berbisik. "Lie-wangwe, bangun!" dan guru silat itu cepat-cepat memadamkan api lilin yang menyala di kamar kecil itu.

Lie Ti yang belum tidur segera bangun dan langsung mengintai dari balik jendela. Kong Liak mengintai dari sebelah kirinya. Mereka melihat tiga bayangan yang gesit sekali gerakannya berlompatan dari jurusan barat melalui genteng-genteng rumah dan menuju ke arah mereka.

"Ah, kepandaian ginkang mereka tinggi sekali, terutama orang yang lari di tengah!" Kong Liak berbisik perlahan. Ketika ketiga bayangan itu telah menginjak genteng gedung keluarga Lie, mereka berhenti. Kini kedua pengintai dapat melihat jelas karena bulan kebetulan tak terhalang mega.

Ternyata yang di kanan kiri adalah dua orang muda berusia paling banyak tiga puluh tahun sedangkan yang di tengah adalah seorang tosu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan bertubuh gemuk pendek.

Melihat kakek gemuk pendek itu, Kong Liak mengeluh perlahan. "Celaka kalau tidak salah, yang datang itu adalah Kiu-thou-lomo!"

Mendengar julukan yang berarti Iblis tua kepala sembilan itu hampir saja Lie Ti berseru kaget. Tubuhnya menjadi gemetar dan ia merasa khawatir sekali.

"Kita harus keluar dan biarlah aku bertempur mati-matian!" hartawan itu berbisik. "Kau turunlah dan bawalah kedua puteraku menyingkir dari sini. Mungkin mereka berdua akan tertolong jiwanya.

Kong Liak mencegahnya. "Sabar, kau bukanlah tandingannya!"

"Aku tahu ... ia ..... ia datang untuk binasakan aku sekeluarga tolonglah singkirkan anak-anakku" dan hartawan itu dengan nekad membuka jendela dan loncat keluar dengan pedang di tangan.

"Kiu-thou-lomo! Kau orang tua ternyata masih hidup!" Lie Ti menegur dengan berani dan tabah.

Kakek pendek gemuk itu menatapnya dengan tajam, suaranya agak ragu-ragu ketika ia bertanya. "Kau apakah kau Lie Ti?"

"Benar, aku adalah Lie Ti. Kehormatan apakah yang hendak kau berikan kepadaku?"

"Ha ha ha! Bapaknya naga, anaknya harimau! Kau sungguh gagah, tak kalah dengan ayahmu! He, Lie Ti, di mana bapakmu, tua bangka itu? Suruh dia keluar menjumpaiku, jangan bersembunyi seperti perempuan!"

"Kiu-thou-lomo! Kau telah membuang waktu dengan sia-sia. Kau telah bersusah payah dengan percuma. Kedatanganmu terlambat. Ayah telah meninggal dunia enam tahun yang lalu. Kau kurang cepat!"

"Gila!" Kakek gemuk pendek itu tendangkan kakinya ke arah wuwugan genteng hingga tembokan itu hancur lebur dan berhamburan ke bawah mengeluarkan suara bagaikan air hujan jatuh di atas genteng. Kemudian ia berkata lagi kepada Lie Ti, suaranya jelas menyatakan kedongkolan hatinya.

"Tidak apa, biar dia sudah mampus tapi anaknya masih hidup. Dia sudah tidak sanggup membayar hutang. Biarlah anaknya yang bayar! Lie Ti, dengarlah! Aku sengaja datang untuk menagih hutang ayahmu kepada kakakku. Kini kau harus gantikan ayahmu dan membayar hutangnya kepadaku. Hayo majulah dan bersedia mati!"

"Aku seorang laki-laki sejati. Soal mati hidup adalah soal kecil tak berarti. Tapi kau harus berlaku sebagai seorang hohan sejati pula. Kau bunuhlah aku kalau kau sanggup, tapi jangan kau ganggu rumah tanggaku. Mereka tidak mengerti apa-apa. Kita bikin habis perhitungan di antara kita sendiri."

Si iblis tua kepala sembilan berpikir sejenak lalu berkata dengan suara menyeramkan. "Mana ada aturan begitu? Kalau aku hanya membunuh kau, tentu keluargamu dan anak-anakmu akan menaruh dendam kepadaku. Dan dibelakang hari mereka akan membikin susah saja. Membasmi pohon harus dengan akar-akarnya kata orang dulu. Aku juga takkan bekerja dengan kepalang tanggung. Kau dan anak-anakmu harus mati pada malam ini juga."

"Sungguh manusia iblis tak kenal perikemanusiaan. Sesuka hatimulah. Biar nanti sukmaku yang akan membalasmu jika kau ganggu anak istriku!" Lie Ti lalu gerakkan pedangnya hendak menyerang. "Apakah kau akan maju bertiga?" serunya menyindir.

"Ha ha ha! Benar-benar aku harus kagumi keberanianmu. Dari gerakanmu aku tahu bahwa kau tidak pandai silat, tapi kau berani menghadapiku. Jangan penasaran, kedua orang muridku ini ku bawa hanya untuk menjadi saksi saja. Kita bertempur satu lawan satu. Hayo majulah Lie Ti, dan tunggulah arwah keluargamu di pintu neraka!"

"Kau iblis bermuka manusia!" Lie Ti berteriak marah dan loncat menusuk.

Sambil tertawa ha ha hi hi, kakek gemuk pendek itu berkelit dan sekali saut saja ia dapat merampas pedang Lie Ti dan sekali kakinya bergerak kedua kaki Lie-wangwe kena tersapu hingga hartawan itu roboh di atas genteng.

"Ha ha ha! Lie Ti, terimalah ajalmu!" Iblis tua itu menggunakan pedang yang dirampasnya menusuk ke arah tenggorokan Lie Ti yang telah memeramkan mata, terima binasa.

Ketika pedang itu telah menyambar dan hampir masuk menembus tenggorokan Lie Ti, tiba-tiba dari samping tampak berkelebat sebuah benda hitam yang menyambar pedang itu.

"Traaang!" dan pedang itu terpental lalu terlepas dari tangan kakek gemuk pendek itu.

"Hayaa...! Si iblis tua ini tidak tahunya hanya iblis kecil yang berlagak gagah di depan orang muda!" terdengar suara menyindir.

Kiu-thou-lomo terkejut sekali ketika pedang di tangannya tertangkis hingga tergetar dan terlepas dari pegangannya. Ia loncat mundur dan memandang kepada seorang pengemis tua yang telah berdiri di situ sambil memanggul tongkat bambu. Melihat pengemis itu ia menjadi kaget.

"Kang-lam Koay-hiap! Kenapa kau ikut mencampuri urusan orang lain?" tegurnya dengan tak senang.

"Kiu-thou-lomo! Kau sudah cukup tahu bahwa aku orang tua paling tidak suka melihat yang kuat menindas yang lemah. Mengapa kau hendak bunuh Lie-wangwe dan keluarganya?"

Sementara itu Lie Ti yang membuka kembali matanya, melihat dengan heran bahwa yang telah menolong jiwanya tadi tak lain adalah pengemis tua yang sore tadi membikin ribut di emper rumahnya. Jadi pengemis ini adalah Kang-lam Koay-hiap yang termasyhur namanya. Sungguh sedikitpun ia tak pernah menyangka.

Kiu-thou-lomo tersenyum mengejek mendengar pertanyaan pengemis itu. "Kau tahu artinya hutang jiwa bayar jiwa?" tanyanya.

Kang-lam Koay-hiap pukul-pukul kepala yang berambut pendek itu dengan tongkat bambunya. "Biarpun aku orang tua bodoh dan pikun, tapi rasanya aku tahu artinya hutang jiwa bayar jiwa. Dendam apakah yang kau pendam dalam hati terhadap Lie-wangwe?"

"Ayahnya pernah hutang jiwa dengan membunuh kakakku, dan kini aku datang menagih hutang. Tapi karena ayahnya telah mampus, maka dia sebagai anaknya harus membayar hutang itu!"

"Dan kau hendak membasmi semua keluarganya? Apakah ayahnya dulu juga membasmi semua keluarga kakakmu?

Ditanya demikian ini, Kiu-thou-lomo tak dapat menjawab. Tapi ia tak mau memperlihatkan kelemahannya, maka dengan berani ia menjawab.

"Harap kau orang tua jangan ikut campur urusan ini, karena apakah sangkut pautnya hal ini dengan kau?"

Tiba-tiba si pengemis tua itu melempar tongkatnya ke atas hingga tongkat itu meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya ke atas dan mengeluarkan suara bersuitan, kemudian ketika meluncur turun disambut dengan tangan kiri.

"Kiu-thou-lomo! Kau kira aku tidak tahu akan persoalan yang terjadi antara kakakmu dan Lie-enghiong? Hmmm, kalau aku tidak tahu tentu aku takkan berada di sini dan gunakan tongkatku mencampuri urusan ini. Tapi kebetulan sekali aku menjadi saksi dari kematian kakakmu di tangan Lie-enghiong! Itu adalah pertempuran yang adil.

Pertempuran satu lawan satu dan kakakmu memang kalah pandai juga kakakmu memang berada di pihak yang salah. Kakakmu merampok dan Lie-engthiong membela harta bendanya hingga terjadi pertempuran dan kakakmu binasa dalam perkelahian itu. Apakah hal itu harus dibuat dendam dan kini kau hendak musnahkan putera Lie-enghiong sekeluarga? Sungguh kau tak kenal apa namanya keadilan. Kalau Lie-enghiong masih hidup dan kau hendak membalas dendam dengan mengadu tenaga dengannya, itu masih boleh dilakukan. Tapi kalau kau sekarang hendak mengganggu anaknya yang tak tahu apa-apa, bahkan hendak membunuh cucu-cucunya, aaahhh, itu adalah kejahatan yang melewati takaran dan aku pengemis tua yang bodoh mana mau tinggal diam berpeluk tangan!"

"Bagus! Kalau begitu biarlah aku Kiu-thou-lomo mengadu jiwa denganmu pengemis bandel!" setelah memaki, si gemuk pendek itu segera mencabut pedangnya dan menyerang dengan hebat!

"Memang! Kejahatanmu sudah cukup untuk mengantar kau ke neraka!" pengemis itu menyindir dan menangkis dengan tongkatnya.

Iblis tua itu memang lihai sekali. Pedangnya diputar sedemikian rupa hingga merupakan segulung sinar putih menyambar dan mengurung Kang-lam Koay-hiap, tapi si pengemis tua ini bukanlah orang sembarangan. Telah berpuluh tahun ia malang melintang di dunia kang-ouw dan jarang sekali ia mendapat tandingan.

Pada saat itu Kong Liak yang masih bersembunyi di bawah genteng sambil mengintai merasa girang sekali karena pihaknya mendapat bantuan Kang-lam Koay-hiap yang telah lama ia kenal namanya yang besar tapi baru kali ini melihat wajahnya. Ia beranikan diri dan keluar dari jendela itu lalu menarik lengan Lie Ti yang masih duduk di atas genteng. Keduanya lalu berdiri di tempat aman dan menonton pertandingan di antara dua jago tua yang luar biasa ilmu silatnya.

Iblis tua itu gerakkan pedangnya dan mainkan tipu-tipu terlihai dari Pat-kwa Kiam-hwat, sedangkan Kang-lam Koay-hiap gunakan tongkatnya sebagai pedang dan mainkan ilmu pedang Im-yang Kiam-hwat yang luar biasa lihainya karena gerakannya selalu mengandung dua sari dan dua tenaga. Tiap gerakan tongkatnya selalu merupakan tangkisan berbareng serangan. Tangkisannya mengandung tenaga dalam yang meminjam tenaga lawan dan dilanjutkan dengan serangan kuat ke arah lubang-lubang maut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment