Chapter 06
“Sudahlah, Lie Bun bukan pergi untuk selamanya. Ia pergi untuk mengejar ilmu. Kelak ia pasti kembali sebagai orang pandai.”
“Tapi ia pergi begitu saja! Tanpa bekal secarik pakaian atau sepotong perak pun. Ia akan hidup terlantar dan terlunta.”
Lie Kiat mendekati ibunya. “Sudahlah, jangan menangis, Ibu. Bukankah aku masih ada di sini? Si topeng setan tentu kelak akan kembali pula.”
“Jangan sebut dia topeng setan, kau setan bengal!” Lie Ti membentak, dan Lie Kiat menjulurkan lidahnya lalu bersembunyi di belakang tubuh ibunya.
Berbulan-bulan lamanya Nyonya Lie masih merasa sedih. Tiap kali teringat akan putera bungsunya, air mata mengalir di sepanjang pipinya. Kepada Lie Kiat ia cinta dan sayang karena putera sulungnya itu cakap dan tampan. Namun, rasa sayangnya kepada Lie Bun bercampur dengan rasa iba karena puteranya ini telah menderita sakit dan mendapat cacat pada wajahnya. Maka, tiap kali teringat, hatinya menjadi terharu sekali.
Marilah kita ikuti perjalanan Kang-lam Koay-hiap dengan muridnya yang baru berusia sebelas tahun itu. Ketika meninggalkan gedung keluarga Lie, Kang-lam Koay-hiap menggunakan ilmunya untuk melompat ke atas genting dan berlari dengan sangat cepat, hingga muridnya hanya merasa tubuhnya seakan-akan dibawa terbang oleh seekor burung besar.
Lie Bun merasa takut dan cemas, tetapi kekerasan hatinya membuatnya diam dan memejamkan mata.
Setelah keluar dari kota, Kang-lam Koay-hiap melompat turun dari atas genting dan menyuruh muridnya berjalan di sampingnya. Malam telah hampir berganti pagi, dan hawa sangat dingin. Namun, anak kecil berhati besar itu terus saja berjalan tanpa banyak rewel sambil bersedekap menahan dingin.
Jangankan bagi seorang anak kecil seperti Lie Bun yang biasanya pada waktu demikian masih enak-enak meringkuk dan mendengkur di dalam kamarnya yang hangat di atas kasur yang empuk, sedangkan bagi orang buta yang sudah terbiasa dengan hawa dingin pun, pada saat itu tentu tidak akan kuat menahan dingin yang menyusup tulang itu. Kang-lam Koay-hiap mengerti akan hal ini, tetapi ia pura-pura tidak tahu, hanya berjalan perlahan-lahan sambil menunduk. Padahal, diam-diam ia memperhatikan muridnya.
Beberapa lama kemudian, mulai terdengar gigi Lie Bun bergemeletuk karena menggigil hingga giginya yang bawah beradu dengan gigi atas, dan kedua kakinya terhuyung-huyung hingga jalannya sempoyongan. Masih saja anak itu tidak mau membuka mulut, dan gurunya juga masih diam saja, pura-pura tidak tahu. Akhirnya, Lie Bun roboh di atas tanah yang basah dan pingsan.
“Anak baik, ujian pertama lulus dengan baik!” kata guru yang aneh itu sambil berjongkok. Tetapi muridnya tidak mendengar pujiannya. Kang-lam Koay-hiap mengeluarkan sebotol arak yang entah ia dapat dari mana, lalu menuangkan sedikit arak ke dalam mulut Lie Bun. Kemudian, ia menggunakan jari tangannya untuk menotok jalan darah pada leher dan di kedua iga kanan kiri Lie Bun, lalu memencet-mencet kedua pundaknya.
Perlahan-lahan Lie Bun membuka matanya, tetapi sedikit pun tidak terdengar keluhan dari bibirnya yang membiru. Bahkan, anak itu melihat gurunya sambil tersenyum karena kini ia tidak merasa dingin lagi. Tubuhnya terasa hangat dan seakan-akan ada sesuatu yang panas dan enak menjalar di seluruh tubuhnya.
“Bagaimana, muridku? Hilang dinginnya, bukan?”
Lie Bun hendak menjawab, tetapi kaget ketika mulutnya tidak dapat digerakkan. Ia hendak mengangkat tangannya, tetapi juga tangannya kaku. Biarpun begitu, anak yang keras hati itu sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut. Ia hanya memandang kepada gurunya dengan mata yang mengandung pertanyaan.
“Jangan kaget, Lie Bun. Aku sengaja menotok jalan darahmu bagian *tay-twi-hiat* agar perasaanmu berhenti hingga tidak terasa dingin di tubuhmu. Tetapi, jalan darahmu kubuat cepat agar tubuhmu panas dan kesehatanmu tidak terganggu.” Lie Bun memandang wajah gurunya dengan berterima kasih. Beberapa lama kemudian, Kang-lam Koay-hiap menotok pula muridnya hingga tubuhnya dapat bergerak lagi seperti biasa. Namun, berangsur-angsur rasa dingin datang menyerang.
“Muridku, hayo kau lawan rasa dingin itu. Mari kita balap lari!” Dan guru itu berlari perlahan ke depan. Lie Bun menggemeretakkan gigi untuk melawan rasa kantuk dan lelah, lalu ia berlari mengejar.
“Jangan cepat-cepat, biasa saja!” gurunya mencegah ketika ia mempercepat larinya.
Demikianlah, mereka berdua, anak kecil dan pengemis itu, berlari-lari menempuh hawa dingin dan kabut tebal. Perlahan-lahan, jalan darah di dalam tubuh Lie Bun yang mengalir cepat mendatangkan rasa panas yang mengusir hawa dingin. Anak itu merasa tubuhnya hangat, maka timbullah kegembiraannya dan lenyaplah rasa mengantuk dan lelah.
Siapakah sebenarnya Kang-lam Koay-hiap, pengemis tua yang aneh dan sangat lihai itu? Untuk mengenal dia, baiklah kita meninjau kembali secara singkat riwayat pendekar aneh dari Kang-lam itu.
Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika pada suatu hari Gwat Leng Hosiang keluar dari kelentengnya di puncak bukit Hwan-tien-san untuk turun gunung, sebagaimana yang dilakukannya beberapa tahun sekali, ia sampai di kota Lok-yang untuk mengunjungi seorang kenalannya yang tinggal di kota itu.
Kenalannya itu mengajaknya ke rumah makan, di mana ia memesan masakan tanpa barang bernyawa, dan dengan gembira mereka makan minum. Kenalannya itu mengajukan permohonan supaya Gwat Leng Hosiang suka menerima puteranya menjadi murid, karena ia tahu bahwa Gwat Leng Hosiang adalah seorang ahli silat, pendiri Hwan-tien-pai, dan selamanya belum pernah mempunyai seorang pun murid.
Tetapi, Gwat Leng Hosiang dengan halus menolak dan menyatakan bahwa ia tidak berniat menerima murid. Ketika kenalannya itu sedang mendesak dan membujuk-bujuk, tiba-tiba di luar terdengar ribut-ribut dan suara anak menangis. Gwat Leng Hosiang paling tidak tahan mendengar anak menangis, maka bersama kenalannya ia keluar melihat.
Ternyata di luar terdapat seorang pengemis muda yang berusia kira-kira lima belas tahun, dan sedang dipukuli oleh seorang anak berusia paling banyak dua belas tahun. Anak yang memukuli pengemis itu bertubuh tegap dan tampak kuat. Juga dari gerakan kaki tangannya nyata bahwa ia pernah belajar silat.
Pengemis itu berusaha menangkis, tetapi ia kalah kuat dan kalah gesit, maka tubuhnya berkali-kali menerima pukulan-pukulan hingga akhirnya ia menjerit-jerit dan menangis. Penonton bersorak-sorak dan memuji-muji pemuda yang memukuli pengemis itu.
Gwat Leng Hosiang segera menghampiri. Kenalannya berkata dengan tersenyum, “Lihat, *losuhu*, anak itulah puteraku. Ia berbakat, bukan?”
“Ya, berbakat untuk menjadi tukang pukul!” kata pendeta itu, yang lalu mendekati tempat perkelahian. Kenalannya segera membentak puteranya supaya berhenti memukul. Pengemis itu jatuh terduduk sambil menyusut darah yang keluar dari hidungnya, dan ia masih terisak-isak. Matanya memandang liar ke kanan kiri.
“Apakah yang telah terjadi? Mengapa pengemis itu dipukuli?” Gwat Leng Hosiang bertanya halus. Seorang penonton bercerita,
“Ia mencuri ayam dan ketahuan oleh Ma-kongcu, lalu dipukul. Ia mencoba melawan, tetapi mana ia bisa menang. Memang sudah sepantasnya ia dihajar. Ma-kongcu lihai betul!”
Gwat Leng Hosiang menghampiri pengemis itu dan bertanya dengan suara lembut, “Eh, anak muda, benarkah kau mencuri ayam?”
Mendengar pertanyaan dengan suara lembut itu, pengemis tadi memandang dengan heran. Selama hidupnya, selalu kata-kata kasar dan keras saja yang dilontarkan kepadanya, dan baru pertama kali ini ia mendengar orang bertanya kepadanya dengan suara halus.
Biasanya, kalau ditanya orang, ia selalu berbohong dan menjawab dengan sangkalan keras karena kalau ia mengaku, selalu orang memukulnya. Kini, mendengar pertanyaan halus ini, ia menjadi sedih dan menangis lagi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Anak muda, mengapa kau mencuri?” tanya Gwat Leng Hosiang lagi.
“Karena… perutku lapar…” pengemis itu menjawab sambil menundukkan mukanya. “Kenapa kau tidak mau bekerja untuk mencari makan?”
“Sudah kucoba… sia-sia… tidak ada yang mau memberi pekerjaan…” jawabnya dengan sedih, dan sekali lagi matanya jelalatan memandang ke sekelilingnya dengan takut-takut karena orang-orang semakin banyak saja yang mengelilinginya.
“Hm, begitukah? Kalau begitu, mengapa kau tidak mengemis saja daripada mencuri? Lebih baik minta dengan baik-baik belas kasihan orang daripada mencuri,” Gwat Leng Hosiang berkata lagi, suaranya tetap sabar.
Kali ini, pengemis itu memandang pendeta itu dengan pandangan mata tajam. Ia heran sekali mengapa ada orang yang demikian memperhatikan nasibnya. Melihat wajah *hwesio* yang alim dan agung itu, ia tiba-tiba maju dan jatuh berlutut.
“Suhu, aku tidak berani berbohong. Aku memang seorang pengemis, maka tak perlu lagi kiranya diberitahu untuk mengemis! Aku mencari pekerjaan tidak dapat, mengemis juga tidak diberi oleh orang-orang itu, yang kuterima bahkan hanya makian dan pukulan belaka. Apa dayaku? Aku hendak mempertahankan nafsu agar jangan mencuri. Tetapi… tetapi perutku… perutku lapar mendesak tak dapat ditahan, Suhu….”
Hampir saja Gwat Leng Hosiang mengeluarkan air mata mendengar ucapan ini. Tetapi ia segera menetapkan hati dan memejamkan mata. Matanya berkilat melirik ke arah orang-orang yang berdiri mengelilingi dia dan pengemis itu. Tiba-tiba timbul sebuah pikiran di kepalanya.
Pengemis muda ini juga manusia, ia juga seperti orang-orang lain menghendaki kebahagiaan, menghendaki kecukupan, tetapi jalannya telah tertutup, telah buntu, hingga kalau tidak tertolong, pengemis itu tentu akan menjadi manusia perusak keamanan orang lain atau kalau tidak, ia akan mati kelaparan.