Halo!

Pengemis Tua Aneh - Chapter 13

Memuat...
Pengemis Tua Aneh

Chapter 13

Penonton kembali tertawa, melupakan bahwa yang ada di atas panggung bukanlah pelawak yang sedang bergurau, melainkan dua orang yang akan bertempur mengadu nyawa.

Si kepala besi, yang tadinya menahan diri dan enggan menyerang, menjadi tidak sabar melihat tingkah Lie Bun. Ia mengeram dan maju menerkam seperti harimau haus darah.

Lie Bun menghitung, "Satu!" sambil berkelit. Saat serangan kedua datang, ia menambah hitungannya, "Dua!" Demikianlah, dengan berkelit dan menggunakan ginkangnya, ia bergerak lincah. Ia terus menghitung hingga delapan.

Melihat bahwa dalam delapan jurus belum juga berhasil menjatuhkan pemuda itu, si kepala besi terkejut, heran, dan malu. Jika tidak bisa menjatuhkannya dalam dua jurus lagi, ia akan malu dan kehilangan muka, pikirnya. Maka, ia maju menyerang dengan tiga pukulannya yang paling berbahaya, yaitu Macan Hitam Menerkam Ular. Pukulan ini, selain cepat, juga tidak terduga karena kedua tangan digerakkan tak tentu arah sehingga sulit ditebak bagian mana yang akan dipukul.

Namun, Lie Bun tidak bingung. Ia sengaja menunggu dengan tenang dan menghantam lambung yang dapat berakibat fatal. Ia segera berguling ke belakang sambil menghitung, "Sembilan!" lalu berdiri lagi sambil tersenyum mengejek. Tentu saja si kepala besi merasa sangat kesal, apalagi ketika mendengar tawa penonton, baik dari pihak Tung-kiang maupun dari pihak Nam-kiang, yang merasa sikap pemuda itu sangat lucu.

Maka, nekatlah si kepala besi. Ia mundur beberapa langkah dan berseru, "Bersedialah untuk mampus!" Kemudian ia berlari cepat dengan kepalanya yang gundul mengkilap di depan, seperti kerbau gila yang menyeruduk lawannya. Sambil maju menyeruduk, matanya melirik, memungkinkannya mengejar ke mana saja lawannya lari menghindar.

Melihat kenekatan lawannya, Lie Bun tertawa keras dan berkata, "Coba lihat, apakah kepalamu ini benar-benar besi tulen atau hanya kentang busuk!"

Belum habis kata-katanya terucap, semua orang menahan napas karena serudukan itu telah tiba. Namun, Lie Bun dengan sangat tenang melompat ke atas hingga ia bisa naik ke punggung lawannya. Dengan sebelah kaki, ia menginjak belakang kepala itu sambil mengirim satu tamparan dengan tangannya.

"Plak!" Kepala gundul itu kena ditampar.

"Ah, bukan besi tulen!" kata Lie Bun yang melompat turun. "Nah, aku sudah menerima sepuluh jurus seranganmu, sekarang coba kau terima seranganku lima jurus saja!"

Setelah berkata demikian, Lie Bun maju menendang dengan kaki kirinya secara sembarangan ke arah perut lawannya. Tendangan ini tampak dilakukan tanpa tenaga, sehingga si kepala besi memandang enteng. Namun, para jagoan nomor satu dari kedua belah pihak menjadi sangat khawatir karena mereka maklum bahwa tendangan ini adalah gerakan pancingan dari ilmu tendangan Siauw-ci-twie yang lihai.

Benar saja, ketika si kepala besi dengan sembarangan menggunakan tangan untuk menangkap kaki yang menendang itu, tahu-tahu kaki itu telah ditarik kembali dan secepat kilat kaki kedua menyusul dari arah lain yang sama sekali tidak terduga. Kaki kanan Lie Bun yang tak bersepatu tepat mendorong dada si kepala besi hingga Bu Swat Kay terlempar tanpa ampun dan jatuh dari atas panggung, menimbulkan suara bergedebuk keras ketika tubuhnya menimpa tanah.

Kini, pujian dari penonton tak disembunyikan lagi. Terdengar tepuk tangan riuh. Melihat seorang pengemis kecil dapat mengacaukan pertandingan lui-tai yang berarti menghina mereka yang hendak bertanding, Liok Sat si Lutung Sakti melompat naik ke atas panggung. Begitu kakinya menginjak papan panggung, tahu-tahu ia telah mengirim serangan mematikan ke arah ubun-ubun kepala Lie Bun.

"Kejam sekali!" Lie Bun berseru keras dan berkelit menghindari serangan itu.

Namun, si lutung sakti tidak mau memberi ampun kepada pengemis muda yang dianggapnya sangat kurang ajar itu. Ia terus mengeluarkan ilmu silatnya yang paling jempolan, yaitu Sin-wan Kun-hwat atau ilmu pukulan lutung sakti yang diciptakannya sendiri berdasarkan ilmu silat Go-bi. Ia yakin dalam beberapa jurus saja ia akan dapat menangkap atau merobohkan pemuda itu yang disangkanya hanya memiliki kegesitan belaka. Tidak disangka bahwa Lie Bun telah banyak mengalami pertempuran besar bersama gurunya dan mengenal segala macam ilmu silat.

Maka, melihat permainan silat lawannya, ia lalu mengeluarkan ilmu silat Bie-ciong-kun atau Kepalan Menyesatkan. Dengan ilmu silat ini, ia dapat membuat lawannya bingung. Gerak-geriknya seperti wanita genit sehingga tampak menarik sekali dan menimbulkan tawa penonton yang semakin gembira.

Pertunjukan itu tentu saja merupakan tamparan hebat bagi pihak tuan rumah maupun pihak tamu. Maka, dengan berbisik, para pengurus kedua pihak lalu menganjurkan jagoan nomor satu mereka untuk naik dan membereskan pengacau kecil itu!

Tetapi sebelum kedua jagoan itu naik ke panggung, terdengar teriakan keras dari Liok Sat dan tubuhnya terlempar di udara. Ternyata, ketika ia menggunakan kaki kanan menendang keras ke arah anggota rahasia Lie Bun, pemuda itu cepat menggeser kakinya ke samping, lalu cepat bagaikan kilat ia berhasil menangkap kaki lawan dan terus mendorongnya ke atas.

Tanpa ampun lagi, tubuh Liok Sat terlempar dan melayang telentang dengan kepala lebih dulu ke bawah panggung. Untung baginya, jatuhnya tepat di tempat jago pertama dari Nam-kiang berdiri, sehingga Khong Tong Hwesio dapat menjambak kerah bajunya dan mencegah kepalanya membentur tanah.

Khong Tong Hwesio memutar-mutar matanya yang besar karena marah. Selama hidupnya, belum pernah ia merasa terhina seperti saat ini. Seorang pengemis muda berani mengganggu dan mempermalukannya serta teman-temannya. Sungguh harus mampus! Ia telah siap melayang ke atas panggung dan dengan sekali pukulan menewaskan pemuda itu. Tetapi pada saat itu, tampak seorang dari pihak Tung-kiang melompat naik ke atas panggung sambil membentak,

"Bangsat kecil, kau cari mampus sendiri!" Dan bayangan itu, yang memiliki gerakan cepat dan ringan sekali, langsung menyerang Lie Bun.

Ia adalah Cee Un si jari lihai, jago pertama dari Tung-kiang. Ketika tangan yang menyerang itu dihindari Lie Bun, cepat sekali tangan itu terbuka jarinya dan terus menyerang ke arah mata pemuda itu. Gerakannya begitu cepat dan tidak terduga sehingga Lie Bun terkejut sekali. Ia tahu bahwa lawannya kali ini bukan sembarang orang, maka ia tidak berani bertindak sembrono. Namun, ia masih bercanda untuk menenangkan hatinya.

"Ah, inikah Itkang si jari lihai? Berani betul kau melawan aku. Apa tidak takut kalah?"

"Setan kecil, tutup mulutmu!" Cee Un membentak dan kembali menyerang hebat. Kini ia menggunakan Ithwat atau ilmu totokan satu jari yang luar biasa lihainya. Jari telunjuk kedua tangannya itu lebih berbahaya daripada dua batang pedang tajam. Gerakan pedang dapat didengar dan dilihat, tetapi senjata hidup berupa jari tangan itu sangat lihai dan luar biasa cepatnya.

Namun, Lie Bun akan mempermalukan nama gurunya jika ia dibuat gentar oleh It-ci-tiam-hwat. Ia bergerak lebih cepat daripada lawannya. Untuk menghindari jari lawan, ia menggunakan ilmu pukulan Eng-jiauw-kang. Sepuluh jari tangannya lalu ditekuk membentuk cakar garuda. Jangan pandang rendah jari-jari tangannya yang kecil itu karena di situ telah dialirkan tenaga lweekang yang membuat jari-jari itu menjadi cakar besi dan dapat menggores kulit lawan.

Demikianlah, kedua orang itu saling serang, yang satu menusuk-nusuk dan yang lain mencakar-cakar.

Menghadapi kelincahan Lie Bun yang ternyata lebih gesit dari padanya ini, Cee Un merasa sangat penasaran. Ia sebetulnya tidak takut menghadapi cengkraman cakar Lie Bun karena dengan mengandalkan ilmu kebal dan tenaga dalamnya, paling hebat jika tercengkram tentu hanya luka kulit yang dideritanya. Namun, ia menganggap hal ini serius. Karena itulah, ia berteriak menyatakan kejengkelan hatinya, lalu tahu-tahu ia telah mencabut sebatang pit kuningan dari pinggangnya.

Pit ini panjangnya kira-kira satu kaki dan ketika ia memegang senjata istimewa ini, ia melakukan serangan bertubi-tubi dengan cepat dan hebat.

Kini Lie Bun agak terdesak. Tadi memang ia berani mengadu tangan karena sepuluh jarinya boleh diadu dengan dua jari lawan. Tetapi kini jari-jarinya menghadapi sebatang pit kuningan yang keras dan lihai, maka ia lalu mengubah pula cara bersilatnya. Dan kini ia menggunakan ilmu silat Im-yang-kun yang diandalkan dan menjadi ilmu simpanan gurunya.

Benar-benar ilmu silat Im-yang-kun ini luar biasa karena ilmu silat ini mengandung kekerasan dan kehalusan secara bersamaan. Dengan menggunakan ilmu silat ini, Lie Bun dapat melayani serangan pit dari Itkang hingga ratusan jurus.

Sebetulnya Lie Bun kalah tenaga lweekang, juga kalah ulet dan pengalaman, maka dapat diduga betapa terkejut dan herannya Cee Un ketika melihat pemuda itu begitu sukar dirobohkan.

Si Muka Bopeng Jatuh Cinta.

Khong Tong Hwesio melihat bahwa Cee Un belum juga dapat merobohkan pemuda itu, menjadi semakin marah. Ia melompat tubuhnya yang besar dan sekejap mata ia telah berada di atas panggung sambil membentak,

"Orang she Cee! Kau serahkan anak ini untuk kusembelih!"

Tetapi Cee Un yang merasa penasaran tidak mau meninggalkan pemuda itu karena jika ia meninggalkannya akan kehilangan muka. Itu berarti bahwa ia kalah terhadap Lie Bun. Dan jika nanti Khong Tong Hwesio dapat merobohkan anak ini, maka dengan sendirinya berarti bahwa ia pun kalah hebat jika dibandingkan dengan Khong Tong Hwesio. Karena itu ia menjawab,

"Jangan kau ikut-ikut! Biarlah aku sendiri yang membuat mampus anak ini!"

Karena keduanya tidak mau mengalah, maka keduanya lalu maju menyerang Lie Bun, hingga pemuda itu dikeroyok dua oleh jagoan nomor satu dari Tung-kiang dan Nam-kiang.

Menghadapi dua jago tua yang lihai dan ganas ini, Lie Bun kewalahan juga. Dan biarpun gerakannya lincah dan gesit, namun sukar sekali baginya untuk menghindarkan diri dari ancaman maut yang dilancarkan oleh kedua lawannya itu.

Semua penonton menahan napas. Empe, yang tadi bercerita kepada Lie Bun dan yang semenjak naiknya Lie Bun ke atas panggung telah mendesak berdiri di tempat paling depan, bertepuk tangan paling keras dan tertawa paling gembira melihat kemenangan-kemenangan Lie Bun. Kini ia berdiri memandang dengan bibir gemetar karena mengkhawatirkan keselamatan pemuda luar biasa itu.

Pada saat yang berbahaya bagi keselamatan Lie Bun, tiba-tiba kedua pengeroyoknya terpental mundur. Di antara keduanya berdiri seorang pengemis tua yang pakaiannya sama persis dengan pakaian Lie Bun. Ia adalah Kang-lam Koay-hiap sendiri yang keburu datang menolong jiwa muridnya dari bahaya maut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment