Halo!

Pengemis Tua Aneh - Chapter 17

Memuat...
Pengemis Tua Aneh

Chapter 17

"Lie Bun, utangku lunas sudah! Kau tak perlu mencari Bok Bu Hwesio untuk membalas sakit hati. Aku tidak merasa sakit hati kepadanya. Ingat! Kau tak boleh mencari dia untuk membalas dendam! Kalau kau bertempur dengannya karena urusan lain, apa boleh buat. Tapi jangan sekali-kali karena membalas dendam. Jangan kau ikat dirimu dengan rantai karma, muridku."

Karena keadaannya memang payah sekali ditambah ia telah mengumpulkan tenaga terakhir untuk memberi wejangan ini, sehabis bicara, Kang-lam Koay-hiap memuntahkan darah lagi dan napasnya kembang-kempis.

Lie Bun terkejut sekali, tetapi ia tidak berdaya. Hanya air matanya saja yang menitik turun dan ia menggunakan tangannya untuk mengurut-urut dada gurunya.

Biarpun keadaannya sangat parah, guru yang sangat mencintai muridnya itu menggunakan waktu semalam penuh untuk mengatur napas dan kekuatannya demi memberikan nasihat-nasihat serta wejangan-wejangan penting kepada muridnya. Lie Bun dengan sangat terharu bersumpah hendak menjunjung tinggi semua nasihat gurunya dan hendak menjaga nama gurunya sampai akhir hayat.

Agak lega tampaknya orang tua itu mendengar sumpah Lie Bun. Kemudian sambil memegang pundak muridnya yang berlutut di sebelahnya, Kang-lam Koay-hiap berkata lirih.

"Lie Bun, jangan kau berbohong pada gurumu. Agaknya kau tidak dapat melupakan putri dari Lo-wangwe, bukan? Aku telah beberapa kali melihat kau diam-diam melukis wajah gadis itu di atas tanah. Lie Bun, jangan kau lemah dan menyerah terhadap perasaan itu. Bukankah kau laki-laki? Pulanglah dan mintalah orang tuamu untuk melamar gadis itu, kalau kau setuju. Orang tuamu cukup kaya untuk melamar anak Lo-wangwe. Tapi pesanku, jangan hanya mengutamakan kebagusan lahir dalam perkawinan, muridku. Kebahagiaan suami istri tidak bergantung pada wajah tampan dan cantik! Kau perhatikan ini baik-baik!"

Lie Bun merasa sangat terharu. Sungguh gurunya adalah seorang guru yang mulia dan sangat memperhatikan muridnya seperti kepada anaknya sendiri. Hal-hal yang begitu dirahasiakan pun dapat diketahuinya. Menjelang fajar, Kang-lam Koay-hiap, kakek gagah perkasa yang selama hidupnya sengaja menjadi pengemis, pendekar budiman yang telah banyak sekali menebar budi kebaikan menolong sesama, mengembuskan napas terakhir dengan hanya dijaga oleh Lie Bun, muridnya yang menangis sedih sambil memeluk jenazah gurunya yang tercinta itu.

Betapa pun juga, kakek pengemis itu boleh merasa bangga dan puas karena setidaknya ada seorang yang dengan tulus menangisi kepergiannya, tidak seperti tangisan yang sering terdengar pada upacara-upacara kematian formal.

Karena kelenteng itu kosong dan tiada penghuninya, Lie Bun lalu menggali tanah di pekarangan belakang kelenteng dan dengan penuh khidmat ia mengubur jenazah gurunya dengan baik.

Kemudian Lie Bun berangkat menuju ke kota Bi-ciu, tempat ayah dan ibunya tinggal. Ia telah mendapat petunjuk dari gurunya mengenai jalan mana yang harus ditempuh untuk menuju ke kota itu. Tongkat bambu gurunya ia bawa. Ia menempuh perjalanan dengan cepat dan hanya berhenti bilamana perlu saja, hingga lima hari kemudian ia tiba di kota Tong-kwang yang ramai. Kota di tepi sungai Lung-kiang ini memang terkenal dengan perdagangan dan hasil buminya.

Karena Lie Bun masih melanjutkan kebiasaan gurunya, yakni mengemis, ia mengikuti orang banyak yang menuju ke satu jurusan. Ia menduga tentu ada tempat yang ramai sehingga orang-orang pergi ke sana. Tak disangka, orang-orang itu menuju ke rumah Ong-tihu yang penuh dengan para tamu.

Tihu ini sedang merayakan pesta ulang tahunnya dan tentu saja sebagai seorang pembesar berpengaruh, ia mempunyai banyak kenalan. Tamu yang hadir di pesta itu terdiri dari orang-orang gagah dan para pejabat pemerintahan.

Melihat ini, Lie Bun sudah hendak pergi lagi, tetapi tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh seorang laki-laki yang berkata kepada kawannya.

"Pertandingan silat nanti tentu hebat dan ramai."

"Ah, aku sih tidak ingin menonton silatnya, hanya ingin melihat keindahan wajah dan bentuk badan Ong-siocia kalau sedang bersilat," jawab kawannya.

"Hus! Jangan keras-keras, kalau terdengar oleh mereka, kau akan celaka!"

Mendengar akan diadakan pertandingan silat, Lie Bun menjadi sangat tertarik dan ia mendesak maju.

Ternyata di ruang depan yang penuh tamu itu, di tengah-tengah telah dibangun sebuah panggung rendah untuk bermain silat. Namun berbeda dengan panggung-panggung *lui-tai* yang biasa, panggung ini selain rendah juga dihias segala macam bunga kertas yang indah dan beraneka warna hingga kehilangan sifat menyeramkan yang biasanya ada pada panggung tempat mengadu kepandaian. Lie Bun merasa heran dan ingin tahu orang macam apakah yang akan bertanding di atas panggung seperti itu.

Tak lama kemudian, terdengar tepuk tangan ramai dari para tamu dan dari dalam keluarlah seorang gadis berpakaian merah.

Lie Bun kagum melihat kecantikan gadis itu. Pakaian yang sangat mewah dan indah itu menambah kecantikannya. Sebatang pedang bersarung merah pula tergantung di pinggangnya. Biarpun ia harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali, namun lirikan mata dan senyumannya mendatangkan rasa tidak suka dalam hati Lie Bun. Gadis genit dan manja, pikirnya.

Ong-tihu memperkenalkan putrinya kepada para tamu. Setelah menjura kepada semua tamu, Ong-siocia meloncat ke atas panggung dan mulai bersilat dengan tangan kosong.

Gerakan-gerakannya memang indah dan lemas sehingga mengagumkan mereka yang menonton, sedangkan Lie Bun diam-diam merasa tertarik sekali karena ilmu silat gadis itu bukanlah ilmu silat yang rendah.

Apalagi setelah Ong-siocia mencabut pedangnya dan bersilat pedang, mau tidak mau Lie Bun kagum juga. Ia tahu bahwa ilmu pedang gadis itu berasal dari cabang Hwa-san yang telah bercampur dengan cabang lain. Namun gerakannya terlatih sempurna sehingga bukan saja indah dipandang, juga cukup lihai kalau dipakai bertanding.

Karena Lie Bun berdiri agak jauh dari panggung, ketika Ong-tihu berkata sesuatu sebagai pengumuman, ia tidak mendengar jelas. Kemudian Ong-siocia menghentikan permainannya dan mundur ke dalam.

Setelah itu, berturut-turut tampil ke panggung pemuda-pemuda yang muncul dari deretan para tamu. Mereka satu demi satu bersilat seorang diri. Orang pertama sampai ketiga hanya memiliki kepandaian silat rendah, maka setelah mereka bersilat, mereka dipersilakan turun kembali.

Tetapi orang keempat yang bersilat dengan ilmu silat cabang Siauw-lim agaknya menarik hati Ong-siocia yang menonton dari sebelah dalam. Ia lalu keluar dan setelah saling memberi hormat, keduanya bertanding silat.

Kini mengertilah Lie Bun bahwa anak gadis Ong-tihu itu sombong sekali dan ingin memperlihatkan kelihaiannya. Agaknya gadis baju merah itu sengaja memilih orang-orang yang agak tinggi kepandaiannya untuk dijajal. Yang berkepandaian rendah tidak menerima penghormatan untuk beradu tangan dengannya.

Ia tidak tahu sama sekali bahwa di samping hal ini, gadis itu mempunyai maksud lain. Gadis yang dimanja ayahnya ini sebenarnya sedang memilih-milih seorang pemuda yang sekiranya pantas menjadi pasangannya. Telah berkali-kali ia dilamar orang, tetapi selalu ditolaknya. Hal ini diam-diam diketahui oleh para tamu. Maka pada kesempatan ini, pemuda yang memiliki sedikit ilmu silat tentu tidak menyia-nyiakan waktu. Siapa tahu mereka akan "kejatuhan bintang", atau setidaknya mereka akan merasa puas kalau bisa bersilat bersama gadis jelita yang sombong itu.

Karena menganggap bahwa gadis itu sombong dan jumawa, timbullah niat dalam hati Lie Bun untuk mencoba kepandaiannya.

Sementara itu, dengan mudah saja gadis baju merah itu dapat merobohkan lawannya yang pertama. Tempik sorak menyambut kemenangannya ini dan pemuda yang tertelentang jatuh itu hanya meringis kesakitan lalu merangkak dari tempat itu menuju ke sebuah bangku.

Maka pemuda-pemuda lain mulai bersilat pula. Setelah enam orang memperlihatkan kepandaiannya, pemuda ketujuh baru terpilih dan dianggap cukup pandai untuk melayani Ong-siocia. Pemuda itu tampan dan gagah, tetapi kepandaiannya juga masih jauh di bawah gadis itu sehingga dalam beberapa puluh jurus saja ia terdesak hebat.

Namun anehnya, Ong-siocia agak merasa kasihan untuk menjatuhkannya, maka beberapa kali ia hanya menggunakan jari tangannya untuk mencolek dan menampar saja. Hal ini memang tidak dapat terlihat oleh orang biasa, tetapi bagi Lie Bun tampak jelas sehingga diam-diam ia merasa jengah dan mukanya menjadi merah. Ia menganggap gadis itu terlalu mempermainkan orang. Akhirnya pemuda itu pun terdesak ke pojok dan meloncat turun mengaku kalah.

Setelah beberapa pemuda naik dan tidak diterima—yakni tidak dianggap cukup pandai—Lie Bun tidak dapat menahan dorongan hatinya lagi. Ia meloncat secepat kilat hingga tidak ketahuan orang, dan tahu-tahu ia telah berada di atas panggung setelah pemuda kedelapan turun.

Orang-orang merasa heran melihatnya. Dari mana datangnya pemuda pengemis ini? Memang keadaan Lie Bun sangat ganjil. Di antara orang-orang yang berpakaian mewah dan gagah, ia tampak lucu sekali. Bajunya penuh tambalan, celananya hanya sampai di bawah lutut, sedangkan kedua kakinya telanjang.

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dari arah dalam.

"Hai, pengemis busuk, siapa suruh kau naik ke panggung?"

Lie Bun berpaling ke arah Ong-siocia yang memakinya itu dan ia makin merasa gemas.

"Bukankah kau sedang mencari lawan yang tangguh?" tanya Lie Bun sambil tersenyum.

Ong-siocia membuang muka dan wajahnya yang cantik itu menjadi merah karena marah. "Ha! Siapa sudi bersilat dengan kau yang buruk rupa dan kotor ini!"

Kata-kata itu benar-benar menikam ulu hati Lie Bun. Ia tidak merasa sakit hati disebut buruk rupa karena ia memang telah maklum betapa mukanya tidak dapat disebut tampan. Namun sikap gadis itulah yang memuakkan hatinya.

Dengan sengaja ia berkata keras agar terdengar oleh semua tamu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment