Chapter 18
"Jadi ujian ini hanya diberikan kepada pemuda-pemuda cakap dan tampan belaka? Jadi, Nona hendak mengadu kepandaian hanya dengan pemuda-pemuda yang tampan saja, tidak mau dengan pemuda yang buruk rupa? Eh, apa-apaan ini? Menguji kepandaian atau mengukur tampang?"
Ong-tihu mendamprat, "Binatang! Dari mana datangnya pengemis hina yang berani mengacau? Ayo pergi, kalau tidak akan kuseret kau ke dalam penjara!"
Lie Bun menjura dengan senyum menyindir. "Memang beginilah seharusnya sikap seorang pembesar yang berkuasa. Garang terhadap seorang yang dianggapnya tidak berdaya. Baiklah kalau Nona yang gagah perkasa itu takut melawan aku si buruk rupa. Biarlah ia melawan si muka tampan yang tidak cakap apa-apa!"
Marahlah Ong-siocia mendengar sindiran ini. "Bangsat, kalau kau memang memiliki kepandaian, cobalah kau layani pedangku ini!"
Gadis itu lalu mencabut pedangnya. Dengan sengit ia melompat ke arah panggung dan langsung mengirim serangan kilat. Lie Bun berkelit cepat dan berkata,
"Bagus!" Kemudian ia melayani gadis berbaju merah itu dengan tangan kosong.
Memang hebat ilmu pedang gadis itu. Hanya sayang sekali tenaganya kurang sehingga ilmu silatnya itu ternyata hanya bagus ditonton saja. Lie Bun, dalam beberapa gebrakan saja, maklum bahwa untuk menjatuhkan gadis ini bukanlah hal yang sukar baginya.
Tapi ia masih merasa kasihan untuk mencelakakan atau membuat malu gadis yang tidak ada hubungannya sedikit pun dengan dia itu.
Maka ia pun bersilat meniru gerakan gadis itu sehingga bagi para penonton, kedua orang bersilat dengan indah dan gemulai, mengagumkan mereka yang sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pengemis muda itu begitu gagah dan lihai. Ong-siocia sendiri pun merasa terkejut sekali karena pemuda berwajah hitam ini tepat sekali meniru gerak-geriknya dan bersilat menurut pelajaran dari cabangnya sendiri. Namun, gerakan pemuda ini begitu cepat dan lihai sehingga setiap serangan pedang dapat dielakkannya dengan lincah, seolah-olah pemuda itu telah tahu sebelumnya ke mana pedangnya hendak menyerang.
Setelah menyerang lebih dari lima puluh jurus, tetapi belum juga dapat merobohkan pemuda itu, gadis berbaju merah itu merasa penasaran dan malu. Terang sekali bahwa ilmu silat pemuda ini jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri. Sayangnya, pemuda ini begitu buruk rupa dan berwajah hitam. Sedangkan pakaiannya menunjukkan bahwa ia seorang pengemis pula. Diam-diam Ong-siocia merasa kecewa sekali. Pada suatu saat, Ong-siocia menyerang dengan tusukan kilat ke arah dada Lie Bun. Pemuda itu sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya. Ia tidak mengelak tusukan itu, hanya memiringkan tubuhnya sedemikian rupa sehingga pedang itu tepat sekali menusuk bajunya dan menyerempet kulit dadanya sebelah kanan, tetapi sama sekali tidak melukai kulitnya. Karena pedang itu tepat memasuki baju, maka baik gadis itu maupun semua penonton mengira bahwa dada kanan pemuda itu tertusuk sehingga semua orang mengeluarkan seruan.
Untuk menghidupkan permainannya, Lie Bun pura-pura berteriak kesakitan dan menggunakan tangannya untuk menjepit pedang itu.
Ong-siocia buru-buru mencabut pedangnya karena bukan maksudnya untuk membunuh orang. Tetapi alangkah terkejutnya ketika pedang itu terasa seolah-olah terjepit tulang iga pemuda itu sehingga tidak dapat dicabut.
Sementara itu, Lie Bun terhuyung-huyung mundur sehingga Ong-siocia terpaksa melepaskan pedangnya yang kelihatan masih menancap di dada kanan Lie Bun.
Kemudian Lie Bun tertawa geli dan dengan tangan kiri mencabut pedang itu. Semua orang memandang dengan mata melongo karena ujung pedang itu tidak berwarna merah seperti yang mereka sangka. Bahkan pemuda itu kini tertawa geli dan berkata,
"Aku mendengar orang berkata bahwa siapa yang dapat mengalahkan Ong-siocia, maka ia akan mendapat hadiah luar biasa besarnya. Hadiah yang tidak terbeli oleh harta di dunia ini. Tetapi aku, setelah dapat melawanmu, bahkan mendapat hadiah pedang. Terima kasih, terima kasih! Harapan saya, Nona rela memberikan pedang ini kepadaku, ataukah hendak kau minta kembali?"
Ia memegang ujung pedang dan mengangsurkannya kepada Ong-siocia.
Tetapi gadis itu, merasa malu, lalu lari ke dalam tanpa berkata apa-apa.
Ong-tihu, diikuti oleh beberapa orang pengawal bersenjata lengkap, menghampiri Lie Bun hendak menangkapnya. Tetapi pemuda itu berkata,
"Ong-tihu, tidak usah repot-repot melayani aku. Aku bisa mengambil sendiri hidangan-hidangan itu."
Dan dengan sikap yang lucu, Lie Bun melompat ke arah meja paling ujung, melewati kepala para tamu, sehingga orang-orang yang duduk di meja ujung itu menjadi panik dan meninggalkan mejanya.
Lie Bun lalu duduk di atas sebuah bangku dan mulai makan dan minum dengan lahap, karena memang semenjak pagi tadi belum makan dan perutnya merasa lapar sekali.
Ong-tihu dengan wajah merah dan bersungut-sungut, lalu memerintahkan para pengawal itu untuk mengejar Lie Bun. Tetapi sambil membawa mangkuk di tangan kanan dan pedang rampasan di tangan kiri, Lie Bun melompat melewati kepala mereka dan turun di ujung lain, lalu duduk di sebuah bangku melanjutkan makannya seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Setelah beberapa kali melompat dan berpindah-pindah meja sehingga membuat para pengejarnya tidak berdaya karena harus berjalan mengitari sekian banyak meja, sedangkan yang dikejarnya dengan mudah saja melompati kepala para tamu, akhirnya Lie Bun merasa kenyang dan ia lalu berkata,
"Terima kasih untuk pedang dan makanan!" Ia lalu melompat keluar dan lari pergi.
Mengapa pemuda itu berwajah hitam? Ini tidak begitu menjadi masalah, tetapi kenapa pemuda itu hanya seorang pengemis? Ia menyesal sekali, dan setelah diingat-ingat barulah ia terkejut karena pedangnya telah dirampas, sedangkan pedangnya itu bukanlah pedang biasa, melainkan sebilah pedang pusaka pemberian kakeknya. Ia hanya bisa merasa menyesal dan sering kali ia mengenang pemuda berwajah hitam yang memiliki kepandaian luar biasa itu.
Sepekan kemudian, setelah menempuh perjalanan yang jauh tanpa berhenti kecuali untuk makan dan tidur, Lie Bun tiba di kota Kwie-ciu yang letaknya hanya beberapa puluh *li* saja dari Bi-ciu, kota tempat tinggal orang tuanya.
Karena dulu ia sering pergi ke Kwie-ciu, maka, melihat kota ini, Lie Bun merasa gembira sekali dan ia menunda perjalanannya sambil melihat-lihat bagian kota yang tidak asing baginya itu.
Ternyata selama beberapa tahun ini tidak banyak terjadi perubahan pada kota ini. Waktu yang tujuh tahun itu seolah-olah baru tujuh hari saja lamanya. Alangkah cepatnya sang waktu meluncur.
Ketika ia sering datang ke kota ini, ia masih berusia kurang lebih sebelas tahun. Tetapi kini ia telah menjadi seorang pemuda dewasa. Ia menundukkan kepala, memandang pakaiannya yang buruk dan penuh tambalan serta kedua kakinya yang telanjang. Lalu teringatlah ia ketika dulu ia mengunjungi kota ini dengan pakaian mewah. Maka tersenyumlah dia.
"Bagaimana kalau ayah, ibu, dan kakaknya melihat ia dalam pakaian macam ini? Ah, mereka tentu tidak akan mengenalnya lagi. Biarlah aku akan membuat mereka terkejut dan bingung," pikirnya gembira.
Tiba-tiba terdengar suara gembreng dan tambur dari jauh. Kedua mata Lie Bun bersinar karena ia teringat akan arti bunyi-bunyian itu.
Itulah bunyi tambur dan gembreng di kelenteng Kwan-im-pouwsat di tikungan jalan yang menuju ke Bi-ciu.
Ternyata musim kering telah lewat dan untuk menyatakan terima kasih kepada Kwan-im-pouwsat, dewi yang murah hati yang selalu menjaga ketenteraman dan kemakmuran para petani dan rakyat kecil, penduduk Kwie-ciu lalu mengadakan keramaian. Seperti biasa, di depan kelenteng itu dibangun tempat orang bermain barongsai dan liong. Kadang-kadang, tempat itu juga dipakai untuk bermain silat mendemonstrasikan kepandaian guru-guru silat di Kwie-ciu.
Maka tentu saja Lie Bun tertarik sekali, karena dulu pun ia selalu sengaja datang dari Bi-ciu ke kota ini untuk menonton keramaian ini.
Benar saja, ketika ia tiba di depan kelenteng itu, orang-orang yang menonton keramaian sudah penuh.
Kelenteng dihias dengan bunga-bunga, daun-daun, dan kertas-kertas beraneka warna. Di depan kelenteng telah dibangun panggung yang tinggi dan kokoh, dan di atas panggung tampak sedang dimainkan barongsai dengan tetabuhan yang sangat nyaring dan meriah.
Lie Bun mendesak maju dan berdiri di depan melihat permainan barongsai. Setelah permainan itu selesai, seorang gemuk yang berpakaian sebagai seorang ahli silat, muncul dari belakang panggung dan setelah menjura ke empat penjuru dengan kaku karena saat membungkukkan tubuhnya, perutnya yang gendut itu mengganjal di bagian depan. Ia lalu berkata, dengan suara yang ternyata keras dan nyaring,
"Saudara-saudara sekalian, perayaan untuk menghormati Pouwsat tahun ini diadakan lebih besar daripada tahun-tahun yang sudah lalu. Bahkan sekarang diadakan pertunjukan istimewa, yakni pemilihan jago muda yang paling gagah di kota Kwie-ciu dan sekitarnya. Para guru silat di Kwie-ciu dan Bi-ciu menjadi saksi dan juri, sedangkan yang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti pertandingan ini adalah enam belas jago muda dari Kwie-ciu dan Lun-kwan."
"Pertandingan pertama dilakukan dalam delapan pertandingan dan nama keenam belas peserta itu akan diundi untuk menetapkan harus berhadapan dengan siapa. Kemudian delapan orang pemenang dari pertandingan babak pertama ini akan diundi dan dipilih lagi menjadi empat orang pemenang. Dan seterusnya demikian sampai terpilih pemenang pertama yang akan disebut jago muda dari daerah Kwie-ciu."
Pidato ini disambut dengan tepuk tangan riuh-rendah karena para penonton merasa gembira sekali akan disuguhi atraksi istimewa yang belum pernah diadakan.
Juga Lie Bun merasa gembira sekali, karena ia ingin sekali tahu siapakah jago muda terpandai di kota ini.
Si gendut itu mengangkat kedua tangannya untuk mencegah orang-orang membuat gaduh, lalu berkata lagi,
"Nama-nama peserta akan diumumkan dan undian telah dilakukan tadi."
Pertandingan diadakan dengan cara tangan kosong dan tidak boleh menggunakan senjata tajam atau senjata rahasia. Luka atau kematian akibat pertandingan ini bukan tanggung jawab para peserta, dan hal ini telah disetujui oleh para pembesar yang berkuasa.
"Nah, sekarang peserta nomor satu, Kwee Siang In, berhadapan dengan peserta nomor tujuh, Mo Kang Lok. Kwee-Enghiong adalah jago muda dari Lun-kwan, sedangkan Mo-Enghiong adalah pemuda di kota ini. Kedua Enghiong, silakan naik ke panggung."