Chapter 19
Dengan disambut tepuk tangan riuh rendah, dua orang pemuda yang berpakaian dan bersikap gagah naik ke panggung dengan lompatan indah.
Melihat gaya lompatan itu, tahulah Lie Bun bahwa mereka hanya mempunyai ilmu silat pasaran saja, maka ia menjadi kecewa. Akan tetapi, timbul pula kegembiraannya ketika mereka berdua mulai bertanding.
Keduanya tampan dan gagah, dan kepandaian mereka berimbang. Akan tetapi, sebagaimana dapat diduga oleh Lie Bun pada saat mereka mulai bergebrak, pemuda yang bermarga Kwee menang gesit, dan pada suatu saat yang tepat ia berhasil menendang perut lawannya sehingga terhuyung dan akhirnya terguling dari atas panggung.
Kemenangan ini disambut sorakan pujian, dan pemuda yang bermarga Kwee itu menjura ke arah penonton lalu mengundurkan diri untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan babak kedua.
Dengan lagak gagah, Si Gendut lalu mengumumkan pertandingan kedua antara seorang yang bermarga Oey dari Kwie-ciu dan seorang yang bermarga Gak dari Bi-ciu. Lie Bun tertarik sekali mendengar bahwa orang yang bermarga Gak itu berasal dari kotanya, tetapi ia tidak mengenalnya.
Walaupun demikian, ada juga perasaan membela dalam hatinya sehingga ketika dua pemuda itu bertempur, ia diam-diam mendoakan agar orang yang bermarga Gak itu yang menang.
Akan tetapi, ia kecewa, karena pemuda yang bermarga Gak itu akhirnya terbanting roboh dan dinyatakan kalah.
Demikianlah berturut-turut pertandingan diadakan. Ketika tiba giliran pertandingan keenam, Si Gendut mengumumkan dengan suara yang dibuat-buat untuk menarik perhatian para penonton.
“Saudara-saudara sekalian, pertandingan yang keenam ini dilakukan oleh orang-orang gagah kelas berat. Siapakah yang belum mendengar nama Rajawali Emas dari Bi-ciu dan Si Tangan Besi dari Kwie-ciu? Nah, kedua jago-jago lihai ini sekarang akan bertanding di atas panggung ini. Diharapkan kedua jago ini, Si Rajawali Emas Lie Kiat-enghiong dari Bi-ciu dan Kok Tian-enghiong dari Kwie-ciu, tampil ke atas panggung.”
Lie Bun merasa dadanya berdebar-debar. Kakaknya akan ikut bertanding. Kakaknya, Lie Kiat, yang bengal dan sering menggodanya itu. Ah, kakaknya itu kini telah menjadi seorang ahli silat, bahkan telah mempunyai julukan pula, Si Rajawali Emas dari Bi-ciu. Alangkah gagahnya! Dengan mata terbuka lebar, Lie Bun memandang ke atas panggung.
Tiba-tiba dari bawah melayang naik seorang pemuda dengan gaya yang cukup indah sehingga tahulah Lie Bun bahwa pemuda itu adalah murid Go-bi-pai.
Kemudian dari sebelah kiri, melayang pula naik ke panggung seorang pemuda yang berwajah tampan dan berpakaian kuning keemasan. Sungguh gagah dan tampan sekali sehingga ia mendapat sambutan tepuk tangan yang luar biasa.
Melihat kakaknya yang telah tujuh tahun ditinggalkannya itu, Lie Bun merasa terharu sekali, dan air matanya mengalir di kedua pipinya yang hitam dan bopeng. Kemudian ia tak dapat menahan gelora hatinya lagi, lalu melompatlah ia naik ke atas panggung, tepat di depan Lie Kiat dan berseru,
“Engko Kiat... Engko Kiat!”
Lie Kiat melangkah mundur sampai tiga langkah ketika tiba-tiba ada seorang pemuda yang berwajah hitam dan berpakaian aneh sekali melompat dan berdiri di hadapannya sambil memanggil-manggilnya. Namun, ia segera mengenali wajah adiknya yang telah bertahun-tahun pergi. Betapapun juga, Lie Kiat sering menangis dan rindu sekali kepada adiknya yang satu-satunya ini. Maka, ketika melihat Lie Bun berdiri di depannya, timbullah rasa girang yang besar sekali dalam hatinya. Ia segera maju dan memeluk adiknya itu sambil berbisik,
“Lie Bun... kau... kau kembali?”
Lie Bun memeluk kakaknya dengan besar hati, tetapi pada saat itu teringatlah Lie Kiat bahwa ia sedang berada di atas panggung dan ribuan pasang mata memandang ke arah mereka. Ia ingat pula akan keadaan adiknya yang seperti pengemis itu, maka cepat-cepat ia melepaskan pelukannya dan berkata kepada semua penonton,
“Saudara-saudara yang terhormat. Janganlah kalian salah sangka. Inilah adikku yang nakal. Belum lama ini adikku pergi menyelidiki keadaan para pengemis dan perihal kehidupan mereka. Karena itu, ia sengaja menyamar sebagai seorang pengemis tulen. Jangan ia direndahkan, karena bagaimanapun juga, adikku ini mempunyai ilmu yang lumayan dan ia mempunyai julukan Ouw-bin Hiap-kek, Si Pendekar Muka Hitam. Tetapi biarpun buruk rupa, hatinya baik sekali.”
Semua penonton yang tadinya memandang terharu, kini mengangguk-anggukkan kepala, dan Lie Kiat lalu menyuruh adiknya turun.
“Kau lihatlah permainanku,” katanya.
Lie Bun melompat turun, dan dalam hatinya ia mengaku bahwa kakaknya ini belum dapat mengubah wataknya yang tinggi hati dan sombong.
Agaknya kakaknya malu mengaku adik kepada seorang pengemis, maka ia sengaja mengarang cerita bohong kepada para penonton agar keadaan Lie Bun sebagai seorang pengemis itu tidak merendahkan namanya sendiri. Dan betapapun juga, kakaknya itu masih saja suka menggodanya tentang wajahnya yang buruk, sehingga terang-terangan memberinya julukan Pendekar Muka Hitam.
Diam-diam Lie Bun tersenyum. Ah, julukan ini tidak lebih buruk daripada Si Topeng Setan, yakni julukan yang dulu kakaknya memberinya. Kemudian, ia memperhatikan kakaknya yang mulai bertanding.
Setelah bertempur beberapa jurus, Lie Bun tahu bahwa kakaknya mendapat didikan seorang guru silat dari cabang Siauw-lim dan bahwa kakaknya ini memiliki kepandaian lweekang yang meyakinkan.
Biarpun kepandaian kakaknya tidak begitu tinggi, namun ia memiliki kegesitan, dan dengan tenaga lweekangnya, ia dapat menarik keuntungan dalam pertandingan melawan seorang yang hanya melatih gwakang seperti Si Tangan Besi itu. Juga Lie Kiat cerdik, karena ia sengaja tidak mau mengadu lengan, dan menggunakan telapak tangan untuk menangkis lalu membalas dengan serangan-serangan kilat.
Telah beberapa kali ia berhasil menyampok dan menyodok tubuh lawannya, tetapi karena kekebalannya, Si Tangan Besi belum juga dapat dirobohkan.
Pertandingan ini boleh dibilang yang paling menarik di antara pertandingan-pertandingan sebelumnya, karena kepandaian kedua orang ini memang lebih tinggi. Mereka telah bertempur lebih dari lima puluh jurus, tetapi belum juga ada yang kalah.
Tiba-tiba Lie Bun, yang sengaja berdiri di dekat panggung dan menonton pertandingan itu, mendesak-desak penonton lain, lalu berseru keras,
“Hei, jangan kau desak-desak orang sampai tersodok mataku! Dan kau, jangan dorong-dorong sampai hampir jatuh!”
Dengan lweekangnya yang sudah sempurna, Lie Bun dapat mengirimkan suaranya itu sehingga terdengar nyaring dari atas panggung.
Lie Kiat tidak mengenali suara adiknya, tetapi kata-kata yang jelas itu membuatnya sadar. Jika ia hanya memukul biasa saja, maka sukar untuk menjatuhkan lawan yang kebal ini. Mendengar kata-kata “sodok mata” dan “dorong roboh”, ia mendapat akal. Maka, ia segera mengubah serangannya.
Kini ia tidak mau sembarang menendang atau memukul, tetapi mempercepat gerakannya dan semua serangannya ditujukan ke mata lawan.
Karena memang ia lebih gesit, lawannya menjadi bingung dan cepat-cepat menangkis setiap sodokan. Karena jika sampai matanya tersodok, tak mungkin ia menggunakan kekebalannya ke matanya.
Ia mulai terdesak ke pinggir, dan tiba-tiba Lie Kiat mengubah gerakannya dan sepenuh tenaga mendorong ke arah dada lawannya. Karena serangannya dilakukan tiba-tiba tanpa ampun lagi, tubuh Si Tangan Besi terjengkang lalu jatuh ke bawah panggung. Tentu saja, hal ini dianggap sebagai satu kemenangan bagi Lie Kiat.
Sorak-sorai riuh menyambut kemenangan ini, dan mungkin yang bertepuk paling keras adalah Lie Bun. Ia segera menghampiri kakaknya yang telah turun dan memeluknya mesra.
Pada saat itu, pertandingan ketujuh telah dimulai, tetapi yang bertempur adalah pemuda-pemuda biasa saja sehingga tidak menarik, dan sebentar saja diakhiri dengan kemenangan pihak Lun-kwan.
Namun, ketika pertandingan kedelapan dimulai, Lie Bun berkata kepada Lie Kiat, “Koko, apakah kau akan bertempur lagi?”
“Tentu saja, dalam babak kedua aku harus bertempur lagi. Untuk mencapai kejuaraan, aku harus bertempur tiga kali lagi!”
“Koko, orang tinggi kurus yang sedang bertempur itu lumayan juga.”
Lie Kiat memandang, dan saat itu orang tinggi kurus yang dimaksudkan Lie Bun, dengan tendangan, telah berhasil menendang lawannya ke bawah panggung sehingga pingsan.
“Oh, dia adalah jago nomor satu dari Lun-kwan. Namanya Biauw Kak dan julukannya Si Tangan Maut. Tetapi kukira aku dapat mengalahkannya, ilmu silatnya tidak seberapa,” jawab Lie Kiat dengan jumawa sehingga diam-diam Lie Bun tidak puas hatinya. Kakaknya ini perlu belajar berhati-hati dan jangan memandang rendah lawan, pikirnya.
Setelah diumumkan pemenang-pemenang babak kesatu, maka dimulailah pertandingan babak kedua. Untung sekali bagi Lie Kiat bahwa undian membuat ia berhadapan dengan pemuda yang bermarga Kwee, pemenang pertandingan pertama tadi.
Dengan mudah saja Lie Kiat menggulingkan lawannya. Setelah selesai, maka kini tinggal empat orang jago yang menjadi pemenang. Lalu diadakan undian lagi, dan sekali lagi Lie Kiat mendapat lawan ringan, maka tinggallah Lie Kiat dan Biauw Kak Si Tangan Maut.
Kini Si Gendut naik ke atas panggung dan berkata nyaring dengan muka berseri.
“Saudara-saudara yang mulia! Nah, kalian telah menyaksikan para pemuda kita yang gagah perkasa. Sekarang tinggal pertandingan babak terakhir antara dua pemenang, yakni Lie Kiat-enghiong Si Rajawali Emas dari Bi-ciu dan Biauw Kak-enghiong Si Tangan Maut dari Lun-kwan. Saudara-saudara tadi telah menyaksikan betapa gagah perkasa dan lihai kedua enghiong muda ini, dan sebentar lagi akan terbuktilah siapa di antara keduanya yang lebih lihai. Bersiaplah menyaksikan pertandingan ilmu silat kelas tinggi yang akan dihidangkan di hadapan Saudara sekalian.” Setelah berkata demikian, Si Gendut itu turun dari panggung dengan langkah yang dibuat-buat agar tampak gagah.
“Hati-hati, Koko,” Lie Bun berbisik dengan khawatir. Namun Lie Kiat dengan senyum sinis telah menggerakkan tubuh dan melompat dengan gerakan Itthian atau Burung Ho Terjang Langit ke atas panggung.