Halo!

Pengemis Tua Aneh - Chapter 20

Memuat...
Pengemis Tua Aneh

Chapter 20

Tepuk tangan riuh dan sorakan memuji menyambut pemuda yang tampan dan gagah ini. Lie Kiat segera menjura dan mengangguk ke empat penjuru.

Pada saat itu, Biauw Kak juga meloncat ke atas panggung dengan jurus Leteng atau Ikan Lehi Meloncat ke Atas.

Para penonton juga memberi sambutan meriah untuk pemuda tinggi kurus ini. Di antara penonton sendiri, terutama mereka yang datang dari Bi-ciu dan Lun-kwan, suasana terpecah menjadi dua kelompok yang saling bertentangan dan membela jago masing-masing.

Setelah saling memberi hormat, Lie Kiat dan Biauw Kak segera saling serang dengan hebat. Demi merebut kedudukan juara, mereka tidak mau mengalah dan mengerahkan seluruh kepandaian masing-masing. Mereka bahkan melancarkan serangan-serangan berbahaya yang dapat mendatangkan maut bagi lawan.

Setelah bertempur puluhan jurus, Lie Bun belum juga mengerti mengapa Biauw Kak mendapat julukan Tangan Maut. Menurut pendapatnya, ilmu silat Biauw Kak yang mirip cabang Kun-lun itu tidaklah lebih tinggi daripada ilmu silat kakaknya.

Lie Bun bahkan diam-diam menghela napas lega karena ia yakin bahwa pada akhirnya Lie Kiat pasti keluar sebagai pemenang dan juara.

Tampaknya Lie Kiat juga menyadari hal ini. Ia pun memperhebat serangannya dan segera mendesak Biauw Kak yang berkelahi sambil mundur serta lebih banyak menangkis saja.

Para pendatang dari Bi-ciu dan Lie Bun merasa sangat gembira. Namun, tiba-tiba Lie Bun melihat sesuatu yang membuatnya sangat terkejut hingga seketika wajahnya berubah pucat.

Ia melihat sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti oleh orang lain, tetapi baginya merupakan pertanda maut bagi kakaknya.

Ketika ia melihat ke arah lengan Biauw Kak, kulit lengan pemuda tinggi kurus itu ternyata perlahan-lahan berubah menjadi merah, seakan-akan seluruh darah di tubuhnya dialirkan ke sana.

Lie Bun tahu bahwa orang itu pastilah ahli Ang-see-ciang atau Lengan Pasir Merah, sebuah ilmu yang sangat berbahaya. Lengan tangan yang telah terlatih hebat dan kemasukan hawa beracun itu dapat melontarkan pukulan yang mematikan. Biarpun kepalan tangannya tidak menyentuh tubuh lawan, angin pukulannya saja yang membawa tenaga dalam serta hawa racun sudah cukup untuk merobohkan lawan. Inilah yang membuat Lie Bun terkejut dan cemas. Jika saja kakaknya mengetahui hal ini, situasinya mungkin masih baik karena Lie Kiat bisa bersikap waspada. Namun celakanya, Lie Kiat tampaknya tidak tahu dan masih terus merangsek hebat.

Memang kelihatannya Biauw Kak mundur dan terdesak oleh serangan Lie Kiat. Namun, Lie Bun tahu benar bahwa si tinggi kurus itu mundur sambil mencari kesempatan dan menunggu sampai tenaga Ang-see-ciangnya berkumpul penuh di kedua lengannya sebelum mengirimkan pukulan mematikan.

Karena kepandaian inilah tampaknya Biauw Kak diberi julukan si Tangan Maut.

Sekarang barulah Lie Bun mengerti, tetapi sudah terlambat karena tidak mungkin baginya untuk memberitahu kakaknya saat ini.

Hal yang dikhawatirkan Lie Bun akhirnya terjadi. Saat Lie Kiat sedang menyerang dengan pukulan tangan kanan, Biauw Kak tidak mau berkelit dan justru menerima pukulan itu dengan dadanya. Namun secara bersamaan, ia memukulkan kedua tangannya yang mengandung tenaga Ang-see-ciang ke dada Lie Kiat.

Terdengar teriakan Lie Bun. Pada saat yang genting itu, tiba-tiba Lie Bun mengayunkan tangan kirinya hingga dua sinar hitam kecil yang hampir tidak terlihat melayang cepat ke arah sambungan siku Biauw Kak.

Karena kerikil itu tepat mengenai urat terpenting di lengan, seketika itu juga lengan Biauw Kak menjadi lumpuh dan kehilangan tenaga hingga pukulannya tertunda. Namun, karena tadi ia tidak mengelak dari pukulan Lie Kiat, dadanya terkena pukulan telak hingga tubuhnya terjungkal ke bawah panggung.

Beruntung bagi Biauw Kak, Lie Kiat yang terkejut melihat lawannya nekat mengadu nyawa dengan balik memukul, mendadak merasa heran karena tangan lawannya tiba-tiba menjadi lemas. Hal ini membuatnya tercengang sehingga pukulannya tidak dilepaskan dengan tenaga penuh. Oleh karena itu, Biauw Kak hanya menderita luka ringan saja.

Bersamaan dengan riuhnya tepuk tangan menyambut kemenangan Lie Kiat yang membusungkan dada dengan bangga, tiba-tiba terdengar teriakan keras dan marah dari seorang biksu tinggi besar.

"Bangsat kecil, berani-beraninya kau bermain curang!"

Biksu tinggi besar itu lalu menerjang Lie Bun, dan anak muda itu dengan cepat menghindari serangan sang biksu yang sedang kalap.

Lie Kiat yang berada di atas panggung melihat adiknya diserang, segera meloncat turun dan menghadang di depan adiknya. Saat mengenali penyerang tersebut, ia terkejut lalu menjura sambil berkata, "Hok Hwat Losuhu, mengapa Anda menyerang adik saya?"

"Setan kecil ini kurang ajar sekali dan berani bermain curang hingga melukai muridku!" jawab Hok Hwat Losuhu, yang ternyata adalah guru Biauw Kak.

Biksu kosen ini ternyata dapat melihat gerakan tangan Lie Bun saat menolong kakaknya dari bahaya maut dan menjatuhkan Biauw Kak dengan dua buah kerikil kecil. Tentu saja pernyataan ini membuat Lie Kiat sangat heran dan ia segera membantah.

"Hok Hwat Losuhu, janganlah menuduh sembarangan. Adik saya ini, meskipun mengerti sedikit ilmu silat, mana mungkin bisa melukai murid Anda?"

Hok Hwat Hwesio makin marah. Sambil menggerakkan tangannya, ia berkata, "Kau jangan ikut campur, lepaskan adikmu untuk kuhajar!"

"Anda enak saja bicara. Bagaimanapun, saya tidak suka melihat adik saya dihajar orang," jawab Lie Kiat dengan berani. Lie Bun pun merasa sangat gembira. Timbul rasa sayang yang besar kepada kakaknya ini karena ternyata meskipun sombong dan bengal, kakaknya memiliki kegagahan dan ketabahan untuk membelanya.

Lie Bun dari belakang memegang lengan kakaknya seakan meminta bantuan. Lalu sambil mengernyitkan hidung dan menjebirkan bibir ke arah Hok Hwat Hwesio, ia berkata kepada Lie Kiat, "Koko, jangan takut, Koko!"

"Hus, kau diam saja, Lie Bun!" kata Lie Kiat karena melihat biksu itu semakin marah.

"Lie Kiat, aku masih memandang muka gurumu dan orang tuamu, maka aku tidak mau turun tangan padamu. Tetapi jika kau tetap hendak membela anak setan ini, terpaksa aku akan bertindak."

Lie Kiat membusungkan dadanya. "Jika Anda tidak malu menyerang saya, silakan saja. Tetapi Anda pasti akan ditertawakan oleh orang-orang gagah di seluruh dunia. Jika Anda memang gagah dan ingin memperlihatkan kelihaian, bukan saya lawan Anda!"

"Siapa? Siapa yang hendak kau ajukan? Ayo, suruh dia maju!" tantang Hok Hwat Hwesio.

"Tadi murid Anda menjadi lawan saya, maka lawan Anda tidak lain adalah guru saya!" jawab Lie Kiat, yang sebenarnya merasa gentar terhadap biksu sakti itu.

"Apa katamu? Kau membawa-bawa gurumu, Kong Liak? Aku tidak ingin bermusuhan dengannya. Tetapi jika dia tetap membela setan hitam ini, biarlah dia maju."

Kebetulan sekali pada saat itu, terdengar orang-orang di sekitar berkata, "Kong Lo-kauwsu datang!"

Benar saja, orang tua bermarga Kong yang merupakan guru Lie Kiat itu datang dengan langkah lebar. Ia telah mendengar bahwa muridnya ikut dalam pertandingan itu dan merasa tidak senang karena khawatir muridnya akan menimbulkan keributan.

Lie Kiat menyambut gurunya dengan girang dan bangga. Sebaliknya, Kong Liak memperlihatkan wajah yang tidak senang.

"Lie Kiat, untuk apa kau ikut dalam permainan berbahaya ini?" tegurnya.

"Murid telah berhasil menjadi juara, Guru," jawab muridnya dengan bangga. Namun gurunya hanya menggeleng-gelengkan kepala seakan hal itu sama sekali tidak penting. Kemudian Kong Liak melihat Hok Hwat Hwesio berdiri di sana dengan sikap bermusuhan, maka ia pun bergegas menjura.

"Ah, ternyata Hok Suhu juga berada di sini!"

Dengan heran Kong Liak melihat biksu itu membalas salamnya dengan sikap yang sangat dingin.

"Guru, tampaknya Hok Losuhu tidak rela muridnya saya kalahkan," ujar Lie Kiat yang cerdik mendahului.

"Kong-kauwsu! Tolong suruh muridmu itu jangan mencampuri urusanku," kata Hok Hwat Hwesio dengan marah.

"Eh, ada urusan apakah, Hok Suhu?"

"Aku hendak memberi hajaran kepada setan bermuka hitam yang jahat itu, tetapi muridmu hendak membelanya. Jika aku tidak melihat mukamu, sudah sejak tadi dia kuhajar sekalian."

"Lie Kiat, kesalahan apakah yang kau perbuat kepada Hok Suhu? Jangan kau kurang ajar terhadap orang dari generasi tua," tegur Kong Liak kepada muridnya.

"Guru, lihatlah anak muda ini. Anda kira siapakah dia? Dia adalah Lie Bun, adik saya yang telah tujuh tahun pergi. Dia sekarang telah kembali. Namun tanpa sebab apa pun, Hok Losuhu hendak menyerangnya. Tentu saja saya tidak tinggal diam."

Kong Liak tercengang melihat Lie Bun. Ia telah lupa akan wajah anak kecil yang dulu dibawa pergi oleh Kang-lam Koay-hiap. Namun melihat pakaian aneh yang dikenakan Lie Bun, guru silat marga Kong ini teringat kembali pada pengemis aneh yang gagah itu. Ia memandang Lie Bun agak lama, lalu menghela napas.

"Aku sebagai manusia selamanya tidak suka mencari permusuhan. Jika aku telah melakukan sesuatu, maka aku akan menanggung semua akibatnya sebagai seorang laki-laki. Tidak perlu menyeret orang lain ke dalam urusan itu. Hok Suhu, Anda tahu aturan kita sebagai orang kang-ouw. Lihat, panggung lui-tai masih berdiri teguh. Untuk apa Anda mengejar orang di bawah panggung?"

Pada saat itu, si pria gendut tukang pidato sudah naik ke panggung dan mengumumkan bahwa yang menjadi juara adalah Lie Kiat dari Bi-ciu.

Namun tiba-tiba dari bawah panggung berkelebat sebuah bayangan orang, dan tahu-tahu seorang biksu tinggi besar telah berdiri di depannya dan membentaknya.

"Pergi kau dari sini!"

Si pria gendut begitu terkejut hingga kedua kakinya lemas dan ia terhuyung-huyung. Lenyaplah sikap dan lagaknya yang gagah tadi, dan ia pun meninggalkan panggung bagaikan seekor anjing yang terkena pukul.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment