Halo!

Pengemis Tua Aneh - Chapter 31

Memuat...
Pengemis Tua Aneh

Chapter 31

"Ayo lekas periksa dengan teliti, dan kalau kau tidak bisa memberi obatnya, awas dan jaga kepalamu!"

Kemudian pintu kamar itu terbuka, dan Lie Bun pura-pura tidur sambil mengintai dari balik bulu matanya.

Ternyata Swat Cu masuk, diikuti oleh seorang tua berambut putih yang berpakaian seperti sastrawan. Wajah kakek itu halus, gerak-geriknya pun demikian, dan terang sekali bahwa ia seorang terpelajar.

Lie Bun tidak tahu bahwa Swat Cu telah memaksa orang tua itu datang ke kamarnya, dan tidak tahu pula bahwa orang tua itu adalah Lie Ban Tong, tabib terkenal di Nan-king yang mendapat julukan tabib dewa.

Karena keadaan dalam kamar itu agak gelap, Swat Cu lalu menyalakan sebatang lilin. Tabib itu, sambil mendekatkan lilin ke muka Lie Bun, mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti. Jari-jari tangannya yang halus itu beberapa kali mengusap-usap kulit muka Lie Bun, hingga Lie Bun harus bertahan kuat-kuat karena merasa geli.

Setelah pemeriksaan beberapa lama, tabib itu berkata, "Tenanglah. Aku sanggup mengobati muka ini!"

Lie Bun berdebar hatinya. Diobati? Apa maksudnya? Namun, kedua orang itu bertindak keluar, dan ia tidak mendengar apa-apa lagi.

Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk membawa makanan dan air dalam mangkuk.

"Siocia, silakan makan malam, kongcu," katanya sambil meletakkan hidangan itu di dekat pembaringan.

"Terima kasih. Eh, di manakah aku sekarang?" tanyanya.

Pelayan itu tertawa kecil. "Anda berada di kamar siocia! Sejak pagi tadi Anda tidur saja!"

"Apa? Kamar siocia yang mana? Maksudmu pangcu?"

Pelayan itu mengangguk. "Sudahlah, jangan ribut-ribut. Pangcu atau Oey-siocia itu sudah berlaku baik sekali terhadap Anda, dan ia bahkan telah menyerahkan kamarnya untuk Anda, sedangkan ia sendiri tidur di kamar lain. Anda harus berterima kasih atas budi kecintaannya ini, kongcu!"

Lie Bun tidak jadi berdiri, dan ketika pelayan itu meninggalkannya, ia duduk termenung.

Alangkah baiknya nona Swat Cu itu. Baru saja kenal, sudah merawatnya begini baik, bahkan telah bersusah payah mendatangkan tabib untuk mengobati mukanya.

Tiba-tiba ia terkejut ketika teringat kata-kata pelayan tadi. Budi kecintaan? Apakah nona yang gagah dan menjadi pangcu itu cinta padanya? Tak mungkin nona gagah dan cantik itu cinta padanya, sedangkan ia buruk rupa.

Ia lalu mengenangkan kembali peristiwa-peristiwa pagi tadi. Cinta Kasih Murni (Tamat)

Tiba-tiba ia teringat dan meloncat bangun lagi. Ah, bukankah nona itu tertarik dan kagum padanya karena pertempuran tadi?

Mungkin nona itu sangat kagum setelah ia mengusir ketiga musuhnya dan jatuh cinta. Tapi tabib itu? Lie Bun tersenyum pahit. Tentu saja Swat Cu ingin sekali melihat ia menjadi tampan, jadi betapapun juga, gadis ini tidak menyukai mukanya yang buruk, dan yang disukai hanyalah kepandaiannya saja.

Pada keesokan harinya, ia mendengar lagi suara tabib yang lemah lembut itu, disusul suara Swat Cu yang lembut.

"Anda sungguh keras hati, nona. Anda kuat menunggu saya sampai semalam penuh membuat obat itu, sungguh mengagumkan!" tabib itu memuji.

Lie Bun terkejut. Jadi, tabib itu dan Swat Cu telah sibuk semalam penuh dalam pembuatan obat untuk mukanya! Cepat Lie Bun bangun, membereskan pakaiannya, lalu membuka pintu kamarnya.

Ternyata tabib itu sedang duduk menghadapi secangkir teh, dan di depannya duduk Swat Cu yang rambutnya agak kusut dan mukanya mengantuk. Di dekat cawan teh itu tampak sebuah bungkusan kecil.

Melihat Lie Bun telah bangun, Swat Cu berdiri dan menyambutnya dengan senyum. "Lie-taihiap, enakkah tidurmu?"

Melihat sikap ini, Lie Bun merasa tidak enak jika tidak menjawab, maka ia pun berkata, "Terima kasih atas segala kebaikan Anda, pangcu. Sekarang perkenankanlah saya kembali ke hotel saya dan maafkan bahwa selama ini saya telah mengganggu Anda."

"Eh, Lie-taihiap, nanti dulu. Silakan duduk dulu, taihiap." Terpaksa Lie Bun duduk di atas sebuah bangku.

Tabib itu lalu berkata kepada Swat Cu, "Anda telah tahu cara menggunakannya, nona, yakni kuulang lagi. Masak dengan air semangkuk sampai airnya habis. Lalu campur dengan embun yang terkumpul di ujung daun-daun bambu sampai basah betul. Biarkan menempel di muka sampai satu hari satu malam lamanya, pasti akan berhasil dan sembuh!"

Setelah berkata demikian, tabib itu lalu berpamitan dan meninggalkan tempat itu sambil membawa sebuah bungkusan yang tampak berat, agaknya uang perak hadiah dari Swat Cu.

"Pangcu, sekarang terpaksa saya juga harus pamit," kata Lie Bun sambil berdiri.

"Tunggu sebentar, taihiap. Saya merasa sangat kagum dan berterima kasih kepada Anda. Untuk menyatakan terima kasih saya, maka sukalah Anda menerima pemberian saya ini. Bukan barang berharga, melainkan semacam obat yang Anda telah mendengar sendiri cara pemakaiannya tadi. Sesungguhnya saya ingin sekali diberi kesempatan untuk mengobati muka Anda, taihiap. Saya ingin sekali bahwa saya dan tangan saya sendiri yang mengerjakan pengobatan itu, tapi..." gadis itu menundukkan mukanya dengan pipi kemerahan.

Celaka, pikir Lie Bun. Dugaannya benar! Ia merasa tidak enak jika menolak pemberian ini, karena ternyata betapa gadis ini dengan sabar menunggu tabib itu mengerjakan dan membuat obat ini sampai semalam penuh. Maka ia lalu berkata sambil tersenyum, "Pangcu, Anda benar-benar baik hati. Baiklah, pemberian Anda saya terima dengan senang hati dan terima kasih. Tapi saya tidak berani mengganggu Anda dan membuat Anda repot, pula saya pun sebenarnya tidak ingin menjadi tampan." Namun, sambungnya ketika melihat betapa Swat Cu merasa terpukul dengan pernyataan ini, "Siapa tahu, mungkin sewaktu-waktu saya perlu dengan obat pemberian Anda ini." Setelah berkata demikian, maka Lie Bun menerima bungkusan obat yang telah diangsurkan oleh Swat Cu itu.

"Nah, selamat tinggal, nona. Saya akan selalu mengingat Anda sebagai seorang yang baik dan ramah tamah."

"Tapi, tapi..... Anda hendak ke mana, taihiap? Tidakkah Anda kembali lagi ke sini?"

Lie Bun tersenyum. "Tentu, kalau saya kebetulan lewat kota ini, tentu saya akan mampir ke sini."

"Ah, alangkah baiknya kalau Anda suka di sini, taihiap."

"Tak mungkin, nona. Saya harus kembali ke tempat tinggal saya di Bi-ciu."

Maka, Lie Bun meninggalkan nona kepala copet yang lihai itu dengan perasaan kasihan, sungguhpun ia tahu bahwa nona itu mencintainya karena kepandaiannya, bukan karena sewajarnya.

Setelah tiba di hotelnya, Lie Bun mengeluarkan bungkusan obat itu, dan ia pandang obat yang ditaruh di atas meja itu lama sekali. Timbul perang di dalam hatinya.

Alangkah baiknya kalau ia pakai obat itu dan ternyata berhasil. Ia akan berubah tampan, kulit mukanya akan putih dan cakap, seputih Lie Kiat, secakap kakaknya itu. Ia akan disukai orang, tidak diejek dengan julukan si muka buruk lagi. Ia akan dapat membanggakan kecakapannya. Ia akan dicintai oleh... ya, oleh siapa? Apa artinya dicintai seluruh orang di muka bumi ini kalau Kwei Lan tidak mencintainya?

Kwei Lan tidak mungkin mencintainya karena gadis itu kini telah menjadi istri Lie Kiat, telah menjadi kakak iparnya. Tapi Kwei Lan juga tidak tergila-gila muka tampan. Sekarang, setelah tiada seorang pun gadis yang diharapkan olehnya, untuk apa ia menjadi tampan? Tiada guna! Dengan tak terasa ia ambil obat itu dan masukkan ke sakunya.

Pada hari itu juga Lie Bun melanjutkan perjalanannya karena ia dengan sengaja meninggalkan kota itu cepat-cepat agar dapat terlepas dari Swat Cu.

Ia melakukan perjalanan sepanjang pantai laut timur dan tidak lupa tiap kali bertemu dengan peristiwa yang membutuhkan bantuan tenaganya, ia selalu melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa demi membela kebenaran dan keadilan.

Karena sepak terjangnya yang memang menggemparkan berkat kepandaiannya yang tinggi itu, sebentar saja namanya sebagai Ouw-bin Hiapkek telah menjadi terkenal sebagai seorang pendekar muda yang budiman, yang selalu membantu orang yang kesusahan.

Setelah merantau kurang lebih enam bulan, maka Lie Bun lalu memutar arah perjalanannya menuju pulang. Kini ia ambil jalan darat dan menempuh perjalanan yang sangat jauh itu dengan berkuda.

Juga pada waktu pulangnya, di tiap tempat yang dilewatinya, ia selalu melepas tenaga membela mereka yang perlu ditolong. Ia sengaja tidak melewati Nan-king, tapi memutar ke selatan melalui Han-kou.

Beberapa bulan kemudian tibalah ia kembali di kotanya.

Kalau dihitung semenjak ia tinggalkan kota itu pergi merantau, maka ia telah pergi kurang lebih sebelas bulan. Nyata bahwa ia tidak boleh pergi lebih lama dari pada setahun.

Ketika ia hendak masuk pekarangan rumah orang tuanya, hatinya sudah dak dik duk tidak karuan karena ia takut kalau-kalau ia akan bertemu dengan Kwei Lan yang pasti sudah menjadi istri Lie Kiat dan tinggal di rumahnya itu.

Tapi ia heran karena di rumahnya sunyi saja. Seorang pelayan yang melihat kedatangannya segera lari masuk memberi laporan, dan sebentar kemudian ayah ibunya berlari-lari keluar menyambutnya.

Lie Bun memberi hormat kepada mereka dengan girang, dan ibunya senang sekali melihat puteranya yang kedua ini kembali dengan selamat, bahkan tampak lebih matang air mukanya.

Karena melihat kesunyian rumah itu, Lie Bun serentak bertanya, "Ayah, ibu, mana twako?"

Ayah dan ibunya saling pandang hingga Lie Bun merasa terkejut dan menyangka yang bukan-bukan.

"Di mana dia?" Lie Bun mendesak. Ayahnya menjawab sambil menghela napas, "Ia di belakang, mungkin di kebun seperti biasa."

Lie Bun lalu berlari-lari ke belakang, dipandang oleh ayah dan ibunya sambil geleng-geleng kepala.

Benar seperti kata ayahnya, Lie Kiat sedang duduk di pinggir empang sambil melamun. Ia tampak sedih sekali, dan ketika ia menengok dan memandang Lie Bun, Lie Bun terkejut melihat betapa wajah yang tampan itu kini tampak tua. Padahal Lie Kiat baru juga berusia paling banyak dua puluh tiga tahun.

"Twako, kau kenapa? Dan mana istrimu?"

Lie Kiat pada waktu melihat adiknya datang, wajahnya menjadi girang, tapi hanya sebentar. Apalagi ketika Lie Bun bertanya demikian, mukanya menjadi muram.

"Ah, nasibku memang ternyata lebih buruk darimu, Lie Bun!"

"Kenapa, twako, kenapa? Apa belum juga kau kawin?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment