Chapter 02
Watak perempuan setengah baya itu agak aneh. Senjata yang digunakannya merupakan salah satu dari delapan belas jenis senjata aneh di dunia. Dia mempunyai dua macam senjata, yang satu golok yang bagian ujungnya bercagak, sedangkan yang satunya lagi cakar dari besi. Itulah sebabnya ia mendapat gelar si Cakar Besi, namanya Kongsun Ping.
Mendengar Cio Losam mengucapkan kata-kata yang mengejeknya, ia langsung berteriak keras-keras. Tubuhnya segera bangkit dari tempat duduk.
"Cio Losam, mendengar perkataanmu yang tidak enak didengar tadi, ada baiknya kita bertanding sebentar. Bagaimana?"
Trang! Trang! Kongsun Ping melemparkan senjatanya ke atas meja sehingga beberapa buah mangkuk dan cawan pecah berantakan. Senjatanya berukuran kurang lebih tiga puluh lima sentimeter. Ujungnya terdapat dua jari-jari berupa cakar dan terbuat dari besi.
Wajah Cio Losam berubah hebat.
"Bagus! Kalau si Cakar Besi Kongsun Ping telah menurunkan perintah, mana berani aku menolaknya?" Tangannya bertumpu di atas meja. Tubuhnya terangkat sedikit, kakinya memantul dan Cio Losam pun melakukan salto beberapa kali di udara. Sebelum mendarat, ia turun di tengah-tengah taman bunga. Kongsun Ping juga melesat ke depan secepat kilat, tetapi belum lagi ia sampai di depan Cio Losam, tampak sesosok bayangan berkelebat. Sergapan angin kuat menerpa dirinya sehingga kakinya terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Ketika ia mengalihkan pandangan matanya, ternyata orang yang berdiri di depannya adalah Kuan Ho.
"Kuan Loya, apakah kau ingin memberikan bantuan kepada Cio Losam?" teriak Kongsun Ping.
Wajah Kuan Hong Siau serius sekali.
"Kongsun Niocu, jangan mencari keributan. Kita semua sahabat karib. Untuk apa harus turun tangan?"
"Aku mengatakan Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat lebih hebat dari Pat Sian Kiam Hoat!" Tampaknya watak wanita ini bukan saja berangasan, tetapi juga keras kepala.
Kuan Hong Siau menoleh kepada kedua tamu agungnya, Lie Yuan dan Tao Cu Hun.
"Tokoh-tokoh setempat ini benar-benar tidak memberi muka kepadaku. Harap Hong Tayhiap jangan menertawakan. Kalian berdua memang jago pedang kenamaan. Saat ini malam sedang indah-indahnya, apakah kalian berdua bersedia menunjukkan sedikit kebolehan kepada kami agar semuanya merasa puas?" ujar Kuan Hong Siau.
Mendengar ucapan Kuan Hong Siau, teman-temannya yang lain serentak menyatakan kesepakatan pendapat mereka. Malah Cio Losam dan Kongsun Ping ikut berseru.
"Bagus sekali. Liongwi boleh bertanding beberapa puluh jurus untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara dua jago pedang kenamaan di dunia kang ouw sekarang ini." Kuan Hong Siau hanya tersenyum simpul. Ia tidak memberikan komentar apa pun terhadap ucapan kedua orang itu. Hal ini membuktikan bahwa ia sendiri ingin menyaksikan siapa yang lebih unggul dari kedua jago pedang itu. Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat milik Lie Yuan juga tidak memberikan tanggapan apa pun. Justru Tao Cu Hun yang berkata, "Kuan Loya, tidak usahlah. Buat apa memaksa siaute menunjukkan keburukan?"
"Apabila Pat Sian Kiam Hoat yang dikuasai Tao Lote masih dibilang ilmu yang buruk, aku yang tua sungguh tidak bisa membayangkan ilmu pedang yang mana lagi yang dapat dikatakan bagus!"
Pasangan suami istri Tao Cu Hun membawa kedua putra-putrinya melakukan perjalanan ke Si Cuan, pada dasarnya mereka ada urusan penting. Tidak disangka-sangka di tengah perjalanan mereka bertemu dengan pasangan suami istri Lie Yuan. Mereka sudah lama mendengar ketenaran nama masing-masing, tapi belum pernah bertemu muka. Karena merasa cocok, mereka pun melakukan perjalanan bersama-sama.
Watak Tao Cu Hun memang kalem. Ia menganggap perebutan nama besar di kalangan dunia kang ouw adalah sesuatu yang tidak berarti. Tidak terselip sedikit pun niat di hatinya untuk menunjukkan sampai di mana tingginya ilmu pedang yang ia miliki. Karena itu ia hanya tersenyum kecil.
"Maksudku, kalau dibandingkan dengan Pat Kua Kim Gin Kiam milik Lie Heng, tentu saja terpaut jauh," ujar Tao Cu Hun.
Lie Yuan sejak tadi tidak berbicara, tiba-tiba ia menukas, "Apakah Tao Heng tidak terlalu merendahkan diri sendiri?"
Tao Ling berdiri di samping Tao Cu Hun. Ia menyenggol ujung lengan ayahnya. "Tia, kau lihat sikap orang marga Lie itu demikian congkak, seakan tidak ada jago lain lagi di dunia ini. Mengapa kau tidak memberikan pelajaran barang beberapa jurus?"
Tao Cu Hun terkejut setengah mati. Tadinya ia bermaksud mencegah putrinya mengoceh sembarangan, tapi sudah terlambat. Meskipun suara Tao Ling cukup lirih, tapi orang-orang yang hadir di tempat itu adalah tokoh-tokoh yang sudah mempunyai dasar ilmu yang kuat, terutama pasangan suami istri Lie Yuan. Kedua orang ini sejak kecil sudah digembleng untuk menguasai Pat Kua Kim Gin Kiam Hoat. Sedangkan ilmu yang saat ini mempunyai keistimewaan tersendiri. Setiap kali jurus-nya dilancarkan, tidak terbit suara sedikit pun. Seandainya menutup mata, tentu orang tidak tahu bahwa pedang mereka sudah meluncur ke arahnya. Tetapi mereka berdua justru sanggup mengimbangi kehebatan pasangannya dengan mata tertutup. Tentu saja pendengaran dan pandangan mata mereka sangat peka. Ucapan Tao Ling sudah tertangkap jelas oleh mereka.
Wajah Lim Cing Ing, istri Lie Yuan mulai berubah. Bibirnya mengembangkan senyuman sinis.
"Tao Tayhiap, usul putrimu boleh juga!" Tao Cu Hun mendelik putrinya sekilas.
"Ucapan seorang anak mana bisa dipegang. Harap kalian berdua memaafkannya!"
Lie Yuan mengulurkan tangannya meraba pinggang. Terdengar suara desiran yang halus. Cahaya keemasan memenuhi sekitar tempat itu. Ternyata ia sudah mulai menarik gagang pedangnya. Pedang pusaka itu berwarna perak, tapi di bagian tengahnya terlihat segurat garis yang memantulkan cahaya keemasan. Sinarnya tajam dan menyilaukan mata. Sekali pandang saja dapat dipastikan bahwa yang digunakannya adalah sebatang pedang pusaka yang langka. Mungkin merupakan warisan turun-temurun selama ratusan tahun. Lie Yuan tertawa terbahak-bahak.
"Tao Heng, masa kau sungguh-sungguh tidak bersedia menunjukkan sedikit kepandaian agar mata para sahabat ini terbuka?"
Katanya memang diucapkan dengan sungkan, tapi rona wajahnya sungguh tidak enak dilihat. Tao Ling menyadari kata-katanya yang kekanak-kanakan tadi telah menimbulkan masalah. Hatinya tercekat sekali, cepat-cepat ia bersembunyi di belakang ibunya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
Mendengar ucapan Lie Yuan, Tao Cu Hun jadi serba salah. Ia sadar sekarang apabila ia tetap menolak permintaan orang itu, rasanya tidak mungkin lagi. Tapi kalau dituruti, pasti akan timbul berbagai masalah. Sebab bila ia meraih kemenangan, sama saja ia menjatuhkan pamor Pat Kua Kim Gin Kiam. Dengan demikian pasti terjadi perasaan dendam yang mungkin akan berlangsung turun-temurun. Tidak ada hari tenang lagi di kelak kemudian hari. Tetapi apabila ia sengaja mengalah kepada Lie Yuan, nama baiknya sendiri akan hancur dan bukan saja ia tidak mempunyai muka lagi muncul di dunia kang ouw, malah sekaligus merusakkan nama besar yang telah dipupuk para leluhurnya dengan susah payah.
Tao Cu Hun berpikir bolak-balik.
"Bila Lie Heng mendesak terus, biar putra kami Heng Kan yang meminta petunjuk barang beberapa jurus saja. Bagaimana pendapat Lie Heng?" kata Tao Cu Hun.
Menurut Tao Cu Hun sendiri, gagasannya tepat sekali. Karena ilmu pedang Lie Yuan pasti jauh lebih tinggi dibandingkan seorang boan pwe seperti anaknya Heng Kan. Tidak dinyana, mendengar ucapannya, wajah Lie Yuan semakin berubah. "Rupanya di dalam hati Tao Heng demikian memandang rendah ilmu pedang Pat Kua Pai kami?"
Diam-diam hati Tao Cu Hun berseru, 'Celaka'. Maksud baiknya malah salah ditafsir oleh Lie Yuan. Baru saja ia bermaksud menjelaskan niat yang terkandung dalam hatinya, Lie Yuan sudah berteriak.
"Po Ji!" teriak Lie Yuan.
Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun segera mengiyakan dan berdiri dari tempat duduknya.
"Po Ji, coba kau minta petunjuk barang beberapa jurus dari Tao Heng!"
"Baik!" sahut pemuda itu. Tubuhnya bergerak melesat dan tahu-tahu ia sudah berdiri di tengah-tengah taman bunga yang luas. Cring! Lie Yuan menghunus pedang pusakanya dan melemparkannya ke udara.
"Sambutlah!"
Di bawah cahaya rembulan yang bersinar terang, tampak pedang pusaka itu melayang ke tengah udara. Seakan tiba-tiba ia melemparkan seekor naga emas. Serrr! Pedang itu melayang setinggi lima depa, kemudian berputar beberapa kali dan menukik turun dengan bagian gagangnya di sebelah bawah. Tepat pada saat itu juga, Li Po mengeluarkan suara siulan yang panjang. Tubuhnya meloncat ke atas dengan tangan terulur. Gerakannya indah sekali. Sesaat kemudian pedang pusaka itu sudah tergenggam dalam telapak tangannya dan ia pun melayang turun kembali serta berdiri dengan mantap.
Li Po menggerakkan pedang di tangannya. Tampak bunga-bunga bayangan yang memenuhi seluruh tempat itu. Cahaya memijar menutupi seluruh tubuh Li Po. Pada dasarnya pemuda itu memang mempunyai penampilan yang gagah dan tampan. Hal ini malah menambah keindahan gerakannya. Sungguh pemandangan yang mengagumkan. Orang-orang yang berkumpul di taman bunga gedung Kuan Hong Siau segera melontarkan pujian dan bertepuk tangan dengan riuh.
Li Po menghentikan gerakannya. Tangannya menuding kepada Tao Heng Kan.
"Tao Heng, harap, harap sudi memberikan sedikit petunjuk!" ujar Li Po.
Tiba-tiba wajah Tao Heng Kan menyiratkan mimik yang menakutkan. Tetapi dalam sekejap mata sudah pulih kembali seperti sedia kala. Orang-orang yang ada di tempat itu tidak memperhatikan, tetapi Tao Ling yang sejak tadi berkali-kali melirik abangnya sempat melihat perubahan wajah Tao Heng Kan sekilas.
"Ma, tampaknya koko takut menghadapi orang itu," bisik Tao Ling kepada ibunya.
Sam Jiu Kuan Im Sen Cing membentak dengan suara keras. "Jangan banyak bicara! Masalah yang kau timbulkan barusan apa masih belum cukup?"
Tao Ling menjulurkan lidahnya dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Tao Heng Kan menoleh kepada ayahnya.
"Heng Kan, Lie Heng mempunyai kegembiraan untuk bermain-main denganmu, biarlah kau temani barang beberapa jurus!" perintah Tao Cu Hun.
Tao Heng Kan menganggukkan kepala.