Chapter 07
Kuan Hong Siau tidak mampu membebaskan jalan darah kedua orang itu. Wajah Kakek Kuan perlahan berubah, lalu ia mendongakkan kepala.
"Tao tayhiap, jalan darah suami istri Lie Yuan ini..." Kata-katanya terhenti. Ia tadinya menyangka bahwa apa yang terjadi pada pasangan suami istri Lie Yuan adalah hasil perbuatan Tao Cu Hun dan Sen Cing. Namun, saat ini ia melihat mimik wajah kedua orang itu justru menyiratkan kebingungan. Kenyataannya, pasangan suami istri Tao Cu Hun juga tidak tahu jalan darah mana dari Lie Yuan dan Lim Cing Ing yang tertotok dan bagaimana cara orang itu melakukannya.
Hati Sen Cing semakin penasaran karena ia adalah seorang pendekar wanita yang ahli dalam *am gi* (senjata rahasia). Sebagai orang yang mempelajari ilmu ini, paling tidak ia harus menguasai ilmu jalan darah di tubuh manusia. Pengetahuannya cukup dalam karena sejak kecil ia memang menekuni seluruh urat darah dalam tubuh seseorang. Tapi anehnya, ia sendiri tidak berhasil menemukan jalan darah apa yang tertotok pada pasangan suami istri Lie Yuan. Diam-diam ia menyadari bahwa orang itu menggunakan cara menotok jalan darah dengan aliran tersendiri dan mungkin jarang berkecimpung di dunia *kang ouw* sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya.
Oleh karena itu, dengan wajah serius Sen Cing berkata, "Kuan loya, bukan kami yang menotok jalan darah mereka!"
Wajah Kuan Hong Siau semakin kelam. Ia menolehkan kepala.
"Sahabat keluarga Sang dari Si Cuan, harap masuk ke dalam kabin. Lohu ingin merundingkan sesuatu hal!" teriaknya.
Baru saja ucapannya selesai, dari luar geladak berjalan masuk seseorang bertubuh pendek. Langkahnya lambat sekali seperti orang yang kemalas-malasan. Tao Cu Hun ingat ketika mereka baru sampai di tempat ini, Kuan Hong Siau memperkenalkan orang ini kepada mereka, tetapi saat itu ia tidak begitu memperhatikan. Memang terasa ia ingat orang itu menyebut dirinya bermarga Sang. Tetapi karena penampilannya tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa, Tao Cu Hun juga tidak menaruh perhatian. Sekarang mendengar Kuan Hong Siau menyebut keluarga Sang dari Si Cuan, pasangan suami istri Tao Cu Hun menjadi tertegun.
Karena keluarga Sang memiliki dua macam ilmu yang sangat terkenal di dunia *bu lim*. Salah satunya disebut Ruyung Sakti Laksana Angin, sedangkan yang satunya lagi justru tujuh puluh dua macam cara teraneh menotok jalan darah.
Terutama ketujuh puluh dua cara menotok jalan darah itu: jari tangan, tendangan kaki, tepukan, bahkan serudukan kepala, semua dapat digunakan untuk menotok jalan darah seseorang.
Bahkan yang diincarnya justru jalan darah yang penting. Ilmu ini merupakan warisan dari leluhur mereka. Bahkan anak perempuan tidak diwarisi ilmu ini. Selamanya mereka hidup mengasingkan diri di Si Cuan, jarang bergerak di dunia *kang ouw*. Maka, orang yang pernah mendengar nama keluarga mereka memang banyak, tetapi sampai di mana sebenarnya kehebatan keluarga ini, jarang orang yang melihatnya sendiri.
Di dunia *bu lim*, orang hanya tahu bahwa orang yang usianya paling tua dan kedudukannya paling tinggi dalam keluarga Sang adalah Kakek berambut putih Sai Hao. Menurut selentingan, usia kakek ini sudah di atas delapan puluh. Ilmunya tinggi sekali sehingga sulit dijelaskan dengan kata-kata. Anak cucu keluarga Sang sendiri sulit menemuinya. Sedangkan orang bernama Sang Cu Ce yang melangkah ke dalam kabin, entah mempunyai kedudukan apa dalam keluarga Sang, tetapi kalau dilihat dari langkah kakinya yang mantap dan sinar matanya yang tajam, tampaknya orang ini juga bukan tokoh sembarangan.
Setelah masuk, Sang Cu Ce bertanya kepada Kuan Hong Siau, "Entah ada urusan apa Kuan loya memanggilku?" Sikap Kuan Hong Siau terhadap orang ini juga cukup sungkan.
"Sahabat Sang, pasangan suami istri Pat Kua Kim Gin Kiam tertotok jalan darahnya secara tiba-tiba. Lo hu tidak sanggup memberikan pertolongan, harap sahabat Sang bersedia membebaskan jalan darah mereka."
Sang Cu Ce berseru terkejut. Hatinya merasa bingung. Karena ia juga mengikuti rombongan itu datang ke kapal, sejak tadi berjaga di luar agar Tao Heng Kan tidak dapat melarikan diri. Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam kabin perahu itu. Mendengar jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan bisa tertotok di hadapan beberapa jago kenamaan, hatinya tersentak kaget. Kemudian ia berjongkok dan memperhatikan keadaan Lie Yuan. Tiba-tiba ia bangkit dan mundur dengan wajah menyiratkan perasaan terkejut. Rona wajahnya berubah hebat, apalagi setelah melihat keadaan Lim Cing Ing yang wajahnya semakin pucat seperti selembar kertas. Berturut-turut kakinya melangkah mundur, ia hanya menggoyang-goyangkan tangannya tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Di antara orang-orang yang berkumpul, hanya Kuan Hong Siau yang mengetahui bahwa Sang Cu Ce mempunyai kedudukan yang tinggi dalam keluarga Sang. Kalau dihitung dari Kakek berambut putih Sang Hao, keluarga Sang sudah berlangsung empat generasi, tetapi Sang Cu Ce ini justru keponakan dari Sang Hao sendiri. Dengan demikian, ia juga merupakan angkatan tua dalam keluarga Sang, karena terhitung angkatan kedua. Saat ini, melihat keadaan Sang Cu Ce yang ketakutan, hatinya jadi tersentak kaget.
"Sahabat Sang, bagaimana?" tanya Kuan Hong Siau.
Sang Cu Ce terus mengundurkan diri sampai depan kabin perahu.
"Siaute tidak sanggup, harap Kuan loya maafkan!" Tiba-tiba ia menghentakkan kakinya dan melesat keluar dari kabin itu. Usia Lie Cun Ju masih belia, ia belum mengerti mara bahaya. Sepasang pedang emas dan perak segera dilintangkan ke depan untuk menghadang kepergian Sang Cu Ce.
Lie Cun Ju berdiri di depan Sang Cu Ce sambil bertanya, "Sahabat Sang, siapa yang membokong kedua orang tuaku? Harap jelaskan!"
Sang Cu Ce tidak menyahut sepatah kata pun. Deru angin menyambar, ia menghantamkan sebuah pukulan. Meskipun kekuatan Lie Cun Ju belum seberapa tinggi, tapi otaknya cerdas. Apalagi ia sudah mewarisi ilmu pedang Pat Kua Kiam dari orang tuanya. Ia sudah menyadari kekuatan yang terpancar dari pukulan lawannya. Pedang di tangan kirinya segera diturunkan, pedang di tangan kanan digetarkan, kemudian secara tiba-tiba dijulurkan ke arah telapak tangan Sang Cu Ce.
Pada dasarnya Sang Cu Ce tidak mempunyai minat berkelahi. Sekonyong-konyong ia memutar tangannya. Ia menghindar dari serangan pedang Lie Cun Ju. Tubuhnya bergerak dan melesat lewat samping pemuda itu, sekaligus sikunya menyenggol salah satu jalan darah di bawah ketiak Lie Cun Ju.
Lie Cun Ju terkesiap. Ia bermaksud menarik pedang di tangannya untuk menahan serangan Sang Cu Ce, tapi sudah terlambat. Bawah ketiaknya terasa kesemutan. Dorongan Sang Cu Ce membuatnya terhuyung mundur sampai kira-kira delapan langkah. Pemuda itu berdiri tegak dan mendongakkan wajahnya. Ia melihat bayangan tubuh Sang Cu Ce sudah berkelebat dan meloncat ke atas dermaga. Dalam sekejap mata, orang Sang Cu Ce sudah melesat hilang dalam kegelapan malam.
Perasaan Kuan Hong Siau semakin tertekan. Kakek itu yakin Sang Cu Ce sudah berhasil melihat jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan tertotok oleh seorang tokoh luar biasa. Sedangkan jalan darah yang tertotok itu rahasia sekali. Tetapi Kuan Hong Siau tidak dapat menduga siapa tokoh yang dimaksud sehingga Sang Cu Ce begitu ketakutan, lalu hanya melihat totokannya saja. Bahkan Sang Cu Ce yang terkenal dengan tujuh puluh dua cara menotok jalan darah itu sampai melarikan diri.
Sementara itu, hati Tao Cu Hun, Sen Cing, dan Tao Ling diselimuti kegelisahan yang dalam. Tiba-tiba mereka teringat bayangan tinggi kurus yang dilihatnya lewat kertas jendela. Tapi mereka juga tidak tahu asal-usul orang itu.
Kuan Hong Siau tertegun sejenak.
"Cun Ju, orang tuamu hanya tertotok jalan darahnya. Lebih baik suruh dulu beberapa orang untuk mengangkat mereka ke perahu kalian, kemudian berusaha menemukan seseorang yang memiliki kepandaian tinggi. Melihat dari pergaulan orang tuamu di dunia *kang ouw*, pasti ada tokoh yang datang memberikan pertolongan apabila mendengar berita ini. Sekarang musuh besarmu ada di depan mata. Kau tidak perlu lagi menyebarkan lencana pat kua tadi. Balaslah dendam kematian kakekmu sekarang juga!" kata Kuan Hong Siau menasehati.
Sejak tadi Lie Cun Ju memang menatap Tao Heng Kan dengan sorot kebencian yang dalam. Ucapan Kuan Hong Siau seperti memberi semangat kepadanya. Ia melangkah ke depan. Dengan jurus Tumbuh Silih Berganti, ia melancarkan sebuah serangan sambil membentak, "Manusia *she* Tao, serahkan nyawamu!"
Tao Heng Kan tetap tidak bergerak. Tao Ling bermaksud mendorong abangnya kuat-kuat agar terpental keluar dari kabin dan jatuh ke dalam sungai. Tetapi belum lagi ia mengambil tindakan, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang menggelegar. Kaki orang-orang yang ada di atas perahu itu limbung seketika seperti mendadak ada gempa yang melanda. Serangan Lie Cun Ju juga tidak mengenai sasaran karena tubuhnya yang terhuyung-huyung. Orang-orang masih belum mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Mereka hanya merasakan bumi berguncang dengan hebat. Mereka tidak dapat berdiri dengan kokoh. Karena guncangan itu, air sungai mulai meluap masuk. Dalam sekejap mata, perahu yang besar itu tiba-tiba terbelah jadi dua bagian.
Tempat berlabuh perahu itu memang tidak jauh dari air terjun. Ombak di daerah itu lebih besar dibandingkan tempat lainnya. Begitu perahu itu terbelah menjadi dua bagian, sebentar saja sudah digulung arus yang deras dan tenggelam perlahan-lahan.
Tao Ling merasa tubuhnya dihempas air, sekejap saja ia sudah dipermainkan ombak sehingga timbul tenggelam. Ia ingin membuka mulutnya untuk berteriak meminta pertolongan, tetapi air sungai langsung masuk dan terpaksa ia menelan beberapa teguk air itu. Napasnya seperti tertutup.
Dengan susah payah ia menenangkan dirinya, kemudian menggerakkan kaki tangannya agar ia dapat mengapung di permukaan air.