Chapter 09
Hubungan kedua remaja itu semakin akrab. Rasanya janggal jika mengingat kakak Tao Ling membunuh kakak Lie Cun Ju. Bahkan orang tua mereka pun sudah saling memalingkan muka. Namun, mereka berdua masih muda dan berjiwa polos. Meskipun pertemuan awal terasa tidak enak, perjuangan di tempat terpencil selama sehari penuh membuat hubungan mereka kembali dekat. Bahkan Lie Cun Ju menyebut "orang tua kita" di hadapan Tao Ling.
Mereka segera merampungkan rakit itu. Meskipun Tao Ling merasa panik ingin mengetahui nasib orang tuanya setelah perahu mereka terbelah dan tenggelam, dia lebih tidak puas dengan jawaban Lie Cun Ju mengenai tempat itu.
"Aku tidak percaya ada hutan rahasia yang menghadang di depan kita. Pasti ada yang aneh pada tempat itu," katanya tegas.
Mata Tao Ling mengedar ke sekeliling dengan penasaran. Ia melihat sebatang pohon yang tingginya kira-kira lima depa, menjulang bagai tangga panjang. Wajah Tao Ling berseri-seri.
"Sudah ada! Kita naik ke atas pohon itu agar kita bisa melihat ke bagian tengah hutan dan mengetahui keanehan apa yang ada di sana. Bagaimana menurutmu?"
Dalam hati, Lie Cun Ju menganggap Tao Ling gadis yang periang dan lincah. Walaupun keluarga mereka berselisih, ia mengakui kesan gadis itu sangat baik padanya. Mendengar perkataan Tao Ling, ia segera mendongak melihat pohon yang ditunjuk.
"Baik!"
Tanpa disadari, sepasang remaja itu bergandengan tangan dan berlari menuju pohon. Setelah sampai di bawah pohon, Tao Ling merasa kemesraan mereka sudah melampaui batas. Pada zaman itu, laki-laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, bahkan hanya berpegangan tangan, kecuali saudara kandung atau suami istri. Wajah Tao Ling merah padam, ia cepat-cepat melepaskan tangannya dari genggaman Lie Cun Ju.
Gadis itu menghentakkan kaki lalu melesat ke atas. Tangannya terulur meraih cabang pohon. Lie Cun Ju terkesima memandangi gerakan tubuh Tao Ling. Setelah gadis itu berhasil naik, ia tiba-tiba berseru terkejut. Lie Cun Ju tersentak sadar dari lamunan, cepat mendongak melihat ke atas. Tampak Tao Ling berdiri di atas ranting pohon yang agak lemas, tubuhnya berayun-ayun seolah setiap saat bisa terjatuh.
"Tao kouwnio, kau tidak apa-apa?" tanyanya setengah berteriak.
"Cepatlah kau naik kemari! Cepat!" sahut Tao Ling.
Lie Cun Ju tidak tahu apa yang terjadi. Ia cepat-cepat naik, menerobos gerombolan daun lebat. Ia sempat mendengar gerakan tubuh Tao Ling. Ketika mencapai ketinggian tiga depa lebih, ia mendongak lagi, namun tidak berhasil melihat gadis itu.
Rupanya pohon yang mereka panjat adalah pohon Liong Pek yang usianya mungkin sudah ratusan tahun dengan daun yang lebat. Saat pemuda itu di bawah pohon, ia bisa melihat pakaian Tao Ling berkibar sehingga tahu keberadaan gadis itu. Namun, setelah naik, pandangannya terhalang dedaunan rimbun. Mendengar seruan Tao Ling yang terkejut, ia menggerakkan tubuh untuk melesat lebih tinggi.
"Tao kouwnio, aku datang!" seru Lie Cun Ju.
Lie Cun Ju melesat lagi setengah depa. Jaraknya dengan puncak pohon tinggal sedikit lagi. Baru saja ia menarik napas dalam untuk melesat naik lagi, tiba-tiba tengkuknya terasa geli, seperti ada yang meniup bagian belakang lehernya.
"Tao kouwnio, kau memang nakal!" kata pemuda itu sambil tertawa geli.
"Apanya yang nakal? Cepat kau lihat, pemandangan ini pasti belum pernah kau saksikan seumur hidup!" Suara Tao Ling berkumandang dari atas.
Lie Cun Ju terkejut mendengar suara Tao Ling dari atas. Tadinya ia mengira gadis itu yang meniup tengkuknya sehingga terasa hangat dan geli. Oleh karena itu, ia mengatakan 'Tao kouwnio, kau memang nakal!'. Namun, dari nada suara Tao Ling saat ini, gadis itu masih satu depa di atasnya. Walaupun ilmu silatnya belum tinggi, ia tahu pasti bahwa seseorang yang berjarak satu depaan tidak mungkin mengembuskan angin ke tengkuknya, apalagi terasa hangat seolah ditiup dari dekat.
Kesadarannya tergugah. Ada orang lain di atas pohon ini selain mereka berdua, dan orang itulah yang mempermainkannya!
Berpikir sampai di sini, Lie Cun Ju terkesiap. Ia cepat menolehkan kepala bermaksud membentak, 'Siapa?', tetapi seluruh tubuhnya bergetar, hampir saja pegangannya pada ranting pohon terlepas.
Rupanya tadi ia hanya memusatkan pikiran untuk naik, mengira di belakangnya masih ada ranting pohon dengan dedaunan lebat. Kini ia menoleh dan ternyata bagian belakangnya adalah udara kosong tanpa tempat persembunyian. Lalu dari mana datangnya udara atau dengus napas yang dirasakannya tadi?
Hati Lie Cun Ju dilanda kebingungan dan merinding. Ia cepat memanjat ke atas pohon, tidak berani berlama-lama di tempat semula. Sesampainya di puncak, ia melihat wajah Tao Ling menyiratkan keterkejutan, matanya menatap ke depan seolah terkesima oleh pemandangan. Ia cepat mengalihkan perhatiannya mengikuti arah mata Tao Ling, dan langsung terpana.
Di bagian tengah hutan, ada sebidang tanah berbentuk bundar. Di bawah cahaya rembulan, permukaan tanah itu memancarkan cahaya mengapung yang terang sekali, menyilaukan mata bagai lampu besar menyorot dari atas. Bagi orang zaman sekarang, mungkin terasa seperti berada di alam dewa-dewi, karena di alam manusia tidak mungkin ada cahaya sebesar itu, apalagi berkelip-kelip seperti bertaburan bintang.
Lie Cun Ju memandang terkesima, tanpa sadar bertanya.
"Tao kouwnio, apa itu?"
Tao Ling menggelengkan kepala.
"Aku juga tidak tahu, mungkinkah sebuah danau kecil?"
"Kalau benar danau, paling tidak airnya akan bergerak sedikit-sedikit, tetapi cahaya itu pasif, tidak bergerak sedikit pun."
"Mudah, untuk mengetahui benar tidaknya, biar aku coba sebentar!"
Pedang Lie Cun Ju dipindahkan ke tangan kiri, tangan kanan menyusup ke balik pakaian dan mengeluarkan tiga batang senjata rahasia. Baru saja ia ingin melemparkan tiga batang pisau itu ke berkas cahaya, Lie Cun Ju teringat hawa hangat yang terasa di tengkuknya.
"Tao kouwnio, tunggu sebentar. Aku rasa di pulau ini tinggal seorang tokoh sakti yang mengasingkan diri. Jangan sampai membuatnya marah, agar ada keuntungannya bagi kita!" katanya mengingatkan.
"Masa nyalimu begitu kecil?" Tao Ling menoleh sambil tersenyum.
Wajah Lie Cun Ju merah padam. Anak muda mana yang sudi dikatakan pengecut di depan gadis cantik? Namun, watak Lie Cun Ju selalu waspada.
"Tao kouwnio, tadi ketika aku memanjat sampai pertengahan pohon ini, tiba-tiba aku merasa tengkukku ditiup oleh seseorang. Karena itu, aku teringat kembali dan mengingatkanmu."
"Tidak usah takut! Ada apa-apa, biar aku yang bertanggung jawab!" Kedua jari telunjuk dan tengahnya mengibas, terdengar suara "Serrr!". Beberapa batang senjata rahasia meluncur ke arah berkas cahaya. Namun, ketika senjata rahasia itu hampir mencapai sasaran, tiba-tiba seperti ada kekuatan tak berwujud mengalahkan luncurannya sehingga bergerak ke samping lalu jatuh di atas tanah. Saat itu rembulan bersinar penuh, mereka dapat melihat jelas senjata rahasia itu mengilaukan sinar dan jatuh ke tanah. Tao Ling tertegun beberapa saat.
"Aneh! Senjata rahasiaku tadi, paling tidak dapat meluncur sejauh dua-tiga depa dan menancap ke dalam pohon sedalam setengah cun. Mengapa tiba-tiba kekuatannya melemah malah terjatuh ke samping!"
Melihat kenyataan itu, Lie Cun Ju semakin yakin dengan dugaannya.
"Tao kouwnio, yang paling penting bagi kita adalah meninggalkan tempat ini. Tidak perlu perdulikan masalah lainnya!"
"Tidak bisa! Eh, bagaimana dengan ilmu gin kangmu?" Wajah Lie Cun Ju menyiratkan rona merah.
"Tenaga dalamku belum seberapa tinggi, sehingga ilmu gin kang juga biasa-biasa saja!"
"Coba kau lihat, bundaran cahaya itu, paling-paling berjarak sepuluh depaan dari tempat ini. Kita turun sedikit ke bawah lalu menggunakan bantuan ranting pohon mengayun ke tempat itu. Coba kau lihat apakah kita bisa mencapai bundaran cahaya tersebut?" ujar Tao Ling sambil menunjuk ke bawah.
"Rasanya aku tidak sanggup!" Lie Cun Ju menggelengkan kepala.
"Kalau begitu kau tunggu di sini, biar aku yang meloncat turun dan melihat apa sebenarnya bundaran cahaya itu. Nanti aku kembali lagi!"
Lie Cun Ju terkejut mendengar Tao Ling ingin meloncat ke bundaran cahaya itu. Saat ini ia sudah mulai menaruh perhatian yang cukup besar pada Tao Ling. Bukan karena ia tidak yakin dengan ilmu gin kang gadis itu, melainkan ia khawatir di balik bundaran cahaya itu ada sesuatu yang membahayakan. Hatinya ingin mencegah, tetapi ketika ia melirik Tao Ling sekaligus melihat kepastian di wajah gadis itu, percuma melarangnya.
"Tao kouwnio, kalau kau hendak meloncat ke bundaran cahaya itu, biarlah aku menemanimu!" ucap Lie Cun Ju.
Hati Tao Ling tergerak, ia segera menolehkan wajahnya. Sepasang matanya menyiratkan sinar yang aneh. Tao Ling menatap Lie Cun Ju sambil mengerling beberapa kali.
"Tadi kau sendiri menyatakan bahwa ilmu gin kangmu belum sanggup meloncat ke bawah, mengapa sekarang tiba-tiba kau bersedia menemani aku?" tanya Tao Ling heran.
Lie Cun Ju masih muda belia dan tidak punya pengalaman menghadapi anak gadis. Sesaat ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Sekali lagi Tao Ling melirik kepadanya sambil tersenyum manis.
"Tentu kau khawatir aku turun sendiri ke sana, maka kau bertekad menemaniku, bukan?" tanya Tao Ling kembali.
Dengan susah payah Lie Cun Ju menganggukkan kepala. Tao Ling menarik napas panjang.
"Lie... toako, ada sesuatu yang sejak tadi ingin kubicarakan denganmu."
"Silakan kouwnio katakan saja!" sahut Lie Cun Ju cepat.
"Keluarga kita bertemu secara tidak terduga-duga di tengah perjalanan. Dengan demikian kita jadi saling mengenal. Siapa yang menyangka dalam waktu beberapa hari bisa terjadi perubahan seperti ini. Lie toako, apakah kau membenci kakakku?"
"Iya!" sahut Lie Cun Ju tegas.