Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat - Chapter 10

Memuat...
Peninggalan Pusaka Keramat

Chapter 10

Wajah Tao Ling menyiratkan penderitaan yang dalam. "Lalu, apakah hatimu juga membenciku?"

"Tao Kouwnio, mengapa aku harus membencimu?"

"Lie Toako, bolehkah kau juga jangan membenci koko?" Tao Ling adalah seorang gadis yang dari luar terlihat lembut, namun hatinya keras sekali. Ia mengucapkan kata-kata tadi setelah merenungkannya baik-baik.

Di benak Lie Cun Ju terlihat bayangan kokonya ketika mati terbunuh di bawah pedang Hek Pek Kiam Tao Ileng Kan. Ia menggeretakkan giginya erat-erat.

"Tidak bisa!" teriaknya lantang.

"Lie Toako, kalau kau begitu membenci koko, mengapa kau tidak memperdulikan bahaya dan bersedia menemani aku turun ke sana?" tanya Tao Ling.

"Tao Kouwnio, kita tidak perlu memikirkan orang lain. Kita pikirkan saja diri kita sendiri, bukankah begitu lebih baik?"

Tao Ling tertawa getir, mungkin memang beginilah cara yang terbaik. Ia menyelipkan pedang perak yang dipinjamkan Lie Cun Ju di pinggangnya. Kemudian ia melorot turun kurang lebih satu setengah depa, dengan jurus Elang Mendarat di Atas Pasir ia menggelantung pada sebatang ranting pohon, lalu mengayunkan tubuhnya ke depan.

Begitu melihat Tao Ling sudah melayang turun dengan bantuan ranting pohon, Lie Cun Ju segera menyedot hawa murni dari dalam perutnya, kemudian mengikuti gerak gadis itu. Mereka meluncur ke bawah. Telinga mereka mendengar suara deruan angin. Tubuh mereka meluncur semakin cepat. Bundaran cahaya itu semakin lama semakin dekat jaraknya. Tiba-tiba sekelompok kekuatan yang besar muncul dari permukaan cahaya dan menahan gerakan tubuh mereka.

Kedua tubuh remaja itu ditahan oleh segulung kekuatan yang terpancar dari bundaran cahaya. Mereka terkejut setengah mati. Belum sempat mereka memikirkan cara untuk mengatasi kejadian itu, tiba-tiba tubuh mereka pontang-panting dan dipentalkan oleh sekelompok angin kencang, lalu terhempas ke tanah.

Ketika pandangan mata mereka normal kembali, tiba-tiba mereka merasa berada di dalam kegelapan. Bundaran cahaya yang besar itu hilang begitu saja. Anehnya, tubuh mereka tidak terluka sedikit pun meski terhempas dari tempat yang cukup tinggi.

Tao Ling dan Lie Cun Ju langsung melonjak bangun. Si gadis memandang si pemuda, si pemuda pun demikian pula. Akan tetapi, sepatah kata pun tidak terucapkan. Tao Ling memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia tersentak ketika menyadari dirinya dengan Lie Cun Ju berada di sebuah tanah kosong yang dikelilingi berbagai batu dengan bentuk-bentuk aneh.

Batu-batu aneh itu tingginya mencapai satu depa lebih. Ujungnya runcing-runcing. Untung saja ketika mereka jatuh, tidak menyentuh ujung batu-batu aneh itu.

"Lie Toako, apakah kau merasa takut?" tanya Tao Ling sambil tertegun.

"Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang harus ditakutkan? Aku hanya merasa keadaan ini semakin lama semakin aneh!" jawab Lie Cun Ju sambil menggelengkan kepala.

"Justru karena keadaannya semakin aneh, kita harus menerobos ke dalam untuk melihat kebenarannya. Tadi kau tidak mempunyai gagasan. Akan tetapi, ketika kita ditahan oleh bundaran cahaya tadi, aku masih sempat menenangkan pikiran. Dan ketika berusaha bangkit, aku merasa bahwa bundaran cahaya itu seperti selembar jala yang entah terbuat dari bahan apa."

Pat Kua Kim Gin Kiam adalah sepasang suami istri yang senang menjelajah ke mana-mana. Karena itu, banyak orang mengenal mereka. Sedangkan sejak kecil Li Po maupun Lie Cun Ju sudah sering diajak berkeliling dunia. Banyak keanehan yang sudah pernah disaksikan oleh pemuda itu. Karenanya, ia tidak begitu yakin ketika Tao Ling mengatakan bundaran cahaya itu merupakan selembar jala yang besar.

"Tao Kouwnio, mungkin kau salah lihat!" ucap Li Cun Ju. "Mana mungkin aku salah lihat? Kalau kau tidak percaya, ayo kita cari!"

"Tao Kouwnio, kekuatan yang tadi menahan kita pasti dipancarkan oleh seorang tokoh berilmu tinggi. Kalau orang itu merasa tidak senang kita mendekatinya, untuk apa kita mencari-cari?"

"Aku justru merasa kesal. Seandainya orang itu mengeluarkan suara dan melarang kita masuk ke dalam, aku juga tidak akan memaksakan kehendak. Tetapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, malah sengaja mempermainkan kita. Pokoknya, aku ingin menyelidiki tempat ini!"

Lie Cun Ju tidak berhasil membujuk Tao Ling. Akhirnya mereka menentukan arah yang akan ditempuh. Menurut ingatan mereka, tempat mereka dihempaskan tidak seberapa jauh dengan cahaya yang terlihat tadi. Seharusnya sekarang mereka sudah berada di tempat itu. Akan tetapi, keadaan gelap gulita. Sambil berpikir, mereka mengitari tempat itu. Di sekitar mereka hanya tampak bebatuan yang aneh, persis seperti monster-monster dalam legenda purbakala.

Di bawah cahaya rembulan, bebatuan aneh itu tampak seperti dalam keadaan hidup. Ujungnya yang runcing laksana cakar besar yang siap menerkam musuhnya setiap waktu. Hampir setengah jam lamanya mereka mengitari tempat itu, akan tetapi tetap saja tidak berhasil meninggalkan tanah yang dikelilingi dengan bebatuan aneh. Tiba-tiba Lie Cun Ju seperti teringat sesuatu, ia menarik tangan Tao Ling. "Tao Kouwnio, kita jangan mengitari lagi, makin berkali-kali mengitari makin gawat!"

"Ada apa sebenarnya?" Tao Ling terkejut setengah mati. "Tidak perlu dikatakan lagi! Bebatuan ini rupanya merupakan sebuah barisan yang aneh dan rumit. Tadi kita tidak berhasil masuk ke tempat ini. Sekarang kita malah tidak bisa keluar lagi. Tampaknya semua ini karena barisan aneh yang kukatakan itu."

Hati Tao Ling semakin berdebar-debar.

"Seandainya kita tetap terkurung di sini, apa yang harus kita lakukan?" tanya Tao Ling dengan panik.

Lie Cun Ju tidak langsung memberikan jawaban. Ia pernah mempelajari Pat Kua Kiam Hoat yang mengandung unsur barisan Pat Kua. Setidaknya ia juga pernah diberi pengertian mengenai barisan-barisan lainnya. Akan tetapi, meskipun telah memperhatikan sekian lama, belum juga mengetahui bebatuan itu diatur dengan barisan apa.

"Tao Kouwnio, bila kau bersedia menuruti perkataanku, aku yakin kita bisa keluar dari barisan ini," ujar Lie Cun Ju.

"Coba katakan!"

"Kita menundukkan kepala dan mengakui kesalahan kita, kemudian memohon pemilik tempat ini memberikan petunjuk untuk keluar dari sini," kata Lie Cun Ju.

Tao Ling terdiam mendengar perkataan Lie Cun Ju. Adatnya keras. Menyuruh ia meminta maaf tanpa alasan tertentu lebih sulit daripada menceburkan diri ke lautan api. Lie Cun Ju melihat gadis itu diam saja. Ia langsung mengerti pikiran gadis itu.

"Tao Kouwnio, masih ada cara lainnya. Kau tidak perlu bersuara, biar aku saja yang berbicara!" Dalam hati Tao Ling masih merasa keberatan, akan tetapi gadis itu sadar mereka terperangkap dalam masalah yang janggal. Seandainya tidak menuruti perkataan Lie Cun Ju, kemungkinan mereka benar-benar tidak bisa keluar dari tempat itu untuk selamanya. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya.

Lie Cun Ju menyedot hawa murni dari dalam perutnya dan berteriak dengan suara lantang. "Boanpwe berdua tertimpa musibah karena perahu kami hancur di sungai lalu terhanyut sampai ke tempat ini. Karena perasaan ingin tahu, boanpwe berdua telah mengganggu ketenangan locianpwe. Harap locianpwe tunjukkan jalan keluar, kami akan meninggalkan tempat ini selekasnya!"

Setelah berteriak dua kali, tetap tidak terdengar sahutan sedikit pun. Tao Ling mulai tidak sabar.

"Tao Kouwnio, coba lihat, apa itu?" seru Lie Cun Ju dengan terkejut.

Tao Ling mengikuti arah telunjuk Lie Cun Ju. Ia melihat ada tiga puluhan titik sinar. Titik itu seperti kunang-kunang yang timbul tenggelam di antara bebatuan aneh di seberang sana. Benda-benda itu lambat sekali gerakannya, tetapi menimbulkan suara dengungan.

Tadinya Tao Ling dan Lie Cun Ju mengira yang terlihat itu sejenis serangga yang langka dan hanya terdapat di sekitar daerah itu. Tetapi ketika sinar itu semakin mendekat, mereka dapat melihat dengan jelas. Tanpa ditahan lagi, perasaan mereka terkejut setengah mati.

Ternyata benda-benda yang melayang-layang itu bukan jenis serangga, tetapi puluhan butir mutiara yang berkilauan dan melayang-layang di permukaan tanah.

Ibu Tao Ling, Sam Jiu Kuan Im Sen Cing, adalah seorang pendekar wanita yang ahli dalam senjata rahasia. Tao Ling sendiri juga sudah mewarisi ilmu itu meskipun belum semahir ibunya. Akan tetapi, ia terbengong-bengong melihat mutiara berkilauan yang mengapung-apung di udara itu. Sepatah kata pun tidak sanggup diucapkan oleh bibirnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment