Chapter 15
Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu kamar didobrak dengan keras oleh seseorang. Tao Ling terkejut setengah mati. Ia segera melonjak bangun dan menghalang di depan Lie Cun Ju.
Ketika Tao Ling mempertajam pandangannya, ternyata yang baru masuk dengan kasar itu adalah Liu Hou. Tangan laki-laki itu menggenggam sebilah golok lebar. Wajahnya menyiratkan kegusaran. Di belakangnya mengikuti seorang laki-laki bertubuh pendek kurus. Tampangnya biasa-biasa saja, tetapi sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Usianya kurang lebih lima puluh tahun.
Tao Ling terkesima.
"Liu Piau-tau, kenapa kau...?" tanya Tao Ling terperangah.
"Huh! Terus terang saja, Tao Kounio. Tadi aku tidak tahu persoalan yang sebenarnya. Boleh dibilang di dalam perusahaan pengawalan ini, aku terhitung setengah pemiliknya juga. Bagaimanapun, aku tidak sudi menerima orang seperti kalian tinggal di sini!" ucap Liu Hou memaki-maki Tao Ling.
"Memangnya orang seperti apa kami ini? Coba kau katakan saja terus terang!"
"Urusan ini sudah diketahui seluruh orang Bulim. Dia bertanding ilmu di gedung Kuan Loya, namun tidak menggubris peraturan dunia Kang-ouw. Tao Heng Kan membunuh Li Po, putra pasangan Pat Kua Kim Gin Kiam, Lie Yuan dan istrinya, dengan keji. Setelah itu dia melarikan diri sehingga jejaknya tidak ditemukan. Tidak disangka, dia malah bersembunyi di sini. Pokoknya sekarang juga kami akan menyeretnya ke rumah Kuan Loya agar dapat diadili," ujar Liu Hou sambil menudingkan goloknya kepada Lie Cun Ju.
Saat itu Tao Ling baru sadar bahwa Liu Hou dan Tan Liang salah menduga; Lie Cun Ju dikira kakaknya, Tao Heng Kan. Hatinya merasa dongkol sekaligus geli. Pasti Liu Hou baru kembali dari perjalanan jauh sehingga tidak mengetahui persoalan ini. Sedangkan Tan Liang tidak ke mana-mana. Jarak antara kota ini dengan tempat tinggal Kuan Hong Siau tidak seberapa jauh. Dia pasti sudah mendengar berita pembunuhan Li Po oleh Tao Heng Kan. Karena itu, begitu bertemu dengan Liu Hou dan mendengar mereka ada di rumahnya, dia langsung menganggap Lie Cun Ju sebagai kakak Tao Ling yang sedang buron.
"Kalian berdua salah duga. Tahukah kalian siapa dia?" tanyanya sambil menunjuk kepada Lie Cun Ju.
Si Harimau Bersayap Emas, Tan Liang, maju satu langkah. "Memangnya dia bukan kakakmu, Tao Heng Kan?" tanya Tan Liang.
"Bukan. Dia putra kedua pasangan suami istri Pat Kua Kim Gin Kiam, Lie Yuan dan Lim Cing Ing. Namanya Lie Cun Ju."
Lie Cun Ju yang berbaring di atas tempat tidur melirik sekilas kepada Tao Ling dan memberi isyarat kepadanya. Gadis itu langsung mengerti. Dia mengulurkan tangannya dan terdengarlah suara dentingan dua kali. Dia mengeluarkan pedang emas dan perak dari selipan ikat pinggangnya.
"Lie Toako terluka parah. Pedang Kim Gin Kiam ini untuk sementara aku yang menjaganya! Inilah bukti yang Anda minta!"
Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia Bulim, juga sulit dibuat tiruannya. Namun, hati Liu Hou dan Tan Liang tidak habis mengerti, mengapa dua keluarga yang saling bermusuhan sedalam itu, putra-putri masing-masing malah bisa menjalin persahabatan dan tampaknya sudah akrab sekali?
Karena Tan Liang adalah penduduk setempat, Tao Ling yakin dia sudah mendengar peristiwa tentang hancurnya perahu mereka dan terhanyutnya dirinya serta Lie Cun Ju.
"Setelah perahu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian, kami terhanyut sampai jauh. Entah bagaimana keadaan Kuan Tayhiap, orang tuaku, pasangan suami istri Lie Yuan, dan kakakku sekarang?"
"Jejak Tao Heng Kan tidak jelas. Keadaan orang tuamu dan Kuan Tayhiap baik-baik saja, hanya pasangan Lie Tayhiap ditotok jalan darahnya dengan cara yang aneh. Sampai sekarang masih belum sanggup dibebaskan. Keluarga Sang, yakni Sang Cu Ce, malah melarikan diri dengan ketakutan ketika diminta bantuannya," sahut Tan Liang.
"Apakah sudah diketahui siapa orangnya yang menotok jalan darah pasangan Lie Tayhiap?" tanya Tao Ling.
Wajah si Harimau Bersayap Emas Tan Liang menjadi kelam. "Sampai saat ini masih belum diketahui!"
Lie Cun Ju masih sadar. Dia mendengar jalan darah kedua orang tuanya masih belum terbebaskan sampai saat ini, hatinya menjadi gundah. "Tao Kounio, bagaimanapun lukaku ini harus dirawat. Lebih baik kita pergi saja ke gedung Kuan Loya."
Tao Ling mengerti maksud hatinya yang ingin cepat-cepat bertemu dengan ayah bundanya. Memangnya dia sendiri tidak rindu kepada kedua orang tuanya? Walaupun jarak antara tempat ini dengan kediaman Kuan Loya hanya seratus li lebih, tetapi apabila di dalam perjalanan kepergok ketiga iblis yang kemarin, jiwa mereka pasti tidak dapat dipertahankan lagi. Karena itu, dia menasihati Lie Cun Ju.
"Lie Toako, bahkan Kuan Tayhiap saja tidak sanggup membebaskan jalan darah orang tuamu, apa gunanya kau ke sana? Aku rasa Kuan Tayhiap dan kedua orang tuaku pasti akan mencari akal untuk membebaskan jalan darah mereka."
"Betul," tukas Tan Liang. "Kuan Tayhiap sendiri sudah bersiap-siap mengantarkan kedua orang tuamu ke Szechuan untuk meminta pertolongan si Kakek Berambut Putih. Sang Hao telah merundingkan masalah ini."
Lie Cun Ju baru agak lega mendengar keterangan orang itu. Dia juga memaklumi bahwa larangan Tao Ling adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Oleh karena itu, dia tidak berkata apa-apa lagi.
"Tao Kounio, apakah aku perlu menyuruh orang menyampaikan beritamu kepada kedua orang tuamu? Jarak dari sini ke tempat tinggal Kuan Tayhiap hanya memakan waktu tiga kentongan apabila menunggang kuda pilihan," tanya Tan Liang kembali.
Tao Ling sadar, apabila orang tuanya sampai datang ke mari, pasti dia tidak bisa bersama-sama Lie Cun Ju lagi. Karena itu dia menyahut cepat, "Tidak usah!"
Tan Liang dan Liu Hou masih duduk di dalam kamar dan menanyakan masalah Tao Heng Kan yang membunuh Li Po tanpa sebab. Karena urusan ini sudah tersebar ke mana-mana dan menjadi tanda tanya bagi setiap orang, tentu saja Tan Liang dan Liu Hou juga ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Tao Ling hanya dapat menceritakan kejadian yang berlangsung saat itu, sedangkan apa sebabnya kakaknya sampai membunuh Li Po, dia sendiri tidak habis mengerti.
Baru saja selesai bercerita, tiba-tiba dua orang petugas Piau-kiok masuk ke dalam kamar dengan sikap gugup. "Tan Cong Piau-tau... di luar ada orang yang ingin bertemu dengan Anda!"
"Ada orang ingin bertemu saja, mengapa kau sampai segugup ini?" bentaknya kesal.
"Begitu masuk ke dalam halaman, orang itu sudah menghancurkan patung singa di depan dengan sekali hantam!" kata yang satunya.
Wajah Tan Liang langsung berubah mendengar keterangan anak buahnya. Dia segera berdiri. "Bagaimana rupa orang yang datang itu?"
"Yang satu bertubuh tinggi kurus, satunya lagi gemuk pendek, sedangkan yang terakhir tampaknya seorang perempuan. Wajah mereka tidak terlihat karena mengenakan topeng berwarna merah darah."
Tan Liang dan Liu Hou tampak merenung, memikirkan siapa kira-kira orang yang berpenampilan demikian di dunia Kang-ouw. Tetapi wajah Tao Ling langsung pucat pasi. Tidak disangka-sangka, setelah bersusah payah melarikan diri dan bersembunyi di gedung itu, ternyata ketiga iblis itu masih mengejar mereka. Dalam keadaan panik, dia sampai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.
Mengingat suara tawa si gemuk pendek yang aneh dan menyeramkan, seluruh bulu kuduk Tao Ling merinding. Baginya sendiri mungkin tidak apa-apa, tetapi Lie Cun Ju sedang terluka parah. Mana mungkin ia sanggup mendengar berita mengejutkan itu. Begitu perasaannya galau, ia kembali memuntahkan darah segar. Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang aneh itu, dan ketiga iblis tersebut sudah berdiri di depan pintu kamar.
Melihat ketiga orang itu langsung menerobos masuk, mula-mula Tan Liang agak tertegun, kemudian wajahnya menyiratkan perasaan kurang senang.
"Siapa kalian?" bentaknya sinis.