Chapter 17
Begitu matanya terbuka, Tao Ling merasa ada seberkas cahaya putih yang menutupi pandangannya. Mula-mula dia sangat terkejut, bahkan untuk sesaat dia sampai tertegun. Namun setelah terbiasa, dia baru dapat melihat dengan jelas. Rupanya cahaya putih yang terlihat olehnya adalah tirai kereta. Begitu putihnya sehingga menyilaukan mata, entah terbuat dari bahan apa. Di bagian jendela dan atas pintu kereta juga terdapat rumbai-rumbai berwarna putih keperakan yang sangat indah. Meskipun Tao Ling sudah sanggup membuka mata, kepalanya masih belum bisa digerakkan. Jadi, yang dapat terlihat olehnya hanya atap kereta, sebatas kerlingan matanya.
Tiba-tiba angin berembus, membuat rumbai-rumbai dari benang putih itu tersingkap. Tao Ling dapat melihat bahwa udara saat itu sangat cerah. Dia juga melihat hamparan cakrawala putih yang membentang luas.
Dia tidak tahu di mana dirinya berada. Ingin sekali dia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi sedikit pun suara tidak dapat keluar dari tenggorokannya.
Dalam keadaan seperti itu, beberapa hari kembali terlewati. Kereta itu masih terus melaju. Sekarang Tao Ling sudah dapat membedakan arah; mereka menuju ke barat. Setiap menjelang malam, ada seseorang yang menyuapkan cairan harum ke mulutnya.
Tao Ling memperhatikan orang yang menyuapkan cairan kepadanya, tetapi kedua orang itu seakan menghindari pandangan matanya. Karena itu, Tao Ling hanya dapat melihat tangan mereka. Tangan yang satu kurus seperti tengkorak dengan urat-urat hijau yang menonjol dan warna kulit yang kusam. Namun, tangan yang satunya lagi justru halus seperti sutra, berwarna merah dadu yang segar dengan kuku panjang berbentuk indah. Kuku itu diolesi sejenis cairan bunga-bungaan hingga terlihat merah menyala. Sekali lihat saja, dapat dipastikan bahwa tangan itu milik seorang gadis cantik. Tao Ling yakin suara gadis itulah yang didengarnya beberapa hari yang lalu. Namun, dia tidak habis pikir siapa sebenarnya kedua orang itu.
Beberapa hari kemudian, kepala Tao Ling mulai bisa digerakkan. Dia menyadari bahwa kereta tempatnya berbaring adalah kereta yang mewah. Di samping bantalnya tergeletak sepasang pedang emas dan perak. Di bagian kepala duduk dua orang yang mengenakan pakaian putih keperakan. Namun, mereka membelakangi Tao Ling sehingga gadis itu tidak dapat melihat wajah mereka.
Tao Ling hanya dapat melihat sekilas sosok mereka dari samping. Yang satu adalah seorang laki-laki lanjut usia dengan rambut penuh uban berwarna keperakan. Yang satunya lagi memiliki rambut sehalus sutra yang hitam berkilauan—tentu saja gadis bertangan indah yang dilihatnya beberapa hari lalu. Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu juga berwarna putih keperakan. Derap kaki kuda itu teratur dan larinya sangat cepat. Selama dua puluh hari ini, kemungkinan mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tiga ribu li.
Tao Ling ingin menggunakan kesempatan saat disuapi cairan harum untuk melihat jelas wajah kedua orang itu, tetapi malam itu mereka tidak menyuapinya apa-apa. Pada pagi harinya, Tao Ling merasa perutnya nyeri karena kelaparan. Tanpa sadar, dia mengeluarkan suara rintihan.
Boleh dibilang ini merupakan pertama kalinya Tao Ling mengeluarkan suara selama dua puluh hari belakangan. Begitu rintihan itu terdengar, gadis itu membentak nyaring. Kemudian, *sret!* Seberkas cahaya keperakan memercik berkilauan. Ternyata itu adalah sebuah pecut panjang yang juga berwarna keperakan. Keempat ekor kuda itu langsung menghentikan langkah mereka. Gadis itu pun menolehkan kepalanya dan bertemu muka dengan Tao Ling.
Tao Ling merasa pandangannya menjadi terang, seakan dirinya berada di kahyangan. Perasaannya menjadi nyaman dan lega. Ternyata kecantikan gadis itu sulit dilukiskan dengan kata-kata. Begitu cantiknya sampai Tao Ling merasa sedang bertemu dengan bidadari. Rambutnya terurai sepanjang bahu tanpa perhiasan apa pun. Alisnya melengkung indah dengan bulu mata lentik. Bola matanya berkilauan seperti telaga yang bening. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis memesona. Tao Ling curiga bahwa dia bukan manusia biasa, melainkan peri atau dewi kahyangan. Padahal Tao Ling sendiri bukanlah gadis yang buruk rupa, tetapi jika dibandingkan dengan gadis itu, dia merasa tidak ada apa-apanya.
"Akhirnya kau bisa berbicara juga, bukan?" ujar gadis itu sambil tersenyum.
Selama dua puluh hari lebih mendengarkan suara itu, Tao Ling sangat ingin berbicara dengannya. Oleh karena itu, dia berusaha keras untuk menyahut.
"I... ya..."
Suara itu begitu lirih hingga Tao Ling sendiri hampir tidak mendengarnya. Tetapi gadis berpakaian putih itu ternyata dapat menangkapnya.
"Bagaimana menurutmu? Akhirnya aku bisa menolongnya juga, bukan?" Gadis itu tertawa cekikikan seakan sangat senang. Dia memalingkan kepalanya kembali. "Kalau kau sudah bisa berbicara, dapatkah kau menjawab pertanyaanku?"
Tao Ling menganggukkan kepalanya. Keadaan Tao Ling sekarang jauh lebih baik dibandingkan dua puluh hari lalu ketika sebelah kakinya sudah menginjak alam kematian. Namun, untuk membuka mulut saja dia harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Meski suara gadis itu lembut dan merdu, di dalamnya seakan terkandung kekuatan yang memaksa siapa pun untuk patuh.
Walaupun Tao Ling juga seorang gadis, dia merasakan pengaruh nada suara yang tidak boleh dibantah tersebut. Karena itu, sekali lagi dia berkata dengan susah payah, "Katakanlah!"
Tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat. Tao Ling belum sempat melihat gerakan apa yang digunakan, tahu-tahu gadis itu sudah berada di sampingnya. Dia bertanya dengan suara berbisik, "Apakah kau mengenal Seebun Locianpwe?"
Tao Ling tertegun, lalu berpikir. Siapa Seebun Locianpwe yang dimaksud? Dia sendiri belum pernah mendengar nama itu, maka dia pun menggelengkan kepalanya.
Wajah gadis itu memperlihatkan mimik yang aneh, tetapi dalam sekejap kembali pulih seperti semula. "Tahukah kau, siapa orang yang melukaimu?"
Tao Ling kembali menggelengkan kepala. Dia memang tidak tahu siapa ketiga orang yang menggunakan topeng merah tersebut.
Tiba-tiba wajah gadis itu menyiratkan kepanikan. Dalam sesaat, hampir saja Tao Ling tidak percaya dengan penglihatannya sendiri karena di wajah gadis yang secantik bidadari itu tiba-tiba muncul senyuman yang dingin. Walaupun hanya sekejap, Tao Ling yang sudah merasakan berbagai penderitaan belakangan ini menjadi waspada. Apalagi dia ingat gadis itu pernah berucap, "Aku juga tidak ingin mereka tertolong, pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata saja sudah cukup," saat dia baru tersadar setelah terkena pukulan laki-laki gemuk pendek itu.
Jika demikian, selama dua puluh hari ini mereka berusaha keras membangkitkannya dari jurang kematian hanya demi mendengar beberapa patah kata, bukan benar-benar ingin menolongnya. Tao Ling bingung, apa yang ingin diselidiki gadis itu darinya?
"Apakah kau juga tidak ingat rupa orang itu?" tanya gadis itu lagi.
"Kouniang, di... mana Lie... Toako?" Tao Ling balik bertanya.
"Maksudmu, orang yang terluka bersama-samamu itu?" Tao Ling mengangguk.
"Lukanya terlalu parah. Meskipun kami berniat menolongnya, itu tidak mungkin berhasil. Belasan hari yang lalu, kami sudah membuangnya di tepi jalan."
Hati Tao Ling terasa pilu. Di benaknya terbayang sinar mata Lie Cun Ju. Jika mereka membuangnya di tepi jalan dalam kondisi parah, kemungkinan besar dia sudah meninggal. Mengingat hal menyedihkan itu, air mata Tao Ling menetes. Dia menarik napas panjang.
"Cepat katakan, siapa yang melukaimu dan orang she Lie itu? Juga siapa yang membunuh Harimau Bersayap Emas Tan Liang, wakilnya Liu Hou, dan belasan pegawai Ling Wei Piauki?" tanya gadis itu kembali.
Tao Ling terkejut mendengar kata-katanya. Ternyata karena dirinya menumpang di gedung itu, belasan orang harus kehilangan nyawa. Cara bertindak ketiga orang itu benar-benar keji dan berdarah dingin.
"Jumlah musuh ada tiga orang. Dua laki-laki dan satu perempuan. Semuanya mengenakan topeng berwarna merah darah!" jawab Tao Ling.
"Rupanya mereka!" Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Bagus. Semuanya sudah jelas. Kita sudah boleh melanjutkan perjalanan," sahut orang tua itu tanpa menolehkan kepala sama sekali.
"Betul," jawab si gadis. Cahaya perak berkelebat dan gadis itu sudah kembali ke tempat semula.
Tao Ling tidak mengerti apa yang akan terjadi. Tiba-tiba pecut keperakan di tangan gadis itu melayang ke atas. *Crep!* Arahnya menuju Tao Ling.
Tao Ling terkejut, tetapi tubuhnya tidak dapat digerakkan. Dia hanya bisa pasrah. Ketika pecut itu mengenainya, dia tidak merasa sakit, melainkan merasa lilitan yang kuat pada tubuhnya. Gadis itu kemudian menghentakkan tangan sehingga tubuh Tao Ling terangkat. Dengan satu kibasan, tubuh Tao Ling terlempar sejauh dua depa dari kereta dan terhempas ke tanah. Darah segar menyembur dalam jumlah banyak dari mulutnya.
Secara sekonyong-konyong gadis itu melempar tubuh Tao Ling keluar dari kereta. Meskipun kejadiannya sekejap mata, pikiran Tao Ling masih sadar. Dia teringat sepasang pedang emas dan perak yang tergeletak di samping bantalnya tadi. Pedang itu sangat penting baginya, dan dia tidak ingin kehilangannya.