Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat - Chapter 19

Memuat...
Peninggalan Pusaka Keramat

Chapter 19

Begitu Tao Ling memperhatikan, ternyata mulutnya masih menggigit kepala ular itu. Dengan gugup ia memuntahkannya, "Puih!" Kepala ular yang sudah terputus itu termuntahkan keluar, tetapi bagian tubuh dan ekor ular itu masih menggeletak di lehernya.

Tao Ling merasa lehernya terasa agak gatal. Tanpa sadar ia mengulurkan tangannya dan membuang tubuh ular itu jauh-jauh. Ketika ular itu sudah terlempar jauh, ia baru tersentak sadar. Hatinya sangat gembira. Dengan nada parau ia berteriak, "Aku bisa bergerak!"

Sebelum tertidur, Tao Ling telah berusaha sekuat tenaga untuk mendongakkan kepalanya karena ingin mencaplok kedua butir buah dewa tadi. Tetapi, meskipun tenaganya sudah habis, ia tetap tidak sanggup menggigit buah itu. Padahal, bagi orang lain hanya perlu membungkukkan tubuhnya untuk memetik, namun bagi Tao Ling justru sulitnya bukan kepalang. Padahal saat ini, tanpa disengaja ia membuang bangkai ular itu, ternyata ia sudah bisa bergerak seperti orang biasa. Bagaimana hatinya tidak menjadi senang? Cepat-cepat Tao Ling menumpukan kedua tangannya di atas tanah, lalu bangun dan duduk. Tanpa menguras tenaga, ia kemudian berdiri. Perasaannya seperti orang yang baru bangun tidur. Apa yang dialaminya selama dua puluh hari terakhir terasa seperti sebuah mimpi buruk yang panjang.

Di sisi lain, apa yang dialaminya selama dua puluh hari ini memang merupakan kenyataan. Tao Ling tidak ingin memikirkan hal-hal lainnya. Ia segera duduk bersila dan mencoba merasakan peredaran hawa murni dalam tubuhnya. Padahal, bagi setiap pesilat, asalkan berlatih, hawa murni di dalam tubuh otomatis akan beredar sendiri. Tetapi kali ini, meskipun Tao Ling telah mengosongkan pikiran dan memusatkan perhatian, ia tidak merasakan apa-apa. Ia seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Rasanya hawa murni di dalam tubuhnya terlalu meluap sehingga bergerak dengan kacau tanpa bisa dihimpun.

Ilmu kepandaian Tao Ling pada dasarnya belum tinggi. Ia juga tidak tahu apakah yang dirasakannya ini merupakan bencana atau keberuntungan; yang paling penting, ia sudah bisa bergerak. Cepat-cepat ia mencabut sepasang pedang emas dan perak.

Ketika ia melirik, ia melihat tanaman buah dewa itu sudah layu.

Meskipun tanaman itu sudah layu, Tao Ling bisa bergerak pasti karena khasiat buahnya. Tao Ling berpikir dalam hati, buah yang sedemikian berkhasiat, pasti daun dan akarnya juga berfaedah. Karena itu, Tao Ling segera menggunakan salah satu pedangnya untuk mengorek tanaman itu. Bahkan akarnya pun dicabutnya sekaligus. Setelah itu, ia mengepal-ngepalkannya sehingga menjadi bulatan kecil, lalu memasukkannya ke dalam saku pakaiannya.

Setelah itu, Tao Ling memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia baru menyadari dirinya berada di sebuah padang rumput yang luas. Di kejauhan, terlihat pegunungan menjulang tinggi dengan puncak-puncaknya diselimuti salju putih bersih.

Pemandangan itu indah sekali, tetapi tidak terlihat seorang manusia pun atau asap yang mengepul dari rumah penduduk.

Tao Ling merenung. Kereta itu sudah melakukan perjalanan selama lebih dari dua puluh hari. Apabila berangkatnya dari Hu Pak dan terus menuju ke arah barat, pasti jarak yang ditempuhnya sudah hampir mencapai tiga ribu li. Berarti ia sekarang berada di wilayah Si Yu (sekarang disebut Tibet). Sekarang ia sudah sehat. Yang paling penting tentu mengambil arah timur; ia ingin mencari Lie Cun Ju yang dilemparkan oleh gadis cantik itu ke tepi jalan. Karena itu, ia segera memasukkan sepasang pedang emas dan perak ke dalam selipan pinggangnya dan berjalan menuju timur.

Hampir setengah hari ia berjalan, bahkan sempat memburu beberapa ekor kelinci yang kemudian dibakarnya dengan api unggun dan dijadikan pengisi perut. Perasaannya sudah jauh lebih segar. Tenaganya juga pulih kembali. Tetapi lehernya masih terasa gatal sekali.

Selama setengah hari Tao Ling berjalan, ia tidak menemukan sebuah sungai pun. Karena itu, Tao Ling tidak dapat melihat apa yang terdapat di lehernya yang masih terasa begitu gatal. Di permukaan tanah yang penuh dengan rerumputan masih terlihat jejak roda kereta. Tao Ling berpikir, seandainya ia mengikuti jejak kereta itu, pasti ada harapan menemukan Lie Cun Ju. Walaupun kemungkinan pemuda itu sudah mati, setidaknya Tao Ling dapat menguburkannya dengan layak.

Ketika malam tiba, ia menemukan sebuah hutan kecil dan terpaksa bermalam di sana. Pagi-pagi ia sudah bangun. Baru berjalan tidak seberapa jauh, tiba-tiba ia melihat dua ekor kuda pilihan berlari ke arahnya dengan cepat. Penunggang kuda itu terus melarikan kudanya sambil menundukkan kepalanya seakan sedang mencari sesuatu.

Tao Ling adalah seorang gadis yang cerdas. Ia langsung mengerti apa yang sedang dilakukan kedua penunggang kuda itu. "Akh! Orang-orang itu pasti mengikuti jejak roda kereta. Mungkinkah mereka sedang mengejar si orang tua dan gadis cantik itu?"

Ketika Tao Ling memutar pikirannya, kedua ekor kuda itu sudah tiba di depan matanya. Tao Ling mendongakkan kepala. Kedua orang itu juga sudah melihatnya, tetapi anehnya mereka menatapnya dengan mimik wajah yang menyiratkan perasaan kaget yang tidak terkirakan.

Wajah kedua orang itu hampir mirip; kemungkinan besar, mereka memang dua bersaudara. Usianya sekitar lima puluhan. Wajah mereka bersih dan lembut. Seandainya mereka tidak menunggang kuda dan di pinggang mereka tidak terselip sebuah senjata aneh, Tao Ling pasti mengira kedua orang itu adalah pelajar atau sastrawan yang tidak mengerti ilmu silat.

Kedua orang itu menatap Tao Ling sekilas, kemudian salah satunya berseru.

"Lie Kounio, apakah kau melihat sebuah kereta berwarna keperakan yang ditarik empat ekor kuda putih lewat di tempat ini?"

Ketika mendengar kedua orang itu menyapanya 'Lie Kounio', Tao Ling agak tertegun. Tetapi setelah dipikirkan sejenak, ia langsung mengerti. Pasti karena sepasang pedang emas dan perak yang terselip di pinggangnya, kedua orang itu mengira ia keturunan Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan. Ia segera mendongakkan wajahnya dengan maksud ingin menjelaskan siapa dirinya.

Tidak disangka, begitu ia mendongakkan kepala, kedua orang itu langsung menarik tali pengendali kudanya dan mundur beberapa langkah. Wajah mereka menyiratkan perasaan takut. Setelah saling pandang dengan saudaranya sekilas, mereka langsung menarik tali kendali kudanya, bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Hei! Kalian ingin mengejar kereta itu? Tapi, tolong beritahukan dulu, tempat apa ini?" teriak Tao Ling.

Salah satu dari mereka langsung menghambur ke depan sejauh tiga-empat depa.

Sedangkan yang satu lagi malah berhenti sejenak, kemudian berkata.

"Lie Kounio, ini wilayah Tibet. Kau lihat gunung itu? Itulah Gunung Thian San. Lie Kounio, apabila kau tidak menemui Leng Coa Ki Cu Jin (Pemilik Rumah Ular Sakti) untuk mengobati penyakit keracunanmu itu, mungkin tidak sampai sore hari kau akan menemui kematian. Kami sudah lama mendengar nama besar ayahmu, sengaja memberitahukan hal ini!"

Hati Tao Ling dilanda kebingungan. Ia berpikir dalam hati, "Kalau dua hari yang lalu, aku memang hampir menemui kematian, tetapi sekarang aku toh dalam keadaan baik-baik saja, untuk apa aku memohon seseorang agar menyembuhkan penyakit keracunan apa pun itu?" "Siapa pula Pemilik Rumah Ular Sakti yang dikatakannya?"

"Toako, mari kita pergi! Jangan menimbulkan masalah lagi!" ucap penunggang kuda yang satu lagi.

"Jite, ucapanmu salah sekali. Kita toh memang harus mati, apalagi yang harus ditakutkan?" Keduanya pun kemudian menarik napas panjang.

"Entah siapa nama Hong Wi yang mulia? Mengapa aku harus memohon pertolongan Pemilik Rumah Ular Sakti, dapatkah kalian menjelaskannya?" tanya Tao Ling.

"Kami mendapat julukan Sepasang Elang..." Tao Ling tidak menunggu orang itu menyelesaikan ucapannya, ia segera menjura dalam-dalam.

"Oh! Rupanya Elang Besi Ciang Pek Hu?" Orang itu menganggukkan kepalanya.

"Dia itu adik kandungku, Ciang Ya Hu!" katanya sambil menunjuk ke arah orang yang satu lagi.

Rupanya kedua orang itu yang mendapat julukan Sepasang Elang dari Hian Tiong. Mereka berasal dari keluarga Ciang. Mereka tinggal di sebuah pulau di tengah danau dan hidup dengan mewah. Keluarga Ciang merupakan salah satu keluarga terkaya di dunia persilatan (kang ouw). Ilmu mereka juga cukup tinggi, maka nama mereka tersohor sekali. Lagipula, sejak kecil mereka senang mempelajari berbagai ilmu dari berbagai aliran. Menurut selentingan di luar, kedua orang itu bahkan pernah berguru kepada Pun Cing Sian Sing dari Bu Tong Pai di Hok Kian. Mereka menjadi murid tidak resmi dari tokoh Bu Tong Pai itu. Hal ini karena Pun Cing Sian Sing melihat watak kedua orang ini yang berjiwa pendekar. Juga merupakan tokoh yang disegani baik oleh kelompok hitam (hek to) maupun kelompok putih (pek to) di dunia persilatan (bu lim). Tao Ling merasa gembira dapat bertemu dengan kedua orang itu.

"Apakah kalian berdua ingin mengejar kereta itu? Aku justru dilemparkan dari kereta itu oleh seorang gadis cantik dan seorang lelaki tua. Tetapi itu terjadi dua-tiga hari yang lalu!"

Si Elang Besi Ciang Pek Hu memandangnya dengan terperanjat.

"Kau dilemparkan dari kereta itu? Ia tidak membunuhmu?" Kedua orang itu terperanjat.

"Mungkin karena ia menganggap aku tidak mungkin hidup lagi, tapi kenyataannya aku justru hidup kembali." Tao Ling tertawa getir. Si Elang Besi Ciang Pek Hu menarik napas panjang. Ia tidak bertanya lebih jauh.

"Lie Kounio, dengarlah nasihatku, dari sini ke arah timur, kurang lebih sepuluh li, ada sebuah sungai kecil yang airnya jernih sekali. Mudah dikenali, di sampingnya ada beberapa pondok yang dikelilingi pohon Liu. Di sanalah tempat tinggal Pemilik Rumah Ular Sakti. Racun aneh yang mengendap di tubuhmu, kemungkinan hanya ia yang bisa menawarkannya. Cepatlah ke sana memohon pertolongannya!"

"Terima kasih atas petunjukmu, tapi tadi kau mengatakan, 'Biarlah bagaimana kalian toh akan mati,' apa maksudmu?"

"Lie Kounio, biar kami katakan juga percuma..." Berkata sampai di sini, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang teringat olehnya. "Lie Kounio, ada sedikit urusan yang ingin kami minta bantuanmu, apakah kau tidak keberatan?"

Tao Ling sendiri adalah seorang gadis yang berjiwa pendekar dan berbudi luhur, seperti ayahnya. Ia segera menganggukkan kepalanya.

"Harap Ciang Cianpwe katakan saja!" jawab Tao Ling. "Apabila Pemilik Rumah Ular Sakti bersedia mengobatimu,

tolong kau sampaikan kepadanya bahwa Sepasang Elang dari Hian Tiong mengirim salam. Juga katakan kepadanya bahwa kami saat ini dikejar oleh kereta putih itu. Keadaan kami sangat gawat. Harap ia mengingat hubungan lama dan datang secepatnya memberikan pertolongan!" ujar si Elang Besi Ciang Pek Hu.

Tao Ling mendengarkan dengan penuh perhatian sampai Ciang Pek Hu menyelesaikan kata-katanya. Diam-diam hatinya menjadi bingung.

Ciang Pek Hu mengatakan bahwa mereka dikejar oleh kereta putih itu dan keadaannya gawat sekali sehingga meminta pertolongan dari Pemilik Rumah Ular Sakti. Tetapi kenyataannya, kereta itu sudah lewat tiga hari yang lalu dan jaraknya dari tempat ini mungkin ada lima ratus li. Apalagi tadi mereka mengatakan bahwa mereka ingin mengejar kereta itu!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment