Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat - Chapter 23

Memuat...
Peninggalan Pusaka Keramat

Chapter 23

Tao Ling sudah melihat kehebatan Leng Coa Sian Sing menyembuhkan Lie Cun Ju. Hatinya semakin yakin dengan keahlian orang tua itu. Kedua telapak tangannya diulurkan ke depan dan diletakkan di atas meja. Leng Coa Sian Sing segera menusuk bagian tengah gambar bunga Tho yang ada di telapak tangan gadis itu dengan jarumnya. Kemudian dengan menggunakan jari tangannya, dia menekan pinggiran bercak bunga Tho itu. Jarum emas yang digunakan Leng Coa Sian Sing cukup besar. Tao Ling yakin, asal sekitar tempat yang ditusuk tadi ditekan kuat-kuat, racun ular tadi pasti akan menyembur keluar.

Tetapi setelah menekan beberapa kali, tampak wajah Leng Coa Sian Sing menunjukkan perubahan. Warna bercak bunga Tho di telapak tangan Tao Ling masih berwarna merah segar, tidak memudar sedikit pun.

"Aneh sekali!" Dia mencabut jarum tadi, lalu ditusukkannya kembali ke bercak bunga Tho yang kedua. Di setiap telapak tangan Tao Ling memang ada bercak lima kuntum bunga Tho. Tetapi sampai semuanya ditusuk dan ditekan oleh Leng Coa Sian Sing, bercak itu tetap saja tidak mengeluarkan setitik pun racun ular.

"Locianpwe, apakah racunnya tidak dapat dikeluarkan?" tanya Tao Ling penasaran.

Leng Coa Sian Sing tidak langsung menjawab. Dia mengulurkan tangannya untuk meraba denyut nadi di pergelangan tangan Tao Ling. Kemudian dia menyimpan kembali jarum emasnya. "Racunnya tidak dapat dikeluarkan lagi!" ucapnya.

"Tapi, a...ku tidak apa-apa?" ucap Tao Ling tertegun.

"Kau tidak akan apa-apa!" sahut Leng Coa Sian Sing.

Tadinya Tao Ling mengira Leng Coa Sian Sing hanya membesar-besarkan hatinya.

"Locianpwe, katakan terus terang!"

"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya!" Berkata sampai di sini, dia menjadi bimbang sesaat. Kemudian dia baru melanjutkan kembali kata-katanya. "Lain kali apabila kau bergebrak dengan seseorang, harap jangan menggunakan kekerasan. Terlebih lagi terhadap saudara kandungmu atau saudara seperguruanmu sendiri, jangan sekali-kali mengadu pukulan!"

"Locianpwe, apa maksud kata-katamu barusan?" tanya Tao Ling. Hatinya bingung setelah mendengar nasihat dari Leng Coa Sian Sing.

"Pokoknya kau turuti saja perkataanku tadi. Tidak usah banyak tanya!" ucap Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling tahu, percuma dia bertanya terus, karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

Enam hari telah berlalu. Luka dalam yang diderita Lie Cun Ju sudah mulai sembuh. Dia sudah bisa bergerak dan berjalan. Pada hari ketujuh, Tao Ling sedang berbincang-bincang dengan pemuda itu di ruangan dalam. Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang gadis.

"Leng Coa Sian Sing, aku datang untuk memenuhi perjanjian!"

Begitu mendengar suara itu, Tao Ling segera mengenalinya sebagai suara si gadis berpakaian putih. Hatinya terkejut sekali. Dari celah pintu dia mengintip ke luar. Dia melihat gadis itu sudah masuk ke dalam pondok.

"Ternyata kedatangan I Kouwnio tepat waktu sekali!" sambut Leng Coa Sian Sing.

Lie Cun Ju yang duduk di samping Tao Ling segera melihat perubahan hebat pada wajah gadis itu.

"Tao Kouwnio, siapa yang datang?" tanyanya lirih.

Dengan tergesa-gesa dan nada berbisik, Tao Ling segera menceritakan pengalamannya ketika ditolong gadis itu. Tiba-tiba wajah Lie Cun Ju juga menjadi pucat pasi.

"Dia bermarga I?" tanya Lie Cun Ju.

Tao Ling tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.

"Bagaimana dengan luka kedua orang itu?" tanya gadis itu lagi.

"Sudah sembuh. I Kouwnio adalah orang yang aku percayai. Apakah benda yang sudah dijanjikan itu dibawa? Kalau tidak, aku tidak akan menyerahkan kedua orang itu kepada Kouwnio!" sahut Leng Coa Sian Sing.

Mendengar sampai di sini, hati Tao Ling semakin terkesiap. Tidak heran Leng Coa Sian Sing mengobati mereka dengan hati-hati, ternyata dia menginginkan suatu benda dari si gadis cantik itu.

Benar-benar hati manusia sulit diraba! Tao Ling segera menoleh kepada Lie Cun Ju. Pemuda itu memberikan isyarat dengan tangannya sambil berkata, "Tao Kouwnio, kita tidak boleh terjatuh ke tangan orang she I itu!"

Dalam keadaan gugup, Tao Ling mengintip lagi dari celah pintu. Tampak gadis itu mengeluarkan sebuah lencana berbentuk persegi dan panjangnya satu cun. Warnanya keperakan berkilauan. Tidak terlihat jelas tulisan apa yang tertera di atasnya.

"Ayah bilang, penggunaan tiga kali terlalu banyak. Kau hanya boleh menggunakannya sebanyak dua kali, kemudian langsung dikembalikan!" kata gadis itu.

Ketika melihat lencana perak itu, hati Tao Ling agak tergerak. Dia rasanya pernah mendengar orang mengatakan sesuatu tentang lencana semacam itu. Tetapi karena hatinya sedang panik, untuk sesaat dia tidak bisa mengingatnya kembali. Tampaknya masih ada sedikit pembicaraan yang akan berlangsung di antara mereka. Mengapa tidak menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri?

Tao Ling dan Lie Cun Ju bergegas meloncat keluar lewat jendela. Tao Ling memapah Lie Cun Ju dan berlari ke depan. Baru berlari sejauh dua depa, dia sudah mendengar suara gadis itu bertanya.

"Leng Coa Sian Sing, di mana kedua orang itu?"

"Eh? Tadi mereka masih ada di sini. Mungkinkah mereka sudah melarikan diri?" jawab Leng Coa Sian Sing dengan nada terkejut.

Pada saat ini Tao Ling baru menyadari bahwa tujuh hari yang lalu, Leng Coa Sian Sing telah mengkhianati mereka, bahkan menukar jiwa mereka dengan suatu benda! Karena itu, setelah si gadis yang cantik itu pergi, dia memperlihatkan sinar mata dan senyuman yang aneh.

Tanpa berpikir banyak lagi, Tao Ling segera menyeret tangan Lie Cun Ju dan bersembunyi di balik sebatang pohon Liu yang besar.

"I Kouwnio jangan gusar, asal mereka belum terlalu jauh, dengan seruling pemanggil ular ini, kau tidak perlu takut mereka bisa terbang ke mana!"

Kemudian Tao Ling dan Lie Cun Ju juga mendengar suara seruling yang memekakkan telinga. Suaranya melengking dan semakin lama nadanya semakin tinggi.

Baru saja suara seruling itu berbunyi, langsung terdengar suara desiran di sana-sini. Ketika melihat ke sekitarnya, kedua orang itu langsung terkejut setengah mati. Ternyata di sekitar mereka bermunculan ular-ular yang entah berapa banyak jumlahnya dan berbagai jenis. Mereka bergerak keluar karena mendengar irama seruling yang ditiup Leng Coa Sian Sing.

Tao Ling dan Lie Cun Ju sadar. Leng Coa Sian Sing tidak tahu berapa lama mereka melarikan diri, karena itu dia menggunakan seruling untuk memerintahkan ular-ularnya agar mengejar. Mereka khawatir apabila nada seruling itu bertambah tinggi, mereka pasti sulit meloloskan diri dari tempat itu.

Dalam keadaan panik, tanpa sadar mereka menolehkan kepala. Tampak di tepi sungai berhenti sebuah kereta berwarna putih keperakan, sinarnya berkilauan. Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu sedang meringkik-ringkik dengan keras.

Hati Tao Ling tergerak. Tanpa ragu sedikit pun dia langsung menyeret tangan Lie Cun Ju. Mereka berlari menuju kereta tersebut. Meskipun keadaan Lie Cun Ju sudah pulih, tetapi luka yang dideritanya tempo hari terlalu parah, apalagi dia tidak mendapatkan buah berkhasiat tinggi Te Hiat Ko seperti Tao Ling. Saat ini dirinya seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat, sebagaimana biasanya orang sehabis menderita sakit parah. Sesampainya di samping kereta, napasnya tersengal-sensal.

Saat itu Tao Ling juga tidak memedulikan lagi batas antara laki-laki dan perempuan. Dia langsung membopong tubuh pemuda itu naik ke atas kereta, lalu dia sendiri pun meloncat ke dalam.

Suara irama seruling yang ditiup Leng Coa Sian Sing semakin melengking. Terasa angin berdesir-desir, ratusan ular berbisa menyembulkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya serta melata ke arah kereta.

Ada beberapa ekor yang geraknya lebih cepat. Binatang melata itu sudah sampai di sisi kaki kuda, sehingga kuda itu ketakutan dan meringkik terus. Tao Ling segera mengeluarkan beberapa batang senjata rahasia dan melontarkannya ke arah ular-ular itu. Tangannya yang sebelah sekaligus menggerakkan tali kendali. Keempat ekor kuda itu pun melesat secepat kilat meninggalkan tepi sungai itu.

Saking cepatnya kereta itu, telinga Tao Ling dan Lie Cun Ju sampai mendengar suara angin menderu-deru dari kiri-kanan kereta. Mereka bagai melayang di atas angkasa dengan mengendarai awan.

Dalam hati Tao Ling kagum sekali dengan kuda-kuda pilihan itu. Ketika dia menolehkan kepalanya, Leng Coa Ki hanya tinggal tampak setitik hijau yang kecil saja. Dalam waktu yang sangat singkat, mereka sudah menempuh jarak tujuh-delapan li. Masih belum terlihat ada orang yang mengejar. Tao Ling baru bisa mengembuskan napas lega.

"Lie Toako, kali ini kita kembali berhasil meloloskan diri dari kematian!" ucap Tao Ling sambil menolehkan kepalanya ke arah Lie Cun Ju.

"Takutnya belum tentu!" sahut pemuda itu.

Di samping kereta, Tao Ling menemukan pecut perak yang digunakan gadis cantik itu. Dia melontarkannya dua kali. Kereta kuda itu meluncur semakin cepat.

"Meskipun gadis she I itu mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, tetapi dia belum tentu bisa mengejar kereta kuda ini," kata Tao Ling.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment