Chapter 30
"Urusan ini sulit dikatakan. Tetapi batu yang kau tiduri sekarang merupakan endapan es atau salju di Gunung Thaisan selama ribuan tahun. Bagi orang yang melatih ilmu silat, khasiatnya besar sekali. Asal kau bisa menahan penderitaan dan tidur di atasnya selama tujuh hari berturut-turut, ilmu silatmu akan pulih kembali. Bahkan tenaga dalammu akan berlipat ganda. Mengenai urusan kelak, terpaksa melihat peruntunganmu sendiri! Aku akan membebaskan totokan di jalan darahmu. Tetapi kau harus ingat, selama tujuh hari tujuh malam, biar ada rasa sakit yang bagaimana pun, kau tetap tidak boleh bangun dari alas batu itu. Bahkan duduk pun tidak boleh. Pokoknya kau harus berbaring terus. Kalau tidak, mungkin ilmu silatmu selamanya tidak pernah bisa pulih kembali!"
Sembari berkata, dia mengulurkan tangannya menepuk jalan darah di tubuh Lie Cun Ju. Pemuda itu tadi mendengarkan cerita Seebun Jit tentang riwayat hidupnya yang misterius. Seluruh perhatiannya tercurah ke sana. Dengan demikian penderitaannya tanpa sadar tidak terasa begitu parah. Tetapi sekarang tiba-tiba Seebun Jit membebaskan totokannya. Dia merasa segulung demi segulung hawa dingin menyusup ke seluruh tubuhnya dan membuat rasa nyerinya semakin menjadi-jadi. Siksaan itu bukan main hebatnya. Tetapi dia terus mengingat ucapan Seebun Jit. Seandainya ucapan orang itu benar, maka dirinya tidak akan menjadi orang cacat lagi. Walaupun penderitaan ini sedemikian hebatnya, dia tetap menggeretakkan giginya erat-erat dan menahannya.
Sementara itu, Seebun Jit terus mondar-mandir di dalam ruangan batu dengan wajah serius.
***
Kurang lebih setengah kentungan kemudian, kulit tubuh Lie Cun Ju sudah kebal. Tetapi rasa dingin bahkan menyusup ke dalam tulang belulangnya. Rasa nyerinya benar-benar membuat dirinya hampir tidak tahan. Seandainya *Ban Nian Si Ping* milik Toku Hek Cui To ini tidak demikian terkenal dan menurut kabar bisa menambah kekuatan tenaga dalam di tubuh seseorang, bahkan merupakan pusaka yang menjadi incaran tokoh-tokoh *bu lim*, Lie Cun Ju juga tidak akan percaya dengan kata-kata Seebun Jit.
Sembari menahan penderitaan yang hebat, Lie Cun Ju berusaha mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya. Ketika dia menoleh kepada Seebun Jit, dia melihat orang tua itu berulang kali berdiri di depan pintu batu dan melongokkan kepalanya ke luar. Telinganya seakan mendengarkan suara dengan seksama. Mimik wajahnya semakin lama semakin memperlihatkan kegelisahannya. Seakan bukan satu-dua kali, dia menemukan ada gerak-gerik di luar pintu batu itu.
Lie Cun Ju sadar ilmu silatnya saat ini bagai bumi dan langit dibandingkan dengan Seebun Jit. Seandainya ada gerak-gerik apa pun, dia tidak bisa mendengarnya. Hatinya berharap dapat melewati tujuh hari tujuh malam dengan tenang meskipun dia harus menanggung penderitaan yang hebat. Dengan demikian ilmunya bisa pulih kembali dan dirinya tidak sampai menjadi orang cacat.
Tetapi kenyataan memang sering bertentangan dengan harapan seseorang. Tiba-tiba saja dia melihat wajah Seebun Jit berubah kelam. Tubuhnya bergerak laksana terbang. Tangannya mengulur dan meraih sebuah buntalan yang tergantung di dinding batu. Kemudian terdengar suara *cring-cring* sebanyak dua kali. Dia berkelebat kembali ke depan pintu gua.
"Siapa yang berulang kali mengintai di dalam Gin Hua Kok? Harap lekas sebutkan nama!" Suara bentakannya itu bergelombang sampai ke tempat yang jauh. Tidak lama kemudian terdengar suara seorang perempuan berkumandang dari kejauhan.
"Apakah pemilik Lembah Gin Hua Kok, Tuan I, ada di tempat?"
Begitu mendengar suara itu, hati Lie Cun Ju langsung tercekat. Wajah Seebun Jit juga berubah hebat. Dia membalikkan tubuhnya.
"Ci Kongcu, tidak peduli apa pun yang terjadi di luar, kau harus ingat. Jangan sekali-kali turun dari alas batu itu. Setelah keluar nanti, aku akan menutup pintu batu gua ini. Yang penting kau harus beristirahat!" ucap Seebun Jit.
Sembari berbicara, dia melepaskan buntalan kain yang dipegangnya. Cahaya berkilauan memenuhi seluruh ruang batu itu. Dia mengeluarkan dua macam senjata yang bentuknya aneh.
Nama Seebun Jit memang terkenal di kalangan dunia *kangouw*. Salah satu senjatanya yang istimewa adalah sebuah pecut yang memiliki lima cabang. Masing-masing cabang itu terkait gerigi besi berbentuk setengah lingkaran yang tajamnya bukan main. Seebun Jit mendapat julukan Hantu Tanpa Bayangan. Senjata andalannya sebilah golok dan sepasang cambuk. Cambuk itu memang terdiri dari dua utas, tetapi menggunakannya tidak perlu dua tangan karena dapat dijadikan satu. Sedangkan goloknya juga aneh. Lebarnya tidak seperti golok biasa. Bentuknya juga tidak melengkung, bahkan lebih mirip batangan besi berbentuk persegi empat, tetapi di kedua sisinya bergerigi juga.
Karena mengenali suara perempuan itu, Lie Cun Ju jadi mengkhawatirkan keselamatan Seebun Jit.
"Seebun Cianpwe, kau harus berhati-hati!"
"Di dalam Gin Hua Kok ini ada nama besar si raja iblis I Ki Hu, aku yakin mereka juga tidak berani berbuat apa-apa!" ujar Seebun Jit.
Dia memasukkan sepasang cambuknya ke dalam selipan ikat pinggang. Setelah itu dia melesat keluar dari ruangan batu itu. Kemudian dia mendorong sebuah batu besar untuk menahan di depan pintu tadi. Setelah itu dengan perlahan-lahan dia menerobos taman bunga dan berjalan menuju mulut lembah.
"Gin Hua Kok dengan kalian selamanya tidak ada hubungan apa-apa. Untuk apa kalian datang kemari?" tanya Seebun Jit dengan nada dingin.
Baru saja ucapan Seebun Jit selesai, tiba-tiba dari mulut lembah berkelebat beberapa bayangan. Ternyata di sana sudah bertambah tiga orang. Tiga orang itu mengenakan topeng berwarna merah darah. Dari topeng itu menyembul sepasang mata dengan warna menyeramkan, sehingga membuat orang yang melihatnya timbul perasaan ngeri.
Orang yang di tengah bertubuh gemuk pendek, di sebelah kirinya seorang perempuan—hal ini terlihat dari bentuk tubuhnya. Sedangkan di bagian kanan berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus. Ketiga orang ini memang Iblis Keluarga Lung dari Guizhou. Yang gemuk sebagai saudara tertua, namanya Lung Goan Po. Orang yang bertubuh tinggi kurus saudara kedua, namanya Lung Sen. Sedangkan yang perempuan menduduki tangga terakhir, namanya Lung Ping.
Ketika masih berada di dalam gua batu, Lie Cun Ju dan Seebun Jit sudah mendengar suara perempuan itu. Karenanya mereka pun mengetahui bahwa yang datang adalah Tiga Iblis Keluarga Lung. Lie Cun Ju pernah kena batunya ketika bertemu dengan mereka di tengah sungai. Karena itu dia mengenali suaranya. Sedangkan pengetahuan dan pengalaman Seebun Jit sangat luas; dia juga senang menjelajahi dunia. Ketika dunia *bu lim* belum mengenal nama Tiga Iblis dari Keluarga Lung, dia sudah sempat bertemu dengan mereka beberapa kali.
"Rupanya kalian. Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya Seebun Jit dengan nada dingin.
Ketiga iblis dari keluarga Lung tidak menyahut. Mereka langsung melepaskan topeng penutup wajah mereka yang warnanya seperti berlumuran darah.
Perasaan Seebun Jit langsung tertegun. Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur tiga langkah. Sewaktu berkunjung ke Guizhou tempo dulu, kakek itu sudah pernah mendengar orang mengatakan bahwa ketiga iblis keluarga Lung memang tiga bersaudara. Tadinya mereka prajurit suku Miao. Kemudian menurut berita yang tersebar di dunia *kangouw*, tokoh utama dari golongan hitam Hek Leng Sin Kun berpesiar ke daerah Miao dan menetap di sana. Kemudian ketiga saudara ini diterimanya sebagai murid.
Tetapi selamanya ketiga iblis dari keluarga Lung ini tidak pernah mengungkit tentang gurunya kepada siapa pun juga. Apabila bergebrak dengan seseorang, selamanya musuh mereka tidak pernah dibiarkan hidup. Karena itu tidak ada orang yang tahu sampai di mana ketinggian ilmu mereka dan keistimewaan yang mereka miliki. Mereka juga selalu mengenakan topeng. Bahkan setiap tokoh hitam yang takluk kepada mereka dijadikan anak buah dan diharuskan mengenakan topeng serupa. Ini merupakan peraturan bagi mereka. Apabila mereka sampai melepaskan kedok atau topeng yang menutupi wajah mereka, itu tandanya mereka mempunyai dendam sedalam lautan dan turun tangan mereka pun tidak tanggung-tanggung lagi.
Karena teringat selentingan di luaran bahwa ketiga orang ini merupakan murid Hek Leng Sin Kun dan begitu bertemu mereka langsung melepaskan topengnya, Seebun Jit jadi tertegun. Tampak ketiga orang itu tidak berwajah buruk. Setidaknya semua pancaindranya lengkap. Kalau ditilik dari usianya, ketiga orang itu paling sedikit sudah di atas empat puluhan tahun.
"Dari tempat yang jauh kalian berkunjung ke mari. Sebetulnya ada keperluan apa? Harap katakan terus terang saja!" tanya Kakek Jit.
"Apakah Anda Seebun Jit yang pernah bertemu muka dengan kami di Guizhou tempo dulu?" tanya Lung Goan Po sambil batuk-batuk kecil.
Mendengar nada mereka yang tidak begitu garang, perasaan Seebun Jit pun agak lega. Karena bagaimanapun, mereka terdiri dari tiga orang, sedangkan dia hanya sendirian; apakah dia sanggup mengalahkan mereka masih merupakan sebuah tanda tanya besar.
"Ingatan *Sam-wi* sungguh hebat. *Cayhe* memang Seebun Jit!" sahutnya.
Ketiga orang itu saling lirik sekilas. Kemudian topeng di tangan mereka dilempar ke atas tanah. *Trang!* Rupanya topeng itu terbuat dari emas murni yang kemudian dilumuri lagi dengan sejenis zat pewarna. Setelah melemparkan ketiga topeng itu di atas tanah, tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan Seebun Jit.
Tetapi saat itu juga Lung Goan Po mendongakkan wajahnya.
"Sahabat Seebun, jangan khawatir. Kecuali di hadapan guru kami yang berbudi, selamanya kami belum pernah menekuk lutut di hadapan siapa pun. Tetapi urusan ini gawat sekali, kami memohon bantuan sahabat Seebun. Kami sengaja datang kemari untuk memohon bantuanmu. Apabila sahabat Seebun bersedia mengabulkan, meskipun kami harus menjadi kerbau atau kuda di kehidupan mendatang, kami pun rela."
Seebun Jit mendengar nada bicara Lung Goan Po yang tulus, seakan tidak ada maksud jahat sedikit pun. Juga tidak tampak berpura-pura. Dia merasa aneh, meskipun kakek itu belum pernah bergebrak langsung dengan ketiga orang itu, tetapi mereka cukup terkenal di dunia *kangouw*. Apalagi di wilayah Hun Kui. Entah berapa banyak tokoh golongan hitam yang tidak berani menginjakkan kakinya ke wilayah itu karena merupakan tempat tinggal ketiga iblis dari keluarga Lung ini. Sekarang mereka seakan menghadapi suatu masalah besar yang entah apa, malah berlutut di hadapannya.
"Sam-wi harap berdiri! Ada apa-apa bisa kita rundingkan baik-baik!"
"Sebelum Sahabat Seebun mengabulkan, untuk selamanya kami tidak akan bangun!" kata Lung Goan Po. Seebun Jit adalah tokoh yang sudah banyak makan asam garam. Dia bisa melihat apa yang terkandung di dalam hati seseorang hanya dari mimik wajahnya. Dia tahu ketiga orang ini membawa suatu masalah dan ingin memohon bantuannya, tetapi dia justru tidak habis pikir apa masalahnya.
"Terserah, katakan saja apa permohonan kalian itu!"
Wajah ketiga orang itu langsung berseri-seri mendengar jawaban Seebun Jit.
"Sekarang Anda tinggal di Gin Hua Kok ini, tentunya Anda mempunyai hubungan yang baik dengan Tuan I. Kami bertiga ingin bertemu dengannya, harap Anda sudi mengantar kami kepada orang tua itu!" kata Lung Goan Po kembali.
Tadinya Seebun Jit mengira ada urusan sebesar apa sehingga mereka perlu meminta bantuannya, ternyata mereka hanya ingin bertemu dengan si raja iblis I Ki Hu. Hampir saja dia tertawa geli.
"Kedatangan kalian sungguh tidak tepat. I Kokcu sedang keluar, tidak ada di dalam lembah!"
Tidak disangka-sangka, wajah ketiga orang itu semakin berseri-seri.