Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat - Chapter 32

Memuat...
Peninggalan Pusaka Keramat

Chapter 32

Gerakan kedua tangan itu benar-benar di luar dugaan Seebun Jit. Hatinya terkesiap bukan kepalang. Ia melihat dengan mata kepala sendiri keringat dingin menetes membasahi kening Lung Goan Po. Tangan mereka menimbulkan suara berderak-derak seperti tulang remuk, tubuh mereka gemetar, dan wajah mereka pucat pasi.

Ternyata, sepintar-pintarnya Seebun Jit, ia masih bisa dikelabui oleh Lung Goan Po.

Sebetulnya Seebun Jit bukan tokoh sembarangan, tetapi kali ini ia benar-benar bertemu dengan lawan yang sepadan. Ternyata nama besar ketiga iblis dari keluarga Lung bukan nama kosong. Kelicikan mereka tidak terduga oleh Seebun Jit.

Sementara Seebun Jit memang terkesiap bukan kepalang, namun di sisi lain ia beruntung memiliki kekuatan tenaga dalam yang dilatih selama puluhan tahun. Dengan panik, pergelangan tangannya ditekan ke bawah. Yang digenggamnya masih sepasang cambuk bercabang lima. Begitu dihentikan, cambuk itu melontar ke atas. Ternyata dalam keadaan terdesak, ia bisa menghindarkan serangan Lung Goan Po.

Namun, penghindaran Seebun Jit itu dipaksakan sekali. Bersamaan dengan itu, Lung Sen dan Lung Ping menerjang ke arahnya dari kiri kanan. Mereka menjulurkan lengan masing-masing dan mencengkeram ke depan. Ternyata mereka berdua juga berpura-pura, sama seperti tuan mereka. Lengan mereka tidak cacat sedikit pun.

Pada dasarnya, kepandaian Lung Sen dan Lung Ping memang tidak sembarangan. Apalagi Seebun Jit menghindar dengan terpaksa. Empat lengan dari kedua orang itu meluncur bersamaan.

Plak! Plak! Plak! Plak! Empat pukulan sekaligus mendarat tepat di bagian kiri kanan punggung Seebun Jit.

Ilmu silat Seebun Jit memang tinggi sekali. Begitu saling menggebrak dengan lawannya, meskipun sendirian melawan tiga musuh, ia tetap bisa mempertahankan ketenangannya. Hawa murni dalam tubuhnya sudah dihimpun sejak tadi. Dengan demikian, seluruh tubuhnya terlindungi oleh hawa murninya.

Tiga iblis dari Keluarga Lung masing-masing memiliki kekuatan tenaga dalam yang dilatih selama puluhan tahun. Begitu Seebun Jit dihantam empat pukulan dari Lung Sen dan Lung Ping, ia merasakan bagian kanan kiri pinggangnya seperti ditimpa besi seberat ratusan kati. Telinganya berdengung, matanya berkunang-kunang, tubuhnya bergetar, dan hampir saja ia tidak dapat mempertahankan kakinya sehingga nyaris terjatuh!

Dalam keadaan panik, Seebun Jit merasa pinggangnya nyeri bukan main. Nadi di pergelangan tangannya sempat tersampuk kekuatan dari cengkeraman Lung Goan Po. Sebelah tubuhnya terasa kesemutan.

Di dalam hati, ia baru sadar bahwa tiga iblis dari keluarga Lung telah mempersiapkan akal licik sebelum datang ke tempat itu. Kata-kata mereka yang menyatakan ingin meminta bantuannya hanya omong kosong belaka. Tujuan mereka hanya ingin mengetahui apakah I Ki Hu ada di dalam lembah Gin Hua Kok, dan apakah Tao Ling dan Lie Cun Ju benar-benar ada di sana. Ia sendiri sudah malang melintang di dunia persilatan selama puluhan tahun. Pengalamannya banyak, pengetahuannya luas, tetapi ia masih sempat terkecoh oleh Tiga Iblis dari Keluarga Lung itu.

Seebun Jit merasa benci mengingat dirinya yang dibodohi mereka. Diam-diam ia bertekad menebus kekalahannya. Namun, ia sadar itu bukan hal yang mudah. Ia berusaha membesarkan hatinya. Tetapi rasa sakit di pinggangnya hampir tidak tertahankan. Kelima jarinya merenggang, cambuk di tangannya terlepas. Matanya dipejamkan dalam keadaan tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah.

Di sudut sana, Lung Sen dan Lung Ping tertawa aneh. Mereka lalu menerjang kembali dengan mengirimkan tendangan ke dada Seebun Jit.

Sebelum tendangan mereka mengenai lawannya, terdengar Lung Goan Po berteriak keras, "Orang ini sudah lama berkecimpung di dunia persilatan, kalian harus hati-hati!"

Lung Goan Po menyadari bahwa Hantu Tanpa Bayangan Seebun Jit bukan lawan mudah sehingga ia mengingatkan kedua saudaranya, namun sudah terlambat. Belum lagi tendangan keduanya berhasil mengenai sasaran, tiba-tiba Seebun Jit melangkah ke depan. Dengan mata mendelik, mulutnya mengeluarkan suara bentakan, kemudian tubuhnya melesat ke atas. Bersamaan dengan itu, tangan kirinya mengibas. Tampak segurat cahaya seperti pelangi melintas, mengedari kaki Lung Sen dan Lung Ping yang sedang mengirimkan tendangan kepadanya. Darah segar memercik, sementara Seebun Jit tertawa terbahak-bahak. Ia menahan rasa sakit karena luka dalamnya, kemudian mundur setengah langkah.

Buk! Buk! Tiba-tiba Lung Sen dan Lung Ping jatuh terbanting di atas tanah. Untung saja ilmu kepandaian kedua orang ini memang cukup tinggi. Ketika melihat kelebatan cahaya golok, tiba-tiba hati mereka merasa ada firasat buruk. Mereka memaksakan gerakan kaki yang sudah melayang keluar agar dapat ditarik mundur.

Namun, Seebun Jit terkenal di dunia persilatan karena sebilah golok dan sepasang cambuknya yang aneh. Panjang goloknya kira-kira empat ciok. Tipisnya seperti selembar kertas. Namun, tajamnya jangan ditanyakan lagi. Dibuat dari baja pilihan yang sulit didapatkan. Bila tidak digunakan, golok itu dapat digulung seperti sabuk pinggang. Bisa disembunyikan di balik pakaian tanpa terlihat lawan. Bila dicabut pun tidak tampak oleh mata lawan, tahu-tahu sudah tergenggam di telapak tangan. Jurus yang digunakannya tadi diberi nama Lihat Golok Lihat Darah. Karena itu, kaki kiri Lung Sen dan Lung Ping langsung terkerat sebatas betis dan langsung jatuh tanpa dapat mempertahankan diri lagi. Dalam keadaan terluka parah, Seebun Jit masih sanggup melawan tiga musuh sekaligus, bahkan melukai dua di antaranya. Ilmu kepandaiannya benar-benar tidak dapat dipandang ringan. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping hanya terluka di bagian luar, lukanya justru di kaki yang merupakan anggota penting tubuh. Mereka segera menutup jalan darahnya untuk menghentikan pendarahan. Untuk sementara, mereka tidak bisa berhadapan dengan musuh.

Seebun Jit memaksakan diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya. Lung Goan Po menghambur ke depan melihat keadaan dua saudaranya. Mengambil kesempatan itu, Seebun Jit segera mengayunkan goloknya ke punggung Lung Goan Po. Gerakan golok menimbulkan cahaya seperti pelangi. Kecepatannya sungguh mengejutkan. Lung Goan Po menyambar kedua saudaranya, kemudian mencelat ke depan sejauh beberapa depa.

Ayunan golok Seebun Jit memang bertujuan membuat Lung Goan Po menghindar untuk sementara. Ia bukan menyerang sungguh-sungguh. Melihat Lung Goan Po mencelat ke depan, ia juga menggeser kakinya dan memungut kembali sepasang cambuknya yang terlepas.

Tampak tangan kirinya menggenggam goloknya yang berbentuk aneh, sedangkan tangan kanannya memegang cambuk bercabang lima. Seebun Jit berdiri tegak, penampilannya angker. Ia mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan panjang. Kalau diperhatikan, tidak seperti orang yang sudah terluka parah. Padahal kenyataannya justru dalam keadaan terluka parah.

Semestinya, orang yang terluka seperti Seebun Jit sekarang ini tidak boleh menggunakan tenaga dalamnya untuk tertawa terbahak-bahak, karena akan menyebabkan lukanya semakin parah. Namun Seebun Jit menyadari keadaan di depan matanya. Sekarang tinggal Lung Goan Po yang masih bisa bertarung dengannya. Apabila otaknya cerdas, ia bisa mendesak. Seebun Jit terpaksa mundur terus dan mendekati Lung Sen dan Lung Ping. Meskipun keduanya terluka dan terkulai di atas tanah, sepasang tangan mereka masih dapat digerakkan. Tidak sampai dua puluh jurus, Seebun Jit pasti berhasil dikalahkan. Yang jelas tubuhnya sendiri sudah terluka parah. Saat ini, seandainya ia berpura-pura tidak terluka, bahkan berlagak menantang ketiga orang itu, mungkin mereka malah ragu atau mengundurkan diri sementara.

Kedatangan Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai tujuan tertentu. Mereka tidak mungkin menyelesaikan masalahnya begitu saja. Tetapi asal bisa mendapat kesempatan untuk mengatur napas dan menjaga pintu batu agar mereka tidak menerobos masuk, sudah lebih dari cukup. Karena itu, Seebun Jit tidak memedulikan keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-bahak.

Setelah tertawa beberapa saat, ia mengayunkan golok di tangannya. "Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?" ujarnya dengan suara keras.

Sesaat, ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh oleh sikap Seebun Jit. Mereka saling pandang sekilas, kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan mengeluarkan tawa dingin. "Hen! Jangan senang dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti datang kembali! Tunggu saja!"

Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.

"Biar kapan pun kalian datang, asal aku..." Seebun Jit mengerutkan kening sedikit, "Anggaplah aku band!"

"Kata-kata yang bagus!" Sambil memapah kedua saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada Seebun Jit. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit. Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin Hua Kok.

Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi menyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping.

Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi. Diam-diam Seebun Jit menarik napas panjang. Darah yang bergejolak di dadanya sejak tadi langsung tercurah keluar setelah perasaannya lebih lega.

"Hooakkkk!!!!"

Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih. Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua dalam waktu singkat.

Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit menggunakan goloknya untuk menopang diri. Baru saja kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah terdengar suara batuk-batuk kecil.

Seebun Jit tersentak kaget. Diam-diam hatinya khawatir, apabila saat seperti ini datang lagi seorang musuh tangguh. Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya.

Cepat-cepat ia menghapus darah di sudut bibir dan jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya kembali. Tampak di mulut lembah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering. Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular hijau yang bentuknya aneh. Ekor ular itu malah melilit di lehernya. Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.

Seebun Jit memaksakan diri untuk mengembangkan senyuman. "Leng Coa sian sing, ada keperluan apa berkunjung ke Gin Hua Kok?"

Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang berkecimpung di dunia persilatan sehingga orang yang tahu namanya pun sedikit. Namun, ilmunya memang tinggi sekali.

"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak ringan?" ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang ini. Karena itu ia tertawa getir.

"Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperluan apa Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua Kok ini?"

Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh.

Mimik wajahnya sungguh mencurigakan.

"Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?"

Sembari berkata, ia mengeluarkan sebuah lencana berbentuk segitiga yang ukurannya sebesar telapak tangan. Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya putih keperakan.

Seebun Jit tertegun melihatnya.

"Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia persilatan, siapa yang tidak kenal, apalagi tidak tahu?"

"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"

Seebun Jit terkejut sekali.

"Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu. Benda yang demikian berharga, mengapa kau menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"

"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai pertimbangan sendiri."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment