Chapter 39
Seebun Jit menarik napas panjang. "Siocia, aku yang bersalah. Tidak lama setelah kalian pergi, datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri."
Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang cerita bohong, nada suaranya sedikit pun tidak meragukan. Namun, I Giok Hong adalah seorang gadis yang luar biasa cerdas. Setelah berpikir sejenak, dia tertawa dingin.
"Siok-siok, kau sedang mendustai aku."
"Siocia, mana mungkin hamba mempunyai nyali sebesar itu? Dia benar-benar sudah melarikan diri." Wajah I Giok Hong berubah menjadi angker.
"Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Gin Hoa Kok. Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, Tia menahanmu di sini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggilmu Siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam, aku tidak akan membiarkannya," katanya.
Ketika Seebun Jit bermaksud membela diri, I Giok Hong sudah mengayunkan pecutnya ke atas tanah, kemudian membalikkan tubuh dan berjalan pergi. Seebun Jit segera menolehkan kepalanya. Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya mengeluh celaka. Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu tempat Lie Cun Ju disembunyikan.
Di depan gua batu itu memang telah diganjal dengan sebuah batu besar. Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali. Batu besar itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu.
"Siocia, tunggu dulu!" teriak Seebun Jit.
I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa cekikikan. "Rupanya kau menyimpan pemuda itu di gua batu tempat tinggalmu," katanya.
Seebun Jit langsung tertegun. Sekarang dia baru sadar bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah dengan I Giok Hong, bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh. Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju disembunyikan. Tetapi karena saking paniknya Seebun Jit berteriak, itu sama halnya dengan memberitahukan keberadaan pemuda itu kepada I Giok Hong.
Akhirnya Seebun Jit hanya dapat menarik napas panjang. Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan menumpu di atas tanah. Dia berdiri dan berjalan maju beberapa langkah, kemudian bersandar pada batang pohon.
Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu. Pecut di tangannya diayunkan, tar! Sekali gerak saja pada batu besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti ledakan bom. Batu besar yang beratnya paling tidak dua hingga tiga ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah berhamburan.
Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu gua. Sekonyong-konyong batu besar yang mengganjal di depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan. Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda ke arahnya, tetapi ia malah menerjang ke depan. Melihat keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai mengeluarkan seruan terkejut.
Orang yang di tengah bertubuh gemuk pendek, di sebelah kirinya seorang perempuan—hal ini terlihat dari bentuk tubuhnya. Sedangkan di bagian kanan berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus.
Ketiga orang ini memang Iblis Keluarga Lung dari Kui Cou. Yang gemuk sebagai saudara tertua bernama Lung Goan Po. Orang yang bertubuh tinggi kurus adalah saudara kedua bernama Lung Sen. Sedangkan yang perempuan menduduki urutan terakhir bernama Lung Ping.
Ketika masih berada di dalam gua batu, Lie Cun Ju dan Seebun Jit sudah mendengar suara perempuan itu. Karenanya, mereka pun mengetahui bahwa yang datang adalah Tiga Iblis Keluarga Lung. Lie Cun Ju pernah bermasalah ketika bertemu dengan mereka di tengah sungai, sehingga dia mengenali suaranya. Sedangkan pengetahuan dan pengalaman Seebun Jit sangat luas karena dia senang menjelajahi dunia. Sebelum dunia persilatan mengenal nama Tiga Iblis Keluarga Lung, dia sudah sempat bertemu dengan mereka beberapa kali.
"Rupanya kalian. Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya Seebun Jit dengan nada dingin.
Ketiga Iblis Keluarga Lung tidak menyahut. Mereka langsung melepaskan topeng penutup wajah mereka yang warnanya tampak seperti berlumuran darah.
Perasaan Seebun Jit langsung tertegun. Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur tiga langkah. Sewaktu berkunjung ke Kui Cou tempo dulu, kakek itu sudah pernah mendengar orang mengatakan bahwa ketiga Iblis Keluarga Lung memang tiga bersaudara. Tadinya mereka adalah prajurit suku Biao. Kemudian menurut berita yang tersebar di dunia persilatan, tokoh utama dari golongan hitam, Hek Leng Sin-kun, berpesiar ke daerah Biao dan menetap di sana. Ketiga saudara ini kemudian diterima sebagai muridnya.
Namun, selamanya ketiga Iblis Keluarga Lung ini tidak pernah mengungkit tentang gurunya kepada siapa pun. Apabila bergebrak dengan seseorang, musuh mereka tidak pernah dibiarkan hidup. Karena itu, tidak ada orang yang tahu sampai di mana tingkat ilmu mereka dan keistimewaan yang mereka miliki. Mereka juga selalu mengenakan topeng. Bahkan setiap tokoh hitam yang takluk kepada mereka dijadikan anak buah dan diharuskan mengenakan topeng serupa. Ini merupakan peraturan bagi mereka. Apabila mereka sampai melepaskan kedok atau topeng yang menutupi wajah, itu tandanya mereka mempunyai dendam sedalam lautan dan tindakan mereka tidak akan tanggung-tanggung lagi.
Karena teringat selentingan bahwa ketiga orang ini merupakan murid Hek Leng Sin-kun dan begitu bertemu langsung melepaskan topeng, Seebun Jit pun tertegun. Tampak ketiga orang itu tidak berwajah buruk. Setidaknya semua panca indra mereka lengkap. Jika ditilik dari usianya, ketiga orang itu paling sedikit sudah di atas empat puluh tahun.
"Dari tempat yang jauh kalian berkunjung kemari. Sebetulnya ada keperluan apa? Harap katakan terus terang saja!" tanya Seebun Jit.
"Apakah Anda Seebun Jit yang pernah bertemu muka dengan kami di Kui Cou tempo dulu?" tanya Lung Goan Po sambil batuk-batuk kecil.
Mendengar nada mereka yang tidak begitu garang, perasaan Seebun Jit agak lega. Bagaimanapun, mereka terdiri dari tiga orang, sedangkan dia hanya sendirian; apakah dia sanggup mengalahkan mereka masih merupakan tanda tanya besar.
"Ingatan Sam-wi sungguh hebat. Cayhe memang Seebun Jit!" sahutnya.
Ketiga orang itu saling lirik sekilas. Kemudian topeng di tangan mereka dilempar ke atas tanah. Trang! Rupanya topeng itu terbuat dari emas murni yang kemudian dilumuri lagi dengan sejenis zat pewarna.
Setelah melemparkan ketiga topeng itu, tiba-tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan Seebun Jit. Tentu saja Seebun Jit terkejut setengah mati. Dia menduga mereka sedang menjalankan akal licik dan mencari kesempatan untuk mencelakainya. Karena itu, dia segera menghentakkan kakinya, mencelat ke belakang sejauh beberapa tindak untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Pecut bercabang limanya pun langsung dikeluarkan dari selipan ikat pinggang.
Tetapi saat itu juga Lung Goan Po mendongakkan wajahnya.
"Sahabat Seebun, jangan khawatir. Kecuali di hadapan guru kami yang berbudi, selamanya kami belum pernah menekuk lutut di hadapan siapa pun. Tetapi urusan ini gawat sekali, kami memohon bantuan Sahabat Seebun. Kami sengaja datang kemari untuk memohon bantuanmu. Apabila Sahabat Seebun bersedia mengabulkan, meskipun kami harus menjadi kerbau atau kuda di kehidupan mendatang, kami pun rela."
Seebun Jit mendengar nada bicara Lung Goan Po yang tulus, seakan tidak ada maksud jahat sedikit pun. Juga tidak tampak berpura-pura. Dia merasa aneh. Meskipun kakek itu belum pernah bergebrak langsung dengan ketiga orang tersebut, mereka cukup terkenal di dunia persilatan, apalagi di wilayah Hun Kui. Banyak tokoh golongan hitam yang tidak berani menginjakkan kaki ke wilayah itu karena merupakan tempat tinggal ketiga Iblis Keluarga Lung. Sekarang mereka seakan menghadapi masalah besar sehingga harus berlutut di hadapannya.
"Sam-wi harap berdiri! Ada apa pun bisa kita rundingkan baik-baik!"
"Sebelum Sahabat Seebun mengabulkan, kami tidak akan bangun!" kata Lung Goan Po.
Seebun Jit adalah tokoh yang sudah banyak makan asam garam. Dia bisa melihat apa yang terkandung di dalam hati seseorang hanya dari mimik wajahnya. Dia tahu ketiga orang ini sedang dalam masalah dan ingin memohon bantuannya, tetapi dia justru tidak habis pikir mengenai masalahnya.
"Terserah, katakan saja apa permohonan kalian itu!"
Wajah ketiga orang itu langsung berseri-seri mendengar jawaban Seebun Jit.
"Sekarang Anda tinggal di Gin Hoa Kok ini, tentunya Anda mempunyai hubungan yang baik dengan I Lo-sian-sing. Kami bertiga ingin bertemu dengannya, harap Anda sudi mengantar kami kepada orang tua itu!" kata Lung Goan Po kembali.
Tadinya Seebun Jit mengira ada urusan sangat besar sehingga mereka perlu meminta bantuannya, ternyata mereka hanya ingin bertemu dengan sang raja iblis, I Ki Hu. Hampir saja dia tertawa geli.
"Kedatangan kalian sungguh tidak tepat. I Kok-cu sedang keluar, tidak ada di dalam lembah!"
Tidak disangka-sangka, wajah ketiga orang itu semakin berseri-seri.
"Benar?"
"Tentu. Buat apa aku mendustai kalian?"
"Dalam perjalanan menuju tempat ini, secara kebetulan kami bertemu dengan Leng Coa Sian-sing. Dia mengatakan bahwa I Kok-cu menolong seorang laki-laki dan perempuan, apakah yang dikatakannya benar?"
"Tidak..." Hampir saja Seebun Jit kelepasan bicara. Tetapi baru mengucap sepatah kata "tidak", dia teringat sesuatu. Rupanya ketiga orang ini takut berselisihan dengan I Ki Hu, karena itu mereka menggunakan akal licik untuk memancingnya. Mendengar I Ki Hu tidak ada di lembah, wajah mereka semakin berseri-seri. Lalu secara tiba-tiba mereka menanyakan tentang Lie Cun Ju dan Tao Ling. Di balik semua itu pasti ada alasannya. "Tidak tahu-menahu mengenai urusan ini!" Seebun Jit memang manusia cerdas; meskipun dalam sedetik dia mengalihkan jawabannya, tidak terlihat sedikit pun bahwa dia sedang berdusta.
Lung Goan Po menarik napas panjang. "Sahabat Seebun benar-benar tidak bersedia berterus terang kepada kami?"
"Aku tinggal di Gin Hoa Kok. Ada kejadian apa pun di sini, aku pasti tahu. Tapi aku memang tidak mengenal laki-laki dan perempuan yang ditolong Kok-cu."
"Mungkinkah Leng Coa Sian-sing mendustai kami? Aih! Sudahlah!" gumam Lung Goan Po.
Tiba-tiba ketiga orang itu melonjak bangun. Seebun Jit langsung menggetarkan pergelangan tangannya. Sepasang cambuk di tangannya mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Diam-diam dia bersiap siaga terhadap segala kemungkinan. Namun, tiba-tiba dia melihat wajah Lung Goan Po berubah pucat pasi. Sepasang lengannya gemetar!
"Toako! Kita toh masih bisa menemukan mereka!" teriak kedua saudara Lung Goan Po.