Chapter 43
“Leng Coa Sian Sing, setelah menerima lencana ayahku ini, ternyata kau berani mengumbar lagakmu di Lembah Gin Hua. Cepat pergi dari sini!”
Wajah Leng Coa Sian Sing tampak merah padam bagai dilumuri darah. Perlahan-lahan dia mengundurkan diri. Sesampainya di mulut lembah, dia melongokkan kepalanya. Keadaan di luar lembah sunyi senyap. Tampaknya I Ki Hu tidak mengiringi kepulangan putrinya, I Giok Hong.
Ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga kadang-kadang kedatangan dan kepergiannya persis setan gentayangan yang tidak meninggalkan jejak dan suara sedikit pun. Kalau dilihat dari keadaan sekarang, tampaknya I Giok Hong memang hanya seorang diri. Tetapi siapa tahu si Raja Iblis itu bersembunyi di suatu tempat dan belum mau menampakkan dirinya. Meskipun hati Leng Coa Sian Sing mendongkol sekali, apabila dia sampai bergebrak dengan I Giok Hong, ada kemungkinan I Ki Hu bisa muncul setiap saat.
Karena itu, Leng Coa Sian Sing termenung-menung beberapa saat. Akhirnya dia tidak berani berspekulasi. Dia melilitkan sebagian tubuh dan ekor 'cambuk kumala' ke lehernya. Tubuhnya berkelebat dan menghilang di luar lembah. Sebetulnya kakek Leng Coa Sian Sing tidak kembali ke Leng Coa Ki (tempat tinggalnya). Dia hanya berlari ke tempat yang agak jauh kemudian kembali lagi dengan mengambil jalan memutar. Dia menyembunyikan dirinya di sekitar mulut lembah dan tidak berani masuk ke dalam.
Sejak kecil Leng Coa Sian Sing senang memelihara ular. Semua kepandaian yang dimilikinya sekarang merupakan ilmu yang didapatkannya dengan meniru gerak-gerik ular. Bahkan ilmu ginkangnya lain daripada yang lain. Dia dapat merayap di atas tanah dan pulang pergi seperti melayang dengan tubuh tiarap, bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun. Meskipun di luar Lembah Gin Hua terdapat banyak pasir, tempat yang dilaluinya tidak meninggalkan jejak kaki sedikit pun karena dia bukan berjalan melainkan melata seperti ular.
Setelah Leng Coa Sian Sing meninggalkan tempat itu, Seebun Jit baru bisa mengembuskan napas lega. Dia mendongakkan kepalanya.
"Siocia, kedatanganmu sungguh tepat, sehingga selembar nyawaku ini tertolong."
Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas, seakan ia sedang ada keperluan penting.
"Siok-siok, ke mana bocah she Li itu? Cepat suruh dia keluar, ayahku ingin menemuinya," tukas I Giok Hong.
Hati Seebun Jit langsung tertegun. Dia mengeluh dalam hati.
"Aku berkelahi melawan tiga iblis dari keluarga Lung dan Leng Coa Sian Sing mati-matian justru karena ingin mempertahankan Lie Cun Ju. Tetapi kalau dilihat dari sikap I Giok Hong yang kalang kabut ini, tampaknya I Ki Hu juga mengandung niat tidak baik."
Seebun Jit menarik napas panjang. "Siocia, aku yang bersalah. Tidak lama setelah kalian pergi, datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri."
Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang cerita bohong, nada suaranya sedikit pun tidak meragukan. Namun, I Giok Hong adalah seorang gadis yang luar biasa cerdas. Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan suara tertawa dingin.
"Siok-siok, kau sedang mendustai aku."
"Siocia, mana mungkin hamba mempunyai nyali sebesar itu? Dia benar-benar sudah melarikan diri."
Wajah I Giok Hong berubah menjadi angker.
“Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Lembah Gin Hua. Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, Ayah menahan kau di sini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggilmu siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam, aku tidak akan membiarkannya,” katanya.
Ketika Seebun Jit bermaksud membantah, I Giok Hong sudah mengayunkan pecutnya ke atas tanah kemudian membalikkan tubuh dan berjalan pergi. Seebun Jit segera menolehkan kepalanya. Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya mengeluh celaka. Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu tempat Lie Cun Ju disembunyikan.
Di depan gua batu itu memang telah diganjal dengan sebuah batu besar. Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali. Batu besar itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu.
“Siocia, tunggu dulu!” teriak Seebun Jit.
I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa cekikikan. “Rupanya kau menyimpan pemuda itu di gua batu tempat tinggalmu,” katanya.
Seebun Jit langsung tertegun. Sekarang dia baru sadar bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah dengan I Giok Hong, bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh. Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju disembunyikan, tetapi saking paniknya Seebun Jit berteriak, itu sama halnya dengan memberitahukan kepada I Giok Hong.
Akhirnya Seebun Jit hanya dapat menarik napas panjang. Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan menumpu di atas tanah. Dia berdiri dan berjalan maju beberapa langkah kemudian bersandar pada batang pohon.
Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu. Pecut di tangannya diayunkan, Tar! Sekali gerak saja batu besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti ledakan bom. Batu besar yang beratnya paling tidak dua-tiga ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah berhamburan.
Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu gua. Sekonyong-konyong batu besar yang mengganjal di depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan. Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda ke arahnya. Tetapi ia malah menerjang ke depan. Melihat keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai mengeluarkan seruan terkejut.
Tetapi I Giok Hong sejak kecil memang sudah dilatih keras oleh ayahnya. Ilmu yang dimilikinya sesungguhnya tinggi sekali mengingat usianya yang masih demikian muda. Tubuhnya berdiri tegak. Tangannya masih menggenggam pecut peraknya, sedangkan tali pecut itu masih melilit batu besar tadi. Secepat kilat tangannya bergerak mengayunkan pecut lalu ia sendiri menghindar ke samping sejauh beberapa tindak. Pintu batu itu langsung terbuka karena batu yang mengganjalnya sudah pecah berantakan.
Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat. Cahaya pedang berkilauan. Bahkan sebelum I Giok Hong sempat melihat dengan jelas siapa sosok yang menerjang keluar itu, tahu-tahu sinar pedang sudah melintas dan meluncur ke arah dadanya.
"Bagus sekali!" bentak I Giok Hong. Saat itu juga dia menarik napas kemudian menyurutkan dadanya ke belakang. Pedang itu masih terus mengincarnya. Bahkan begitu sampai di depannya, tampak pedang itu dijungkitkan sedikit ke atas. Sret! Pakaian di dadanya langsung terkoyak sepanjang tiga cun. Wajah I Giok Hong yang cantik jelita langsung merah padam. Tanpa menunda waktu lagi, dia segera mengayunkan pecutnya untuk melilit pedang panjang itu kemudian ditariknya sekuat tenaga.
Sosok yang menggenggam pedang itu dapat merasakan senjatanya terlilit oleh pecut lawan. Tentu saja dia tidak sudi membiarkannya; orang itu menghentakkan pergelangan tangannya ke belakang. Ternyata gerakan ini tidak menguntungkan pihak mana pun. Hati mereka sama-sama terkesiap. Gebrakan mereka terjadi secara spontan. Kedua orang itu saling tidak sempat memperhatikan siapa lawannya. Sampai saat itu, mata mereka baru bertemu pandang. Masing-masing mendongakkan kepala dan sama-sama tertegun.
Diam-diam I Giok Hong mengeluarkan seruan terkejut di dalam hatinya. "Pemuda ini tampan sekali," pikirnya. Rupanya orang yang bergebrak dengannya adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tahun dan mempunyai wajah tampan. Tetapi sikap pemuda itu tidak menunjukkan kegagahan, bahkan seperti orang yang sedang dilanda pukulan batin yang berat. Tangan kanannya menggenggam sebatang pedang dan tangan kirinya memanggul seseorang. Orang itu adalah Lie Cun Ju yang menjadi incaran orang banyak.
"Siapa kau?" bentak I Giok Hong.
Pemuda itu malah menarik napas panjang.
"Kouwnio, harap kau membiarkan aku pergi, jangan bertanya apa pun!"
I Giok Hong tertegun mendengar jawabannya. Diam-diam dia memaki dalam hati.