Chapter 49
Tao Heng Kan meluncurkan pedang dengan demikian cepat. Belum sempat pikiran I Giok Hong bereaksi, dadanya sudah terasa nyeri. Ternyata pedang itu sudah menghunjam ke dalam. Pandangan I Giok Hong menjadi gelap seketika. Ia merasa tubuhnya seperti selembar kertas yang melayang tertiup angin. Telinganya masih sempat mendengar orang itu tertawa terkekeh kemudian berkata, "Mari kita pergi!"
I Giok Hong mendengar desir angin yang semakin lama semakin menjauh, lalu tidak terdengar lagi karena ia sendiri sudah terkulai pingsan di atas tanah.
***
Entah berapa lama sudah berlalu. Lambat laun kesadarannya tergugah kembali. Ketika membuka mata, tampak matahari sudah berada di ufuk barat. Hari sudah menjelang senja dan sebentar lagi malam akan tiba. I Giok Hong membiarkan matanya terpejam beberapa saat.
I Giok Hong membuka matanya kembali dan menatap ke sekeliling. Tampak bebatuan dan rerumputan di sekitarnya penuh dengan percikan darahnya. Namun, yang paling banyak ternoda justru pakaian putihnya; hampir seluruhnya terpercik darahnya sendiri.
Mendapati dirinya masih belum mati, I Giok Hong merasa keheranan. Ia ingin memaksakan diri untuk bangkit dan duduk, tetapi baru saja bergerak sedikit, telinganya sudah mendengar seseorang berkata, "Siocia, jangan bergerak!"
I Giok Hong sudah lama tinggal bersama Seebun Jit di dalam Lembah Gin Hua Kok, tetapi selama itu ia belum pernah menemui sikap seperti sekarang ini. Tampak pinggang orang tua itu agak menekuk saat berdiri di samping I Giok Hong. Seandainya tidak ada golok yang dijadikan penyangga, mungkin ia sudah terkulai jatuh sejak tadi.
I Giok Hong ingin menggerakkan mulut untuk berbicara, tetapi ia tidak mempunyai tenaga sedikit pun.
"Siocia, antara aku dan ayahmu terdapat permusuhan yang dalam dan sampai sekarang masih belum terselesaikan. Sekarang aku sedang menderita luka parah, tetapi tampaknya luka yang kau derita justru lebih parah lagi. Seandainya pedang Tao Heng Kan tadi menusuk lebih dalam satu atau dua cun saja, tidak usah diragukan, siocia sekarang pasti sudah terkapar menjadi mayat. Namun, aku berniat menolongmu agar bisa hidup terus, asal kau bersedia mengabulkan permintaanku."
Selesai mengucapkan kata-kata itu, suasana menjadi hening sesaat. I Giok Hong menatap ke langit. Tampak beberapa ekor elang sedang berterbangan mengelilingi tempat itu. Tiba-tiba saja timbul rasa takut dalam hatinya. Ia takut menerima kenyataan akan mati, lagi pula ia tidak rela dirinya yang masih demikian muda harus berakhir begitu saja. Ia mengerahkan segenap kemampuannya untuk bertanya, "Permintaan ... apa?"
Seebun Jit maju selangkah kemudian menatap I Giok Hong lekat-lekat. I Giok Hong dapat melihat sinar mata Seebun Jit yang mengandung kekalutan. Seperti ada keinginan membiarkan I Giok Hong mati cepat-cepat, tetapi juga ada keinginan membiarkan ia hidup agar permintaannya dapat terlaksana.
Beberapa saat kemudian, terdengar Seebun Jit menarik napas panjang sambil mendongakkan wajah menatap langit.
"Seebun Jit, tidak disangka kau akan mengorbankan jiwamu untuk menyelamatkan putri musuhmu sendiri. Tetapi selain ini, apakah masih ada cara lainnya?" tanya I Giok Hong.
I Giok Hong tahu, selama tinggal di Lembah Gin Hua Kok, Seebun Jit setiap waktu mencari kesempatan untuk melampiaskan kebencian hatinya kepada ayahnya ataupun dirinya. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, dari awal hingga akhir ia tidak pernah melakukan apa-apa. Ayahnya berkali-kali memperingatkan agar berhati-hati terhadap Seebun Jit karena ia adalah tokoh golongan hitam yang dulu sangat terkenal. Meskipun di luarnya tampak patuh, kenyataannya mereka memelihara musuh dalam selimut.
Justru karena ilmu kepandaian Seebun Jit memiliki keistimewaan tersendiri dan cukup tinggi, I Giok Hong tidak segan-segan memanggilnya 'paman'. Tentu saja Seebun Jit tidak akan mengajarkan ilmu kepandaiannya, pun I Giok Hong tidak belajar darinya. Namun, terhadap kejadian aneh apa pun dalam dunia persilatan, pengetahuan Seebun Jit sangat luas. Karena itulah, dari luarnya, hubungan mereka tampak baik-baik saja meskipun dalam hati masing-masing terdapat ganjalan. Sampai saat ini, Seebun Jit baru menyatakan isi hatinya secara terus terang.
I Giok Hong hanya memandang Seebun Jit lekat-lekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sekali lagi Seebun Jit menarik napas panjang. "Siocia, aku ingin mengajukan sebuah permintaan kepadamu. Apakah kau bersedia melaksanakannya?"
I Giok Hong tidak mengerti urusan apa yang dimaksud, dan sesaat ia tidak tahu harus menjawab apa. Wajah Seebun Jit tiba-tiba saja menjadi garang. Ia membentak dengan suara keras, "Perempuan she I, apakah selembar nyawa Seebun Jit kurang berharga ditukar dengan sekali anggukan kepalamu?"
"Jit siok, katakanlah ... apa permintaanmu!" kata I Giok Hong dengan susah payah.
"Seandainya kau bersedia melaksanakan permintaanku, aku akan mengoperkan darah yang ada dalam tubuhku ke dalam lukamu. Dengan demikian, bukan saja jiwamu akan tertolong, bahkan tenaga dalammu akan bertambah. Kau jawab dulu, kau bersedia atau tidak?"
Saat itu I Giok Hong merasa tubuhnya sudah terlalu lemah, berada di ambang kematian. Asal suara Seebun agak keras sedikit saja, telinganya terasa berdengung. Dengan susah payah ia menyimak apa yang dikatakan Seebun Jit.
Sampai Seebun Jit menyelesaikan kata-katanya, I Giok Hong baru menyadari lukanya ternyata demikian parah hingga Seebun Jit sudi mengorbankan dirinya. Ia tidak tahu bahwa watak Seebun Jit sangat keras dan pendiriannya kukuh. Ia sudah bertekad membalaskan dendam penolongnya, Tocu Hek Cuito, yang dibunuh oleh I Ki Hu. Namun, Seebun Jit sadar ia tidak punya kesempatan lagi karena lukanya terlalu parah.
Seebun Jit mengerti satu hal: walaupun lukanya dapat disembuhkan, kepandaiannya sudah menyusut terlalu banyak. Ia bukan tandingan I Ki Hu, apalagi setelah lukanya sembuh dan kepandaiannya kian menurun. Karena itulah ia bersedia menolong I Giok Hong agar cita-citanya yang belum tercapai dapat dilaksanakan oleh gadis itu, juga demi keselamatan Lie Cun Ju.
I Giok Hong merenung sejenak. Ia tahu, apabila tidak mengabulkan permintaan Seebun Jit, ia pasti mati. Permintaan apa pun yang diajukan, asal bukan kematian, ia tidak akan menolaknya. I Giok Hong menggeretakkan giginya erat-erat. "Baik, Jit siok, aku bersedia."
Seebun Jit menatapnya lekat-lekat. "Aku tahu kalian ayah dan anak memang berhati keji dan tidak segan membunuh siapa saja. Tetapi aku juga tahu bahwa kalian memiliki satu segi kebaikan, yakni selalu memegang janji. Namun, karena hal ini penting sekali bagiku, aku minta kau bersumpah!"
"Kalau aku sampai menyalahi janji, biarlah aku mati dengan pedang menembus jantungku."
Tampaknya Seebun Jit puas terhadap sumpah yang diucapkan gadis itu.
"Baik, dengarkan baik-baik permintaanku! Aku ingin kau mencari Lie Cun Ju sampai ketemu dan sampaikan padanya agar jangan melupakan apa yang pernah kukatakan kepadanya. Ilmu kepandaiannya tidak seberapa, kau harus melindunginya apabila ia sampai berhadapan dengan musuh. Tidak peduli siapa pun musuhnya, kau harus membantunya sekuat tenaga!"
I Giok Hong mendengarkan permintaan Seebun Jit dengan saksama. Setelah selesai, ia merasa permintaan itu tidak terlalu sulit. Dengan kekuatan ayahnya dan dirinya sendiri, melindungi seseorang yang tidak memiliki ilmu pun bukan hal yang sukar. Ia bisa memerintahkan tokoh mana pun menggunakan lencana Gin Leng Hiat Ciang.
"Apa masih ada yang lain?" tanya I Giok Hong.
"Siocia, kau jangan menganggap permintaan ini terlalu ringan!"
"Aku tahu!" sahut I Giok Hong.
Seebun Jit menarik napas panjang, kemudian mengangkat golok yang tadi dijadikan tongkat penyangga.
"Siocia, aku mempunyai dua macam hadiah untukmu. Pertama, golok lemas ini. Yang satu lagi tempat tidur pusaka yang dinamakan Ban Nian Si Ping. Kau harus merebahkan diri di atasnya selama satu kentungan. Tidak boleh sembarangan bergerak. Satu kentungan kemudian, kau boleh bangun. Tetapi satu kentungan lagi, kau harus kembali merebahkan diri di atasnya dan kali ini tidak boleh bergerak selama tujuh hari tujuh malam. Di bagian atas tempat tidur itu aku meninggalkan sebuah kitab kecil yang berisi tujuh belas jurus terampuh yang pernah kupelajari. Senjatamu sendiri seutas pecut, tetapi tujuh belas jurus yang kutulis itu merupakan kombinasi antara pecut dengan golok lemas ini yang belum pernah kau pelajari."
I Giok Hong menganggukkan kepala. Tiba-tiba Seebun Jit mengangkat goloknya ke atas, lalu memotong urat nadi pergelangan tangannya sendiri. Darah langsung mengucur deras. Seebun Jit membungkukkan tubuh, lalu menempelkan pergelangan tangan yang disayat tadi ke luka di dada I Giok Hong. Ia menekannya kuat-kuat. I Giok Hong merasa ada darah hangat yang mengalir masuk ke dalam tubuhnya. Tidak lama kemudian, keadaannya membaik, matanya terasa ingin terpejam agar dapat tertidur pulas. Seebun Jit sendiri sudah terkulai di samping tubuh I Giok Hong. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya sudah dingin dan kaku. Ternyata Seebun Jit telah mati kehabisan darah.
Udara lambat laun menjadi gelap. I Giok Hong tahu dirinya telah tertolong. Ia membiarkan tubuhnya berbaring di atas tanah dan melewati sepanjang malam tanpa bergerak sedikit pun.
Pada hari kedua, I Giok Hong merasa hawa murni di dalam tubuhnya sudah dapat diedarkan dengan lancar. Ia bangun dan berlatih ilmu. Sampai menjelang sore harinya, I Giok Hong baru menghentikan gerakannya. Cepat-cepat ia memanggul jenazah Seebun Jit, kemudian mencelat ke atas kuda. Tidak lupa ia mengambil golok lemas yang dihadiahkan orang tua itu, lalu melesat ke arah Lembah Gin Hua Kok.