Chapter 52
Tiba-tiba I Ki Hu menolehkan kepalanya sambil tersenyum. "Tao Kouwnio, ada sedikit ucapan yang ingin kusampaikan. Entah Tao Kouwnio bersedia mengabulkannya atau tidak?"
Tao Ling melihat sepasang mata I Ki Hu menyorotkan sinar yang ganjil ketika mengucapkan kata-kata itu. Jantungnya langsung berdebar. "Urusan apa?" tanyanya lirih.
I Ki Hu melangkah setindak ke depan. "Tao Kouwnio mempunyai wajah yang cantik. Dari luar terlihat lembut, di dalam bijaksana. Aku sudah lama menduda, karena itu watak Giok Hong menjadi manja dan liar. Apakah Tao Kouwnio bersedia mengikat diri denganku menjadi suami istri?"
Mendengar kata-katanya, Tao Ling bagaikan orang yang disambar petir. Mulutnya melongo, lidahnya kelu. Mana sanggup dia mengucapkan apa-apa?
I Ki Hu tersenyum. "Tao Kouwnio tidak mengucapkan sepatah kata pun, pasti hatimu sudah setuju. Kita menyembah langit dan bumi di sini saja. Bagaimana pendapatmu?" Sembari berkata, ia mengulurkan tangannya menarik Tao Ling.
"Tidak! Tidak!" teriak Tao Ling ketika kelima jari tangan I Ki Hu hampir menyentuh pergelangan tangannya. I Ki Hu menggerakkan tangannya ke depan, tidak dibiarkannya Tao Ling menghindar. Sekejap saja, pergelangan tangan Tao Ling sudah tercengkeram olehnya.
"Mengapa tidak?" tanya I Ki Hu.
Tao Ling merasa seluruh tubuhnya lemas ketika I Ki Hu berhasil mencengkeram pergelangan tangannya. Tubuhnya bersandar di tempat duduk kereta dan hanya bisa berteriak dengan gugup. "Tidak! Tidak!" teriak Tao Ling lagi.
I Ki Hu tersenyum tipis. Sepasang matanya menatap Tao Ling lekat-lekat. Kalau dinilai dari usianya, memang I Ki Hu pantas menjadi ayah Tao Ling. Namun, karena tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali, kelihatannya ia seperti laki-laki yang usianya belum mencapai empat puluh tahun. Lagi pula, wajahnya sangat tampan sehingga orang tidak akan merasa sebal melihatnya. Senyumannya barusan justru membuat bulu kuduk di sekujur tubuh Tao Ling meremang.
Dengan lemas, ia memejamkan matanya, telinganya mendengar I Ki Hu berkata kembali, "Tao Kouwnio, apabila kau bersedia mengikat diri menjadi istriku, dendam permusuhan kedua orang tuamu yang aneh baru bisa terbalas."
Mendengar kata-katanya, Tao Ling heran. Diam-diam ia bertanya kepada dirinya sendiri, "Dendam permusuhan orang tua? Apakah kedua orang tuaku sudah menemui bencana?" Rasa terkejut di dalam hatinya semakin bertambah.
"Apakah ayah ibuku telah dicelakai orang?" tanya Tao Ling.
"Urusan ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Sejak semula kau seharusnya sudah dapat menduganya," jawab I Ki Hu.
Tao Ling tahu kekuasaan I Ki Hu besar sekali. Apa pun tidak ada yang sulit baginya. Meskipun ia menginginkan Tao Ling menjadi istrinya dan sekarang masih belum kesampaian, ia tetap tidak perlu mengucapkan kata-kata yang demikian untuk menakut-nakutinya. Hati Tao Ling semakin tercekat justru karena percaya pada apa yang dikatakan I Ki Hu.
"Kalau begitu, siapa orangnya yang akan mencelakai kedua orang tuaku?" tanyanya gugup.
"Untuk sementara aku masih belum tahu. Tetapi asal kita sudah sampai di Si Cuan, semuanya akan menjadi jelas. Ini urusan kecil. Kalau kau sudah menjadi istriku, mungkinkah aku tidak membalaskan dendam kedua orang tuamu?"
Tao Ling terdiam beberapa saat. Sebagai seorang gadis, ia mempertimbangkan situasi yang dihadapinya. Ia sudah melihat bahwa keinginan I Ki Hu tidak dapat dicegah. Jangan katakan padang rumput ini sepi dan terpencil; biarpun di depan khalayak ramai atau kota besar, kalau I Ki Hu sudah mempunyai keinginan untuk mengambilnya sebagai istri, siapa lagi yang dapat mencegahnya?
Perlahan-lahan ia memejamkan matanya. Dalam benaknya langsung terbayang wajah Lie Cun Ju. Mereka sudah mengalami suka duka bersama selama satu bulan lebih. Bahkan kaki mereka sama-sama pernah menginjak pintu kematian sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri dari maut. Dalam hati Tao Ling, tadinya ia sudah yakin bahwa seumur hidupnya ini, ia tidak akan berpisah lagi dengan Lie Cun Ju. Taruhlah dirinya harus menjadi dayang I Giok Hong dan Lie Cun Ju harus menjadi penjaga malam di Lembah Gin Hua, asal dapat bersama-sama untuk selamanya, ia tetap rela. Namun, ia tidak pernah menduga bisa terjadi perkembangan seperti sekarang ini.
Hati Tao Ling sedang merindukan Lie Cun Ju, tetapi telinganya justru mendengar I Ki Hu berkata lagi, "Tao Kouwnio masih tidak bersuara, itu tandanya sudah setuju. Cayhe memberi hormat dulu kepadamu."
Tao Ling membuka matanya; ia melihat I Ki Hu sedang membungkuk dalam-dalam memberi hormat kepadanya. Perlahan-lahan ia menarik napas panjang. I Ki Hu menegakkan tubuhnya dan berjalan pergi. Tao Ling tidak tahu apa yang hendak dilakukan laki-laki itu, sehingga ia hanya melihat saja. Ternyata I Ki Hu menghampiri sebongkah batu besar dan mengguratkan jari tangannya di sana. Dalam sekejap mata sudah terbaca sebuah huruf 'hi' di atas batu besar itu. Kemudian I Ki Hu kembali. Tanpa dapat mempertahankan diri, Tao Ling membiarkan dirinya diseret oleh I Ki Hu dan melakukan penyembahan dengan menundukkan kepala tiga kali di atas tanah. Mereka menjalani upacara pernikahan dengan menyembah langit dan bumi. Dalam satu malam saja, Tao Ling sudah berubah menjadi istri resmi si raja iblis I Ki Hu.
Tiba-tiba saja hatinya terasa kebal. Dalam satu malam, seolah-olah hatinya berubah menjadi kaku dan membeku seperti salju di pegunungan Thai San. Namun, bukan berarti hatinya tidak ada perasaan lagi. Paling tidak, jauh di lubuk hatinya, ia masih mengingat Lie Cun Ju.
Terdengar suara derap kaki kuda. Ternyata I Ki Hu sudah naik ke atas kereta dan melarikannya dengan kencang menuju Si Cuan. Kereta terus bergerak ke depan, sedangkan hati Tao Ling terus merindukan Lie Cun Ju, pemuda yang pernah dicintainya dan masih dicintainya sampai sekarang.
Namun, di mana Lie Cun Ju sekarang? Mungkin pemuda itu berada pada jarak sejauh ribuan li, tetapi mungkin juga begitu dekat di sekitarnya. Hanya saja Tao Ling tidak tahu. Namun, bagaimana pun juga, pemuda itu tidak ada di sisinya lagi. Pemuda itu sudah terpisah dengannya. Seberapa jauh pun mereka berpisah, kasih sayang yang pernah terjalin di dalam hati mereka masih tetap terjalin dengan indah.
Berpikir sampai di sini, Tao Ling tidak dapat menahan keperihan hatinya. Ia menarik napas panjang-panjang. Helaan napasnya justru mengejutkan I Ki Hu. Laki-laki itu segera menolehkan kepalanya.
"Hu jin, apa yang membuat hatimu gundah?" tanya I Ki Hu.
"Tidak apa-apa," sahut Tao Ling cepat.
I Ki Hu turun dari kereta dan menghampirinya. Pada saat itu, kereta kuda sudah sampai di tepian sungai. Mereka harus menyeberangi sungai itu baru dapat melanjutkan perjalanan. Jarak dari seberang sungai ke Si Cuan, di mana keluarga Sang tinggal, hanya seratusan li. Tao Ling sendiri tidak tahu sudah berapa hari mereka menempuh perjalanan. Perasaannya seakan tidak berfungsi lagi. Ketika I Ki Hu menghampirinya, ia segera memalingkan wajah. Tampak air sungai beriak-riak, ombaknya bergulung-gulung. Arusnya deras sekali, mengalir ke bagian timur. Benak Tao Ling segera teringat pengalamannya ketika terhanyut arus sungai tempo hari. Kejadian itu pula yang mempertemukannya dengan Lie Cun Ju. Kembali hatinya terasa perih.
"Hu jin, kita menikah sudah enam hari. Tetapi setiap hari kau terus menghela napas panjang. Apakah hatimu sedang merindukan seseorang?" tanya I Ki Hu.
Tao Ling tertegun. Diam-diam ia berpikir, bagaimana I Ki Hu bisa tahu perasaannya? Sebetulnya, kalau melihat keadaan Tao Ling sekarang, jangankan I Ki Hu yang demikian cerdas, orang biasa pun dapat menduga apa yang menjadi ganjalan hatinya.
Sampai sekian lama, Tao Ling tidak memberikan jawaban. "Hu jin, apakah pemuda yang sedang kau rindukan itu Lie Cun Ju?" tanya I Ki Hu lagi.
"Bukan, bukan dia!" jawab Tao Ling dengan terkejut. I Ki Hu mengembangkan seulas senyuman.
"Semakin Hu jin tidak berani mengakui, aku justru semakin yakin. Memang dialah orangnya. Tapi, Hu jin... apakah kau tahu siapa pemuda itu sesungguhnya?"
"Aku tidak tahu," jawabnya singkat. Meskipun demikian, Tao Ling seakan sudah mengakui bahwa memang Lie Cun Ju yang dipikirkannya. Tadi ia tidak berani mengakui karena merasa takut apabila I Ki Hu sudah mengetahuinya, iblis itu akan membunuh kekasih hatinya. Selesai berkata, ia baru menyadari ucapannya barusan salah. Dengan panik, ia menarik tangan I Ki Hu. "Jangan kau celakai dia!" katanya gugup.
I Ki Hu mengembangkan senyuman kepadanya. "Apabila dia bukan putra tocu Hek Cui To, tentu saja aku tidak akan mencelakainya. Tetapi kalau dia ternyata orang itu..."