Chapter 55
Setelah berkata demikian, I Ki Hu langsung berjalan ke depan. Baru melangkah beberapa kali, dari belakang terdengar teriakan Sang Cin dan Sang Hoat. Dia merasa kagum karena cucu Sang Hao yang masih muda itu mampu melepaskan diri dari totokannya dalam waktu singkat.
I Ki Hu menolehkan kepalanya. Tangan kirinya tetap membimbing Tao Ling, sementara tangan kanannya mengibas. Terasa ada embusan angin kencang yang menahan gerakan Sang Cin dan Sang Hoat.
Meskipun kedua pemuda itu masih belia dan minim pengalaman, mereka bukan orang bodoh. Mereka sadar bahwa ilmu kepandaian lawannya sangat tinggi dan mereka bukan tandingannya. Karena itu, mereka menghentikan gerakan. "Siapa Tuan sebenarnya?" tanya kedua pemuda itu.
Melihat keduanya bisa membaca situasi, I Ki Hu tidak mendesak lebih jauh. Ia tertawa terbahak-bahak.
"Siapa pun aku, apa urusannya? Apakah ada orang yang tidak diizinkan mengunjungi keluarga Sang?" ucap I Ki Hu.
Sang Cin tersenyum ramah. "Harap Cianpwe tidak salah sangka. Kakek pernah berpesan bahwa ada beberapa orang yang dikecualikan."
"Siapa saja orang-orang yang dikecualikan itu?" tanya I Ki Hu.
"Salah satunya, Bok Cin Sian Siang dari Gunung Bu Tong," sahut Sang Cin.
I Ki Hu mendengus dingin. "Mengapa si Tua Bangka itu bisa memandang tinggi si Hidung Kerbau itu?"
"Ada lagi Bu Kong Taisu dari Gunung Ngo Tay," kata Sang Cin kembali.
Mendengar Sang Cin berturut-turut menyebut dua tokoh yang sangat disegani di dunia persilatan, namun namanya sendiri tidak disebutkan, wajah I Ki Hu mulai menyiratkan kemarahan.
"Siapa lagi?"
Sang Cin dan Sang Hoat saling pandang sejenak. "Yang satunya lagi, tentu Tuan sendiri!"
I Ki Hu tahu kata-kata itu hanyalah upaya kedua pemuda tersebut untuk mengambil hatinya. Namun, ia senang melihat kecerdasan mereka.
"Apakah kalian tahu siapa aku?" tanya I Ki Hu. Kedua pemuda itu tersenyum lagi. "Langsung menyebut nama di hadapan orang yang lebih tua adalah hal yang tidak sopan."
"Jika kalian memang tidak tahu, untuk sementara aku juga tidak akan memberitahukan. Cepat antarkan kami menemui kakekmu!"
Wajah keduanya tampak bimbang sejenak, namun segera pulih kembali. "Baiklah. Harap Tuan mengikuti kami!"
I Ki Hu bukan tokoh sembarangan. Meskipun perubahan wajah kedua pemuda itu hanya sekilas, ia sudah menduga mereka akan menggunakan akal licik. Namun, ia hanya tertawa dingin. Sambil membimbing Tao Ling, ia mengikuti Sang Cin dan Sang Hoat dari belakang tanpa tergesa-gesa.
Tak lama, mereka sudah berjalan sejauh satu li. Tiba-tiba, Sang Cin dan Sang Hoat berbelok ke kiri dari jalan besar menuju jalan setapak. Jalan itu berkelok-kelok, dan setelah berjalan beberapa depa, tampaklah hutan bambu di depan mereka.
Pohon bambu di sana tidak banyak, tetapi batangnya besar dan lurus. I Ki Hu terus mengikuti. Baru melangkah dua kali, ia merasakan sesuatu yang janggal. Di sekelilingnya hanya terlihat batang bambu berwarna hijau, dan mereka kehilangan arah.
I Ki Hu yakin batang-batang bambu itu disusun sesuai dengan pola barisan tertentu. Mengingat kedua pemuda ingusan itu menjebaknya, I Ki Hu merasa geli.
"Bocah-bocah busuk, ke mana perginya kalian?" ucap I Ki Hu pura-pura marah.
Terdengar suara Sang Cin menyahut, "Ilmu kepandaian Tuan sungguh mengejutkan. Mengapa tidak berusaha menemukan kami?"
Hati I Ki Hu merasa geli sekaligus jengkel. Tanpa suara, ia memutari batang-batang bambu tersebut sambil mengerahkan tangannya untuk mengerat batang-batang bambu itu satu per satu.
Tak lama kemudian, seluruh batang bambu di dalam hutan itu telah terkerat. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Begitu tawanya berhenti, sepasang lengan bajunya mengibas, dan puluhan batang bambu tumbang diterpa angin kencang. Terdengar suara gemuruh, dan dalam sekejap, hutan itu tampak porak-poranda seperti baru saja diguncang gempa.
Rupanya, saat mengerat bambu tadi, I Ki Hu mengerahkan tenaga untuk memutus akar yang tertanam di bawah tanah. Begitu dikibas, otomatis seluruh bambu tumbang.
Suara gemuruh itu mengejutkan Sang Cin dan Sang Hoat. Mereka tidak menyangka tenaga dalam I Ki Hu sehebat itu. Sebelum mereka sempat bereaksi, bayangan berkelebat cepat. I Ki Hu mengulurkan tangan dan mencengkeram leher baju kedua pemuda itu. Wajah mereka pucat pasi karena barisan Telaga Bambu kebanggaan keluarga mereka ternyata hancur dalam sekejap.
I Ki Hu tertawa bangga. "Ibarat jangkrik hendak menghadang kereta. Ternyata kalian berani menjebakku. Ini namanya mencari penyakit sendiri."
Sembari berkata, I Ki Hu mengerahkan tenaga dalam. Tubuh Sang Cin dan Sang Hoat melayang sejauh dua depa, lalu terbanting ke tanah dengan wajah lebam.
Untungnya, kedatangan I Ki Hu bukanlah untuk mencari permusuhan, sehingga ia tidak berniat mencelakai mereka. Seandainya ia mengerahkan tenaga lebih banyak, tentu kedua pemuda itu sudah tewas seketika.
Sang Cin dan Sang Hoat berusaha bangun. Namun, baru saja mereka duduk tegak, I Ki Hu sudah melayang turun di hadapan mereka. Dalam keadaan gugup, mereka mencoba melawan dengan mencabut gantulan yang terselip di pinggang dan menghantamkannya ke arah I Ki Hu.
Sekali lagi I Ki Hu tertawa, tubuhnya berkelebat, dan sepasang tangannya menjulur. *Bret! Bret!* Kedua gantulan itu sudah berada dalam genggamannya. Ia telah mengerahkan tenaga murni ke telapak tangannya, sehingga gantulan itu memantul balik dan tepat mengenai wajah Sang Cin dan Sang Hoat.
Keduanya memekik kesakitan dengan hidung dan bibir berdarah. Sang Cin dan Sang Hoat tidak sanggup lagi melawan. I Ki Hu membentak dan menerjang kembali, namun dari arah belakang terdengar seseorang berteriak, "Jangan turunkan tangan keji!"
Seseorang melesat datang. I Ki Hu tetap mencengkeram lengan Sang Cin dan Sang Hoat sebelum akhirnya menoleh. Tampak dua pria setengah baya dan seorang wanita berusia empat puluhan berdiri dengan wajah terkejut.
I Ki Hu tahu mereka adalah keturunan Sang Hao, maka ia tertawa dingin. "Aku datang dengan maksud baik mengunjungi Sang Hao. Tetapi kedua bocah ini kurang ajar karena mengurungku dalam barisan bambu. Aku hanya memberi mereka pelajaran agar mereka tahu bahwa di atas gunung masih ada gunung."
Wajah wanita setengah baya itu menyiratkan kepanikan. "Apa yang dikatakan Tuan memang tidak salah. Kedua bocah ini memang nakal dan pengetahuannya cetek. Mereka punya mata tapi tidak bisa melihat Gunung Tai. Akibatnya malah menimbulkan kesulitan bagi Tuan." Wanita itu kemudian mendelik ke arah Sang Cin dan Sang Hoat, "Kalian berdua, cepat minta maaf kepada Cianpwe ini!"