Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat - Chapter 61

Memuat...
Peninggalan Pusaka Keramat

Chapter 61

"Piau moay, bahkan namanya saja kau belum tahu, masa kau sudah ingin menceritakan urusan ini kepadanya?" kata salah satu laki-laki itu lagi.

I Ki Hu mendengar pembicaraan yang berlangsung di antara mereka. Diam-diam hatinya menjadi penasaran. Dia berpikir, kalau mendengar nada bicara mereka, tampaknya telah terjadi sesuatu yang luar biasa dalam keluarga Sang, sementara keluarga Sang ingin menutupi kejadian ini dari orang luar.

Setelah berpikir sejenak, I Ki Hu tahu bahwa ilmu kepandaian si kakek berambut putih, Sang Hao, sangat tinggi. Apalagi anggota keluarga Sang semuanya mengerti ilmu silat; bahkan ada beberapa yang merupakan jago kelas satu. Seandainya ada seseorang yang bisa menimbulkan masalah di keluarga Sang, I Ki Hu benar-benar tidak sanggup membayangkan siapa orang itu.

"Entah siapa nama Tuan tamu yang mulia?" tanya perempuan itu.

"Cayhe she I, tinggal di Lembah Gin Hua, wilayah barat."

Kedua laki-laki dan perempuan setengah baya itu terkejut setengah mati. Wajah mereka langsung pucat pasi. Bahkan tanpa disadari, mereka menyurut mundur dua langkah. Apalagi Sang Cin dan Sang Hoat, wajah keduanya persis seperti mayat hidup.

I Ki Hu menyunggingkan seulas senyuman tipis. Setiap ada orang yang mendengar namanya langsung memperlihatkan perasaan terkejut, baginya itu merupakan sebuah kebanggaan.

"Kalian bertiga tidak perlu takut. Kedatangan cayhe tidak mengandung maksud jahat," ujar I Ki Hu. Mimik wajah perempuan itu yang paling cepat pulih kembali, tetapi masih memperlihatkan sedikit ketegangan.

"Entah ada keperluan apa I sian sing mengunjungi kami? Tadi kedua putra kami berbuat kesalahan, harap I sian sing dapat memaafkan..."

I Ki Hu tidak memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk menyelesaikan kata-katanya. Dia melirik sekilas kepada Sang Cin dan Sang Hoat. Wajah kedua pemuda itu tampak semakin tidak enak dilihat.

"Orang yang tidak tahu, tidak bersalah. Kalian tidak perlu khawatir."

Perempuan setengah baya itu memang putri si kakek berambut putih Sang Hao, namanya Sang Ling. Begitu mendengar bahwa orang yang ada di hadapannya ternyata si Raja Iblis Gin Leng Hiat Dang, I Ki Hu, rasa terkejutnya benar-benar tidak terkirakan. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Dia benar-benar mengkhawatirkan keselamatan kedua putrinya. Ia juga tahu watak I Ki Hu yang senang orang bersikap rendah di depannya, maka dari itu cepat-cepat dia meminta maaf. Setelah mendengar jawaban I Ki Hu, hatinya baru merasa lega.

"Seandainya dari tadi kami tahu bahwa tamu yang berkunjung adalah I sian sing, seharusnya kami segera mengadakan penyambutan, tetapi sayangnya... keluarga Sang sedang tertimpa musibah..."

"Sebetulnya apa yang terjadi? Dapatkah kau mengatakannya kepada cayhe?"

"Ayah... Sang Hao sudah meninggal beberapa hari yang lalu."

Mendengar keterangan Sang Ling, tanpa dapat ditahan lagi bibir I Ki Hu mengeluarkan seruan terkejut. Seandainya orang lain yang mendengar berita itu, biarpun terkejut, tidak akan seperti keadaan I Ki Hu saat itu. Orang lain pasti bisa menduganya karena usia Sang Hao memang sudah lanjut. Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi sekali, setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Namun bagi I Ki Hu berbeda. Dari semua jejak yang telah berhasil ditelusuri, dia sudah menduga bahwa telah terjadi sesuatu dalam keluarga Sang. Karena itu pula, ketika mendengar cerita Sang Ling tentang kematian ayahnya, ia sudah membayangkan bahwa orang tua itu mati tidak wajar. Pasti ada sesuatu yang luar biasa.

Hal yang membuat I Ki Hu terkejut justru karena kepandaian Sang Hao yang sudah sangat tinggi. Bukankah aneh apabila seseorang yang ilmunya demikian tinggi bisa mati secara mendadak tanpa mengalami penyakit apa pun? Bukankah aneh apabila orang yang kepandaiannya demikian tinggi bisa mati tidak wajar?

"Bagaimana Lo Sang menemui kematiannya? Dapatkah kau menceritakannya?" tanya I Ki Hu setelah perasaan terkejutnya reda.

Sang Ling melirik sekilas kepada I Ki Hu. Sepertinya dia merasa heran mengapa orang itu bisa menduga ada yang tidak wajar pada kematian ayahnya. Dia menarik napas panjang.

"Sebetulnya memalukan kalau cerita ini tersebar di luaran, Ayah... mati karena ter...kejut."

I Ki Hu yang mendengarnya benar-benar merasa di luar dugaan. Dia malah mengira pendengarannya yang salah.

"Mati terkejut?" Diam-diam hatinya berpikir, entah urusan apa di dunia ini yang dapat membuat si kakek berambut putih Sang Hao demikian terkejutnya sehingga menemui kematian.

"Tidak salah," sahut Sang Ling. "Meskipun saat itu Ayah tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun, kami melihat dengan jelas mimik wajahnya yang menyorotkan perasaan terkejut. Kemudian langsung mati. Di sini bukan tempat bicara yang leluasa, I sian sing. Bagaimana kalau I sian sing dan I hu jin mampir sebentar di tempat kediaman kami?"

Sebetulnya kedatangan I Ki Hu mempunyai tujuan tersendiri. Namun setelah mendengar berita dari Sang Ling bahwa ayahnya mati karena terkejut, timbullah perasaan ingin tahu di dalam hatinya. Dia pun mengesampingkan dulu urusannya sendiri.

"Baik!" Dengan membimbing Tao Ling, dia mengikuti di belakang Sang Ling dan kedua lelaki tadi menuju gedung kediaman keluarga Sang.

Setelah berjalan kurang lebih setengah li, tampak sebidang tanah yang luas sekali. Di atasnya ada bangunan besar dengan atap merah dan tembok yang tinggi. Mereka masuk melalui pintu gerbang besar yang terbuat dari besi. Di dalamnya berjejer-jejer rumah dengan ukuran yang berbeda. Mereka menuju gedung yang terletak di tengah-tengah. Bentuknya paling besar dan berloteng.

Begitu masuk ke dalamnya, mereka langsung berhadapan dengan sebuah ruang tamu. Tuan rumah, Sang Ling, segera mempersilakan para tamunya duduk.

"Tentunya I sian sing merasa heran mengapa Ayah bisa mati terkejut, bukan?"

"Ini merupakan berita teraneh yang pernah kudengar." Dia memalingkan kepalanya kepada Tao Ling. "Hu jin, benar tidak?"

Tao Ling menemui berbagai kejadian yang tidak terduga, belakangan dia malah menjadi istri I Ki Hu. Sebetulnya tidak ada hal apa pun yang membangkitkan minatnya lagi. Tetapi mendengar berita kematian Sang Hao, sedikit banyaknya perasaan ingin tahunya tergugah juga. Karena itu, dia pun menganggukkan kepalanya. "Benar-benar kejadian yang aneh," gumam Tao Ling.

"Kalau mempertimbangkan biang bencana ini, seharusnya kesalahan ditujukan kepada Kuan Hoang Siau dan pasangan suami istri Lie Yuan!" ucap Sang Ling.

I Ki Hu bertambah bingung.

"Nama ketiga orang ini di dunia kang ouw memang cukup terkenal, tetapi tidak mungkin sampai Lo Sang mati terkejut karenanya," gumam I Ki Hu.

"Di sinilah letak keanehan kejadian ini. Kalau ingin cerita yang lebih jelas, kami harus memulainya dari setengah bulan yang lalu. Malam itu, tiba-tiba ada seseorang yang tubuhnya penuh berlumur darah menerjang masuk ke tempat tinggal kami ini. Ketika sampai di dalam, napasnya tinggal satu-satu."

"Siapa orang itu?" tanya I Ki Hu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment