Halo!

Peninggalan Pusaka Keramat - Chapter 63

Memuat...
Peninggalan Pusaka Keramat

Chapter 63

Sekejap kemudian, terdengarlah suara jeritan histeris laki-laki itu, disusul suara "Bluk!" seperti benda berat yang jatuh. I Ki Hu pun tertawa dingin.

"Sudah tahu kehebatanku?" katanya sinis.

Rupanya ketika jari tangan I Ki Hu sudah berhasil menjepit pisau tadi, ia segera mengerahkan tenaga dalamnya ke ujung jari. Pisau itu pun terpental, berbalik, dan menghunjam ke orang itu sendiri. Benar-benar senjata makan tuan.

Kali ini terdengarlah suara bising berkumandang dari atas. Mereka terkejut sekali melihat kelihaian I Ki Hu.

"Cepat pergi! Dia toh sudah terkurung di dalam bangunan ini. Cepat atau lambat dia pasti mati kelaparan," seru seseorang dari keluarga Sang.

Orang-orang itu bergegas meninggalkan atap bangunan. Mereka tidak memedulikan I Ki Hu lagi. Tangan I Ki Hu yang sebelah menelusup ke dalam saku, kemudian menyusup kembali ke dalam celah lubang angin lalu mengibas. Saat itu juga terdengar suara pekik kesakitan, disusul suara "Bak! Buk! Bak! Buk!" seperti benda jatuh. Rupanya barusan ia menyambitkan sejumlah senjata rahasia dan beberapa orang menjadi korban. I Ki Hu tersenyum puas, tubuhnya pun melayang turun kembali.

Tampak Kuan Hong Siau memandanginya sambil menarik napas panjang.

"Kepandaian Saudara seperti dewa," kata Kakek Kuan.

"Apakah kau bisa menghitung berapa orang yang menjadi korban senjata rahasiaku tadi?" tanya I Ki Hu dengan tawa datar.

Kuan Hong Siau ikut tertawa. "Yang jatuh dari atas saja ada sembilan orang, mungkin ada yang mati sebelum sempat melompat turun," jawabnya.

I Ki Hu merasa bangga sekali; ia meremas-remas tangannya sambil tertawa senang.

"Tampang Saudara gagah sekali. Ilmu kepandaian pun mengejutkan. Apalagi orang-orang dari keluarga Sang tadi memanggil Anda I Sian-sing. Jangan-jangan Saudara ini yang mendapat julukan Gin Leng Hiat Ciang, I Ki Hu?"

"Tidak salah. Sahabat Kuan, tidak disangka kita bisa bertemu di tempat seperti ini, bukan?"

"Memang benar-benar tidak disangka," ucap Kuan Hong Siau dengan tawa getir.

Kuan Hong Siau adalah seorang pendekar dari golongan lurus dan berjiwa besar. Ia paling membenci segala macam kejahatan. Sebetulnya wataknya bertolak belakang dengan I Ki Hu, tetapi justru tidak terduga mereka bisa terkurung dalam ruangan yang sama.

"Sahabat Kuan, mengapa pasangan suami istri Lie Yuan bisa tertotok jalan darahnya? Dan sebetulnya bagaimana cara Sang Hao menemui kematiannya? Dapatkah kau menjelaskannya dengan terperinci?" tanya I Ki Hu.

"Baik," sahut Kuan Hong Siau.

Ia langsung menceritakan kedua peristiwa yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri. I Ki Hu mendengarkan dengan penuh perhatian. Kenyataannya, apa yang ia dengar dari Kuan Hong Siau tidak banyak bedanya dengan cerita yang pernah ia dengar dari orang lain.

I Ki Hu merenung sejenak setelah cerita Kuan Hong Siau selesai.

"Kalau begitu, Lo Sang secara tidak langsung dibunuh oleh perasaan terkejutnya ketika mengetahui siapa yang menotok jalan darah pasangan suami istri Lie Yuan?" tanyanya kemudian.

"Cayhe juga mempunyai pendapat yang sama. Tempo hari ketika pertama kali Sang Cu Ce melihat totokan yang terdapat di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan, wajahnya langsung berubah hebat. Tetapi rasa terkejut yang diperlihatkan oleh Sang Cu Ce berbeda maknanya dengan rasa terkejut yang dialami Sang Hao. Dalam anggapan Sang Cu Ce, ilmu totokan keluarga Sang terkenal di dunia bulim, tetapi kenyataannya dia tidak tahu jalan darah mana di bagian tubuh pasangan suami istri Lie Yuan yang tertotok. Belum tentu dia tahu siapa orang yang melakukannya. Bagaimana menurut pendapat Saudara?"

"Betul. Tetapi sekali lihat saja, Lo Sang sudah mengenali siapa pelakunya. Karena itu, saking terkejutnya, jantungnya jadi putus seketika. Tampaknya sahabat yang melakukannya patut bangga juga karenanya. Coba, aku ingin melihatnya, siapa tahu aku akan mengikuti jejak Lo Sang?" kata I Ki Hu dengan maksud bergurau.

Sembari berkata, bibirnya menyunggingkan senyuman. Ia berjalan menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan yang terbaring di lantai, kemudian membungkukkan tubuhnya untuk memeriksa dengan teliti. Padahal senyuman yang menghiasi bibirnya wajar sekali, namun setelah memperhatikan keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, senyumannya langsung terpaku. Mimik wajahnya jadi aneh sekali; mirip seseorang yang sedang tersenyum tetapi tiba-tiba tertotok jalan darahnya sehingga tetap seperti semula tapi kaku.

Kuan Hong Siau yang melihat keadaan itu jadi bingung. Ia mengantarkan pasangan suami istri Lie Yuan ke Si Cuan ini sebetulnya dengan niat baik karena ia sendiri tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu. Begitu sampai di kediaman keluarga Sang, si Kakek berambut putih yang melihat keadaan pasangan suami istri Lie Yuan langsung mati terkejut. Hal ini menimbulkan kemarahan anggota keluarga Sang lainnya, sehingga mereka terlibat pertarungan sengit. Karena seorang diri menghadapi begitu banyak anggota keluarga Sang yang semuanya berilmu cukup tinggi, dirinya sampai terluka di sana-sini hingga akhirnya mereka dikurung dalam ruangan batu ini.

Hati Kakek Kuan memang merasa heran. Mengapa tokoh seperti Sang Hao yang menguasai kepandaian tinggi, namanya sudah demikian terkenal di dunia kang-ouw, dan mempunyai pengetahuan yang luas bisa mati terkejut begitu melihat totokan di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan? Sekarang, melihat mimik wajah I Ki Hu, ia semakin kebingungan. Diam-diam hatinya sadar bahwa I Ki Hu pasti sudah mengetahui siapa orang yang menotok jalan darah di tubuh pasangan suami istri Lie Yuan.

Lagipula, nama orang penotok jalan darah itu bisa membuat Gin Leng Hiat Ciang begitu terkejut sehingga wajahnya pucat pasi. Entah siapa tokoh yang misterius itu?

Keheranan di hati Kuan Hong Siau jangan ditanyakan lagi. Ia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di balik semua ini. Tampak I Ki Hu merenung sekian lama; senyuman di wajahnya baru dikembangkan kembali, tetapi tampaknya terlalu dipaksakan. Sepasang tangannya menyilang di depan dada. Di dalam ruangan batu itu, ia berjalan mondar-mandir, seakan-akan sedang memikirkan persoalan yang amat rumit.

Sampai lama sekali, masih belum terdengar I Ki Hu mengucapkan sepatah kata pun.

"Apakah I Sian-sing sudah mengenali siapa orangnya yang menotok jalan darah mereka?" tanya Kuan Hong Siau yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa ingin tahunya.

I Ki Hu hanya mendehem satu kali sebagai jawaban.

"Kalau begitu, tentu I Sian-sing dapat membebaskan totokan mereka, bukan?" tanya Kakek Kuan kembali.

Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki I Ki Hu langsung terhenti. Sepasang matanya menyorotkan sinar yang dingin. Dari alisnya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. Ia menatap Kuan Hong Siau lekat-lekat. Mendapat tatapan sedemikian rupa, tanpa disadari tubuh Kuan Hong Siau bergetar hebat.

"Sahabat Kuan, kau toh tidak mungkin keluar lagi dari ruangan batu ini. Untuk apa kau masih memikirkan hidup?" ucap I Ki Hu dengan nada suara dingin.

Seumur hidupnya, Kuan Hong Siau tidak pernah meninggalkan dunia bulim. Terhadap ucapan I Ki Hu barusan, ia mengerti bahwa dirinya tidak akan luput dari kematian. Tetapi hatinya justru merasa heran mengapa tiba-tiba saja timbul niat jahat dalam hati I Ki Hu kepadanya? Apalagi barusan sikap yang diperlihatkan si Raja Iblis itu baik-baik saja dan tidak terkandung kesan akan mencelakainya.

"Orang she Kuan ini sudah lama hidup di dunia. Kematian bukan suatu hal yang menakutkan. Tetapi cayhe justru ingin tahu mengapa tiba-tiba timbul keinginan membunuh di hati Saudara?" tanya Kuan Hong Siau dengan tawa getir.

"Kau memang tidak malu disebut laki-laki sejati. Terus terang saja aku katakan kepadamu bahwa aku tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu. Tetapi aku justru tidak ingin hal ini diketahui orang-orang bulim. Jangan sampai ada yang tahu bahwa dengan kepandaian yang kumiliki, ternyata masih ada hal yang tidak sanggup kulakukan. Karena itu pula, aku tidak akan membiarkan ada mulut yang hidup."

Hati Kuan Hong Siau tercekat. Diam-diam ia berpikir bahwa nama buruk si Raja Iblis itu ternyata bukan nama kosong. Hanya karena alasan yang sederhana, ia tidak segan melakukan pembunuhan. Setelah termangu-mangu sejenak, Kuan Hong Siau tertawa sumbang.

"Kalau begitu, harap I Sian-sing turun tangan saja!" ucap Kakek Kuan.

Tiba-tiba tubuh I Ki Hu berkelebat ke depan. Lengan bajunya mengibas tepat di jalan darah terpenting bagian dada Kuan Hong Siau. Orang tua itu juga sadar dirinya sudah terluka parah dan percuma saja menghindar. Karena itu, ia memejamkan matanya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Begitu jalan darah di dadanya terkena kibasan lengan baju I Ki Hu, orang tua itu pun terkulai jatuh dan mati seketika.

I Ki Hu tertawa seram, kemudian ia berjalan ke arah pasangan suami istri Lie Yuan. Langkahnya perlahan tapi pasti.

Sejak masuk ke dalam ruangan batu, kecuali seruan terkejut tadi, Tao Ling tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika ia melihat I Ki Hu menghampiri pasangan suami istri Lie Yuan, hatinya langsung tercekat. Kedua orang itu bagaimanapun merupakan orang tua Lie Cun Ju.

Entah di mana sekarang Lie Cun Ju berada. Tetapi selama Tao Ling masih hidup, ia tidak ingin bertemu lagi dengan pemuda itu. Sekarang kedua orang tua Lie Cun Ju sedang menghadapi kesulitan, tentu saja ia tidak bisa berdiam diri tanpa memberikan pertolongan apa-apa.

"Hu-kun, tunggu dulu!" seru Tao Ling tanpa sadar. I Ki Hu menolehkan kepalanya.

"Apakah Hu-jin ingin memintakan pengampunan bagi kedua orang ini?" katanya.

Tao Ling maju selangkah. "Sekarang jalan darah mereka sudah tertotok, mengapa Hu-kun masih ingin menurunkan tangan jahat?" ujar Tao Ling.

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak. "Hu-jin tidak tahu, orang yang menotok jalan darah mereka mempunyai hati yang keji sekali, bahkan jauh lebih keji daripadaku. Seandainya mereka dapat berbicara, tentu mereka memilih mati daripada tersiksa sedemikian rupa. Apabila aku turunkan tangan jahat kepada mereka, sama halnya aku melepaskan mereka dari kesengsaraan. Di alam baka, arwah mereka malah akan berterima kasih atas budiku ini."

Tao Ling terdiam mendengar kata-katanya. I Ki Hu melanjutkan kembali, "Tetapi aku harus membebaskan dulu jalan darah mereka agar bisa menjawab beberapa pertanyaanku."

Tao Ling terkejut sekali. "Aih... bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak sanggup membebaskan jalan darah mereka?"

"Aku memang tidak bisa membebaskan jalan darah mereka. Tetapi aku bisa menggunakan semacam cara untuk mengedarkan hawa murni tubuh mereka, lalu memutuskan seluruh urat nadi dalam tubuh. Dengan demikian, totokan di bagian mana pun bisa lancar kembali," tukas I Ki Hu. Tao Ling memang gadis yang cerdas, ia langsung memahami maksud I Ki Hu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment