Chapter 68
"Tao Kongcu, tidak perlu kau teruskan lagi kata-katamu. Pokoknya, aku tidak akan meninggalkan kau begitu saja."
Sekali lagi, wajah Tao Heng Kan menyiratkan keharuan yang tidak terkatakan. Dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan I Giok Hong erat-erat.
"I Kouwnio, suatu hari kelak, apabila aku sudah bisa memutuskan sendiri apa yang akan kulakukan, aku tentu tidak akan melupakanmu."
I Giok Hong tahu kata-kata yang diucapkan Tao Heng Kan ada kaitannya dengan penemuannya yang janggal. Dia yakin Tao Heng Kan akan menceritakan semuanya, karena itu dia tidak ingin mendesaknya sekarang juga. "Tao Kongcu, mengapa kau bicara seperti itu?" I Giok Hong mendongakkan kepalanya. Tampak sepasang mata Tao Heng Kan sedang menatapnya lekat-lekat. Dari sinar mata pemuda itu terpancar berbagai perasaan. Tanpa disadari, jantung I Giok Hong berdegup kencang. Wajahnya memerah padam, dia merasa ada perasaan ganjil menyelinap dalam hatinya.
Kedua orang itu berdiri saling berhadapan dan bergenggaman tangan untuk beberapa saat.
"I Kouwnio, menurutmu arah mana yang harus kita ambil?" tanya Tao Heng Kan setelah melepaskan genggaman tangan gadis itu.
I Giok Hong mendongakkan kepala memperhatikan sungai di depannya. Tampak air sungai mengalir deras. Permukaannya lebar dan di sekitarnya tidak tampak perahu satu pun. Meskipun orang memiliki ilmu *Gin Kang* yang tinggi dan jago berenang, tidak mudah menyeberangi sungai itu. Rasanya siapa pun yang menculik Lie Cun Ju tidak menyeberangi sungai itu.
"Tao Kongcu, kita terpaksa mengadu nasib saja!" Jari tangan I Giok Hong menunjuk ke sebelah kanan. "Kita ambil arah kanan saja!"
"Baik," sahut Tao Heng Kan.
Mereka pun turun ke sungai dan mengambil arah kanan. Baru saja tubuh mereka masuk ke dalam air, tiba-tiba terdengar suara deburan keras, air sungai bergelombang dan beriak-riak. Kemudian, tampak dua sosok makhluk muncul dari dalam sungai.
Salah satu di antaranya memiliki tubuh tinggi besar, begitu kekar hingga hampir menyerupai raksasa. Sekilas, makhluk itu tampak seperti manusia, tetapi jika diperhatikan dengan saksama, sebenarnya bukan. Ia sejenis makhluk aneh; monyet bukan, orang hutan pun bukan. Tubuhnya penuh dengan bulu berwarna hitam, hidungnya mendongak ke atas, dan mulutnya merah seperti bersimbah darah. Tampangnya benar-benar menakutkan.
Tampak makhluk aneh itu memanggul seseorang, dan orang yang dipanggulnya ternyata Lie Cun Ju yang sedang dicari-cari oleh Tao Heng Kan. Yang satunya tampak seperti seorang pendeta berjubah kuning. Begitu keluar ke permukaan air, pendeta itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha makhluk aneh tersebut. Makhluk itu pun mengeluarkan suara, "Ho... ho... ho... ho...!", seperti tertawa, namun terdengar menggidikkan bulu roma.
Pendeta itu mengulurkan tangan dan menurunkan tubuh Lie Cun Ju, kemudian menepuk punggung pemuda itu keras-keras. Lie Cun Ju langsung mengeluarkan suara, "Hoakkk!", dan sejumlah air keluar dari mulutnya. Setelah itu, Lie Cun Ju membuka matanya.
"Siapa kau? Untuk apa kau membawa aku ke sini?" tanya Lie Cun Ju.
"Kau tidak perlu tanya siapa aku. Kalau aku tidak menolongmu, mungkin selembar nyawamu sulit dipertahankan," jawab pendeta itu sambil tersenyum.
Lie Cun Ju teringat berbagai peristiwa yang dialaminya selama satu bulan ini. Semua serba aneh dan hampir tidak masuk akal. Sejak dilukai oleh tiga iblis dari keluarga Lung, boleh dibilang dia tidak pernah melewati satu hari pun dengan tenang. Tanpa dapat ditahan lagi, dia menarik napas panjang, memejamkan mata, dan tidak berkata apa-apa lagi.
Setelah terluka oleh tiga iblis dari keluarga Lung, Lie Cun Ju dibawa oleh I Giok Hong ke wilayah barat. Namun baru setengah jalan, gadis itu merasa tidak memerlukannya lagi dan melemparkan tubuhnya yang sekarat di tengah jalan. Kemudian, dia ditolong oleh Leng Coa Sian Sing, lalu ditukar dengan lencana *Gin Leng Hiat Ciang* milik I Ki Hu, serta dibawa oleh I Giok Hong ke lembah Gin Hua Kok. Ketika I Ki Hu dan putrinya meninggalkan Gin Hua Kok, Seebun Jit yang yakin bahwa ia adalah putra sahabat lamanya, langsung membawanya ke kamar batu dan memaksanya tidur di atas batu *Ban Nian Si Ping*. Pada saat itu, Lie Cun Ju berpendapat bahwa untuk sementara dirinya bisa meresapi ketenangan.
Tidak disangka-sangka, tak lama setelah Seebun Jit keluar dari ruangan batu, terdengarlah suara "Krek!".
Pada saat itu, Lie Cun Ju sedang memejamkan mata beristirahat. Hatinya mulai tenang melihat perhatian Seebun Jit terhadap dirinya, maka ketika mendengar suara itu, dia mengira Seebun Jit kembali lagi. Perhatiannya tidak tertarik, tetapi dia tetap mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya.
Tidak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki. Dia dapat merasakan seseorang sudah sampai di sampingnya. Perlahan-lahan dia membuka mata. Setelah melihat dengan jelas, tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Ternyata orang yang berdiri di sampingnya bukan lain adalah Tao Heng Kan yang membunuh kokonya di kediaman Kuan Hong Siau.
Tampak Tao Heng Kan berdiri di sampingnya dengan tangan menggenggam sebatang pedang. Matanya yang berkilauan menatap Lie Cun Ju lekat-lekat.
"Apa yang akan kau lakukan?" seru Lie Cun Ju sambil mencoba bangun.
Seperti merasa bersalah, Tao Heng Kan mengembangkan seulas senyuman. "Sahabat Lie, aku mendapat perintah dari suhu untuk mengajakmu menemuinya."
"Siapa gurumu? Mengapa dia ingin bertemu denganku?" tanya Lie Cun Ju keheranan.
Tao Heng Kan tidak memberikan jawaban. Dia mengulurkan tangan dan menotok jalan darah di pundak Lie Cun Ju. Pada dasarnya kepandaian Lie Cun Ju sudah musnah, setelah ditotok, dia semakin tidak bisa mengadakan perlawanan. Tao Heng Kan menghunus pedangnya, memondong tubuh Lie Cun Ju, dan membawanya keluar dari rumah batu itu.
Begitu menerjang ke luar, Tao Heng Kan langsung berhadapan dengan I Giok Hong. Ketika terjadi perkelahian sengit antara I Giok Hong dengan Tao Heng Kan, Lie Cun Ju masih dipondong oleh pemuda itu. Kemudian, Tao Heng Kan berhasil meloloskan diri. Lie Cun Ju hanya merasa dirinya dibawa ke dalam sebuah hutan kecil sebelum diletakkan di atas tanah. Entah berapa lama telah berlalu, dia baru mendengar suara pembicaraan.
Suara kedua orang itu dekat sekali dengannya, tetapi tubuh Lie Cun Ju tidak dapat bergerak sedikit pun sehingga dia tidak tahu siapa mereka.
Telinganya menangkap suara yang melengking dan menusuk gendang telinga. "Muridku, dengan susah payah kita baru berhasil mendapatkan tiga *Tong Tian Pao Hong* (Naga Pusaka Penembus Langit), mengapa kau sembarangan menggunakannya sebagai senjata rahasia? Seandainya aku tidak keburu datang, pasti tiga batang *Tong Tian Pao Hong* ini sudah jatuh ke tangan tiga iblis dari keluarga Lung atau tangan Leng Coa Sian Sing. Bukankah akan timbul kesulitan lainnya?"
Suara yang lain ternyata suara Tao Heng Kan. "Suhu, pada waktu itu keadaan terlalu mendesak. Aku pun tidak berpikir panjang lagi. Seandainya aku tidak menyambitkan tiga batang *Tong Tian Pao Hong* itu, nyawaku sendiri sulit dipertahankan, apalagi membawa orang ini menemuimu."
Lie Cun Ju mendengar kedua orang itu membicarakan *Tong Tian Pao Hong*, diam-diam hatinya tergerak. Entah di mana dia pernah mendengar cerita tentang apa yang dinamakan Naga Pusaka Penembus Langit itu. Namun, ingatannya tidak dapat tergugah. Rasanya seperti sebuah lambang, kode, atau bisa jadi nama sejenis senjata rahasia. Sampai letih Lie Cun Ju menguras pikirannya, ia masih tidak sanggup mengingat kembali benda apa yang disebut *Tong Tian Pao Hong* itu.
Telinganya kembali mendengar suara melengking tadi. "Tiga buah *Tong Tian Pao Liong* ini kudapatkan dari kedua orang tuamu. Kemudian aku mendapatkan satu lagi dari saku pakaian Li Po. Sekarang jumlahnya ada empat, berarti kurang tiga lagi. Ha... ha... ha...!"
Jawaban Tao Heng Kan singkat sekali. "Betul!"
"Sisa yang tiganya ada pada bocah ini. Kau harus mengawasinya baik-baik. Aku ada sedikit urusan sehingga harus pergi. Jangan sekali-sekali membiarkan bocah ini meloloskan diri!"
"Suhu tidak perlu khawatir!" jawab Tao Heng Kan.
Mendengar sampai di situ, hati Lie Cun Ju merasa heran. Dia dapat menduga bahwa 'bocah' yang dimaksud orang bersuara melengking itu pasti dirinya sendiri, dan orang itu ingin mendapatkan tiga buah *Tong Tian Pao Hong* darinya. Sebetulnya, benda apakah *Tong Tian Pao Liong* itu? Dia sendiri merasa bingung.
Namun, ada satu hal yang sudah dimengerti oleh Lie Cun Ju, bahwa kematian kokonya, Li Po, ternyata ada kaitannya dengan benda bernama *Tong Tian Pao Liong* itu.
Perasaan Lie Cun Ju bergejolak. Dia mendengar lagi orang itu berkata, "Kepergianku ini tidak tentu lamanya. Kau boleh membebaskan jalan darahnya, tetapi harus menjaga jangan sampai meloloskan diri, apalagi sampai mati!"
Tao Heng Kan mengiakan. Setelah itu, Lie Cun Ju tidak mendengar suara apa-apa lagi. Dia hanya merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang, dan seketika totokan di tubuhnya sudah bebas. Secepat kilat, Lie Cun Ju membalikkan tubuh. Kurang lebih sepuluh depa dari tempatnya berada, tampak sesosok bayangan tinggi kurus sedang melesat pergi bagai terbang. Gerakannya tidak menimbulkan suara sedikit pun sehingga mirip setan gentayangan. Sementara orang yang membebaskan jalan darahnya tidak lain adalah Tao Heng Kan.
Meskipun jalan darah Lie Cun Ju sudah terbuka, dia tidak mempunyai tenaga sedikit pun untuk melawan Tao Heng Kan. Matanya menatap pemuda itu dengan sinar kemarahan.
"Untuk apa kau membawa aku kemari?" tanya Lie Cun Ju.
Tao Heng Kan memperlihatkan senyum getir. "Sahabat Lie, aku sama sekali tidak ada niat mencelakaimu, kau tidak perlu khawatir!"
Lie Cun Ju mendengus dingin. "Kalau begitu, mengapa kau membunuh kokoku?"
Tao Heng Kan menarik napas panjang. Dia memalingkan kepala tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Lie Cun Ju melihat dirinya berada di atas sebuah bukit. Di sampingnya juga terdapat dua ekor kuda yang sedang memamah rumput.
Diam-diam Lie Cun Ju berpikir dalam hati, "Seandainya aku menggunakan kesempatan di saat orang itu tidak sadar dengan mencuri seekor kuda untuk melarikan diri, rasanya bisa juga."
Namun, berpikir sampai di situ, hatinya dilanda kegelisahan kembali. Biarpun bisa melarikan diri, ke mana tujuannya?