Chapter 04
Segera Tung Ci berteriak, dan serentak empat orang yang merupakan wakil-wakilnya bergerak cepat mengerahkan jurus-jurus terkuat dari Hang-Liong Sip pat Ciang yang mereka kuasai untuk menahan serangan Bu Tek Pian Sian Li tersebut. Terjadi bentrokan tenaga dalam yang singkat, namun itu sudah membuat kelima orang itu terpental mundur dengan mulut mengeluarkan darah segar. Semua orang segera sadar apa yang terjadi. Peta kekuatan terlalu besar, dan banyak yang mulai putus asa.
"Masih tidak mau menyerah, mau tunggu apa lagi?" Kembali terdengar suara dingin dari Thian Bu Tek. "Huh, siapa yang mau menyerah? Kau gembira kepagian, manusia pengkhianat!" Suatu suara yang merdu diiringi sesosok tubuh yang amat cantik bagaikan bidadari yang turun dari kayangan, entah lewat mana, telah berdiri di tempat itu. Gadis itu memiliki tubuh langsing dan wajah ayu. Dia tidak lain adalah Lian Gion Hui. Kali ini dia tidak memakai kerudung sehingga terlihat wajahnya yang amat cantik menawan itu, sedang tersenyum simpul. Melihat gadis ini, Thian Bu Tek terbelalak, sedangkan kedua iblis, Bu Tek To Kui dan Bu Tek Pian Sian Li, tertawa girang.
"Gadis liar, akhirnya kau muncul juga di sini, hah? Apakah orang yang kau tolong tempo hari itu sudah menjadi mayat? Pasti, pasti, karena tidak ada orang yang dapat bertahan lebih dari satu hari bila terkena racun kami yang mematikan?" Bu Tek Pian Sian Li bertanya dengan lagak sombong. "Hehehe, Bu Tek Pian Sian Li, kau mundurlah dulu, biar aku menangkap gadis ini untuk ketua," Bu Tek To Kui memotong pembicaraan mereka.
Giok Hui menjadi marah mendengar ini. Tanpa banyak bicara, segera ia melancarkan pedang lemasnya dan menyerang Bu Tek To Kui dengan dahsyat. Kepandaian Giok Hui sudah maju pesat dibandingkan tiga bulan yang lalu. Serangan-serangannya yang dahsyat dan mematikan sangat merepotkan Bu Tek To Kui sehingga mau tak mau ia harus mengeluarkan goloknya dan melayani gadis itu. Semua orang terkagum-kagum dan heran melihat gadis itu yang dapat menempur Bu Tek To Kui sama kuat. Diam-diam muncul setitik harapan di antara mereka untuk lolos. Tapi mereka melihat bahwa di sana masih ada Bu Tek Pian Sian Li, pemuda yang disebut ketua itu, serta para pengikutnya yang belum turun.
"Hihihihi, Setan Golok, sisakan lawan ini untukku saja, biar aku menjajalnya!" "Tunggu dulu, masih ada aku yang akan melayanimu, nenek jahat!..." Tiba-tiba di tempat itu juga telah berdiri seorang gadis lain yang tak kalah cantiknya dari gadis yang sedang menempur Bu Tek To Kui tersebut. Gadis ini memegang sebuah payung hitam pendek di tangannya, dan memandang Bu Tek Pian Sian Li sambil tersenyum. "Ayolah nenek peot, aku akan melayanimu bermain sebentar sebelum aku menghukum pengkhianat dan pencuri pusaka itu!" Sambil berkata demikian, tangan kirinya menunjuk ke arah Thian Bu Tek.
"Anak bau kencur kurang ajar, kau akan merasakan penderitaan yang tak akan habisnya! Hiiaaaaatt!?" Ctarrrrr"tarrrr." Nenek itu berkelebat menyerang kedua puluh tiga jalan darah di tubuh gadis itu yang bukan lain adalah Er Yong. Dahsyat sekali serangan tersebut. Namun Er Yong tidak gugup. Cepat ia lalu membentangkan payung kecilnya mengelilingi tubuhnya. Dalam satu gerakan saja, semua totokan itu dipatahkan dengan mudah, dan di lain saat ia telah memainkan Hok Mo Cap Sha Kiam Sut dengan payungnya. Pertempuran berlangsung seru antara keempat orang tersebut. Tanpa terasa seratus jurus berlalu. Baik Bu Tek To Kui maupun Bu Tek Pian Sian Li tak menyangka sama sekali jika kedua lawan mereka yang masih muda ini sanggup menandingi mereka. Walaupun sudah mengerahkan jurus-jurus tingkat tinggi mereka, namun tetap saja tidak bisa membuat perubahan.
Saat-saat menentukan Bu Tek To Kui mengerahkan ilmu Golok puncaknya yang sakti, tiba-tiba Lian Giok Hui bergerak dengan cara aneh. Tangan kirinya tiba-tiba memancarkan sinar biru terang, dan menghantam ke arah datuk itu yang tidak sempat menangkis dan langsung terpental ke belakang. Di saat yang sama, suara berputar bagai guntur menggelegar disertai terpaan angin aneh terdengar datang dari arah pertempuran Er Yong dan Bu Tek Pian Sian Li. Nenek sesat ini pun sudah sangat terdesak hebat sekali. "Ajian Lebur Samudra!" "Jurus Titisan Dewa Angin!" Terdengar suara Thian Bu Tek yang terkejut sekaligus gentar. Segera ia mencabut sepasang golok iblis di punggungnya dan melompat ke tengah-tengah pertarungan sambil berseru: "Minggir kalian, biar Golok Iblis yang menghadapi mereka!" Kedua datuk sesat itu sudah pernah merasakan kehebatan Sepasang Golok Iblis segera merangkak menjauhi pertempuran tersebut. Tampak wajah Thian Bu Tek berubah menjadi hitam semua dengan mata merah dan dengan gencar menyerang ke arah kedua gadis tersebut.
"Bagus, ternyata kaulah pencuri dan pengkhianat itu. Hari ini kau akan menerima balasanmu." "Heh, heh, heh, Golok ini sudah dikeluarkan, artinya hanya bisa disarungkan oleh tumbal darah kalian! Heaaaattt!?" Segera Thian Bu Tek berseru nyaring dan goloknya berkelebat cepat mengarah pada kedua gadis tersebut. Dalam waktu singkat saja mereka bertiga sudah terlibat pertempuran yang dahsyat dan aneh. Golok itu berputar-putar mengelilingi pemuda tersebut. Sedangkan sinar pedang dan payung serta pukulan-pukulan kedua gadis tersebut menggempur hebat dari jarak yang agak sedikit jauh. Dalam waktu singkat saja lima puluh jurus telah mereka lewati. Dan sebentar saja telah memasuki tahap puncak. Er Yong segera memindahkan pedang ke tangan kiri sambil memainkan jurus Titisan Dewa Angin, sementara tangan kirinya penuh dengan pengerahan Ajian Cakra Bayu yang dahsyatnya bukan kepalang. Sementara itu Giok Hui menyalurkan kekuatan Ajian Gelap Sewu di ujung pedangnya dan tangan kiri tetap mengerahkan kekuatan tertinggi dari Ajian Lebur Samudra.
Tanpa diberi aba-aba, kedua gadis itu seperti sehati saja, menyerang dari kedua sisi kanan dan kiri yang segera disambut oleh sepasang Golok Iblis yang mengaum-ngaum dahsyat. "Ziiing"..Ciiiit"..BLARRR?".BLAARRRR!" Pancaran sinar yang memekakkan telinga dan menyilaukan mata terjadi saat kekuatan-kekuatan tersebut beradu. Tampak dua sosok tubuh terlempar sambil memuntahkan darah segar. Dua gadis itu terluka parah. Sementara tubuh Thian Bu Tek juga tertanam dalam tanah sampai lutut.
"Hehehe, masihkah kalian hendak melawan?" Suara Thian Bu Tek terdengar sambil mengejek. "Huh, Golok Iblis yang jahat, sudah waktunya untuk dimusnahkan." Tiba-tiba terdengar suara yang lembut. Sesosok bayangan telah berdiri di hadapan Thian Bu Tek. "Siapa kau?" Tanyanya dengan marah. "Aku, aku datang untuk memusnahkan Golok Iblis, akhh, sayang aku sedikit terlambat." Pemuda yang bukan lain adalah Sian Lee itu menjawab dengan suara menyesal sambil memandang ke arah dua gadis tersebut yang memandang kepadanya dengan girang. "Lee-Koko!!!" Serempak mereka berseru hampir bersamaan. Sian Lee membalas menatap mereka berdua dengan tersenyum.
"Masih bisakah kalian bertahan sebentar?" Kedua gadis itu mengangguk perlahan. Sian Lee segera memandang lagi Thian Bu Tek di depannya itu dan berkata dengan suara lembut: "Sadarlah, dan berikan senjata itu untuk dimusnahkan. Pusaka itu akan berbahaya bagimu karena kau bukanlah pewaris sahnya. Jika kau tetap melanjutkan menggunakannya, kau akan hancur sendiri." "Huh, siapa kau yang berani memerintahku? Makan ini!" Tiba-tiba tangan Thian Bu Tek bergerak cepat melemparkan kedua senjata tersebut ke arah dada dan perut Sian Lee.
"AWAASSS?" Terdengar teriakan dari Er Yong yang khawatir, yang diikuti seruan tertahan dari Giok Hui serta para tokoh yang hadir. Jarak yang begitu dekat itu sangat sulit untuk menghindar sehingga tidak sampai satu detik kedua ujung golok itu telah menancap di dada dan perutnya. Semua orang menahan napas sambil menunggu. Namun aneh, tidak ada jeritan kesakitan dari mulut Sian Lee. Ketika semua orang memandang lebih teliti, mereka terkejut oleh suatu keanehan. Betapa tidak, kedua golok itu menembus sampai ke belakang tubuh pemuda itu tapi tidak membunuhnya. Justru saat itulah keluar asap hitam berbau amis yang sangat banyak dari tubuh pemuda tersebut tepat di tempat tembusnya kedua golok iblis itu.
Sesosok bayangan melesat memasuki arena dan langsung menyambar sepasang golok yang keluar dari tubuh Sian Lee sebelum ada seorang pun mencegahnya. Semua orang terkejut dan memandang penuh selidik. Mereka melihat seorang pria asing yang bertopi aneh telah berdiri di tengah-tengah panggung. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membenturkan kedua pusaka tersebut. Terdengar seruan nyaring dan kedua pusaka itu, yang telah berwarna putih, lenyap dari kedua tangannya. Saat asap hitam yang keluar dari tubuh Sian Lee lenyap, lukanya kembali seperti sedia kala, hanya tubuhnya saja yang berkeringat. Pria itu membalikkan tubuh dan menghadap Sian Lee. "Orang muda, aku adalah Paksi Pamungkas, julukanku Batara Angin Pencabut Nyawa. Aku mengejar murid murtad ini yang mencuri pusaka kami, dan berkat pertolonganmu kedua golok ini bahkan sudah dibersihkan unsur jahatnya oleh darah gaib."
"Darah Gaib? Aku tak mengerti, paman!" Tanya Sian Lee heran. "Itulah yang mengherankanku. Ilmu Darah Gaib adalah ilmu terlarang yang hanya diwarisi oleh para leluhur Kerajaan Atas Angin. Hem, apakah kau menguasai dua ilmu yang disebut Ajian Tapak Begawan Pamungkas dan Ajian Cakra Pancasona?" Kembali Paksi Pamungkas bertanya. "Benar, paman, aku menguasai kedua ilmu itu?" "Pantas, pantas. Ketahuilah anak muda, perpaduan kedua ilmu itu, bila sudah mencapai tingkat yang paling tinggi, akan membuat pemiliknya memiliki Ilmu Darah Gaib yang tanpa tanding. Banyak sekali kegunaan ilmu itu, kau harus hati-hati karena ilmu itu sangat dahsyat sekali." Sesudah itu pria tersebut berpaling mendekati Er Yong. "Suhu, aku tidak bisa bergerak, racun golok itu sangat hebat," Er Yong berkata pada pria itu.