Halo!

Pusaka Golok Iblis Dari Tanah Seberang - Chapter 02

Memuat...
Pusaka Golok Iblis Dari Tanah Seberang

Chapter 02

Menurut gurunya, Bu Tek To Kui dan Bu Tek Pian Sian Li saat ini adalah tokoh-tokoh tingkat atas yang kepandaian mereka masih setingkat di atas Lima Iblis dan Lima Siluman.

Saat dia memperhatikan pertarungan tersebut, dia mendapati bahwa pria yang dikeroyok itu hampir terdesak. Segera jiwa kependekarannya timbul untuk menolong. Maka, sambil mencabut pedang lemasnya, Giok Hui melayang ke tengah-tengah pertempuran dan menyerang Bu Tek Pian Sian Li dengan hebat.

Bantuan ini sungguh tak terduga oleh kedua iblis tanpa tanding tersebut, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan masuknya Giok Hui yang menyerang ganas sambil mengerahkan Thian Liong Sip Pat Kiam Sut yang dahsyat, keadaan berubah; kedua iblis itu akhirnya terdesak. Perlahan, namun pasti Bu Tek To Kui dan Bu Tek Pian Sian Li mulai tersudut. Mau tidak mau mereka akhirnya memilih untuk angkat kaki dari situ daripada membahayakan nyawa mereka.

"Terima kasih, Nona, bantuanmu sangat berarti bagi saya." Orang asing itu bersuara dan menjura dengan membungkukkan badan.

Giok Hui tertawa geli, karena suara orang tersebut sangat pelat. Dia mengamati, usia orang itu sekitar lima puluh tahun.

"Ah, Paman sebenarnya tidak perlu bantuan saya," Giok Hui memulai. "Eh, Paman, kau terluka?" Giok Hui segera maju untuk menolong pria yang dilihatnya memuntahkan darah segar itu.

"Tidak, kepandaian kedua orang itu sungguh sangat hebat," jawab pria itu. "Aku keracunan hebat. Untung Ajian Lebur Samudraku sudah kukusai sempurna; kalau tidak, aku pasti sudah mati dari tadi." Pria itu tersenyum, sementara di sela-sela bibirnya masih mengalir darah kental.

"Tapi buktinya Paman masih bisa berdiri," ujar Giok Hui. "Itu membuktikan bahwa racun mereka tidak berarti bagi Paman?"

"Akh," pria itu mendesah. "Sejak awal aku telah kecolongan. Aku mengira mereka orang baik sehingga tidak berprasangka, tapi mereka membokongku saat aku tidak siap. Sekarang nyawaku tidak lebih dari tiga hari lagi, maukah engkau menolongku?" Pria itu memandang Giok Hui dengan tatapan penuh harap.

"Baiklah, Paman, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Giok Hui.

"Aku akan mewariskan dua ilmu kepadamu, yaitu Ajian Lebur Samudra dan Ajian Gelap Sewu," kata pria itu. "Gunakanlah itu untuk mencari murid murtad yang membawa lari pusaka Kerajaan Atas Angin, yaitu Sepasang Golok Iblis. Kemudian, carilah sahabatku yang bernama Batara Angin Pencabut Nyawa. Kutahu dia masih hidup dan ada di daratan Tionggoan ini. Maukah kau?" Kembali pria itu menatap Giok Hui.

"Baik, Paman, aku bersedia." Mulai saat itu, selama tiga hari, pria itu tidak memberi kesempatan Giok Hui untuk istirahat kecuali makan. Setiap pagi dan malam dia menyalurkan tenaga dalam dari Ajian Lebur Samudra dan Ajian Gelap Sewu pada Giok Hui sehingga dia mendapat kemajuan yang hebat.

Hari keempat, Giok Hui berdiri di depan sebuah kuburan yang baru saja dibuatnya. Dia tidak tahu siapa laki-laki yang telah mengajarnya dua ilmu pukulan yang dahsyat itu. Bukannya dia tidak bertanya, tapi dia tidak diberi kesempatan bertanya. Perlahan kakinya berjalan meninggalkan kuburan itu. Arahnya tak tentu, namun hatinya saat itu sedang senang.

Hoa San Pai adalah partai yang terkenal selama ratusan tahun. Murid-muridnya banyak yang menjadi pendekar-pendekar pembela kebenaran. Banyak ilmu-ilmu warisan Hoa San Pai yang hebat-hebat telah dikuasai oleh banyak anak muridnya yang berbakat.

Hari itu suasana di puncak Hoa San Pai ini tampak lain. Mereka kedatangan banyak tamu. Kurang lebih lima puluhan orang. Namun, mereka bukan datang untuk berdamai, tapi memaksa Hoa San Pai untuk tunduk dan bergabung dengan Perkumpulan Golok Iblis. Nama ini adalah nama baru yang baru saja muncul. Dunia kangouw sama sekali tidak tahu dari mana munculnya perkumpulan ini. Yang jelas, bahwa satu bulan terakhir ini Hoa San Pai adalah yang kelima didatangi oleh Perkumpulan Golok Iblis dengan ancaman akan dimusnahkan jika tidak mau menurut.

Seorang pria tampan berjubah hitam berdiri di atas sebuah puncak menara. Dua golok yang aneh tersampir di punggungnya. Matanya berwarna merah memandang tak berkedip ke bawah. Tampak pertarungan berdarah sedang terjadi di bawah sana. Di kanan dan kirinya tampak bayangan dua tokoh sesat yang sangat sakti, yaitu Bu Tek To Kui dan Bu Tek Pian Sian Li. Dia tidak lain adalah murid murtad dari Kerajaan Atas Angin yang sedang dikejar oleh Batara Angin Pencabut Nyawa dan rekan-rekannya. Pemuda tersebut adalah Pangeran Ragakaca. Sebenarnya, Pangeran Ragakaca ini masih berdarah Tionggoan. Baik perawakan maupun penampilannya memang lebih mirip orang pribumi. Saat dia tiba dan mulai merajalela, dia bertemu dengan dua iblis mahasakti yang bersedia mewariskan ilmu-ilmu mereka padanya. Dia kemudian mengganti namanya menjadi Thian Bu Tek.

Ketua Hoa San Pai saat itu adalah Ceng Sin Cinjin. Berusia kurang lebih enam puluh tahun, dia sedang bersemedi saat serangan ini terjadi. Jadi, yang menyambut para perusuh ini hanyalah kedua sutenya, yaitu Ceng Hui Cinjin dan Ceng Tek Cinjin, bersama barisan andalan Chit Seng Tin (Barisan Tujuh Bintang) yang terkenal dari Hoa San Pai. Mayat-mayat bergelimpangan sangat mengerikan. Tampak Ceng Hui Cinjin dan Ceng Tek Cinjin mengamuk di antara para pasukan Golok Iblis yang telah membunuhi para anak murid mereka. Wajah mereka sedih. Tak disangka akan terjadi malapetaka seperti ini sementara Ciangbunjin mereka sedang bersemedi tiga bulan bersama dengan muridnya di tempat rahasia di balik gunung. Namun, apa mau dikata. Malapetaka datang secara tiba-tiba.

Hari itu, dunia kangouw menerima pengumuman yang dibawa oleh berita angin bahwa Hoa San Pai telah dihancurkan. Dan ini membuat dunia kangouw resah.

Satu minggu setelah itu, seorang pemuda tampan berbaju putih dengan rompi kulit harimau putih tampak berkelebat mendaki puncak Gunung Hoa San Pai tersebut. Siapa lagi kalau bukan Sian Lee. Setelah sampai di atas dia segera menuju ke belakang bangunan-bangunan yang sudah porak-poranda itu. Saat itulah, dari puncak berkelebat dua orang dengan cepat. Tampak dua orang yang berbeda usia di hadapannya. Yang satu seorang kakek yang sudah tua sekali, sedangkan yang satunya pemuda yang sebaya dengannya.

"Siancai... Siancai," suara kakek itu terdengar. "Orang muda, siapakah kau dan apa keperluanmu di sini?" Sian Lee mendengar suara kakek itu yang tenang bagai air. Dia kagum, orang tua ini pasti lihai sekali.

"Maafkan teecu, apakah siautee berhadapan dengan Locianpwe Ceng Sin Cinjin, Ciangbunjin Hoa San Pai yang mulia?"

"Benar, anak muda, tapi seperti yang kau saksikan sekarang, Hoa San Pai hanya tinggal nama lagi." Suara orang tua itu terdengar datar, mengandung nada kecewa yang amat sangat.

"Siautee turut berduka akan peristiwa ini, Locianpwe," ujar Sian Lee. "Siautee berjanji akan turut membantu menyelidiki siapa dalang semua ini." Sian Lee berhenti sejenak, setelah menarik napas panjang, dia melanjutkan, "Kedatangan siautee adalah mendapat bisikan Kakek Tanpa Nama untuk menyerahkan sesuatu pada Anda." Tangannya merogoh ke balik baju dan mengeluarkan sejilid kitab baru kepada Ceng Sin Cinjin.

"Ini adalah kitab Kim Tiauw Sian Kang (Tenaga Dewa Rajawali Emas) yang baru saja selesai siautee tulis kembali. Menurut Kakek Tanpa Nama, dari antara Sembilan Kitab Wasiat Dewa, ada empat kitab yang kurang beruntung sehingga terjatuh ke tangan golongan sesat. Dua di antaranya sudah siautee temukan jejaknya ketika bertarung dengan dua dari Lima Siluman Bumi. Nah, kitab ini mohon dijaga oleh Hoa San Pai dan diwariskan kepada yang berbakat."

"Siancai... Siancai," ucap Ceng Sin Cinjin. "Sembilan Kitab Wasiat Dewa adalah kitab yang tertinggi di dunia kangouw. Pantas saja siluman-siluman tersebut menjadi sangat lihai. Dan sekarang, hanya dengan melihat saja, sicu sudah dapat menuliskan kembali. Akh, orang tua itu sungguh memiliki penerus yang hebat." Sian Lee lalu memohon diri dari Ceng Sin Cinjin dan berkelebat dari tempat tersebut bagaikan asap saja.

Hal ini membuat Ciangbunjin Hoa San Pai itu menggeleng kepala sambil meleletkan lidah saking kagumnya.

"Suhu, dia sangat hebat sekali, apakah aku bisa jadi sama seperti dia?" Suara seorang pemuda memecah kesunyian itu.

"Sayang sekali ilmu gurumu ini belum dapat melampaui kepandaian guru pemuda itu, tapi jika kau sungguh-sungguh belajar, kau akan tetap menjadi pendekar yang pilih tanding. Tinggallah kau tiga bulan lagi sambil mempelajari kaukoat dari Kim Tiauw Sian Kang (Tenaga Dewa Rajawali Emas) ini. Dengan tingkat yang kau miliki sekarang, tak sulit bagimu untuk mempelajarinya."

Satu bulan berlalu dengan cepat. Di salah satu puncak di Pegunungan Wu Yi San, yaitu Puncak Pelangi, tampak sebuah bayangan berlari dengan sangat cepat. Sekejap saja dia sudah berada di puncak tersebut. Saat dia tiba di puncak, dilihatnya dua orang yang sudah sangat tua sedang duduk saling berhadapan menghadap sebuah papan catur. Melihat ini, pemuda itu, yang tidak lain adalah Sian Lee, segera berlutut.

"Maaf, Lojin, teecu terlambat," ujar Sian Lee seraya berlutut.

"Hehehe, Sian Lee, kau tidak punya banyak waktu lagi. Segera kau jajal kepandaian kakek bangkotan aneh ini." Sian Lee terkejut, tapi dia tidak berani membantah. Dilihatnya kakek aneh yang mungkin sebaya dengan Si Kakek Tanpa Nama itu memandang kepadanya dengan tatapan mata yang lembut. Dia terkejut, karena tatapan tersebut adalah tatapan orang yang sudah memiliki Iweekang yang mahasempurna seperti gurunya. Sekilas dia segera mengetahui bahwa dia tak mungkin menang.

"Maafkan teecu, Locianpwe," kata Sian Lee. "Kepandaian teecu tidak ada artinya bila dibanding dengan Locianpwe, tapi teecu tidak berani membantah perintah Lojin. Biarlah teecu yang bodoh memohon pelajaran." Setelah berkata demikian, segera Sian Lee mengerahkan tenaganya sepenuhnya dan tak lama kemudian dia telah menyerang kakek tersebut dari delapan penjuru dengan jurus kedelapan dari Pat Sian Giam Lie Ciang (Tarian Maut Delapan Dewa)-nya, yaitu Tarian Kemurkaan Delapan Dewa. Ilmu ini sangat dahsyat, karena merupakan perpaduan tujuh jurus yang dijadikan satu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment