Chapter 03
Namun anehnya, tidak terjadi kerusakan apa pun di sekitar tempat tersebut. Hal ini disebabkan oleh kakek tersebut yang ternyata mengerahkan apa yang disebut "pembatas". Pembatas ini menyebabkan mereka seperti sedang bertarung dalam sebuah arena yang tertutup rapat, sehingga pengaruh dari pertempuran tersebut hanya berada sebatas lingkaran yang telah dibuat. Bahayanya, jika yang mengerahkan pembatas itu kalah, maka efeknya akan langsung menghancurkan area sekitarnya yang seharusnya hancur.
Sian Lee sangat kagum akan kehebatan kakek itu, karena hanya orang-orang yang sudah mencapai tingkat tenaga dalam yang amat tinggi seperti kakek atau gurunya sajalah yang dapat membuat "pembatas" seperti ini. Pertarungan tidak berlangsung lama karena keadaan Sian Lee kemudian berubah aneh. Tadinya dia dalam posisi menyerang, tetapi sekarang matanya terpejam dan duduk bersila dengan cara yang aneh sekali. Sementara itu, dari dalam tubuhnya keluar bayangan semu tiga orang yang bersilat memainkan empat macam ilmu yang asing. Kakek aneh itu pun sudah duduk bersila di hadapannya sambil tangan kanannya menunjuk ke dahi Sian Lee.
Lima jam kemudian, kedua orang itu berhenti. Sian Lee bangun sambil menjura kepada kakek itu. "Terima kasih, locianpwe, mau memberi petunjuk yang berharga ini pada tee-cu. Tapi kalau boleh tahu, apakah nama-nama dari ketiga ilmu tersebut?"
"Anak muda, kau berbakat. Itu sebabnya aku sangat gembira kau dapat menguasai ketiga ilmu itu dengan baik. Ilmu yang pertama adalah Ajian Tapak Begawan Pamungkas, ilmu kedua adalah Ajian Cakra Pancasona, ketiga adalah Ilmu Tarian Jari Sembilan Dewa..." Kakek itu menarik napas panjang, kemudian melanjutkan, "Sebenarnya itu adalah ilmu terlarang dan rahasia, dan kau bukan muridku. Tapi dunia membutuhkan tanganmu, maka aku mengajarkannya padamu. Tapi kau harus ingat, jika suatu hari kudapati kau menggunakan ilmu-ilmu tersebut untuk kejahatan, aku akan datang mencabutnya sendiri."
"Terima kasih, locianpwe. Namun ku tahu bahwa bukan tanpa maksudnya locianpwe mengajarkan ilmu ini pada teecu. Bolehkan aku mengetahui?"
"Hemm."
"Dunia persilatan sekarang sedang dalam keadaan bahaya. Sepasang Golok Iblis adalah sepasang golok tumbal penghisap darah yang tak dapat dimusnahkan oleh ilmu apa pun selain oleh Ajian Tapak Begawan Pamungkas dan Ajian Cakra Pancasona."
"Heh, apa maksudmu ilmu yang kuajarkan padanya tidak bisa menandingi Golok tersebut? Tapi ku lihat ilmu-ilmu yang kau ajarkan padanya tidaklah di sebelah atas dari jurus Tarian Kemurkaan Delapan Dewa?" Kakek tanpa nama itu tiba-tiba menyela dengan rasa penasaran dan tatapan miring.
"Hohoho, siapa bilang? Hanya maksudku, walaupun ilmu-ilmu yang lain bisa mengalahkan kekuatan golok tersebut, tapi hanya Ajian Tapak Begawan Pamungkas dan Ajian Cakra Pancasona-lah yang bisa memusnahkan keberadaan kedua senjata tersebut."
"Anak muda, ilmu pemegang Sepasang Pusaka itu tidaklah mengatasi tingkat yang kau miliki. Tapi saat dia memegang sepasang pusaka tersebut, maka para iblis dalam pusaka itu akan merasuki dirinya dan membuat tenaganya meningkat puluhan kali lipat. Berhati-hatilah?"
"Satu lagi, kalau kau bertemu muridku, mengalahlah sedikit padanya. Hahaha."
Setelah selesai berkata demikian, kedua orang kakek tua itu lenyap dari situ, meninggalkan Sian Lee yang hanya termenung. Dia sadar bahwa kedua pusaka yang harus dia musnahkan itu memang merupakan ancaman yang sangat serius bagi dunia kang-ouw. Tak lama kemudian, tubuhnya pun berlalu bagai asap dari tempat itu.
Hari itu Perkumpulan Kay Pang di propinsi See-Ouw tampak sibuk. Para anggota perkumpulan sibuk menyambut para undangan yang datang. Rupanya, ada peristiwa istimewa yang sedang mereka laksanakan, yaitu hari ulang tahun ketua Kai-pang yang bernama Tung Ci, berjuluk Sian Tung Sin Kai (Pengemis Sakti Tongkat Dewa). Acara itu juga sebenarnya dilaksanakan untuk mengumpulkan para tokoh utama dunia persilatan untuk merundingkan isu dunia persilatan akhir-akhir ini mengenai munculnya Perkumpulan Golok Iblis yang merajalela.
Hari menjelang siang, di tengah perjamuan yang dihadiri oleh hampir seratus undangan, acara kemudian dibuka oleh Ciang Hok Sun. Ciang Hok Sun ini adalah wakil ketua Kaipang. Julukannya adalah Liong Tung Sin Kai. Perawakannya tinggi besar dan berwibawa.
"Cuwi sekalian, terima kasih atas kesediaan cuwi menyambut baik undangan dari Pang-cu kami. Silakan menikmati hidangan ala kadarnya?" Suaranya lantang dan kuat sehingga terdengar oleh semua orang, membuat mereka kagum akan tenaga orang ini.
Tempat duduk semuanya penuh, dan ternyata mereka adalah orang-orang penting dari berbagai partai besar serta beberapa perkampungan. Di sela-sela tawa dan senda gurau yang terjadi di antara mereka, tiba-tiba seorang hwesio bertanya dengan nada serius.
"Hemm, Tung-pangcu, kami tahu bahwa ada hal lain yang cukup serius yang hendak dibicarakan dengan kami. Apakah itu?"
Dia adalah Hong Sin Hwesio yang merupakan wakil dari ketua Siauw Lim Pai. Tung Ci memandang semua orang sambil tersenyum. "Cuwi sekalian yang terhormat, tentunya cuwi sekalian tahu berita menggeparkan akhir-akhir ini mengenai kemunculan Perkumpulan Golok Iblis yang merajalela. Ini adalah suatu hal yang perlu kita pikirkan bersama. Bagaimana menurut cuwi sekalian?" Berkata demikian, kakek yang telah berusia kurang lebih enam puluh tahun ini menyapu semua yang hadir di situ dengan wajah tersenyum.
"Benar, sampai saat ini Lima partai sesat dan enam perkumpulan telah bergabung dengan mereka. Bahkan ada empat perguruan besar yang telah mereka hancurkan, yaitu: Khong Tong pai, Cing San Pai, Go Bi Pai, dan terakhir Hoa San Pai. Ini tidak bisa dibiarkan terus karena kekuatan mereka makin bertambah besar. Cepat atau lambat, mereka akan menyantroni semua partai yang lain?" sambung seorang kakek dengan nada emosi.
"Saya setuju dengan apa yang dikatakan Kow Ceng Cinjin dari Kun Lun Pai. Saya punya satu usul yang sekiranya bisa kita lakukan bersama-sama?" Yang bertanya kali ini adalah Kwan Tin Ok, dia adalah wakil ketua dari Cing Ling Pai.
"Hemmm... silakan saudara Kwan mengemukakan maksud saudara, kami akan mendengarkan?" Kembali Tung Ci berkata sambil tersenyum.
"Agaknya masa damai yang kita nikmati selama ini sudah mulai berakhir, sehingga kita harus mulai angkat senjata lagi. Aku mengusulkan agar kita dapat memilih seorang Beng-cu yang akan memimpin pergerakan kita menghadapi para tokoh sesat tersebut. Bagaimana?"
Semua orang terdiam. Melihat suasana vakum ini, Ciangbunjin Siaw Lim Pai, Khong Bok Hwesio angkat suara. "Siancai-siancai, memang sudah waktunya bagi kita untuk memilih seorang Beng-Cu yang baru. Tapi kalau kita memilih sekarang tidak adil karena tidak semua yang telah hadir. Dan lagi, siapa yang cocok untuk memikul tugas yang berat ini? Tentunya harus berjiwa ksatria dan pemimpin yang bisa dijadikan teladan, juga haruslah memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Hemm, baiknya sekarang kita pilih dulu pemimpin sementara yang akan memimpin kita untuk mengadakan persiapan selama tiga bulan ke depan ini, bagaimana?"
"Kalau soal kepandaian, kami tidak meragukan sama sekali akan keberadaan Siauw Lim Pai. Cuma entah Khong Bok Suhu bersedia menerima tugas sementara ini atau tidak. Bagaimana menurut pendapat cuwi sekalian?"
"AKUUUURRRR!" "Kami setuju!" Semua orang sama tahu akan pamor dari Siauw Lim Pai yang mengatasi semua partai-partai lainnya, sehingga tidak ada yang menolak ketika akhirnya Khong Bok Hwesio dipilih sebagai pemimpin sementara sambil mempersiapkan rapat pertemuan kaum pendekar untuk memilih Beng-cu baru.
"HOHOHOHOHOOOOHHOHOOOO?""Sungguh suatu reuni yang menyenangkan! Tapi mengapa kalian tidak mengundang kami?" Tiba-tiba tempat itu dikejutkan oleh suara tawa yang keras memekakkan telinga. Beberapa orang yang memiliki kepandaian tinggi segera duduk bersila untuk menahan terjangan suara yang amat kuat tersebut. Tapi bagi anak-anak murid yang masih rata-rata, segera roboh tak sadarkan diri dengan telinga serta hidung mengeluarkan darah.
Melihat keadaan ini, Khong Bok Hwesio segera mengerahkan segenap tenaganya dan berseru, "Omitohud, keluarlah?" Namun sayang, suaranya masih kurang kuat melawan suara tawa aneh tersebut, sehingga akibatnya gentakan tenaganya membalik dan membuatnya luka dalam. Saat semua orang berseru khawatir terhadap hwesio tersebut, tiba-tiba di tempat itu telah muncul tiga orang yang berdiri tegak di tengah panggung. Mereka bukan lain adalah Thian Bu Tek atau Pangeran Raga Kaca, diikuti oleh Bu Tek To Kui dan Bu Tek Pian Sian Li. Di belakang mereka mengikuti sepasukan besar kurang lebih lima ratus orang, lengkap dengan semua tokoh-tokohnya yang hebat-hebat.
"Hem, kalian memang memiliki rencana yang bagus, tapi sayang sekali karena tempat ini akan menjadi kuburan kalian. Hahahaha!" Suara Thian Bu Tek menggema dengan nada sombong. Para tokoh-tokoh yang berkumpul terkejut melihat akan hal ini, apalagi melihat momok Bu Tek To Kui dan Bu Tek Pian Sian Li yang menggetarkan dunia itu. Segera mereka sadar bahwa tidak ada seorang pun dari antara mereka yang akan mampu menghadapi kedua datuk sesat tersebut.
Namun Tung Ci si Sian Tung Sin Kai sudah nekat dan tidak mau kehilangan wibawa. Bagaimanapun, semua yang hadir di situ adalah para tamunya. Segera memberi kode pada salah satu anak buahnya yang segera melepaskan tanda bunga api ke udara.
"Hehehe, kau boleh senang, tapi kami masih memiliki hampir seribu orang murid kaipang yang akan segera muncul membantu."
"Bagus. Mari kita lihat saja. Bu Tek Pian Sian Li, bungkam pengemis kelaparan bau tanah ini?" Thian Bu Tek memberi perintah. Belum habis suaranya, tubuh nenek sakti itu segera melayang ke depan dengan sangat cepat sekali dan sudah menyerang dengan cambuk saktinya yang aneh.