Chapter 01
Dewi Purbosari Insan terlena dibuai, memuji "muji Sang Dewi". Mohon berkah nan abadi! Pelanggar larangan-NYA! Penyembah berhala, pesta pora dalam dosa, derita abadi akhirnya!
Lereng Malabar, Februari '91.
Iringan itu tetap berjalan maju, tidak mempedulikan omongan laki-laki di pinggir jalan. Pembicaraan itu seakan hanyalah angin lalu yang lewat di telinga. Apalagi kata-kata yang kurang sopan untuk didengar telinga dan membayangkan si pembicara yang berhati rendah itu.
Mereka tetap berjalan maju, bagaikan patung-patung dewi yang cantik jelita dan hidup! "Sayang sekali tirai itu menutup joli! Andai kata tidak, pasti orang yang duduk di dalam terlebih hebat daripada para pengiringnya!" seorang laki-laki yang berpakaian hitam dan mengenakan golok besar di pinggang itu berkata.
"Hemmm, aku berani bertaruh! Pasti orang yang di dalam joli cantik sekali!" "Benar, kang Kromo. Aku juga menduga demikian." temannya ikut menimbrung. Kromoleo pandang matanya tidak dapat lepas dari tirai hitam yang menutupi joli. Melotot, seakan ingin menjenguk ke dalam dan melihat orang yang di dalam joli!
"Adi Jodi! Coba kita singkap tirai hitam itu, aku kok makin penasaran saja!" Kromoleo mengusulkan kepada Jodi, ingin menyingkap tirai hitam. Akan tetapi Jodi menggeleng kepala beberapa kali. "Jangan, kang. Jangan membuat ribut di sini!" "Kau takut?" "Aku yang bertanggung jawab kalau ada yang marah!" Kromoleo membesarkan hati temannya, Jodi.
Maka tepat ketika joli yang dipanggul itu berada di depannya, tangan Kromoleo mendorong ke depan! Akan tetapi apa yang terjadi? Belum sampai tangan Kromoleo mencapai tirai joli, tiba-tiba dia telah terpental ke belakang. Bagaikan sebuah bola yang ditendang pergi! Mencelat ke atas melewati kepala orang yang menonton di belakang dan jatuh tepat di tengah parit sawah!
Orang yang berdiri di dekat Kromoleo pun terdorong ke belakang sehingga tanpa mereka sadari kakinya telah menginjak tepi parit tanpa ampun lagi mereka menyusul jatuh telentang di air parit persawahan itu! Mereka semua mengawasi iringan joli itu dengan mata mendelong!
"Gila?" Apa yang mendorong kita tadi? Mengapa kita tahu-tahu melangkah mundur dan mandi di kali!" Jodi tidak kuasa untuk tak bicara, dia merasa heran sekali. Mengapa ketika tangan temannya Kromoleo mendorong tirai, tahu-tahu mereka mundur dan kecebur ke kali!
"Untung kita tidak dibunuh! Biasanya siapa yang berani kurang ajar pasti binasa!" kata pula orang yang paling kanan. Semua berusaha untuk naik ke tepi, lain Kromoleo tidak kuasa lagi menahan hatinya, bertanya kepada orang tadi.
"Sebetulnya siapakah adanya para bidadari dan orang yang duduk di dalam joli itu, paman?" "Amit-amit, semoga hamba jangan kena kualatnya!" Sebelum bercerita orang itu mohon ampun. "Agaknya kisanak bukan orang daerah sini. Maka tidak tahu! Iring-iringan tadi adalah iringan Dewi Purbosari, seorang dewi yang dianut oleh banyak penduduk di daerah Ungaran! Dia adalah seorang yang sakti sekali dan katanya dapat memberikan semua apa yang diminta para pemeluknya."
"Lho, kalau begitu dia adalah sesembahan para penduduk sini, paman?" Jodi bertanya sambil memandang orang tua itu. "Dapat dibilang begitu, kisanak. Apalagi setelah Lurah Martosulaya menjadi muridnya, hampir semua penduduk dusun Manyaran telah menjadi pengikutnya!" "Terima kasih atas keterangan ini, paman." Kromoleo berkata, lalu mengangguk kepada orang tua itu dan memohon diri.
Mengikuti ke mana tadi rombongan itu pergi ke timur. Jodi pun mengangguk dan mengikuti tem