Halo!

Rahasia Dewi Purbosari - Chapter 02

Memuat...
Rahasia Dewi Purbosari

Chapter 02

Mereka tetap berjalan maju dengan tenangnya, seolah ketiga orang itu hanyalah anak kecil saja.

"Rati, berhenti!" Tiba-tiba terdengar suara mengalun merdu menyuruh gadis bernama Rati untuk berhenti.

Kiranya Rati adalah pemimpin barisan depan, seorang dara yang berpakaian kuning dan memakai mantel tembus pandang berwarna merah jambu.

Rati memberi isyarat dan barisan enam orang yang tadinya berderet dua-dua, sekarang membentuk kipas!

Pemikul joli melangkah maju ke depan.

"Ibu Dewi, mereka adalah Tiga Harimau Putih dari Gunung Ungaran sebelah timur." Rati melapor.

Melihat gambar di dada, dara itu segera mengenal ketiga orang tersebut.

Memang mudah mengenali ketiganya, karena gambar harimau putih menjadi tanda siapa mereka sebenarnya!

"Aku tahu! Kau hadapi mereka, bunuh semua! Aku muak melihat muka mereka!" Suara yang merdu dan lembut itu memerintah.

Sungguh tegas dan langsung perintah bunuh! Orang macam apa sebetulnya Dewi Purbosari ini?

"Rati melaksanakan perintah, Ibu Dewi." Setelah berkata, tubuh Rati telah melayang ke arah depan.

Menghadapi Tiga Harimau Putih, katanya menyindir. "Tua bangka mau mampus, cepat menyingkir kalau ingin hidup!" Wajah Ketiga Harimau Putih dari Ungaran memerah mendengar kata-kata anak perempuan di depannya itu.

Sungguh menghina sekali kata-kata itu! Mereka adalah tiga gembong perampok yang telah malang melintang di daerah Ungaran. Jarang menemukan lawan yang dapat menghadapi barisan tiga golok mereka.

Ketika pulang dari pengembaraan, setiba di rumah anak tunggal Simopetak, orang tertua telah terbunuh oleh Dewi Purbosari! Demikian menurut penuturan anak buahnya, maka bergegaslah Simopetak mengajak kedua orang saudaranya untuk mengejar Dewi Purbosari.

Kebetulan mereka dapat bertemu di jembatan itu.

"Mundurlah bocah! Aku ingin menemui Dewi Purbosari si keparat!" Simopetak membentak.

"Hi-hi-hik, wajahmu seperti itu mau ketemu Ibu Dewi. Tak usah ya!" Rati menjawab genit.

"Kalau belum dihajar, kau tidak tahu siapa kami. Terimalah ini!" Simopetak mendorongkan tangan kanannya.

Dari dorongan tangan kanan itu keluarlah angin yang sangat kuat, mendorong tubuh Rati. Merasakan ini, Rati mengelak ke atas dan dari atas tangannya bergerak bergantian sambil membentak, "Mampus kau! Tua bangka!" Sinar hitam meluncur dari tangan kanan dan kiri Rati.

Menyambar ke arah dada dan kepala Simopetak serta kedua temannya. Ternyata enam senjata rahasia telah diluncurkan! Ketiga lawannya yang melihat serangan dari udara ini cepat menangkis, tangan bergerak ke belakang dan tiga batang golok bersinar putih menangkis sinar hitam!

"Ting-tang! Ting-tangg! Ting-tangg!!" Hampir bersamaan enam senjata rahasia yang dilepas Rati dapat dihalau.

Berkelebat sinar putih menyambut tubuh Rati yang melayang turun!

"Ihhhh," Rati menjerit kecil, membuat putaran di udara dan tahu-tahu tubuhnya telah melayang naik kembali.

"Sambutlah yang ini!" Kembali Rati membentak.

Setelah berkata demikian, tampak kembali dua belas sinar kehitaman melesat datang. Mengarah dada dan kaki lawan! Ketiga Harimau Putih kaget mendapat serangan balasan ini, sungguh tidak disangka dara yang masih remaja itu akan memiliki kepandaian yang demikian menakjubkan!

Hampir bersamaan, ketiganya menangkis senjata rahasia yang mengarah dada, sambil melompat ke atas untuk menghindarkan serangan yang mengarah kaki!

"Mampus kau keparat!" Dari tirai hitam yang terbuka tampak tiga sinar meluncur cepat. Tanpa ampun lagi mengenai dada ketiga orang itu, mereka sama sekali tidak menyangka bahwa akan diserang oleh orang yang berada di dalam joli.

"Depp! Depp! Depp!" Rati turun kembali ke jembatan, melangkah kembali ke arah joli, membungkuk dan berkata, "Maafkan hamba, Ibunda Dewi."

"Hemm, cepat berangkat!" Perintahnya.

Rati kembali menyembah lalu memberi isyarat dan rombongan kembali berjalan. Ketika melewati mayat Ketiga Harimau Putih dari Ungaran, kaki mereka bergerak menendang dan mayat ketiga orang itu terlempar ke dalam sungai!

"Cepat! Jangan sampai dia menanti terlalu lama!" Terdengar perintah halus dari dalam joli.

Rati yang menjadi pemimpin barisan lalu melangkah cepat, kakinya seakan tidak menginjak tanah. Semua orang mengikuti dengan cepat, bagaikan terbang saja rombongan ini meluncur di jalan yang menuju ke Dusun Manyaran!

Dalam sekejap saja rombongan itu telah hilang di kelokan jalan di depan. Begitu rombongan Dewi Purbosari berlalu, tidak berapa lama kemudian tampak seorang pemuda berjalan pelan, tangan kirinya memegang tongkat berbau harum kayu cendana. Wajah tampan itu berseri dan senyum manisnya sungguh memesona. Ketika mendekati jembatan sepasang matanya terbelalak melihat pemandangan yang terpampang di depannya!

Tiga sosok mayat mengambang di atas air sungai yang dangkal, membuatnya berhenti melangkah.

"Huppp!" Bagaikan seekor burung seriti menyambar air, tubuhnya melayang ke dalam sungai dan mengambil tiga mayat dalam sekali lompatan. Sungguh hebat sekali ilmu meringankan tubuhnya, walaupun membawa beban tiga tubuh orang yang tinggi besar, seakan pemuda itu hanya membawa benda yang ringan saja! Tahu-tahu tubuhnya telah mendarat di atas tebing yang cukup jauh dari tempat itu.

"Sungguh heran. Mengapa di sini terdapat tiga mayat lagi? Jelas ketiganya tewas oleh racun kelabang! Hemmm, tadi ada orang yang terkena racunnya, sekarang malah tiga orang telah menjadi mayat oleh racunnya!" Suryo berkata-kata sendiri. Heran dia melihat keadaan ini, tanpa ragu dia lalu menggunakan golok yang masih dipegang oleh sang pemilik. Melepasnya dari pegangan dan membuat lubang yang cukup dalam untuk mengubur ketiga jenazah.

"Hemm... ada apalagi yang menanti di depan? Kenapa ada kejadian yang berurutan?" Tanyanya dalam hati.

Suryo mengangkat pundaknya dan menggeleng kepala. Lalu melangkah seenaknya menyusuri jalan, entah ke mana jalan itu menuju!

"Paman, bolehkah saya mengganggu sebentar." Ketika berjumpa dengan seorang petani yang sedang menggarap sawah, Suryo menegur ramah.

"Ehh, apa yang dapat kubantu, anak muda?" Petani setengah umur itu menunda cangkulnya dan berjalan menuju ke pematang, di mana Suryo berdiri menanti. Setelah sampai di pematang, ia mengajak Suryo untuk berteduh dari teriknya mentari.

"Jalan ini menuju ke mana, paman?"

"Jalan ini nanti akan melewati Dusun Manyaran. Apakah anak akan menghadiri perayaan pesta pernikahan anak Pak Lurah?"

"Ohh, tidak paman! Saya hanya sekadar mau lewat saja." Suryo menjawab.

"Paman, apakah di sini banyak rombongan orang lewat?"

"He-he, aneh pertanyaanmu ini. Tentu saja banyak! Yang punya hajat, Pak Lurah. Tentu saja banyak yang datang menghadirinya."

"Maaf, paman. Pertanyaanku tadi keliru, yang saya maksudkan adalah rombongan atau orang yang berpakaian serta berpenampilan aneh."

"Terang saja! Memang seharusnya begitu. Pak Lurah kan orang yang terkenal di seluruh kawasan sini, malah terkenal di Ungaran sebagai jago pilih tanding! Tentu saja yang datang banyak yang aneh-aneh. Berbeda dengan kami rakyat kecil. He-he-he..."

"Terima kasih, paman. Dan maafkan saya yang telah mengganggu waktu paman."

"Ahh, tidak mengapa. Marilah mampir saja ke rumahku, nanti malam kita nonton wayang kulit bersama!" Ajaknya.

"Terima kasih, paman. Apa tidak mengganggu paman?"

"He-he-he... aku hidup seorang diri. Mana bisa mengganggu!" Jawabnya.

"Ayo mampir ke rumahku." Suryo mengangguk lalu mengikuti orang tua ini. Berjalan beriringan di pematang sawah. Tidak berapa lama kemudian mereka berdua telah tiba di tepi hutan, di mana tampak sebuah gubuk sederhana sekali dan kelihatan reyot.

"Aku bernama Wage." Orang tua ini memperkenalkan dirinya.

"Saya Suryo, paman."

"Suryo... hemmm... Suryo...!" Seakan menghafalkan nama anak muda yang menjadi tamunya.

Pak Wage duduk di emper rumah bersama dengan Suryo. Keduanya menikmati ubi bakar dari kebun di belakang rumah. Dua cangkir teh dengan gula aren terhidang di depan mereka. Keduanya lalu terlibat dalam pembicaraan yang akrab. Pak Wage pun lalu menceritakan siapa sebenarnya Lurah Manyaran yang sekarang sedang merayakan pernikahan anak keponakannya. Suryo hanya menjadi pendengar yang baik. Hanya sesekali ikut menimpali pembicaraan Pak Wage. Agaknya Pak Wage ini orangnya suka bercerita, sehingga Suryo mendapat keterangan banyak sekali mengenai keadaan di Dusun Manyaran dan sekitarnya.

"Kalau Nak Suryo lelah, silakan mengaso di dalam."

"Terima kasih, paman." Suryo lalu mohon diri dan masuk ke dalam bilik.

**Bab 2**

Rumah Pak Lurah Martosulaya terang benderang dengan banyaknya lampu yang dipasang. Di depan pelataran yang dipenuhi tamu, tampaklah orang-orang yang mengenakan pakaian ringkas serta membawa senjata bermacam-macam. Jauh di luar pagar juga telah penuh penonton berjubel untuk dapat melihat wayang kulit. Ki Dalang Sabdo Taruno memainkan wayangnya dengan cekatan sekali, seakan-akan wayang kulit itu hidup dengan caranya membawakan pembicaraan para tokoh. Berubah-ubah cepat serta selaras dengan wayang yang dibawakannya. Apalagi dalam hal memilih gending pengiring, sungguh hebat!

Ketika Suryo dan Pak Wage datang di tempat itu, kebetulan sudah tengah malam. Ki Dalang Sabdo Taruno sedang memainkan adegan Raden Harjuna yang diiringi para punakawan. Istilah populernya adalah GARA-GARA! Para penonton terpingkal-pingkal oleh ulah sang punakawan yang lucu. Suryo juga tidak dapat menahan geli, banyolan-banyolan segar keluar mengocok perut!

"Neetttt...! Jonetttt...!!" Teriakan melengking seorang perempuan memecah perhatian.

"Neettt...! Ayo pulang!!" Teriakan ini membuyarkan perhatian Suryo dan Pak Wage.

"Ada apa sih, Si? Di mana anakmu tadi? Kenapa kau berteriak-teriak tidak karuan!" Pak Wage mendekati perempuan itu.

"Anu, anu... anakku si Jonet! Tahu-tahu dia telah tiada di dekatku!" Jawabnya. Lalu Darsi pun memanggil-manggil anaknya.

"Neett...! Jonetttt...!"

"Tenang, tenanglah, Si. Nanti kau membuat kacau perayaan Pak Lurah!" Pak Wage menenangkan Darsi supaya dapat menahan diri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment