Chapter 05
"Paman, minta ayam gorengnya satu dan nasi putih satu porsi!" Si pelayan mengangguk hormat.
"Tolong antarkan ke dalam kamar, Paman," sambungnya cepat.
Dia merasa malu untuk duduk di ruangan itu.
Ketika si pelayan berlalu, dia pun kembali masuk ke dalam kamarnya, membiarkan daun pintu tetap terbuka.
Tanpa mengetuk pintu lagi, si pelayan masuk dan menaruh pesanan di meja.
Bau ayam goreng menusuk hidung, menimbulkan selera. Apalagi nasi putih itu masih mengepulkan uap, menandakan bahwa nasi itu baru saja diangkat dari periuknya.
Begitu pelayan membungkuk lalu meninggalkan kamar, Kromoleo mendekati meja untuk menyantap ayam goreng serta nasi putih yang panas, membangkitkan selera makan dan menggugah cacing dalam perutnya.
Ketika Kromoleo membawa ayam goreng untuk dimakan, tiba-tiba terdengar tawa mengikik di depan mulutnya, "Hikhik!"
Dia memandang ayam itu. "Seee...taaaannnn!" Kedua tangannya bergerak melempar ayam goreng.
"Duk! Duk!" Ayam goreng yang terlempar menyentuh lantai, memantul dua kali.
"Ikhik... kikikikik!" Tiba-tiba ayam itu berubah menjadi kepala manusia dan tertawa mengikik menyeramkan.
Tanpa ampun lagi, Kromoleo tersurut mundur dua langkah, tubuhnya menggigil, sepasang matanya terbelalak tidak percaya akan apa yang dilihatnya barusan. Akan tetapi, kikik tawa kepala itu dengan sepasang matanya yang mengawasinya, membuatnya ketakutan setengah mati. Dia pun lalu mengambil langkah seribu.
"Bresss! Duk!" Ketika baru saja tiba di depan pintu kamar, tubuhnya telah tertabrak sesuatu. Keduanya terpental kembali.
Ternyata, ketika Kromoleo lari karena ketakutan, dari luar juga datang Jodi yang berlari menuju ke kamarnya. Tanpa ampun lagi, keduanya bertubrukan dan tubuh mereka terlempar ke belakang, saking kerasnya tubrukan itu.
"Seee...taaaannnnn?!" Hampir bersamaan keduanya berteriak sambil berusaha untuk bangun.
Kembali berlari dan "Duk!" kembali terjadi tabrakan. Saking gugup dan takutnya, keduanya tidak dapat mengontrol diri mereka. Tabrakan yang kedua kalinya ini menyadarkan keduanya. Lalu, bergegas mereka lari keluar dari penginapan!
"Hihikhi-hi...!" Terdengar suara tawa kekeh dari banyak orang. Membuat Kromoleo dan Jodi menengok ke belakang. Mereka pun berlari tunggang-langgang ke depan.
"Brak! Gedebuk!" Tubuh mereka menabrak pagar dan terbanting di jalan, bergulingan beberapa kali. Bangun dan berlari pergi. Menabrak beberapa orang serta dagangan para pedagang di pinggir jalan. Akan tetapi, anehnya semua yang tertabrak tidak terjatuh.
Mereka berdua seakan-akan menabrak bayangan saja. Membuat keduanya makin ketakutan dan berlari tunggang-langgang.
Berulang kali mereka bertabrakan ketika ada di persimpangan jalan, agaknya salah pengertian. Ketika Kromoleo lari ke kiri, Jodi malah membelok ke kanan. Mengetahui salah arah, keduanya berbalik lagi untuk bergabung. Dan tanpa ampun lagi, keduanya bertabrakan. Terpental ke belakang, lalu berusaha bangkit untuk berlari kembali. Akan tetapi, saking takutnya, mereka berdua kembali bertabrakan.
"Ke... ke sana... Ka-ka-kang!" Jodi berusaha untuk bicara, memberi tahu arah keluar dari dusun.
Kromoleo juga memandang keluar dusun. Lalu, hampir bersamaan mereka berdiri dan berlari menuju pintu gerbang desa.
"Brak! Bruss! Blekk!" Kembali mereka berdua menabrak dinding kayu yang tebal. Ternyata yang disangka gerbang desa adalah dinding sebuah rumah yang kokoh.
Pandangan mata Kromoleo dan Jodi telah berubah. "Bagaimana bisa terjadi demikian?" Keduanya juga tidak bisa mengerti sebabnya. Suara tawa terkekeh itu masih terdengar jelas di telinga mereka, membuat mereka semakin bingung.
"Tobat! Duh Gusti, tolong!" Akhirnya, tanpa sadar Kromoleo menyebut nama kebesaran Penguasa Alam Semesta. Terjadilah keanehan. Tiba-tiba saja Kromoleo dan Jodi dapat melihat jelas jalan untuk keluar dusun. Sebetulnya mereka berdua sudah berada dekat dengan pintu gerbang. Entah bagaimana keduanya malah menabrak dinding rumah orang. Tanpa ayal lagi, keduanya lalu berlari keluar dari dusun itu, jatuh bangun berulang kali.
Akhirnya mereka berdua dapat memasuki hutan.
"Aduh!" Jodi terlempar ke depan dan jatuh tengkurap di tanah. Kepalanya merasa seakan-akan pecah terkena batu yang menonjol dari tanah. Napasnya terengah-engah bagaikan sebuah lokomotif yang menyeret gerbong kereta terlalu banyak.
Sebuah tangan memegang pundaknya.
"Seee...taan! Tolong!" Jodi berteriak sekuatnya, mencoba berdiri lalu dia kembali berlari sekuatnya ke depan. "Duk!" Tubuhnya kembali terlempar ke belakang.
Diam tak bergerak lagi, pingsan.
Kromoleo yang memegang pundak Jodi juga terkejut, ikut lari ke depan. Kromoleo sadar setelah menyebut Asma Allah. Maka, ketika dia melihat Jodi kembali menabrak pohon serta terpental ke belakang, dia segera maju mendekat. Melihat temannya pingsan, Kromoleo bertambah panik. Lalu berusaha untuk menyadarkan Jodi.
Ketika mendengar suara ranting patah, Kromoleo menoleh. Terlihat tiga sosok bayangan kehitaman mendekatinya.
"To...lo...lo...long!" Kromoleo menjerit keras. Nyalinya telah melayang pergi meninggalkan tubuhnya saat melihat sosok bayangan putih melayang mendekati dirinya, diikuti oleh dua sosok bayangan hitam.
Setelah berteriak, Kromoleo terjengkang ke belakang dan diam tak bergerak lagi. Ternyata Kromoleo menyusul temannya, pingsan.
Suryo, Gombloh, serta Sukirno mengelilingi kedua tubuh yang tergolek di tanah. Suryo berjongkok memeriksa keduanya. Menarik napas lega ketika mengetahui kedua orang itu hanya pingsan saja. Lalu mengambil air untuk kedua orang itu.
Tak berapa lama kemudian, kedua orang itu sadar. Jodi yang pertama kali membuka mata. Begitu kelopak mata terbuka, dia melihat bayangan putih yang samar-samar.
"Seee...setan! Tolong!" teriaknya keras sambil berusaha untuk bangun kembali. Lalu melarikan diri dari bayangan putih yang telah berdiri di dekatnya. Jodi agaknya belum sepenuhnya tersadar dari keadaan tercekam ketakutan tadi.
"Bluk!" Tubuhnya menabrak sesosok tubuh di depannya.
"Tenang! Tenang, Saudara, sabar dulu. Kami akan berusaha untuk menolongmu!" Sukirna memegang kedua pundak Jodi yang tadi menabraknya ketika hendak mencoba melarikan diri.
"Dia... di... diaaaa...!" katanya sambil menunjuk ke arah Suryo Lelono yang berpakaian putih dan berdiri tenang di belakangnya. Jodi tidak berani menoleh, hanya ujung jarinya saja yang menunjuk-nunjuk dari balik pundaknya.
Ketika itulah Kromoleo juga membuka sepasang matanya. Mengucek-uceknya sebentar dan memandang terbelalak ke arah sosok berpakaian putih itu. Samar-samar terlihatlah wajah Suryo di balik kabut yang membubung di pagi hari.
"Aduh!" Kedua tangannya menggosok belakang kepala. Ternyata kepalanya tadi terkena batu tatkala terpental ke belakang di dalam desa itu. Akan tetapi, karena keduanya baru mengalami kejadian yang merontokkan nyali mereka, rasa sakit di tubuh tidak terasa lagi. Akan tetapi, ketika mereka telah lolos dan sadar kembali serta tidak dicekam ketakutan, barulah kesakitan akibat tabrakan serta jatuh bergulingan itu kini terasa.
Jodi juga mengeluh kesakitan.
Setelah tenang kembali, dengan seluruh tubuh yang terasa sakit, Jodi bersama Kromoleo lalu bercerita. Mereka berdua saling melengkapi cerita mengenai apa yang dialami keduanya sejak mereka tersesat di dalam hutan dan desa hantu.
Suryo, Gombloh, dan Sukirna mendengarkan cerita Jodi dan Kromoleo penuh perhatian. Tak seorang pun dari mereka bertiga memotong cerita kedua orang itu. Suryo mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ck-ck-ck... sungguh pengalaman yang menakutkan," tanpa terasa Gombloh menggeser duduknya mendekati Suryo. Kalau sampai hantu yang diceritakan oleh Kromoleo dan Jodi itu datang, dia dapat sembunyi di belakang jagoan kita dengan cepat!
"Menyeramkan sekali! Hiiiii, bulu kudukku meremang!" Tangannya memegang leher bagian belakang. Ternyata Sukirna juga terbawa hanyut oleh cerita dan pengalaman Kromoleo dan Jodi yang menyeramkan itu.
"Hemmm, sungguh menarik cerita ini. Memang kita semua harus selalu ingat kepada-Nya. Mohon dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk serta dijauhkan dari segala cobaan!" Suryo lalu menerangkan semua petuah-petuah yang didapatnya dari ayahnya maupun yang diterimanya dari gurunya, Pengemis Alis Putih.
"Kita harus selalu eling dan ingat akan segala larangan yang telah ditunjukkan serta menjauhinya. Hati kita harus selalu tertuju kepada-Nya, memohon agar dibimbing di jalan yang benar. Jalan yang menjadi kehendak-Nya! Selalu waspada akan jalan kehidupan yang kita tempuh agar jangan sampai kita terpeleset jatuh di lembah dosa yang ditawarkan oleh setan terkutuk. Tawaran setan melalui segala kesenangan dan kenikmatan di dunia ini!"
Empat orang itu mendengarkan dengan penuh kesungguhan. Mereka takjub melihat betapa anak muda itu telah dapat memberi penerangan yang setaraf dengan guru-guru mereka, malah lebih mendalam lagi.
Ketika matahari telah bersinar, Suryo mengajak mereka untuk meneliti keadaan dusun itu. Kromoleo dan Jodi dengan takut-takut mengantar mereka menuju ke dusun. Begitu hampir sampai di pintu gerbang, Kromoleo dan Jodi mendekati pemuda itu lalu berjalan merapat ke tubuh si pemuda. Suryo menenangkan keduanya.
"Jangan takut, kalau matahari sudah terbit serta dalam keadaan terang, kukira semua penghuni dusun yang telah menjadi roh halus itu telah pergi!"
"Tapi?!" Keduanya menjawab hampir bersamaan, masih dalam keadaan ketakutan.
Gombloh yang agak ugal-ugalan sepertinya ingin menggoda. "Itu dia! Lihat!" Dia berteriak keras di belakang kedua orang itu.
"Tolong!" Kedua orang itu menubruk Suryo, merangkulnya, meminta pertolongan si pemuda.
Suryo menoleh. Memandang Gombloh dan Sukirna yang tertawa geli melihat tingkah kedua orang itu.