Halo!

Rahasia Dewi Purbosari - Chapter 06

Memuat...
Rahasia Dewi Purbosari

Chapter 06

Mengetahui ini, keduanya menjadi malu lalu melepaskan tangan mereka.

Kromoleo lain berkata, "Tolong, ya, Mas. Jangan membuat jantung ini copot! Kalau copot, ke mana lagi aku mencari gantinya?"

Gombloh menjawab, "Ya, ke pasar loakan, to, Kang!"

"Ha-ha-ha!" Suryo Lelono tersenyum mendengar kelakar Gombloh. Sukirna juga memegangi perutnya, menahan geli.

"Jangan menggoda lagi. Kita sekarang menjadi kawan senasib sepenanggungan. Harus saling membantu dan saling membesarkan hati!" kata Suryo sambil memandang Gombloh.

Gombloh lalu meminta maaf kepada kedua orang itu. Mereka pun lalu meneruskan perjalanan memasuki desa yang ternyata kosong. Rombongan itu memasuki rumah penginapan yang ditunjukkan oleh Kromoleo dan Jodi.

Begitu mereka memasuki rumah makan, Kromoleo dan Jodi hampir saja berlari kembali keluar! Untunglah pundak mereka dirangkul oleh Gombloh dan Sukirna. Ternyata di tempat itu penuh dengan tengkorak yang berserakan memenuhi ruangan.

Ketika mereka memeriksa seluruh rumah di dusun, ternyata keadaannya hampir sama. Di mana-mana terdapat tengkorak manusia yang sudah tinggal tulang-belulangnya saja. Keadaan rumah pun sudah tidak karuan, penuh dengan sarang laba-laba dan debu.

Suryo mengajak teman-temannya untuk menguburkan tulang-tulang tengkorak itu. Mereka membuat lubang lalu menguburkan kerangka itu di luar desa. Setelah berdoa, mereka lalu melanjutkan perjalanan.

Suryo menyatakan keheranannya. Bagaimana seluruh penduduk dusun dapat mati di rumah masing-masing, dan apa penyebabnya? Semua pertanyaan itu tak dapat dijawabnya. Empat orang kawan seperjalanannya itu pun terheran-heran melihat kenyataan yang mereka saksikan di dusun itu. Mereka bertekad untuk mencari jawab dari misteri ini.

Mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Kromoleo juga menceritakan sebab mereka berdua sampai di tempat yang mengerikan itu. Begitu mendengar cerita Kromoleo, Gombloh dan Sukirna saling pandang. Lalu keduanya juga bercerita mengenai maksud perjalanan mereka. Mereka segera terlibat dalam pembicaraan yang mengasyikkan sambil berjalan menembus hutan.

Pada suatu hari, seorang pemuda remaja yang tampan, mengenakan pakaian mewah, memasuki sebuah desa bernama Jatilaya. Langkahnya mantap dan penuh gaya, pandang matanya sinis. Bibir tipis itu membentuk senyum mengejek pada apa yang dilihatnya; pembawaannya angkuh karena dia merasa lebih tinggi dari orang lain.

Pemuda ini adalah Raden Wirangrong, putra Ki Lurah Martosulaya, kepala desa Manyaran. Rumah paling besar di desa itu adalah tempat tinggal adik ayahnya, paman Raden Wirangrong. Rumah itu adalah milik Ki Lurah Suratimantra, kepala desa Jatilaya, yang terkenal berwatak keras dan tegas.

Pemuda tampan itu melangkah menuju ke rumah paling besar. Ketika bertemu dengan penduduk yang berpapasan dengannya dan memberi salam, Raden Wirangrong hanya tersenyum kecil.

"Angin apa yang membawamu datang, Rangrong?" tegurnya.

"Angin baik, Paman Suratimantra. Saya sudah rindu dengan keluarga di sini," jawab Wirangrong cepat. Akan tetapi, pandang mata pemuda itu jelalatan ke sana kemari.

"Di manakah Adi Danang serta Diajeng Dwiyanti? Kenapa tidak tampak sedari tadi, Paman?"

"Ha-ha-ha, adikmu Danang sedang berguru ke Semarang." Ki Lurah Suratimantra memberi tahu ke mana putranya telah pergi. Lalu melanjutkan, "Sedangkan adikmu, Dwiyanti, itu sedang membuang daun-daun bunga yang kering di taman!"

Raden Wirangrong menoleh ke kanan. Tampak seorang gadis jelita berkulit kekuningan memakai pakaian ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang aduhai! Sepasang mata Wirangrong bagaikan terkena besi sembrani, tidak mau melepaskan keindahan yang terpampang di depan matanya.

"Bagaimana kabar keluargamu? Semua dalam keadaan baik-baik saja, bukan?"

Raden Wirangrong tetap melihat adik keponakannya, tidak mendengar pertanyaan pamannya itu. Seluruh perhatiannya tercurah ke arah gadis yang sedang memetik daun-daun kering di taman, dan pikirannya melayang jauh menembus ke awang-awang menuju surga ketujuh.

Setelah dua kali pamannya bertanya, barulah dia sadar akan keadaannya. "Ya, Paman. Anu... anu, semua baik, Paman."

"Ha-ha, sebaiknya kau cepat-cepat mencari jodoh! Agar ada yang mengurusimu, Rangrong!"

"Ah, Paman ini ada-ada saja!" jawabnya. "Aku 'kan masih kanak-kanak, mengapa terburu-buru untuk berumah tangga?"

"Sana, kau temuilah adikmu itu! Aku mau keliling dusun untuk memeriksa keadaan." Ki Lurah Suratimantra berdiri dan melangkah keluar. Tidak lama kemudian, dia telah lenyap, tertutup oleh bangunan rumah di seberang.

Wirangrong dengan cepat meloncat dari tempat duduknya dan langsung menuju taman. Begitu melihat dari dekat, hatinya semakin tergoda oleh adik keponakannya, Dwiyanti, yang memang cantik jelita serta menimbulkan gairahnya. Dengan mengendap-endap dari belakang tubuh Dwiyanti, dia mendekati adiknya itu. Kedua tangannya bergerak cepat!

"Aih, siapa ini?" jerit Dwiyanti kaget, ketika tiba-tiba kedua matanya telah tertutup oleh sepasang telapak tangan.

"Ha-ha-ha! Hayo, siapa aku? Tebaklah, Dwiyanti!" Dwiyanti seakan mengenal suara ini. Benar, tidak salah lagi. Ini adalah suara kakak sepupunya, Wirangrong. Putra uwanya, Martosulaya, dari Desa Manyaran.

"Ah, aku tahu. Ini pasti Kakangmas Wirangrong dari Manyaran! Benar, 'kan, tebakanku ini?"

"Ha-ha-ha!" Wirangrong melepaskan tangan dari wajah itu. Seolah tanpa sengaja, salah satu tangannya bergerak ke bawah.

"Aih!" Dwiyanti menjerit kaget. Dadanya teraba, walaupun tidak sengaja. Tangannya bergerak cepat menutupi dadanya lalu mundur dua langkah. Sepasang matanya mengawasi Wirangrong.

"Ada apa, Yanti?"

Dwiyanti merasa malu untuk menjawab. Wajahnya menjadi kemerahan karena darah naik ke wajahnya. Melihat ini, Wirangrong semakin terpesona; sungguh adik keponakannya ini telah menjadi seorang gadis yang hebat! Tanpa terasa lagi, darahnya berdesir cepat karena pikirannya membayangkan kenikmatan yang akan diperolehnya dari dara jelita di depannya. Melihat bentuk tubuh itu, jelaslah adiknya ini mempunyai darah yang panas! Pikiran ini membuatnya gelap mata!

Dwiyanti semakin ketakutan melihat pandangan mata kakaknya, Wirangrong. Seakan pandangan mata kakaknya dapat menembus kain yang membungkus tubuhnya. Maka, dia cepat berkata untuk membuyarkan suasana itu.

"Ah, Kakangmas Wirangrong. Ada keperluan apakah sehingga Kakangmas sepagi ini telah berada di sini?"

Wirangrong yang tidak dapat menahan diri lalu menggunakan aji pamelet pengasihannya. Begitu tangannya merangkul pundak Dwiyanti yang berada di dekatnya, dia berkata, "Anu, Diajeng, begini... Aku cinta padamu, Diajeng Dwiyanti. Sudah lama sekali aku menahan rindu kepadamu!"

Dwiyanti dalam batin tidak membenarkan pernyataan ini, akan tetapi, entah mengapa, dia sendiri pun menjadi keheranan ketika menjawab. Seperti ada orang lain yang meminjam dirinya untuk menjawab. "Benarkah itu, Kakangmas? Aku pun rindu padamu!"

Mendengar jawaban ini, Wirangrong girang sekali. Ilmu pamelet telah bekerja, membuat Dwiyanti tidak kuasa untuk menolak permintaannya. Malah membalas tak kalah hebat. Tangannya lalu bergerak nakal, meraba ke sana kemari. Di pagi hari itu, terjadilah sesuatu yang membuat pepohonan bergoyang ke kanan dan ke kiri tanpa ada angin yang menerpa. Entah berapa lama keadaan ini terjadi?

"Iblis keparat! Kubunuh kau, anak laknat!"

Bentakan menggelegar ini mengagetkan kedua orang yang sedang asyik-masyuk itu. Ternyata Ki Lurah Suratimantra telah berdiri di taman dengan senjata terhunus di tangan kanannya. Keris itu bergetar-getar, seolah pemegangnya menahan tenaga yang siap meledak melihat pemandangan di depannya.

Cepat-cepat Wirangrong mengenakan pakaiannya. Belum sempat dia mengenakan baju, keris telanjang telah berkelebat mengarah dadanya. Dengan kaget, Wirangrong meloncat mundur untuk mengelak dari tusukan itu. Melihat tusukan kerisnya dielakkan dengan mudah, Suratimantra bertambah marah. Keris pusakanya bergerak bertubi-tubi, mengarah nyawa Wirangrong. Tidak peduli anak muda itu keponakannya sendiri, yang baru saja datang ke desa itu, karena perbuatan Wirangrong yang tidak bermoral terhadap putri satu-satunya, Dwiyanti.

Wirangrong berusaha mengelak, akan tetapi, melihat kemarahan pamannya yang pasti tidak akan reda jika belum dapat menancapkan keris itu di dadanya, dia pun lalu membalas dengan tak kalah sengit.

"Plak! Duk!" Tangan Suratimantra yang memegang keris tertangkis, dan sebuah tendangan kaki mengenai perutnya. Tanpa ampun, tubuh Suratimantra terlempar ke belakang. Wirangrong lalu menyambar bajunya, lalu meloncat cepat melarikan diri. Keluar dari desa menuju tengah hutan. Lenyap di dalam lebatnya hutan yang gelap.

Dwiyanti bagaikan disambar geledek ketika tersadar dari keadaan yang memengaruhinya. Bentakan ayahnya tadi telah membuyarkan pengaruh aji pamelet yang dilepas Wirangrong. Melihat dirinya dalam keadaan telanjang dan kedua pahanya berdarah, wajahnya menjadi pucat seperti kertas. Terbayang kembali apa yang baru saja terjadi serta menimpa dirinya; tanpa terasa, air matanya membanjir di kedua pipinya. Tangannya menyambar kainnya untuk menutupi tubuhnya sekenanya. Lalu berlari ke dalam. Terdengar jerit melengking nyaring dari dalam rumah.

Ki Lurah Suratimantra tidak jadi mengejar Wirangrong yang melarikan diri dari desa. Kembali ke dalam rumah untuk melihat apa yang telah terjadi karena jeritan istrinya itu. Ketika memasuki ruang dalam, kedua matanya terbelalak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment