Chapter 07
Ia terpaku di tanah bagaikan arca melihat pemandangan yang terpampang di depannya.
Ternyata anak perempuan satu-satunya, Dwiyanti, telah membunuh diri dengan sebilah keris yang tertancap di dadanya!
Istrinya tergeletak pingsan di samping tubuh anaknya yang bergelimang darah dari luka!
Tak terasa, kerisnya terlepas dari tangannya. Ia maju menubruk.
Bergantian ia memeluk tubuh anak dan istrinya sambil memanggil-manggil nama keduanya!
Para penduduk desa berdatangan mendengar jerit istri lurah mereka.
Begitu memasuki rumah, mereka terbelalak!
Dengan cepat, mereka berusaha menolong serta mengangkat tubuh ketiga orang itu dan menyadarkan istri lurah dan lurah.
Sebagian mengurus jenazah Dwiyanti untuk dirawat sebagaimana mestinya!
Salah seorang warga lalu memukul kentungan bertubi-tubi.
Memberitahu ada rajapati di desanya!
Gegerlah seluruh penduduk Desa Jatilaya ketika mendengar pembunuhan yang telah terjadi di rumah kepala desa mereka di pagi hari itu!
Ki Suratimantra tersadar dari pingsannya dan melihat banyak orang telah memenuhi rumahnya.
Dengan cepat, ia memberi perintah untuk mengejar keponakannya.
"Seluruh laki-laki desa ini, cepat cari keponakanku yang melarikan diri! Sedangkan para wanita mengurus anak dan istriku!" perintahnya kepada warga desa.
Begitu mendengar perintah ini, seluruh warga kembali pulang untuk mengambil senjata dan kembali berkumpul di depan rumah Ki Lurah.
"Ikuti aku! Bunuh jahanam itu kalau bertemu dengan kalian!" Ia memberi perintah untuk membagi penduduk menjadi tiga rombongan untuk mengejar si Wirangrong yang melarikan diri.
Mereka pun mengejar keluar desa.
Ketika malam telah tiba, berdatanganlah para pencari Wirangrong dengan muka kuyu, karena tidak dapat menemukan pemuda itu.
Seluruh hutan telah diobrak-abrik.
Semua jalan menuju Desa Manyaran telah dicegat, akan tetapi tidak nampak seorang pun bayangan pemuda yang lewat.
Kembalilah mereka ke dusun, mungkin rombongan lain dapat mencegat pemuda itu.
Akan tetapi, ketika mereka semua telah berkumpul, ternyata tidak ada yang dapat bertemu dengan si Wirangrong yang telah membuat aib di Desa Jatilaya.
"Besok pagi setelah mengubur jenazah Dwiyanti, kita bersiap-siap untuk menyerang Desa Manyaran. Si jahanam Wirangrong harus menebus aib ini dengan nyawanya! Kalau dibela ayahnya, kita gempur seluruh desa. Kita balas penghinaan keparat tak bermoral itu!" "Kami siap membela kehormatan desa!" ujar seorang tua.
Kiranya ia adalah penasihat Desa Jatilaya.
"Akan tetapi, Ki Lurah, kuminta bersabar dahulu. Kurasa anak kurang ajar itu belum tentu berani pulang. Kita tunggu dulu sepekan. Barulah kita datang bersama ke Desa Manyaran!" Ki Lurah Sumantrimantra mengangguk mendengar pengarahan ini.
"Ya, kita tunggu setelah seminggu lagi!" Seluruh warga Desa Jatilaya berkabung!
Keesokan harinya, mereka menguburkan jenazah Dwiyanti dengan diiringi tangis semua wanita yang merasa terharu!
Sedangkan Raden Wirangrong yang melarikan diri setelah perbuatannya tertangkap basah, tidak berani pulang!
Ia lalu menuju ke Bukit Kelabang, tempat Dewi Purbosari bermukim di sebuah istana yang mewah dan indah!
Selama sehari semalam ia terus berlari. Begitu sampai di istana Dewi Purbosari, ia menyelonong masuk.
Meratap dan menangis memohon perlindungan dan pertolongan sang dewi.
"Hihik?! Kalau hanya untuk urusan yang seperti itu, mudah! Serahkan saja semua kepadaku. Tinggal kau sediakan saja apa yang menjadi kesenanganku! Ihhik... hi-hi-hik...!" "Sendika dawuh, Ibunda Dewi!" Wirangrong bangkit dari sujudnya.
"Mari masuk ke kamarku. Aku akan memberi cara untuk kau pakai guna menghadapi pamanmu!" Dewi Purbosari menggapai Wirangrong.
Lalu berjalan menuju kamar samping.
Wirangrong mengikuti dengan patuh, dan sepasang matanya bersinar melihat tubuh belakang junjungannya!
Tidak lama kemudian dari dalam kamar itu terdengar pekik kemenangan dari seorang perempuan yang berlomba memacu kudanya!
Disusul dengan lenguhan panjang, lalu tawa terkekeh panjang penuh kepuasan!
Tidak lama kemudian, keduanya telah keluar dari kamar itu.
Dewi Purbosari duduk di kursi kencana di tengah ruangan.
Wirangrong duduk bersila di lantai depan sang ratu!
"Plokk-plookkk!" Dua kali Dewi Purbosari bertepuk tangan.
Dari luar masuklah Rati dan Sundari, dua dara cantik jelita dengan kulit tubuh putih kekuningan yang dibungkus kain ketat menonjolkan lekukan tubuhnya.
"Hamba berdua menanti perintah, Ibunda Dewi." Hampir bersamaan kedua dara itu berkata setelah menyembah dan memberi hormat.
Keduanya tahu bahwa ada tugas penting yang mesti dilakukan.
Tepukan tangan itu menjadi tanda untuk suatu tugas khusus bagi mereka.
"Kalian berdua ikuti ke mana Wirangrong membawa kalian!" "Sendika dawuh, Ibunda Dewi." Wirangrong menyembah mohon diri.
Mereka bertiga lalu keluar dari istana dengan menggunakan ilmu berlari cepat. Dalam waktu sehari saja, ketiganya telah tiba di tempat yang dituju.
Memang kedua dara, Rati dan Sundari, memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi.
Tangan Wirangrong ditarik oleh keduanya dari sisi kanan dan kiri.
Bagaikan dibawa terbang saja, tubuh Wirangrong terangkat dan dibawa berlari.
Dalam waktu singkat, ketika matahari terbenam, mereka telah sampai di luar Desa Jatilaya.
"Raden harap menanti di sini! Kami berdua akan menjalankan perintah Ibunda Dewi, untuk melepaskan Raden dari kesukaran yang akan menimpa Raden!" Rati menyuruh Raden Wirangrong untuk menanti di dekat pohon.
"Harap kalian berdua berhati-hati! Kurasa seluruh penduduk desa dalam keadaan siaga!" "Hi-hi-hik...! Raden tidak perlu khawatir!" Rati lalu mengajak temannya.
"Sundari, ayo pergi!" Begitu gemanya lenyap, tubuh Rati telah melayang cepat sekali ke atas. Sundari menyusul, kakinya menjejak tanah, dan tubuhnya bagai dilontarkan telah terbang menyusul Rati.
Keduanya dalam sekejap telah hilang ditelan kegelapan hutan!
Wirangrong menanti tidak terlalu lama.
Tiba-tiba berkelebat dua bayangan di depannya. Ternyata Rati dan Sundari telah berdiri di depannya dengan tersenyum manis.
"Kita menanti sampai besok pagi, Raden. Mari kita mencari tempat untuk melewatkan malam!" "Darrrr!" Suara guntur memekakkan telinga, menggelegar sangat keras, disusul oleh hujan yang jatuh bagaikan dicurahkan dari langit!
Ketiganya lalu berlarian menuju tempat teduh!
Karena derasnya air hujan, membuat ketiganya basah kuyub!
"Kita menuju gua di depan. Aku tahu jalannya, mari!"" Wirangrong berlari di depan.
Dalam curahan hujan, mereka nekat mencari gua yang dikenalnya.
Ia mengenal keadaan di hutan ini karena ketika masih kecil ia suka bermain petak umpet dengan Danang dan Dwiyanti!
"Hemmm? Dingin sekali!" rintih Rati.
Wirangrong masuk ke dalam gua.
Ternyata ia mengambil kayu kering lalu menumpuknya.
Tidak berapa lama kemudian, api yang besar telah menyala menghangatkan isi gua.
Wirangrong membuka bajunya untuk diperas dan didekatkan ke api.
Melihat ini, Rati lalu membuka pakaiannya sendiri dan ikut pula mendekati api. Tubuhnya bagaikan bersinar terkena cahaya api unggun.
Wirangrong yang melihat ini menjadi buas!
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia lalu menubruk maju.
Rati terpekik kecil, akan tetapi ia pun membalas sergapan Wirangrong dengan sama binalnya. Terjadilah pergulatan yang sengit dalam cahaya api unggun di depan gua itu.
Sundari juga memeras kainnya sambil mengawasi kedua orang yang sedang beradu jurus kemesraan itu.
Suara pekik kecil berulang kali terdengar, membuat darahnya menggelegak seakan membakar tubuhnya.
Maka tanpa ragu, ia pun maju menyerang ke arah dua orang yang sedang bertanding, menyerang Wirangrong dengan jurus-jurus pilihan!
Rati mengundurkan diri melihat rekannya maju menggantikannya.
Sepasang matanya bercahaya melihat jurus-jurus yang dikeluarkan Sundari!
Tak terasa, tangannya bergerak-gerak liar.
Ketika mendengar keluhan Sundari, ia pun mengeluh panjang pendek disertai dengan gerakan tangan yang semakin liar!
Seakan teringat sesuatu, Rati pun berdiri dan mengambil segenggam tablet kekuningan dari sebuah bungkusan.
Lalu mendekati Wirangrong dan memasukkan tablet itu ke mulutnya.
Tidak lama kemudian, seluruh bulu-bulu di tubuhnya berdiri tegar sekali!
Wirangrong menjadi perkasa laksana sebuah tonggak terbuat dari baja!
Melawan gempuran yang silih berganti dari Rati dan Sundari yang datang menggebu menerjangnya!
Sudah berapa kali mereka mengadu kekuatan, akhirnya hujan pun reda.
Ketiganya pulas di dalam gua!
Matahari telah naik tinggi.
Tercium bau daging yang dipanggang menggugah selera, membuat Raden Wirangrong terbangun.
Ia mengeluh karena tulang-tulangnya seolah terlepas dari tubuh!
Dua ekor ayam panggang telah masuk ke perutnya untuk sarapan pagi.
Kedua dara itu memandangnya penuh arti!
"Mari kita menuju tempat itu, melihat keadaan Desa Jatilaya!"" Rati mengajak Raden Wirangrong untuk memeriksa Desa Jatilaya!
"Aaa... aduh... ugh...!" Sambil berusaha bangkit, Wirangrong merintih.
Melihat keadaan pemuda itu, Rati dan Sundari saling pandang!
Tersenyum, lalu menggandeng dan merangkul Wirangrong!
"Ck-ck-ck...!" Wirangrong berdecak kagum melihat hasil kerja Rati dan Sundari di Desa Jatilaya.
"Sekarang tidak akan ada yang mengganggu Raden!" "Benar. Raden bebas dari kurcaci-kurcaci ini!" Sundari menimpali temannya.
Raden Wirangrong bergidik.
Di antara senang terbebas dari kemarahan pamannya, ia juga ngeri melihat pembunuhan yang dilakukan oleh kedua pelayan Dewi Purbosari ini.
"Bagaimana mereka dapat tewas secara bersamaan?" tanyanya.
"Hi-hi-hik...! Mudah saja, Raden! Kami berdua tinggal menyebar bubuk pemberian Ibunda Dewi. Semua gentong dan makanan yang berada di desa ini tercemar oleh bubuk beracun kami. Siapa pun yang memakan makanan maupun minum air di tempat ini, pasti binasa. Hi-hi-hik...!" Raden Wirangrong lalu mengajak keduanya untuk segera meninggalkan desa itu.
Sambil tersenyum manis, Rati dan Sundari memapahnya.
Lalu membawanya melayang cepat pergi dari tempat itu!