Chapter 08
Hanya anak laki-laki tunggal dari Ki Lurah Suratimantra yang lolos dari maut!
Danang sedang mencari ilmu kepandaian di Semarang. Akan tetapi, ketika pemuda ini pulang ke desa, yang ditemuinya hanyalah tulang-tulang yang berserakan di seluruh rumah di Desa Jatilaya!
Dengan penuh dendam, dia bercerita tentang pengalamannya kepada gurunya. Ia memohon bantuan gurunya untuk menyelidiki siapa yang begitu kejam telah membunuh seluruh penduduk desa itu!
Itulah yang terjadi di Desa Jatilaya. Di mana-mana tulang-tulang tengkorak memenuhi rumah-rumah penduduk di seluruh desa, yang dalam semalam telah terbasmi oleh anak buah Dewi Purbosari!
"Ha-ha-ha! Mau lari ke mana kau? Menyerahlah saja, kau Danang! Aku tidak akan membunuhmu!" teriaknya lantang.
Danang dan istrinya semakin mempercepat lari kudanya, cambuk di tangan dilecutkan berulang-ulang, sambil berteriak-teriak menghardik kudanya.
"Hiyakkk! Hiyakk!"
Kuda yang dinaiki Raden Wirangrong semakin dekat. Suara kaki kuda yang berlari telah terdengar nyata di telinga keduanya. Ketika Danang menoleh, dia semakin terkejut. Ternyata kuda berbulu cokelat itu berlari kencang sekali seakan keempat kakinya tidak menginjak tanah, melayang ke depan, menimbulkan debu yang mengepul tebal di belakang.
"Kau larilah dulu, Diajeng. Aku akan berusaha mencegahnya!" Danang menyuruh istrinya, Sawaliyah, untuk melarikan diri terlebih dahulu.
Akan tetapi, istrinya membantah. "Tidak! Mati hidup kita tetap bersama! Kakang, aku tidak mau berpisah darimu!"
"Jangan, Diajeng. Kau dapat membalaskan dendamku, kalau Diajeng lolos dari penjahat terkutuk itu serta melaporkan semua ini kepada Guru!"
"Tidak! Lebih baik Kakangmas saja yang cepat pergi melapor kepada Guru. Aku akan mengadu jiwa kepada keparat itu! Membalaskan sakit hati seluruh penduduk desa, Kakang, dan ayah bunda Kakang Danang yang terbasmi oleh kejahatan iblis keparat itu!" Sawaliyah nekat mempertahankan pendiriannya, sehingga Danang semakin bingung.
"Diajeng Sawaliyah!"
"Ini, Kakangmasmu datang! Ha-ha-ha! Tunggu, Diajeng!"
"Keparat!" Sawaliyah lalu memutar kudanya kembali menyongsong kedatangan Raden Wirangrong dengan pedang di tangan.
Melihat kenekatan istrinya, Danang lalu menyentak kendali kuda dengan mendadak dan sambil mengeluarkan ringkikan keras, kudanya mengangkat kaki depannya ke atas.
"Hiyeeeh!" Danang juga mencabut pedang dan mengejar istrinya yang telah berdiri di atas tanah, menanti dengan gagah. Ia meloncat turun di samping istrinya, berdiri berdampingan siap menanti musuhnya.
Raden Wirangrong melihat mereka menghadang di tengah jalan dan tertawa. "Ha-ha-ha! Apa yang kau andalkan?" Tangan kanannya mencabut kerisnya dan tangan kiri menarik-narik kendali kudanya.
Kuda cokelat melaju kencang menabrak penghalang di depan, dan tangan kanannya terayun.
"Tranggg!" Bunga api berpijar ketika kedua senjata beradu di tengah udara. Pedang yang dipegang di tangan kanan Danang terpental ke belakang bersama dengan tubuhnya yang terdorong ke belakang. Sedangkan Raden Wirangrong terlempar dari kudanya.
Sawaliyah meloncat tinggi menghindar dari terjangan kuda. "Haiit!" Sawaliyah berputar di udara dua kali, dan seketika itu juga dari atas pedangnya menyambar kepala Raden Wirangrong yang sedang terlempar ke belakang itu.
"Plakk!" Walaupun dengan agak kesulitan, tangan kiri Raden Wirangrong dapat juga menampar pedang dari samping pada bilah pedang, sehingga mata pedang menyimpang di atas kepala. Meninggalkan angin dingin yang terasa mengiris kepala.
"Hiaaat!" Dengan teriakan nyaring, dia menyerang kedua lawan yang telah berdiri di tanah, kakinya melayang mengarah ke kepala Sawaliyah dengan kecepatan yang tidak terduga, sedangkan tangan kanannya menusukkan keris ke dada Danang!
"Tranggg!" Kembali keris berhasil ditangkis pedang di tangan Danang. Sedangkan kaki yang menendang dihadang pedang di tangan Sawaliyah. Cepat dia menarik kaki dan menendang kembali ke arah perut lawan, sedangkan kerisnya secara bersamaan menusuk ke leher Sawaliyah.
"Haiit!" Dengan lompatan ke belakang, barulah serangan itu dapat dihindarkan, dan melihat ini Danang maju membabatkan pedang. Ditangkis oleh keris, dan kembali mereka bertiga terlibat dalam saling serang yang seru serta saling elak dengan cepat.
Pertempuran terjadi dengan hebatnya, debu di jalan mengepul naik oleh gesekan-gesekan kaki yang mengandung tenaga dahsyat. Suatu ketika Raden Wirangrong berhasil menampar pundak Danang, membuat lawannya terlempar ke belakang. Sawaliyah yang melihat suaminya terlempar menjerit dan dia maju menubruk tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri.
"Haiit! Hiaaat!" Pedangnya ditusukkan dengan cepat ke perut Raden Wirangrong dan tangan kiri bergerak memukul ke arah wajah. Melihat serangan nekat ini, Raden Wirangrong mengeluarkan dengusan mengejek.
"Hemmm!" Sambil merendahkan tubuh dan tangan kanannya menangkis pedang yang meluncur datang.
"Kena!" Tangan kirinya bergerak menotok dada Sawaliyah. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh Sawaliyah tertotok lemas.
Ternyata tangkisan keris Raden Wirangrong membuat pedang di tangan Sawaliyah terpental, dan tangan kirinya yang luput menyerang ke arah wajah itu tidak sempat ditarik lagi, membuat dadanya terbuka, dan lawannya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat baik ini. Sebelum tubuh itu roboh ke tanah, tangan kiri itu telah berhasil memanggulnya!
Danang yang melihat ini menjadi terkejut bukan main! Istrinya telah tertawan oleh lawan, membuatnya tidak berani bergerak sembarangan dalam menyerang lawan.
Raden Wirangrong memasukkan kerisnya ke warangkanya, setelah itu masuk ke kantong pinggangnya lalu berkelebat cepat ke arah Danang yang sedang berdiri.
"Tringcring!" Dengan putaran pedangnya di depan tubuh, Danang berusaha untuk menangkis sinar hitam yang meluncur ke arah dirinya. Akan tetapi, tetap saja dua senjata hitam mengenainya di paha. Dengan menggulingkan dirinya, ia berusaha lepas dari hujan senjata beracun milik Raden Wirangrong.
Ketika dengan susah payah ia dapat berdiri, ternyata lawannya telah hilang bersama dengan istrinya, Sawaliyah! Kaki yang terkena senjata itu tidak dapat digerakkan lagi. Membengkak besar dan terasa sakit sekali, dan ketika dia merobek celananya sehingga tampak pahanya yang putih telah berubah menjadi kehitaman!
Danang menjadi putus asa, hanya berserah diri pada Yang Mahakuasa atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Rasa sakit yang luar biasa serta ditambah lagi kekhawatiran akan nasib istrinya membuatnya tidak sadarkan diri lagi. Ia hanya bisa menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Cepat kejar laki-laki yang memanggul tubuh seorang wanita itu!" Gombloh berkata dan mendahului kawan-kawannya mengejar ke arah seseorang yang memanggul tubuh dan berlari pergi. Kromoleo, Jodi, dan Sukirna mengikuti di belakangnya.
Suryo Lelono mengawasi sejenak ke arah mereka lari, lalu berkelebat cepat ke arah sosok tubuh yang tergeletak di tengah jalan. Bagaikan asap putih terbawa angin cepatnya, tubuhnya dalam sekejap mata telah berdiri di dekat Danang yang tergeletak pingsan.
"Ck-ck-ck! Kembali racun kelabang merajalela mencari korban!" ujarnya, dan tangannya lalu bergerak mengambil senjata yang menancap di paha. Tangan berwarna kemerahan ketika dia memegang senjata beracun itu. "Cess!" Batang senjata kelabang itu tertarik keluar dari daging. Untung sekali kaki kelabang itu tidak ada yang patah ketika tertarik.
Suryo Lelono lalu menyalurkan tenaga merah putihnya ke arah paha yang terkena racun kelabang itu. Tampak uap kehitaman mengepul naik membawa bau yang busuk, dan sebentar saja paha yang terluka itu telah terbebas dari racun kelabang. Tangannya bergerak memijat sana-sini, setelah itu ia berkelebat pergi ke arah teman-temannya tadi mengejar seseorang yang memanggul tubuh wanita.
"Cegat di sana!" "Kepung!" "Heh-heh-heh! Mau lari ke mana, bangsat!"
Bukan main terkejutnya Raden Wirangrong ketika mengetahui dirinya telah terkepung. Dia berada di lereng yang terjal, di belakangnya terdapat sebuah jurang. Jalan untuk meloloskan diri hanya menerjang lawan.
"Menyerahlah!"
"Aku akan memberimu jalan hidup!"
"Keparat! Ayo mundur kalau tidak ingin menjadi bangkai!" Raden Wirangrong menggertak lawan.
Tetapi keempat orang itu tidak mau mendengar kata-katanya. Gombloh mengejek. "He-he-he! Serahkan saja perempuan dalam panggulanmu itu! Lihat, kau telah terkepung! Apa kau mampu melawan kami berempat? Cepat menyerah! He-he-he! Sial awakmu sekali ini!"
Raden Wirangrong tidak mengacuhkan ejekan ini. Sepasang matanya mengawasi lawan, dan otaknya membuat perhitungan untuk meloloskan diri. Begitu dirasa tepat, tangan kanannya bergerak dan "Set-set!" delapan buah senjata kehitaman melayang ke arah lawan.
Melihat senjata berwarna hitam meluncur datang, keempat orang itu berusaha mengelak ke samping. Serangan itu kembali datang, bagai hujan mengarah ke mereka, membuat mereka bergegas mencabut senjata dan menangkis sinar hitam yang meluncur datang.
"Edan! Sungguh gila orang ini!" Gombloh memutar pedangnya cepat di depan tubuh.
"Tangting!" Suara senjata yang tertangkis terdengar. Banyak sekali senjata berwarna hitam berserakan di tanah di depan mereka, berkilat kehijauan tertimpa sinar matahari, menandakan bahwa senjata itu beracun yang ganas sekali.
Ketika mereka berempat memandang lawannya, ternyata pemuda itu telah tidak ada lagi di depan mereka. Tampak di kejauhan, sedang terbang pergi dengan sangat cepat. Mereka pun lalu melakukan pengejaran kembali.
"Tunggu sebentar, Kisanak!" Terdengar suara lirih di telinga Raden Wirangrong, dan tiba-tiba pundaknya terasa ringan. Ternyata tubuh Sawaliyah telah tidak ada di pundaknya lagi.
Ketika dia menoleh ke belakang, melihat seorang pemuda berbaju putih sedang merebahkan Sawaliyah di tempat yang teduh. Tanpa bertanya lagi, ia menyerang dengan kerisnya saat si pemuda itu masih membungkuk untuk merebahkan Sawaliyah.