Halo!

Rahasia Dewi Purbosari - Chapter 09

Memuat...
Rahasia Dewi Purbosari

Chapter 09

"Mampus kau, keparat!" bentaknya.

Suryo tanpa menoleh lagi menggerakkan kakinya ke belakang, menendang. Tanpa ampun, Raden Wirangrong pun tertendang ke belakang dengan cepat.

Raden Wirangrong menjadi ketakutan melihat hasil serangan ini. Bukan dapat membinasakan lawan, tetapi malah perutnya tertendang dan tubuhnya melayang ke belakang dengan perut yang terasa sangat pedih.

Maka, tanpa malu lagi, dia menggunakan jurus langkah seribu untuk melarikan diri.

"Sadarlah, bahaya telah lewat!" terdengar suara halus memasuki telinga.

Ternyata Sawaliyah tadi masih pura-pura pingsan atau lemas akibat totokan Raden Wirangrong. Dia ingin mencari kelengahan Raden Wirangrong untuk membunuh pemuda keparat itu.

"Kakangmas Danang...!" Sawaliyah menangis, teringat akan nasib suaminya yang terkena senjata beracun itu.

Suryo Lelono tahu apa yang dikhawatirkan oleh perempuan muda ini, maka ia pun berkata, "Saudaramu telah selamat! Dia masih pingsan di sana!" Mendengar suaminya selamat, Sawaliyah lalu berlari menuju ke tempat saat dia tertawan oleh Raden Wirangrong.

Dia lupa untuk mengucapkan terima kasih dan bertanya siapa yang telah menolong suaminya. Yang teringat hanya Danang, suaminya tercinta.

Suryo hanya mengikuti dari belakang, berjaga-jaga kalau penculik itu kembali. Ketika hampir sampai di kelokan jalan, keempat temannya datang dari depan.

"Tobil-tobiiiil! Tahu begini, ogah aku mengejar lagi!" Gombloh menggerutu.

"Kalau dapat mengejar, mbok, ya bilang-bilang dulu...! Ini napas hampir habis, eh, tahu-tahu... Ah, nasib!"

"Aya, masa sih Kang Gombloh ini begitu?"

"Begitu bagaimana? Kan kalau dia bilang, kita kan dapat mengaso di tempat teduh, tidak usah khawatir lagi!" Gombloh malah menggerutu.

"Sudah, sudah, ayo kau ikut atau tidak!" Kromoleo menimpali cepat untuk mencegah Gombloh bertambah tidak karuan omongannya.

Suryo Lelono hanya tersenyum saja mendengar ini, sedikit banyak dia sudah mengenal watak mereka. Berjalan mengejar Sawaliyah yang berlari. Keempat temannya juga mengikuti di belakangnya.

"Kakangmas Danang...!"

"Diajeng Sawaliyah...!"

Sawaliyah menubruk Danang yang belum dapat bangun, kakinya masih terasa sakit bekas tancapan senjata beracun itu, meskipun racunnya telah terusir. Ia menangis terisak di dada suaminya.

"Ehemmmm, huek-eh!" Gombloh berdehem, mengagetkan keduanya.

Begitu keduanya mengangkat muka, ternyata di dekatnya telah berdiri lima orang mengawasi mereka. Danang dan Sawaliyah mengawasi mereka satu per satu, dan Sawaliyah pun segera mengenal si pemuda berpakaian putih yang telah menyelamatkan dirinya dari tangan Raden Wirangrong.

"Dialah penolong kita, Kakangmas," katanya.

"Kami berdua mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan ini, semoga Yang Maha Kuasa membalas segala kebaikan Saudara terhadap kami sepasang suami istri," ujar Danang.

Suryo Lelono lalu mendekat dan memeriksa bekas luka Danang kembali. Dia tadi tergesa-gesa untuk mengejar teman-temannya yang mengejar penculik wanita, yang ternyata adalah istri dari pemuda yang terluka pahanya ini.

"Ah, tidak terlalu parah. Besok akan kering kembali," katanya sambil menyerahkan daun untuk menutup luka itu.

"Sebetulnya siapakah kalian, dan mengapa istrimu diculik pemuda tadi?" Kromoleo bertanya kaku.

"Saya bernama Danang dan ini Sawaliyah, istriku! Kami berdua melarikan diri dari desa Manyaran, tempat uwakku Ki Lurah Martosulaya!"

"Ki Lurah Martosulaya?" Gombloh bertanya.

"Benar. Kami dinikahkan di sana!" jawab Sawaliyah sambil memandang heran.

Suryo Lelono, Gombloh, dan Sukirna saling pandang.

"Jadi resepsi itu kau, toh, yang menjadi mempelainya?" Danang dan Sawaliyah mengangguk.

"Aku bernama Gombloh, dan dia itu adalah adik seperguruanku, Sukirna," Gombloh memperkenalkan diri. "Kami berdua dari perguruan silat Bangau Putih di Semarang."

"Aku bernama Kromoleo dan dia Jodi, murid Pendekar Bulu Kuning, bernama Ki Kulikpria!" Kromoleo pun memperkenalkan diri serta memperkenalkan temannya.

"Ki Kulikpria?"

"Ya, mengapa? Apa kalian berdua mengenalnya?"

"Mengenalnya! Kami berdua juga menjadi muridnya!" Danang menerangkan.

"Kalau begitu kita masih bersaudara! Satu guru!" Hampir bersamaan Kromoleo dan Jodi berkata.

Danang mengangguk. Sawaliyah tersenyum pula sambil berkata, "Benar! Kita masih bersaudara."

"Wah, kalian berempat beruntung dapat bertemu dengan saudara seperguruan!" Gombloh ikut menyela.

"Mengapa kalian sampai bentrok dengan pemuda itu? Siapa dia sebetulnya, apakah kalian kenal?" Suryo memotong pembicaraan itu. Dia ingin mengetahui siapa pemuda yang telah melukai Danang dan melarikan istrinya itu.

"Ya, benar! Siapa anak muda itu?" Gombloh tidak mau ketinggalan. Dia selalu ingin mengikuti jejak Suryo Lelono.

Danang dan Sawaliyah saling pandang, sejenak kemudian mereka saling angguk. Danang pun lalu menceritakan siapa sebenarnya pemuda itu.

"Sebetulnya, dia masih terhitung kakak sepupuku. Namanya Wirangrong, entah mengapa kini menjadi Raden Wirangrong dan berlagak seolah berdarah keraton."

"Lalu bagaimana, sehingga kalian bentrok di sini?"

"Ah, panjang ceritanya! Sebetulnya kami berdua sedang pulang untuk menjenguk orang tuaku!" Danang berhenti, menghela napas panjang. Lalu ia melanjutkan, "Akan tetapi, ternyata dusun kami telah musnah. Entah siapa yang begitu keji telah membunuh seluruh penduduk desa Jatilaya?"

"Apa kau tidak pernah menjenguk keadaan orang tuamu?" tanya Gombloh lagi.

"Iya, lho, pergi ke mana saja kau?" Kromoleo berkata menegur Danang.

"Aku mengikuti guru berkelana dan menimba ilmu di Gunung Merbabu! Terkadang hanya kami berdua saja yang ada di puncak, guru senang sekali merantau," Danang menjelaskan.

Lalu Danang mulai menceritakan pengalamannya ketika sedang berada di desa Manyaran, di rumah Ki Lurah Martosulaya, uwaknya.

Setelah lima hari resepsi pernikahan Danang dan Sawaliyah, Danang masih tetap tinggal di rumah Ki Lurah, menjadi satu dengan keluarga itu. Ki Lurah Martosulaya hanya mempunyai seorang putra, yaitu Wirangrong. Pemuda ini terlalu dimanja karena dia adalah anak tunggal, dan semua kehendaknya selalu dikabulkan orang tuanya. Wirangrong lantas menggunakan gelar bangsawan Raden karena merasa dekat dengan Dewi Purbosari yang memiliki istana di Bukit Kelabang.

Pada malam itu, Wirangrong dan orang tuanya sedang mabuk-mabukan di ruangan tengah. Danang sedang pergi ke desa tetangga untuk mengantar surat yang oleh pamannya hanya dipercayakan kepadanya saja.

"Ayah, istri si Danang itu sungguh cantik, ya?" Ki Lurah Martosulaya memandang wajah anaknya, ingin mengetahui apa maksud kata-kata anaknya itu. Tetapi karena mabuk, dia malah terkekeh.

"Heh-heh-heh... bocah itu sungguh pandai mencari pasangan!" Wirangrong mengawasi ayahnya. Menunggu apakah ayahnya akan melanjutkan bicara. Tetapi Ki Lurah hanya menuangkan tuak ke dalam mulutnya, sehingga terdengar suara gelogok yang keras. Wirangrong pun lalu minum langsung dari tempat tuak.

"Bagaimana kalau perempuan itu jadi... selirku? Daripada menjadi istri si Danang yang tidak punya apa-apa, kan lebih enak jadi menantu Ayah, ya! Ha-ha-ha...!"

"Huss! Jangan gila kau!"

"Hanya kelakar kok, Yah. Kalau benar, mau aku mengambilnya? Ha-ha!" Ki Lurah diam saja, sepasang matanya berkedip-kedip. Berusaha untuk melihat jelas wajah anaknya. Wirangrong pun berdiri, sempoyongan mendekati ayahnya. Berbisik-bisik di telinga ayahnya, lalu minum lagi. Menaruh tempat tuak di meja dan meninggalkan ayahnya yang menggeleng kepala ketika melihatnya pergi dengan sempoyongan.

"Dukk!" Tubuhnya menabrak meja, berpegangan dan sempoyongan kembali.

"Tok-tok-tok!" dia mengetuk daun pintu kamar di mana Danang dan Sawaliyah tidur.

"Sebentar, aku masih membereskan tempat tidur."

"Tok! Tok! Tok!"

"Keriit!" Daun pintu terbuka dari dalam. Belum terbuka penuh, Wirangrong telah melangkah maju memasuki kamar. Sawaliyah kaget sekali melihat ini, dia lalu mencoba untuk menahan dan memperingatkan.

"Aku cinta padamu, Liyah, lebih baik aku tidur di sini!" Sambil sempoyongan menuju ke tempat tidur. Akan tetapi, Sawaliyah yang melihat gelagat tidak baik lalu berusaha untuk menahan tangan Wirangrong. Menariknya keluar kamar. Muka Sawaliyah merah padam menahan marah, sikap tuan rumah ini sungguh tidak tahu aturan, pikirnya.

"Kakang Wirangrong, sadarlah. Ini aku, adikmu sendiri."

"Ha-ha-ha, kau cantik sekali. Kulitmu halus seperti lilin!" Sambil tangannya mengelus tangan Sawaliyah yang masih memegang tangannya untuk menariknya keluar.

"Iih!" Sawaliyah menarik tangannya hingga terlepas dan mundur. Wirangrong yang sedang mabuk itu tidak peduli lagi, dia maju menubruk untuk mengajak Sawaliyah memadu kasih. Dia berusaha untuk mengejar ke mana pun Sawaliyah lari. Ketika perempuan itu terjebak di sudut ruangan, ia maju menubruk dengan buas.

"Plakk! Dukk!" Wirangrong terlempar ke belakang, kepalanya terkena tamparan dan dadanya terpukul tangan kecil dan halus, tetapi mengandung tenaga yang luar biasa kuat. Membuatnya setengah sadar. Akan tetapi, hasratnya untuk penyaluran begitu kuat, maka ia pun nekat. Sawaliyah berusaha untuk mempertahankan kehormatannya. Dalam keadaan yang sangat tidak menguntungkan itu, kebetulan suaminya memasuki kamar tengah.

"Kakang Wirangrong! Apa yang kaulakukan ini?"

"Ha-ha-ha... Danang! Serahkan istrimu kepadaku!"

"Keparat! Kakang, sadarlah!"

"Bodoh! Kau ingin kubasmi, ya? Ayo serahkan! Apa kau ingin menyusul keluargamu? Ha-ha-ha?!" Dalam keadaan mabuk itu, Wirangrong sudah kacau. Ketika melihat Danang datang untuk mencegahnya, dia seperti melihat pamannya yang mencegahnya dan hendak membunuhnya itu.

"Apa kau ingin seperti seluruh nasib penduduk desamu? Mati kubasmi!" Sepasang mata Danang mencorong tajam mengawasi wajah Wirangrong dengan penuh kemarahan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment