Halo!

Rahasia Dewi Purbosari - Chapter 10

Memuat...
Rahasia Dewi Purbosari

Chapter 10

"Inilah agaknya biang pembasmian seluruh penduduk desanya." Entah bagaimana caranya? Kalau seorang diri, jelas tidak mungkin!

"Keparat, mampus kau!" Wirangrong setengah sadar melihat kepalan tangan yang meluncur ke arah dada.

Dia memiringkan tubuh dan menampar kepala Danang. Dielakkan, dibalas tendangan ke atas mengarah ke kepala.

"Dukkk! Plakkkk!"

"Keparat tak tahu diuntung! Sudah dinikahkan masih memberontak..." Belum habis katanya, dia meloncat ke belakang.

Ketika mundur, Wirangrong menabrak meja dan ayahnya, Ki Lurah Martosulaya, terguling dari kursinya.

Ternyata lurah ini tadi tertidur di meja berbantal tangan saking mabuknya.

"Heh-heh-heh... Oh, ayo panggil tukang pijat!" Kata-kata yang keluar dari mulut Ki Lurah tidak karuan.

Melihat lawan lari, Danang bertambah panas.

Mencabut keris dan menubruk maju, ketika itu Ki Lurah Martosulaya bangkit dan sempoyongan.

Tanpa ampun lagi, kerisnya menusuk dada Ki Lurah yang menghadang di depannya.

"Aduh! Apa ini? Heh-heh!" Kedua tangan mendekap dada dan robohlah Ki Lurah Martosulaya.

Melihat kejadian ini, Danang dan Sawaliyah panik.

Sebelum Wirangrong sadar apa yang terjadi sesungguhnya, Danang menggandeng tangan Sawaliyah dan keluar dari ruangan.

Menuju ke kandang kuda lalu mengeluarkan dua ekor kuda untuk dipakai melarikan diri.

"Ha-ha-ha... ayo manis. Aku... cinta... padamu... ha-ha-ha!" Wirangrong semakin mabuk.

Tidak tahu kalau ayahnya telah menjadi mayat.

Dia berkata-kata sendiri, menyumpah-nyumpah dan merayu.

Akhirnya dia tertidur di lantai kamar tengah.

Keesokan paginya barulah Wirangrong sadar apa yang telah terjadi tatkala dia pingsan.

Ternyata ayahnya telah tiada dan Danang suami-istri sudah tidak ada di rumah itu.

Samar-samar dia teringat apa yang dilakukannya terhadap istri adiknya dan membuka rahasia.

Mukanya menjadi pucat.

Dia lalu berlari keluar untuk menaiki kudanya, berusaha mengejar kedua orang itu.

"Akhirnya di hutan ini kami terkejar! Untung dapat ditolong oleh kalian," Danang sudah menjadi akrab dengan mereka.

"Jadi dialah yang menjadi biang keladi pembunuhan di desamu itu?"

"Benar!" Danang mengangguk dan termenung setelah menjawab.

Teringat dia akan seluruh keluarganya.

"Bagaimana dengan senjata rahasia berbentuk kelabang itu?"

"Menurut pengakuannya, dia murid terkasih Dewi Purbosari di Bukit Kelabang!" Gombloh yang mendengarkan cerita itu menjadi marah sekali.

"Setan, iblis laknat! Babu-babu ini?!"

"Plakkkk!" Kepala Gombloh terkena tepukan Kromoleo.

"Gila! Mengapa babu-babu? Apa mau cuci pakaian atau disuruh belanja? Babu-babu segala!"

"Hah! Apa? Mana babu-babu?" tanyanya.

"Sudah, sudah! Lebih baik kita lekas mencari tempat untuk melewatkan malam!"

"Betul! Setuju sekali. Aku sudah lapar, lho!" Jodi mengelus-elus perutnya.

"Makan, makan melulu!" Suryo menjadi habis kesabaran. Keempat kawan seperjalanannya ini sungguh konyol!

Semakin dituruti semakin tidak karuan, maka dia pun lalu berdiri dan melangkah pergi.

Danang dengan dipapah istrinya mengikuti di belakangnya.

Setelah agak jauh, pemuda ini menoleh.

Akan tetapi, ternyata keempat orang itu masih duduk di sana serta bersilang lidah.

Suryo Lelono menjadi tidak sabar lagi, tangannya mengambil sebuah batu sekepalan besarnya dan menyambit ke dahan besar dengan tenaga terarah.

Lalu mengirim suara yang mengandung tenaga dalam tinggi.

"Kroooosyyaaakkkkkk! Ihh... ihhh... iihhh!!" Daun-daun berguguran dari dahan yang terkena sambitan batu.

Jatuh ke bawah bagaikan hujan disusul suara tertawa yang memenuhi pohon dan di kanan kiri serta atas mereka.

"Seeee... seeee... taannnn!" Kromoleo dan Jodi hampir berbarengan berteriak.

"Setan!" Gombloh juga berteriak dan meloncat bangun lalu lari.

Akan tetapi, keempat orang itu malah saling tabrak sendiri.

"Ha-ha-ha... hahaha...!" Tanpa terasa lagi Suryo Lelono, Danang serta Sawaliyah tertawa melihat kejadian itu.

Dan keempat orang itu pun lari lintang pukang ketika mereka melihat Suryo serta sepasang suami-istri itu ternyata telah jauh meninggalkan mereka.

Dua bayangan hitam berkelebat cepat sekali.

Sesekali berhenti di belakang pohon, mengawasi ke depan.

Lalu melanjutkan larinya.

Menguntit tiga belas orang yang berlarian di depan.

Gerakan dua orang ini gesit sekali serta tidak menimbulkan suara sama sekali ketika mereka menguntit rombongan yang berlari jauh di depan.

Jauh di depan, seorang pemuda agaknya menjadi kepala dari rombongan ini.

Ternyata dua belas orang lainnya terdiri dari para wanita yang masih muda dan cantik dengan pakaian mereka yang ketat serta menonjolkan sisi kewanitaannya itu.

Mereka tak lain adalah Raden Wirangrong serta dua belas pengiring Dewi Purbosari.

Raden Wirangrong ketika melarikan diri ternyata menuju ke tempat Dewi Purbosari, sesembahannya.

Di istana di Bukit Kelabang.

Raden Wirangrong menceritakan semuanya kepada sesembahannya, Dewi Purbosari. "Duh Ibunda Dewi, celaka! Ayah telah terbunuh oleh si keparat Danang, anak Ki Lurah Suratimantra. Agaknya anak itu telah mengetahui segalanya."

"Hi-hi-hik... Mengapa? Kau takut? Aku akan selalu melindungimu, bocah bagus!"

"Tetapi, tetapi mereka banyak, Ibunda Dewi."

"Apa kau tidak percaya lagi kepadaku?"

"Bukan begitu, Ibunda. Tapi, tapi..."

"Sudahlah! Kau sekarang tinggal di sini!" Dewi Purbosari memotong.

Raden Wirangrong diam tak berani bersuara lagi.

Lalu menyembah serta duduk menanti.

Tak terlalu lama dia menanti, tahu-tahu terdengar tabuhan merdu dan dua belas penari dengan membawa terbang di tangan melayang datang ke tengah ruangan.

Raden Wirangrong memutar tubuh untuk dapat menikmati suguhan ini.

"Duduklah diam, Rangrong!" Terdengar suara di belakang.

Entah mengapa Raden Wirangrong tidak dapat bergerak sama sekali.

Duduk seperti patung batu di depan Dewi Purbosari.

Para penari yang terdiri dari dua belas wanita cantik, menggerakkan selendangnya memutar-mutar.

Bagaikan pelangi yang beraneka warna, selendang itu berlenggang-lenggok di angkasa.

Saling kejar amat indahnya.

Enam penari memisahkan diri dengan membawa terbang.

Keenam penari lain lalu menunjukkan kebolehan mereka dan menari dengan indahnya di atas jari-jari kakinya.

Ketika terbang dipukul semakin keras dengan irama cepat, keenam penari pun mulai melenggok-lenggok seakan tidak bertulang lagi tubuhnya.

Begitu lemas gemulai, gerak tubuhnya yang terbungkus selendang yang diputar cepat menutupi tubuhnya.

Akan tetapi, ketika putaran selendang itu bertambah pelan, samar-samar tubuh para penari itu yang hanya memakai pakaian sangat minim dapat membuat mata yang melihatnya terpaku, ingin menikmati lebih jelas.

Sepasang mata Raden Wirangrong tak berkedip melihat tarian ini.

Untung dia telah menjadi patung batu oleh perintah Dewi Purbosari.

Kalau tidak... Entah apa yang akan dilakukannya.

"Kita menuju ke mana? Sedari tadi kulihat kau jalan tak menentu!" Rati menegur Raden Wirangrong.

Melihat jalan pemuda itu, Rati tahu bahwa pemuda ini pasti membayangkan penglihatan semalam.

"Kita cegat mereka di balik bukit itu! Pasti mereka akan lewat sana!" katanya.

"Sebaiknya rombongan ini dibagi dua untuk mencegah mereka melarikan diri!" Rati lalu mengikuti saran Raden Wirangrong.

"Sundari, bawa lima kawanmu untuk mencegat di belakang! Jangan biarkan seorang pun lolos! Bunuh semua!" perintahnya kepada Sundari yang berdiri di sampingnya.

Sundari lalu menunjuk lima orang temannya.

"Kalian ikut aku!" Lalu ia meloncat cepat ke kanan.

Lima orang temannya mengikuti di belakang tanpa banyak tanya.

Melihat rombongan ini menjadi dua, kedua bayangan yang mengikuti sejak tadi menjadi bingung.

"Apa kita juga berpisah untuk mengikutinya?"

"Adi Kulikpria, kurasa tidak perlu!"

"Lalu bagaimana? Apa yang kita perbuat?"

"Kita ikuti rombongan yang ada prianya itu!" kata Ki Mardi Angunbaya.

"Kukira dia adalah pemimpinnya." Keduanya lalu mengikuti terus rombongan Raden Wirangrong yang bergerak cepat menembus malam gelap.

Malam itu bulan tidak tampak.

Tertutup oleh awan hitam tebal, bintang-bintang pun menyembunyikan dirinya di balik awan.

Sesekali tampak cahaya kilat yang menyilaukan di angkasa, tak lama kemudian terdengar suara gelegar yang memekakkan daun telinga.

Hawa udara menjadi semakin panas terasa di tubuh.

Akan tetapi, di sebuah gua yang terletak di lereng bukit, keenam orang yang duduk di belakang api unggun yang menyala.

Tidak merasakan hawa yang panas, akan tetapi mereka merasa dingin sekali.

Bukan keadaan hawa di luar yang memengaruhi mereka, akan tetapi kepergian Suryo Lelono.

Pemuda yang mempunyai kepandaian yang luar biasa itu.

Ketika sore tadi mereka menemukan gua dan memilihnya untuk tempat melewatkan malam, Suryo Lelono memberi tahu maksudnya untuk menyelidiki Istana Bukit Kelabang seorang diri.

"Menurut pendapatku yang muda, lebih baik aku menyelidiki keadaan di sana terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan dan menyelidiki kekuatan mereka."

"Ah, jangan pergi sendiri!" Gombloh memotong cepat.

"Kau tidak tahu di mana tempat itu dengan jelas. Lebih baik kita bersama-sama dan menyerbu tempat itu berbarengan."

Kromoleo juga menyetujui usul si Gombloh itu.

Sedangkan Jodi dan Sukirna hanya mengangguk, akan tetapi tidak menyatakan sesuatu apa pun.

Akan tetapi, Danang dan Sawaliyah ternyata mempunyai pendapat yang berbeda dengan mereka.

"Apa yang dikatakan Adimas Suryo tadi benar." Danang berhenti sejenak, mengawasi mereka satu per satu.

"Kalau kita mengetahui keadaan lawan, dengan sendirinya dapat berbuat yang terbaik untuk menanggulanginya. Kita dapat menyusul belakangan serta kita yang berjumlah enam orang ini kalau menyelidiki bersama tentu mudah diketahui. Lawan dapat menjebak kita di daerah mereka."

Dia menyatakan pandangannya ini kepada teman-teman yang lain.

"Ehhh, benar juga wawasanmu itu. Aku pun cocok sekali dengan pendapat Danang ini, kita berenam tidak takut untuk menuju ke Bukit Kelabang, kan?"

Teman-temannya menyatakan tidak takut sama sekali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment