Halo!

Rahasia Dewi Purbosari - Chapter 12

Memuat...
Rahasia Dewi Purbosari

Chapter 12

"Aku harus mengejarnya!" Dia lalu menggunakan ilmu kepandaiannya. Berloncatan dari dahan ke dahan secepat burung terbang. Sebentar saja dia dapat melihat dengan jelas benda bersinar itu menuju sebuah istana tua. Mungkinkah ini istana di Bukit Kelabang? pikirnya. "Ah, masa bodoh. Aku harus tahu apa sebetulnya benda bersinar itu?" Cepat dia meloncat turun mendekati tembok luar, berhenti sejenak untuk mendeteksi keadaan di balik tembok. Ketika merasa aman karena tiada terdengar suara atau napas di balik tembok, Suryo lalu menjejak tanah. Laksana asap saja tubuhnya telah meluncur naik ke atas genteng istana. Suryo Lelono mengawasi keadaan di dalam ruangan istana. Dia meneliti dari kamar satu ke kamar lainnya. Akan tetapi ketika di ruang tengah tiba-tiba dia melihat seseorang baru keluar dari sebuah pintu yang bergambar kelabang sedang bergelut! Mukanya menjadi kemerahan karena malu! Sungguh gila pemuda bernama Raden Wirangrong itu, pikirnya! "Mbakyu Rati, agaknya Ibunda Dewi telah memberi keputusan. Lihat dia sekarang keluar dengan senjatanya berdiri kaku! Mari kawan, kita buat senjata rahasia!" Sundari memandang kedatangan Raden Wirangrong. Wajah pemuda itu bersinar-sinar dan sepasang matanya memandang kosong. Rati maju, lalu menyeret Raden Wirangrong ke sudut. Disedotnya darah Raden Wirangrong. Terdengar lenguhan puas. Sundari lalu maju ke depan untuk menggantikan Rati yang telah selesai berpiknik itu. Anehnya Raden Wirangrong hanya mengikuti saja apa kemauan para wanita itu terhadap dirinya. Dan yang lebih aneh lagi senjatanya masih tetap tegar! Kedua belas orang itu telah selesai dengan tugasnya. Raden Wirangrong yang telentang sekarang hanya tinggal kulit pembungkus tulang! Hisapan darah itu ternyata telah menghabiskan daging dan air hidupnya, darahnya. Yang tinggal hanyalah kulit membungkus tulang belulangnya saja! Dua belas wanita muda yang cantik itu lalu menempati suatu tempat di sudut ruangan. Mendesis-desis sambil menggeliat-geliat tidak karuan. Tiba-tiba dari bawah perutnya keluarlah sebuah bola sebesar kepala bayi! Menggelinding pelan, tak lama kemudian pecah. Dari pecahan itu keluarlah kelabang-kelabang kecil! Begitu terkena udara malam, tiba-tiba kelabang-kelabang kecil yang berwarna hitam menjadi kaku! Seperti lempengan baja saja. Ternyata itulah senjata rahasia hitam yang mengandung racun kelabang dari para wanita pengiring Dewi Purbosari! Mengapa ada cara pembuatan senjata rahasia beracun yang seperti ini? Entah bagaimana Dewi Purbosari dapat membuat Raden Wirangrong tegar senjatanya. Lalu dihisap habis darahnya oleh para pengiringnya. Ilmu siluman apakah yang membuat dia dapat melakukan hal seperti itu? Semua ini memenuhi benak Suryo, menuntut jawaban. "Iblis mana yang muncul di sini? Kalau bukan siluman, mana ada hal seperti ini!" Suryo lalu meloncat turun untuk meneliti ruang lain yang berada di samping bangunan istana. Ketika melihat pintu terkunci dengan kuatnya, dia lalu melompat naik ke atas genteng. Lalu membuka genteng, melongok ke dalam! Mukanya berubah pucat melihat pemandangan dalam ruangan. Di ruangan itu ternyata penuh dengan tulangtulang manusia, baik tulang anak kecil maupun tulangtulang orang tua dan remaja. Tampak dari besar kecilnya kepala tengkorak! "Sungguh biadab! Keji dan tidak berperikemanusiaan!" bisiknya. Dia lalu berpindah ke ruangan lain, membuka genteng dan melongok ke dalam kamar. Dan apa yang dilihatnya hampir sama dengan yang dilihat di kamar pertama tadi! Tiba-tiba telinganya yang berpendengaran tajam mendengar suara hela napas berat! Tanpa ayal lagi dia melayang ke tempat itu. Lalu meloncat ke atas genteng dan membukanya, melongok ke dalam. Dan apa yang dilihatnya membuatnya sangat terkejut sekali! "Tungguu...! Aku akan berusaha untuk menolong!" Ujarnya singkat. "Krakkkkkk?... brrooolllll!!" Ternyata kayu-kayu di atas telah patah selebar satu meteran persegi. Ki Mardi Angunbaya, Ki Kulikpria, serta Danang dan Sawaliyah istrinya, memandang ke atas. Gombloh dan Kromoleo pun tidak ketinggalan melihat ke atas. Ketika melihat siapa yang datang, tanpa dapat dicegah lagi Gombloh telah berteriak. "Hooreeee!... kita tertolong! Dia adalah Suryo Lelono!" "Husshhh! Diamm!" bentak Ki Mardi Angunbaya, gurunya. Gombloh mendekap mulutnya dengan kedua tangan, menunduk diam. Kaget mendengar bentakan gurunya dan sadar bahwa mereka masih berada di sarang lawan! "Cepat meloncat naik! Aku akan menjaga di atas!" Ki Mardi Angunbaya memegang tangan muridnya. Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya telah meluncur ke arah lubang di atas. Begitu tiba di atas, dari bawah telah menyusul bayangan Ki Kulikpria dengan menggandeng Kromoleo. Lalu berdiri di tepi mengawasi keadaan sekeliling! Suryo meluncur turun. Dengan kedua tangan menggandeng tangan Danang dan Sawaliyah di kanan kiri, Suryo melayang keluar dari lubang itu dengan ringannya. Kedua orang jago tua itu tertegun melihat ilmu kesaktian yang diperlihatkan Suryo Lelono! "Kita harus cepat meninggalkan tempat ini!" "Setujuuu..! Lebih cepat lebih baik! Hiiii...!" Gombloh kembali membuat ulah. Dia agaknya tidak dapat menahan rasa ngerinya ketika menghadapi Dewi Purbosari. Ketika mereka akan meloncat turun, bermaksud keluar dari istana. Tiba-tiba saja mereka berdiri terpaku di tempat! Ternyata teriakan Gombloh tadi telah membuat para penghuni istana terbangun. Lalu memasang obor di bawah. Tanpa dapat dihindarkan lagi mereka telah terkurung dua belas dayang anak buah Dewi Purbosari! "Menyerahlah kalian! Kalau kalian menyerah! Kami akan memberi kalian jalan hidup!" Sundari memberikan janjinya. Entah janji kosong atau benar! Tak seorang pun di antara rombongan yang menjawab! "Cepat menyerah! Turun dan jangan melawan atau berusaha untuk melarikan diri dari sini, percuma!" "Lebih baik mati daripada menyerah!" Kromoleo membentak marah. "Jangan takut!" bisik Suryo Lelono pelan. "Kalian harap hati-hati melawan senjata rahasia mereka!" Mereka mengangguk, lalu mencabut pedang, melayang turun menerjang lawan. Menggerakkan pedang dengan cepat tanpa memberi kesempatan lawan mempergunakan senjata rahasia beracun kelabang! Suryo tidak mau ketinggalan. Begitu tongkatnya bergerak, langsung memainkan Ilmu Tongkat Pengemis Gila! Ilmu tongkat yang aneh dan sukar diduga arah mana yang akan diserang. Geraknya yang tidak karuan sukar untuk ditebak! "Tak-tak-bukkk! Wesss... wirrr... tranggg-traanggg!" Senjata berkelebatan mencari nyawa untuk dikirim pulang itu acap kali bertemu dan berbenturan. Mengeluarkan bunga api yang meloncat-loncat ke angkasa. Semua serangan pedang anak buah Dewi Purbosari dimentahkan dengan mudah oleh lawannya. Sedangkan serangan balasan dari Suryo beserta kawan-kawannya, dengan susah payah ditangkis atau dielakkan mereka. Ini semua dapat terjadi karena adanya Suryo Lelono yang menahan hampir semua serangan lawannya. Maka ketika datang serangan balik dari lawan membuat para wanita itu kewalahan! Sedangkan pada waktu mereka mengeroyok di goa, masih ada Raden Wirangrong yang membantu, sehingga keadaan mereka baru dapat dikatakan berimbang! Rati dan Sundari mengeluarkan teriakan melengking nyaring. Agaknya lengkingan ini menjadi tanda untuk menyerang dengan senjata rahasia beracun. Senjata yang menjadi andalan mereka. Begitu mendengar lengking, para perempuan itu melompat mundur dan melayangkan tangan kiri ke arah lawan. "Wirrr... siut-siut... wirrr?!" Puluhan senjata berwarna hitam meluruk datang bagaikan sebuah jala mengurung jalan keluar ikan! Akan tetapi serangan inipun percuma saja. Suryo Lelono agaknya dapat membaca jalan pikiran lawan. Begitu mereka melompat mundur, dia lalu berdiri di depan rombongan sambil memutar tongkat, menghalau semua senjata yang datang! Angin yang ditimbulkan putaran tongkatnya sudah mampu untuk meruntuhkan senjata-senjata yang meluruk datang! Terdengar suara tangting-tang-ting berulang kali dan semua senjata yang meluruk datang pun habis tersapu. Lenyap entah ke mana! "Kena!" Suryo meluncur ke depan, tongkatnya mengemplang kepala. Empat orang terkena kemplangan tongkat, tanpa mengeluarkan suara lagi telah tewas dengan kepala pecah! Ketika tubuh yang malang itu menimpa tanah, asap keputihan mengepul, membumbung naik. Lalu tubuh itu pun lenyap! Tampak di tanah empat ekor kelabang merayap pergi dengan cepatnya! Melihat ini Suryo lalu mengulurkan tangan kirinya. Dari telapak tangannya keluar sinar putih memukul empat kelabang! "Busss... buss... dupp... dupp...!" Empat kelabang hancur terkena pukulan Suryo Lelono yang ampuhnya menggila! Sisa anak buah Dewi Purbosari menjadi ketakutan, mundur-mundur ke arah ruangan tengah istana. Suryo tidak mau tanggung-tanggung lagi! Ia lalu menggerakkan kedua tangannya. Sinar merah dan putih meluncur menerjang para pengikut Dewi Purbosari! "Aaauuuuhhhhhh...!" Hampir berbareng terdengar lengking kematian dari delapan orang yang terkena sinar pukulan Suryo Lelono. Empat orang yang terkena sinar merah menjadi hangus tubuhnya dan empat orang teman yang lain, menjadi kaku bagaikan pohon kering kekurangan air! Akan tetapi kembali terjadi keanehan! Ketika tubuh-tubuh itu menimpa tanah, kembali ada asap mengepul. Kembali mereka menjadi kelabang sebesar anak kecil! Ada yang hangus tubuhnya dan menjadi abu keputihan. Ada pula yang retak-retak tubuhnya terkena sinar putih tadi! "Ck-ck-ck! Heboaaatttt..!!" Gombloh pun tak dapat menahan mulutnya lagi! "Luar biasa! Entah siapa adanya anak muda itu?" Ki Mardi Angunbaya menggumam, penuh pertanyaan. Suryo membalik, mendekati teman-temannya, lalu mengajak mereka untuk segera meninggalkan tempat itu. Istana yang penuh dengan siluman kelabang! Akan tetapi baru beberapa langkah mereka berjalan. Tanah yang diinjak bergetar hebat, seakan-akan ada gempa tektonik datang! "Tolonggg..!" Gombloh berteriak keras sambil berlarian ke sana-sini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment