Chapter 13
Tidak kuasa menahan diri di tanah yang bergoyang!
Kromoleo, Danang, dan istrinya Sawaliyah pun senasib dengan Gombloh. Pontang-panting tak karuan! Hanya Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria saja yang agaknya dapat menguasai diri dengan kaki membentuk kuda-kuda. Tubuh mereka bagaikan tongkat kayu jati yang kokoh kuat.
Suryo sama sekali tidak mengalami kesukaran. Dengan hanya berdiri di satu kaki, ia dapat menahan goncangan yang datang melanda! Sungguh hebat sekali anak muda ini!
"Ihhh? Ihihih... hi-hi-hikkk! Orang-orang lancang! Lihatlah ke sini, keparat!" Terdengar suara di belakang mereka.
Ketika mereka menoleh, ternyata di tengah ruangan tampak seorang wanita cantik sekali, mengenakan pakaian tembus pandang. Berdiri dengan anggun! Dari badannya terpancar cahaya kekuningan menyilaukan mata yang memandang.
Suryo Lelono tersurut mundur dua langkah. Heran ia melihat apa yang terjadi di belakangnya ketika ia menengok! Ternyata teman-temannya memandang dengan wajah pucat bagaikan mayat yang pucat pasi! Seakan semua darah telah lenyap dari tubuh mereka.
"Siapa perempuan itu?" tanyanya.
"Di... aaaa... dia... dia..." Kromoleo berusaha untuk menerangkan, tapi karena gugupnya, ia hanya mengulang kata 'dia!'
Gombloh berdiri dengan kaki gemetaran. Tanpa sadar, celana Gombloh telah basah kuyup karena tidak dapat menahan rasa takut yang telah menghancurkan segala nyalinya! Danang dan istrinya saling berpelukan dengan bibir membiru. Pandangan mata mereka seakan terpaku ke arah wanita yang berdiri anggun di tengah ruangan. Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria yang agak tenang, memandang sang dewi sambil mulutnya berkemak-kemik membaca mantra penolak bala dan jin setan!
"Hi-hi-hik! Hee, kawulaku, ayo berlutut!" perintahnya.
Suryo merasa ada tenaga tak kasat mata mendorongnya untuk berlutut, ia berusaha melawan dengan mengerahkan seluruh indranya untuk menolak! Ketika ia menengok ke belakang, ternyata teman-temannya telah berlutut dengan menyembah. Tidak kuasa melawan pengaruh gaib yang datang melanda!
"Aku tidak sudi untuk menyembahmu! Kau bukan sesembahanku!" Suryo berteriak lantang dengan pengerahan tenaga sakti yang ada pada dirinya. Begitu ia berteriak, hawa hangat muncul perlahan-lahan. Kini tubuhnya terasa nyaman!
"Hi-hi-hik! Bocah kurang ajar! Terimalah ini!" Dari tubuh sang dewi meluncur sinar kuning kehijauan menerjang Suryo dengan kecepatan kilat. Suryo memutar tongkat kayu cendana dengan tenaga dalam sekuatnya.
"Tarr! Tarr! Tarr!" Ledakan dahsyat terdengar memecah keheningan malam di Bukit Kelabang. Sinar kuning itu ketika tertangkis, mental kembali dan beradu dengan sinar susulan. Bertemunya sinar-sinar itu pun menimbulkan ledakan dahsyat!
"Keparat! Ternyata kau cukup piawai, anak muda!" Dewi Purbosari lalu mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu menurunkannya. Kemudian kedua tangannya digosok-gosokkan, dari gosokan telapak tangan itu keluarlah api menyala sebesar anak lembu. Begitu kedua tangannya digerakkan ke depan, api itu meluncur, membakar tubuh Suryo yang berdiri tegak!
Suryo pun tidak mau ketinggalan melihat gerakan lawan. Ia menyatukan segala ilmu yang dipunyainya, memejamkan mata dan menyerahkan diri kepada Sang Pencipta. Ketika ia membuka matanya kembali, sepasang mata itu seakan mengeluarkan cahaya menyilaukan. Ketika api datang mendekat, ia hanya menggerakkan tangan kanannya untuk menolak.
"Kembalilah pada tuanmu!" Aneh sekali! Api itu seakan menuruti perintah Suryo, kembali meluncur ke arah tuannya. Dewi Purbosari mengibas ke samping, dan api yang meluncur membelok ke arah rumah di sudut istana!
"Duuaaarrrrr!!!" Rumah meledak hancur, laksana tertimpa rudal. Rata dengan tanah serta kayu-kayunya terbakar hangus semua! Suryo menjulurkan lidahnya, sungguh hebat akibat api itu!
Melihat ini, kemarahan Dewi Purbosari memuncak. Ia pun berkemak-kemik lalu membentak. "Bocah, sambutlah ini!"
"Baik! Akan kulayani semua ilmu iblismu!" Suryo pun tidak mau kalah gertak.
Dari mulut Dewi Purbosari keluarlah angin yang mendorong kuat sekali ke arah depan. Tubuh keenam orang yang menyembah terlempar ke belakang. Begitu mengenai tembok, tembok itu pun jebol mengeluarkan suara gemuruh! Pohon-pohon di depan istana ikut tersapu pergi, melayang dengan suara berkerosakan! Batu-batu dan debu berhamburan ke belakang, menghantam tembok. Kini tembok itu pun telah rata dengan tanah!
"Tolongggg?!" Hampir bersamaan, Kromoleo dan Gombloh berteriak ketika tubuh mereka terbawa terbang cepat ke belakang! Tiba-tiba tubuh keduanya terhenti di tengah udara! Kedua orang itu berteriak-teriak semakin keras!
Guru-guru mereka menjadi malu melihat tingkah laku murid-muridnya itu. Ternyata Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria, serta Danang dan istrinya, telah berdiri tegak. Berdiri di tanah di samping seorang pengemis beralis putih dan berambut hitam. Biarpun usianya telah sangat tua, namun pengemis itu berdiri dengan gagahnya. Di depan pengemis ini tampak sebatang tongkat bambu tertancap di tanah.
"Diam, goblok!"
"Sudahlah, kalian tidak perlu memarahi muridmu ini!" kata pengemis ini halus. Lalu pengemis itu menurunkan tangannya, seakan-akan kedua tubuh itu dibawa turun perlahan hingga menyentuh tanah!
"Hiiiiii... sungguh mengerikan!"
"Ampuuuuunnnnnnn... tobat!" Gombloh meratap dan menyembah-nyembah ke arah istana. Sebuah tangan yang halus dan lunak menyentuh pundaknya. Gombloh meloncat bangun, ingin melarikan diri lagi. Baru beberapa langkah, ia menengok. Ternyata di belakangnya, guru dan teman-temannya telah berdiri dengan senyum di bibir melihat ulahnya itu!
"Tenang, anak muda. Tak usah takut! Mari ikutlah aku di belakang!" Pengemis Alis Putih berkata halus, menenangkan Gombloh yang memandang ketakutan. Dengan melangkah tenang, Pengemis Alis Putih mendahului menuju ke arah istana. Mereka pun lalu menuju ke istana, mengikuti di belakang pengemis tua tanpa suara.
Begitu mereka memasuki halaman istana melalui tembok pagar yang telah jebol, mereka melihat pemandangan menakjubkan di depan mata! Dewi Purbosari melayang-layang memainkan sehelai selendang berwarna kuning. Melecut-lecut ke arah Suryo Lelono yang meloncat-loncat seperti seekor burung bangau. Gesit dan lincah pemuda ini bergerak, sesekali ia menggerakkan tongkat untuk menangkis selendang yang datang melecut! Bunga api berpijaran ketika ujung selendang bertemu dengan tongkat, disusul dengan bunyi yang memekakkan telinga! Adu kesaktian yang tiada tanding ini membuat kagum mereka yang menonton di situ. Saling serang dan saling elak, dua orang itu berkelebatan memenuhi ruangan istana, bagaikan telah berubah wujud. Beberapa kali selendang yang luput mengenai sasaran, menghantam perabot istana. Dengan mengeluarkan suara keras, hancurlah perabot yang dihantam selendang!
Ketika Suryo melihat kedatangan Pengemis Alis Putih yang diikuti teman-temannya tanpa kurang suatu apa pun, hatinya semakin mantap. Ia lalu memadukan tongkat yang dimainkan dengan Ilmu Tongkat Pengemis Gila dengan sambaran tangan kirinya!
"Wussss... duarrrr!" Ternyata kini Dewi Purbosari pun tidak hanya mengandalkan selendangnya saja. Ia juga menggerakkan tangan kiri memukul dengan aji kesaktiannya. Dua tenaga dahsyat bertemu di tengah udara, membuat ruangan istana seakan diguncang hebat! Lima orang tersurut mundur saking dahsyatnya pertemuan hawa sakti itu. Gombloh yang berdiri tepat di belakang Pengemis Alis Putih tetap berdiri tegak tak bergoyang sedikit pun.
"Mampus kau!" Selendang berputar cepat membentuk lingkaran-lingkaran menyerang tubuh Suryo! Tangan kirinya menyusul dengan pukulan bertubi-tubi ke depan. Bola-bola api sebesar kepalan meluncur cepat bagaikan peluru-peluru senapan otomatis!
"Hiaaaattttt!!" Suryo Lelono memutar tongkat sambil meluncur ke depan. Menyongsong luncuran bola api!
"Duarr, daaarrr... breetttt!!" Kembali terdengar ledakan keras disusul oleh suara robekan dari kain selendang yang terobek tongkat. Ternyata tongkat di tangan Suryo telah berubah kemerahan karena saluran tenaga sakti pemuda ini.
"Aaiiihhhh! Celaka!!" Dewi Purbosari menjerit. Tubuhnya meloncat ke belakang, menjauhi lawannya. Dengan hati tak karuan, penuh penasaran, kesal, dan marah berkumpul menjadi satu.
"Huuuaaaahhhhhh!!" Begitu Dewi Purbosari membentak, genting-genting istana rontok berjatuhan ke bawah. Mengeluarkan suara bising. Hanya dua orang yang masih tetap berdiri di ruang istana, yaitu Suryo dan Pengemis Alis Putih. Sedangkan Ki Mardi Angunbaya beserta rombongannya telah terlempar keluar oleh tenaga bentakan itu. Mereka bergulingan; ketika berhenti, mereka tetap diam tak bergerak, pingsan. Karena jantung mereka seperti diremas tangan raksasa!
"Hi-hi-hik... kau kira dapat mengalahkan aku? Lihat siapa aku sesungguhnya?" Dewi Purbosari duduk di singgasana kencana. Kedua tangan bersedekap. Bersamaan dengan habisnya ucapannya, singgasana berikut tubuh sang dewi tertutup gumpalan asap tipis keputihan. Singgasana itu pun melayang ke atas, berhenti di tengah udara. Lalu tampak cahaya berwarna putih kekuningan menyelimuti singgasana serta orang yang duduk di atasnya.
"Hai, manusia! Lihatlah siapa diriku ini?" Dewi Purbosari berkata halus, mengelus hati. "Ayo kalian berlutut untuk menyembahku!"
Orang-orang yang tersadar dari pingsannya, memandang Dewi Purbosari. Suryo serta Pengemis Alis Putih mengawasi tajam. Semuanya memandang Dewi Purbosari, bagaikan melihat seorang bidadari yang turun ke marcapada! Wajah Dewi Purbosari bersinar penuh welas asih, sepasang bibirnya membentuk senyum yang sangat manis, meruntuhkan hati yang memandangnya.
Tanpa terasa, Ki Mardi Angunbaya, Ki Kulikpria, Kromoleo, dan Gombloh segera menjatuhkan diri berlutut. Demikian pula sepasang suami istri, Danang dan Sawaliyah, mereka berlutut berjejer di belakang.