Chapter 14
Suryo Lelono pun tertegun melihat perwujudan Dewi Purbosari yang berubah menjadi demikian lembut serta menyinarkan kasih sayang. Ketika dia menekuk kakinya untuk berlutut, tiba-tiba telinganya mendengar bisikan halus. "Jangan tertipu oleh iblis itu! Kerahkan seluruh batinmu kepada Sang Hyang Widi, mohon kekuatan!"
Lalu Pengemis Alis Putih mengeluarkan suara tawa melengking tinggi. "Ha-ha-ha? Kaukira dapat menipu aku? Kembali lah kau pada asalmu sesungguhnya!" Kedua tangan mendorong ke arah dampar. Ketika mendengar suara tawa ini, Ki Mardi Angunbaya beserta kawan-kawannya tersadar dari keadaannya. Meloncat berdiri, memandang ke arah dampar penuh kagum dan ngeri.
Dari kedua tangan Pengemis Alis Putih keluar sinar putih meluncur menghantam dampar yang diduduki oleh Dewi Purbosari. "Duuaaaarrrrrr?" Begitu terkena sinar yang keluar dari tangan si Pengemis Alis Putih, dampar meledak dan hancur berkeping-keping. Debu pun berhamburan ke mana-mana, menggedipkan mata. Ternyata dampar kencana itu hanyalah dampar yang terbuat dari batu dan dicat keemasan.
Begitu debu hilang tersapu angin, Dewi Purbosari telah lenyap dari pandangan mata mereka semua. Hanya terdengar suara mengekeh yang mendirikan bulu roma bagi yang mendengarnya. "Hihik". Kaukira dapat membunuhku dengan mudah. Hihik. Sekarang terimalah kematianmu! Tanah yang dipijak mereka menjadi bergoyang. Makin lama semakin hebat, lalu disusul oleh gundukan tanah yang meluncur maju ke arah mereka berdiri.
Suryo menyambar tubuh Danang dan isterinya, sedangkan Pengemis Alis Putih menyambar tubuh Kromoleo dan Gombloh, dibawa meloncat tinggi menghindar dari serudukan tanah. Ki Mardi Angunbaya dan Ki Kulikpria terlempar ke atas terlanda gundukan itu. Ketika jatuh di tanah, keduanya telah menjadi pingsan dengan tubuh membiru. "Hiiiiiii?" Hayo cepat lari! Gombloh begitu diturunkan ke atas tanah, bergidik ngeri, lalu mengajak temannya untuk melarikan diri.
Mental Gombloh benar-benar telah hancur karena kejadian-kejadian yang dialaminya ini. Tiba-tiba nampak awan hitam bergumpal-gumpal mendatangi dengan cepat dan dari gumpalan awan keluarlah petir menyambar-nyambar ke arah tubuh Pengemis Alis Putih dan Suryo Lelono. "Daarrr! Tarrr-tarrr!!" Suryo memutar tongkat menangkis. Sedangkan pengemis tua hanya diam bersedakap saja, akan tetapi tidak ada satupun kilat yang keluar dari gumpalan awan itu dapat mengenai tubuhnya.
Aneh memang, tubuh Pengemis Alis Putih ini seakan-akan telah dilindungi oleh udara atau sinar yang tak nampak mata. Malahan orang-orang yang berada di belakang si pengemis tua ini terlindung semua dari amukan kilat. Mulut Pengemis Alis Putih kelihatan komat-kamit tanpa suara yang keluar dari mulut. Kedua tangan ditengadahkan ke atas lalu diturunkan dan dirangkapkan depan dada, lalu mendorong ke arah awan gelap.
Suryo juga mengikuti gerakan gurunya. Diapun lalu mendorongkan kedua tangannya setelah menancapkan tongkat kayu cendana di tanah depan mukanya. "Weessss, weeessss?" "Daaarrrrr!!" Tidak nampak cahaya dari tangan, hanya angin lembut keluar mendorong gumpalan asap hitam di depan. Akan tetapi akibatnya sangat hebat sekali. Begitu awan hitam terlanda angin halus dari dua pasang tangan yang didorongkan, meledak dahsyat lalu buyar entah ke mana.
Tampaklah seekor kelabang sebesar gelugu menggeliat di atas tanah dengan sepasang mata mencorong kehijauan mengawasi ke arah Pengemis Alis Putih dan Suryo bergantian. Tiba-tiba mulut kelabang terbuka lebar menyemburkan api yang menyala-nyala membakar apa saja yang terlanda. Kembali Suryo Lelono dan Pengemis Alis Putih mendorongkan kedua tangannya ke depan. Serangkum hawa dingin menerpa api yang keluar dari mulut kelabang. "Ceeessssss?" Apipun menjadi padam.
Dari mulut kelabang keluarlah asap hitam menyembur bergulung-gulung naik. Mereka sekarang baru menyadari bahwa Dewi Purbosari yang dapat menjadi orang berbudi dan mempunyai wajah yang welas asih sebetulnya adalah seekor siluman kelabang. Mempunyai kesaktian luar biasa untuk mencari pengikut untuk menyembahnya. Lalu membawa mereka menuju kehancuran. Anak-anak mereka dihisap darahnya dan dimakan dagingnya.
Sedangkan para orang tua dijadikan pemuas nafsu kelabang. Lalu disedot darahnya untuk membuat senjata pemusnah bagi manusia itu sendiri. Sebetulnya dialah penyebar penyakit dan yang meracuni dusun Manyaran. Lalu datang menyembuhkan mereka dengan kesaktiannya. Menipu penduduk yang masih percaya akan tahyul. Menyamar menjadi seorang suci, serta menolong untuk kemudian menjatuhkan manusia. Menjauhkan manusia dari Sang Pencipta yang seharusnya menjadi sesembahan mereka.
Danang dapat melihat kenyataan ini dengan jelas. Karena seluruh penduduk desanya dari yang masih orok sampai kakek-kakek, tidak ketinggalan hewan