Chapter 01
Nona manis, hendak ke mana?
Pemuda yang menegur itu bertubuh tinggi kurus, berwajah tampan, dan dari pakaiannya, mudah diketahui bahwa dia seorang pemuda yang beruang. Usianya hampir tiga puluh tahun, dan dari pandang matanya serta senyumnya, dapat pula diduga bahwa dia tentu seorang pria yang sudah biasa berhadapan dengan wanita. Dua orang laki-laki lain, agaknya pengikut-pengikutnya, yang usianya sebaya, tersenyum lebar melihat betapa orang itu berlagak dan menegur gadis itu.
Gadis itu tidak menjawab, melirik pun tidak, dan melanjutkan perjalanannya. Ia melangkah dengan cepat tanpa menoleh, membawa keranjangnya yang terisi seekor ayam dan sayur-sayuran yang baru saja dibelinya dari pasar.
"Adik cantik, siapakah nama mu!"
Dara itu tetap berjalan tanpa menoleh. Ia seorang dara berusia lima belas atau enam belas tahun, bagaikan setangkai bunga sedang mulai merekah, belum mekar sepenuhnya, namun dalam keadaan seperti itu ia memiliki daya tarik tersendiri yang amat kuat. Tubuhnya sedang, ramping, dan padat. Langkahnya nampak lemah gemulai namun gesit dan bertenaga; lekuk lengkung tubuh mulai nampak walaupun belum menonjol sekali. Dari kulit muka, leher, dan tangannya, dapat diketahui bahwa ia memiliki kulit yang putih kekuningan, halus mulus, dan sehat kemerahan.
Rambut kepalanya hitam, lebat, dan panjang, dikuncir dua, dan kuncir-kuncir itu bergantungan di kanan kiri. Anak rambut yang berjuntai halus di sekitar dahi dan tengkuknya melingkar hangat. Sepasang alisnya hitam sekali, seperti dipulas, kecil panjang melengkung, membuat kulit pelupuk mata lebih putih nampaknya daripada kedua pipi yang segar kemerahan itu. Sepasang matanya bersinar lembut, jeli, dan jernih, agak lebar, dan biasanya agak tajam, akan tetapi saat itu sinar matanya menunduk, diliputi rasa takut dan malu. Hidungnya kecil mancung, ujungnya agak berjungkit ke atas, memberi kesan lucu dan nakal. Akan tetapi, mulutnya mungkin memiliki daya tarik paling kuat. Sepasang bibir merah tanpa gincu itu selalu nampak basah dan penuh; kulit bibirnya demikian tipis seolah-olah hanya terisi darah, dan kalau tergigit sedikit saja, tentu akan muncrat darahnya, mulut yang membayangkan kegairahan dan menjanjikan kenikmatan yang tak terbatas.
Deretan gigi kecil dan putih berkilau kadang-kadang nampak, dan dalam kegelisahannya, kadang-kadang nampak di ujung lidah yang kecil merah mencuat menjilat bibir. Dagunya meruncing, dan ada tahi lalat kecil hampir tak nampak di dagu itu. Seorang perempuan yang cantik jelita, molek, dan manis, yang belum matang benar, namun jelas mudah dilihat bahwa ia adalah seorang calon perempuan yang sebentar lagi akan mekar sepenuhnya dengan segala keindahan dan keharumannya.
"Nona manis, di mana nakah rumah mu?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari laki-laki bersama dua orang temannya yang terus mengikutinya itu tak pernah dijawabnya, bahkan sama sekali tidak diperdulikan. Mulutnya yang indah itu kini agak cemberut, akan tetapi tidak mengurangi kemanisan wajahnya. Sepasang mata yang jeli itu, yang tadinya menunduk malu, kini mulai melirik tajam dan mengandung kemarahan.
"Adik manis, kau jalan sendirian, bolehkah kuantar pulang?"
Ketika dara itu tidak menjawab dan bahkan mempercepat langkahnya, seorang di antara dua pengikut itu terkekeh. "Aih, kongcu, jangan-jangan dia tidak bisa bicara!"
Laki-laki yang disebut k