Halo!

Sakit Hati Seorang Wanita - Chapter 02

Memuat...
Sakit Hati Seorang Wanita

Chapter 02

Sementara itu, dengan jantung berdebar penuh rasa marah, malu dan tegang, gadis remaja itu berlari menuju ke Dusun Angkebun yang sudah nampak temboknya. Wajahnya yang manis itu masih cemberut dan marah sekali, bukan hanya merah karena panas tubuhnya dipakai berlari, melainkan terutama sekali karena panas hatinya. Semenjak kecil, Kim Cui Hong ini hidup bersama ayahnya yang sudah menduda sejak ia berusia lima tahun. Ia dididik ilmu silat oleh ayahnya, bersama belasan orang murid ayahnya. Di antara murid ayahnya yang kesemuanya laki-laki, hanya ada seorang saja yang dididik sejak kecil bersama-sama dengannya, yaitu Can Lu San yang tiga empat tahun lebih tua darinya, dan menjadi satu-satunya suhengnya. Yang lain, biarpun banyak di antaranya yang usianya lebih tua, termasuk para sutenya (adik seperguruannya). Cui Hong belum pernah diganggu laki-laki seperti yang dialaminya tadi. Memang, sejak satu dua tahun yang lalu semenjak ia menjadi remaja dan menjelang dewasa, semenjak masa kanak-kanaknya mulai ditinggalkannya, pandang mata kaum pria terhadap dirinya dirasakan lain, aneh dan membuatnya kadang-kadang gugup dan bingung. Akan tetapi, belum pernah ada orang laki-laki berani mengganggunya dengan kata-kata atau sikap yang kurang ajar. Bagaimanapun juga, di Dusun Angkebun nama ayahnya sebagai seorang guru silat sudah dikenal orang, maka siapakah berani kurang ajar kepada istrinya? Bahkan Kota Thiancin yang besarpun sudah mengenal nama Kim Kauwsu. Akan tetapi, sungguh tak disangkanya sama sekali, ketika pada pagi hari itu ia pergi berbelanja ke Kota Thiancin, ia diganggu orang yang kurang ajar! Hatinya memang merasa puas bahwa ia sudah dapat menampar muka pemuda jangkung itu, dan menghajar dua orang temannya, akan tetapi tetap saja hatinya masih panas oleh kemarahan.

Tidak biasanya Cui Hong marah-marah. Ia seorang gadis yang berwatak gembira, lincah, jenaka, dan jarang marah. Akan tetapi sekali ini, ada perasaan aneh yang mendatangkan bayangan mengerikan ketika ia diganggu tiga orang itu, yang membuatnya marah bukan main. Kalau saja ia tidak ingat akan pesan-pesan ayahnya bahwa ia tidak boleh mempergunakan kepandaian silatnya untuk mencelakai orang, melukai apalagi membunuh, agaknya ia tadi akan memberi hajaran yang lebih keras kepada tiga orang itu! Terutama sekali kepada pemuda yang bernama Pui Ki Cong itu, yang katanya putra kepala jaksa! Ia tidak tahu benar apa arti kedudukan jaksa, yang diduganya hanyalah sebuah jabatan yang membuat orangnya menjadi kaya raya saja.

Perasaan yang mengancam hatinya itu membuatnya memasuki dusun tanpa menengok ke kanan kiri, bahkan ketika ia memasuki pekarangan rumah ayahnya, ia tidak tahu bahwa seorang pemuda yang sedang membetulkan pagar pekarangan yang rusak itu, memandangnya dengan sinar mata aneh.

"Heiii, sumoi, engkau seperti dikejar-kejar setan saja!" Pemuda itu bangkit dan menegur, suaranya lantang dan sinar matanya berseri ketika dia memandang wajah gadis yang segar kemerahan itu.

Baru Cui Hong menengok dan melihat pemuda itu dan ia pun berhenti berlari. Dengan sehelai saputangan, diusapnya peluh dari dahi dan lehernya. "Uhhh, panasnya...," ia mengeluh untuk menentramkan hatinya.

"Apakah terjadi sesuatu, sumoi?" tanya pula Can Lu San, pemuda itu sambil memandang dengan sinar mata membayangkan kekaguman. Senang hati Cui Hong melihat pandang mata itu. Sudah lama ia melihat sinar kekaguman itu memancar dari mata Lu San kalau suheng itu memandangnya.

Ia tersenyum. "Tidak ada setan yang mengejarku, suheng. Hanya aku khawatir kesiangan dan ayam ini ribut saja sepanjang jalan."

Lu San tertawa. Sikap sumoinya yang selalu periang itu mendatangkan kegembiraan kepada hatinya yang pendiam, seperti sinar matahari pagi menyinari sudut-sudut yang kosong dan gelap. "Akan tetapi engkau berlari-lari sampai bermandi peluh dan lihat, mukamu sampai kemerahan seperti..... seperti "

"Seperti apa, suheng?"

"Seperti buah tomat masak!"

"Wah, celaka aku. Kalau mukaku seperti buah tomat, akan lucu dan jelek sekali. Bulat dan gendut."

Mereka tertawa. "Sumoi, kenapa engkau sendiri yang berbelanja? Pagi tadi aku sudah mencari suhu untuk menanyakan masakan apa yang dikehendaki agar dapat kubelanjakan ke Thiancin. Eh, tahu-tahu engkau sudah mendahului aku."

"Memang aku mendahuluimu, suheng. Tidak apa kan sekali-kali aku yang pergi berbelanja."

"Akan tetapi engkau kini sudah menjadi seorang gadis dewasa, sumoi. Dan kau tahu betapa tidak amannya sekarang ini bagi wanita dewasa untuk bepergian seorang diri."

Cui Hong menjebikan bibirnya yang merah basah itu ke arah suhengnya. "Huh, aku dapat menjaga diri, suheng."

"Aku tahu, akan tetapi kalau suhu mengetahui bahwa engkau sendiri yang pergi berbelanja, jangan-jangan aku disalahkan, disangkanya aku malas dan menyuruh engkau."

"Tidak, suheng. Sekali ini memang aku ingin pergi, bukan hanya untuk melihat keramaian Thiancin yang sudah beberapa pekan lamanya tidak pernah kukunjungi, juga karena aku hari ini ingin masak enak untuk ayahku."

"Eh, ada keistimewaan apakah hari ini?"

"Hari ini adalah ulang tahun ayah."

"Ahh! Kenapa suhu diam saja?"

"Sudah lama ayah tidak pernah mau mengingat lagi hari lahirnya, akan tetapi aku pernah bertanya kepadanya dan aku mencatat hari lahirnya. Selalu aku yang menyediakan masakan atau hidangan istimewa pada hari ulang tahunnya."

"Wah, engkau memang seorang anak yang baik dan berbakti, sumoi."

"Aihh, tak perlu memuji. Di balik pujianmu itu terkandung rasa girang karena engkau pun akan kebagian masakanku yang istimewa hari ini!" Gadis ini lalu lari memasuki rumah, meninggalkan Lu San yang memandang sambil tertawa dan sinar mata penuh kagum. Sumoinya memang hebat! Sejak kecil dia bergaul dengan sumoinya, sejak sumoinya berusia lima tahun dan dia berusia sembilan tahun. Dia seorang anak yatim piatu yang diambil murid oleh ayah Cui Hong dan dia berangkat besar bersama dengan Cui Hong. Kini pun di dalam rumah itu hanya tinggal mereka bertiga. Murid-murid lain tidak ada yang tinggal di situ. Dan dia merasa gembira sekali karena biarpun suhunya belum pernah mengatakannya, namun dari sikap suhunya, dari kata-katanya, dia dapat menangkap maksud hati suhunya untuk menjodohkan putri tunggal itu dengannya! Dan baginya, tidak ada kebahagiaan melebihi bayangan ini. Hidupnya akan lengkap sepenuhnya kalau saja dia dapat menggandeng Cui Hong sebagai istrinya, untuk selama hidupnya.

Pada masa itu, kekuasaan Kerajaan Beng sudah berada di ambang pintu kehancuran. Kaisar sendiri, yaitu Kaisar Cung Ceng, kaisar terakhir Dinasti Beng demikian lemahnya dan berada dalam cengkeraman para Thai-kam (Pembesar Kebiri) yang menguasai istana. Kaisar menjadi boneka yang dipermainkan mereka. Menteri-menteri dan hulubalang tidak didengar nasihatnya dan kebanyakan dari mereka adalah koruptor-koruptor yang tidak peduli akan keadaan negara dan bangsa melainkan saling berlomba untuk menggendutkan perut sendiri. Pemberontakan terjadi di mana-mana dan rakyat hidup sengsara, menderita dan tidak terjamin keamanannya karena setiap orang pembesar mempergunakan kekuasaannya untuk bersimaharajalela, mengumbar nafsu mengandalkan kedudukan.

Kepala Jaksa Pui yang baru saja beberapa bulan lamanya ditugaskan di Thiancin, tidak mau ketinggalan dengan rekan-rekannya dalam hal bermumpung. Mumpung menduduki jabatan, mumpung memegang kekuasaan, dia pandai mempergunakan kekuasaannya untuk kepentingan diri sendiri. Karena pengaruh uang sogokan yang amat besar jumlahnya, yang benar bisa saja dituntut dan dibikin salah, sebaliknya yang bersalah menjadi benar dan dilindungi. Perlindungan hukum hanya dikenal oleh orang berpangkat dan berduit. Bagi rakyat jelata yang miskin, jangan harap memperoleh perlindungan hukum.

Dengan seorang ayah seperti itu, tidaklah mengherankan kalau anak tunggalnya, Pui Ki Cong, bersikap sombong dan tinggi hati, suka mengganggu anak istri orang mengandalkan kedudukan orang tuanya. Dia merupakan anak tunggal yang dimanja ayahnya. Setiap keinginannya pasti dipenuhi, dan hal ini tumbuh menjadi penyakit yang berbahaya dalam batin Ki Cong. Sampai usianya hampir tiga puluh tahun, dia selalu berenang dalam kesenangan dan dia menuntut agar semua keinginannya terkabul. Karena suka bermain perempuan, berganti orang setiap malam, dia belum menikah dan hanya mempunyai selir yang tak terhitung banyaknya. Di dalam gedungnya sudah penuh perempuan muda dan cam-yang menjadi selir. Kalau ada pelayan-pelayan baru yang masih gadis dan cantik, hampir tak pernah dia membiarkannya begitu saja dan dalam waktu beberapa hari saja, pelayan yang dipilihnya tentu naik pangkat menjadi selir. Belum lagi perempuan-perempuan yang dipilihnya di luar gedung, bahkan pelacur-pelacur tercantik di Thiancin menjadi langganannya.

Dengan kehidupan seperti itu, tidaklah mengherankan bahwa hatinya dibakar oleh kemarahan dan rasa penasaran karena dirinya telah ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis dusun putri guru silat kampungan! Bukan hanya ditolak, bahkan pipinya ditampar sampai bengkaknya tiga hari baru kempis, dan dua orang pengikutnya juga dihajar oleh gadis ingusan itu!

"Awas kau, kalau sampai terjatuh ke tanganku!" Berulang kali dia mengancam sambil mengepal tinju dan rebah gelisah di atas pembaringannya, tidak dapat senang hatinya walaupun beberapa orang selir tercinta mencoba untuk menghiburnya. Karena tidak melihat munculnya putranya selama dua hari, Jaksa Pui lalu mengunjungi putranya di dalam kamarnya dan melihat betapa putranya itu rebah dengan rambut kusut dan wajah muram, dia merasa khawatir sekali.

"Ki Cong, engkau kenapakah? Sejak kemarin aku tidak melihatmu."

Dengan sikap manja Ki Cong lalu berkata kepada ayahnya. "Ayah, aku merasa sangsi apakah benar dengan kedudukan ayah sebagai kepala jaksa di sini, orang-orang segan dan menghormati keluarga kita."

Pembesar yang gendut perutnya itu bangkit berdiri lagi dan membelalakkan matanya.

"Tentu saja! Siapa yang berani tidak menghormati kita? Aku berkuasa di sini. Aku yang memegang hukum, siapa pun dapat kuhukum dan kutuntut dengan kekuasaanku!"

"Hemm, kalau benar begitu, kenapa dua hari yang lalu ada seorang gadis dusun, anak guru silat kampungan, berani menghinaku dan menampar mukaku?"

"Apa? Kau ditampar oleh seorang perempuan dusun? Siapa orang itu? Biar kusuruh pasukan menangkapnya dan akan kuhukum berat perempuan keparat itu!"

"Tapi..... aku bukan bermaksud menghukumnya, Ayah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment